NovelToon NovelToon
Istri Seksi Gus Ibra

Istri Seksi Gus Ibra

Status: sedang berlangsung
Genre:Cinta Seiring Waktu / Perjodohan / Nikahmuda
Popularitas:4.1k
Nilai: 5
Nama Author: Elma Grace

​"Bagaimana jadinya kalau gadis nakal harus takluk menghadapi anak dari pemilik pesantren?"


Tsabita Azzahra, sebagai bentuk protes karena selalu dibanding-bandingkan dengan kakaknya, Safira, yang nyaris sempurna, Bita memilih hidup bebas: nongkrong di lounge elite, pulang subuh, dan akrab dengan kehidupan malam.

​Puncaknya, setelah mabuk berat akibat patah hati, Bita membuat kekacauan terbesar dalam hidupnya. Di area parkir remang-remang, ia mengira seorang cowok jangkung yang sedang duduk tenang di atas moge hitamnya adalah tukang parkir. Dengan lancang, Bita memaki-maki cowok itu, menarik kerah bajunya, dan... muntah tepat di atas sepatu sneakers mahal si cowok sebelum akhirnya pingsan.

Sepanjang insiden itu, si cowok hanya diam, menatap Bita dengan pandangan dingin yang tidak terbaca, lalu menolongnya dengan tenang.

​​Kehabisan kesabaran, orang tua Bita memberikan hukuman final: Bita dijodohkan dengan anak pemilik salah satu Pesantren.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Elma Grace, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

BAB 15

​Pagi hari terakhir Umi menginap diwarnai dengan kesibukan kecil yang terasa damai. Ruang makan dipenuhi aroma nasi goreng mentega dan telur dadar tipis yang diiris rapi—menu sarapan sederhana yang pagi ini disiapkan oleh Umi dengan bantuan Bita yang bertugas memotong mentimun dan menata piring.

​Ibra baru saja turun dari lantai dua, sudah rapi dengan kemeja koko kasual berwarna navy dan celana kain gelap. Ia sempat berhenti di ambang pintu dapur, memandangi siluet punggung istrinya yang sedang tertawa kecil mendengarkan cerita masa kecilnya dari mulut Umi. Ada binar kehangatan di sepasang mata tajam Ibra yang tidak bisa ia sembunyikan pagi itu.

​"Nah, ini dia orangnya baru turun," celetuk Umi begitu menyadari kehadiran anak laki-lakinya. "Ibra, ini istrimu dari tadi nanyain, apa benar kamu dulu waktu kecil nangis semalaman cuma gara-gara sarung kesayanganmu hanyut waktu dicuci di sungai pondok?"

​Wajah Bita langsung menoleh ke arah Ibra, menahan senyum geli yang sangat kentara. "Beneran, Gus? Seorang Gus Ibra yang kalau ngomong lempeng banget begini, dulu pernah nangis cuma gara-gara sarung?"

​Ibra berjalan mendekati meja makan, menarik kursi di sebelah Bita dengan tenang. Seulas senyuman tipis yang sangat hangat terukir di wajah tampannya saat menatap mata bulat istrinya. "Itu sarung pemberian dari Abi setelah saya khatam hafalan juz amma pertama kali, Bita. Tentu saja nilainya berbeda."

​"Tetap aja kocak, Gus," kekeh Bita, menaruh sepiring nasi goreng di depan Ibra. "Nih, sarapan dulu. Awas jangan sampai hanyut lagi nasinya."

​Umi tersenyum penuh arti melihat interaksi manis di depannya. Beliau bisa merasakan perbedaan besar dari hari pertama kedatangannya. Ketegangan dan jarak yang sempat ia tangkap samar-samar di antara anak dan menantunya kini telah mencair, digantikan oleh ritme kedekatan yang alami dan tulus.

​Setelah sarapan selesai, tiba saatnya untuk mengantar Umi pulang. Sebelum melangkah keluar rumah, Umi meminta Bita untuk menemaninya sebentar ke kamar tamu untuk memeriksa apakah ada barang yang tertinggal di dalam koper.

​Saat pintu kamar ditutup, Umi tidak langsung memeriksa kopernya. Wanita paruh baya yang anggun itu justru berbalik, lalu menggenggam kedua telapak tangan Bita dengan sangat lembut.

​"Bita, Nak..." panggil Umi, suaranya terdengar begitu teduh.

​"Iya, Umi? Ada barang yang ketinggalan?" tanya Bita beralasan, merasa sedikit gugup karena tatapan mata Umi yang begitu dalam.

​Umi menggeleng pelan, lalu mengusap punggung tangan Bita dengan ibu jarinya. "Umi cuma mau bilang terima kasih. Terima kasih karena sudah menyambut Umi dengan sangat baik di sini. Dan terima kasih... karena sudah mau membuka hati untuk anak Umi."

​Bita tertegun. Detak jantungnya mendadak berkejaran. "U-Umi... Bita sebenarnya masih banyak kurangnya. Bita belum bisa masak yang bener, belum bisa jadi istri yang sholeha kayak kriteria Umi atau keluarga pondok..."

​"Nak, dengarkan Umi," potong Umi lembut, menatap lekat-lekat ke dalam mata menantunya. "Ibra itu anak yang kelihatannya diam dan tidak pandai merangkai kata-kata manis seperti anak zaman sekarang. Tapi sejak kecil, dia adalah anak yang paling tulus. Kalau dia sudah memilih untuk menjaga seseorang, dia akan menyerahkan seluruh jiwa dan raganya untuk memastikan orang itu aman. Dua hari ini, Umi melihat bagaimana cara Ibra menatapmu, cara dia memperhatikan hal-hal kecil tentangmu... Umi tahu, anak Umi sudah menaruh hatinya di kamu."

​Air mata Bita mendadak menggenang di pelupuk matanya. Kalimat Umi rasanya seperti pelukan hangat yang memvalidasi keberadaannya, sesuatu yang sangat asing ia dapatkan dari lingkungan keluarganya sendiri.

​"Umi sangat bahagia melihat kalian berdua harmonis," lanjut Umi, menarik Bita ke dalam pelukan hangatnya. "Jangan pernah merasa minder atau tidak pantas, ya? Di mata Umi, kamu adalah menantu terbaik yang Allah pilihkan untuk melengkapi hidup Ibra."

​Bita membalas pelukan itu dengan erat, menyembunyikan wajahnya di bahu mertuanya dengan rasa syukur yang membuncah di dalam dada.

​Sore harinya, suasana rumah mewah itu kembali sunyi setelah Umi pulang. Langkah kaki Bita dan Ibra menggema pelan saat mereka melangkah masuk kembali ke dalam rumah setelah menempuh perjalanan cukup panjang.

​Hawa sepi mendadak menyergap. Dan bersamanya, sebuah kesadaran baru menghantam benak Bita.

​Umi sudah pulang. Berarti... skenario tidur sekamar sudah berakhir.

​Bita berdiri mematung di ruang tengah, meremas tali tas kecilnya dengan bimbang. Matanya melirik ke arah tangga lantai dua, lalu beralih pada Ibra yang sedang melonggarkan kancing teratas kemejanya sambil berjalan menuju dapur bersih untuk mengambil air putih.

​Ada rasa tidak rela yang mendadak menyelusup di hati Bita, sebuah perasaan asing yang membuatnya mendadak enggan kembali ke kamarnya yang luas namun terasa dingin jika harus sendirian lagi seperti dua minggu pertama pernikahan mereka.

​Ibra keluar dari dapur membawa dua gelas air dingin, berjalan mendekat lalu menyodorkan salah satu gelas ke depan Bita. "Minum dulu, Bita. Kamu kelihatan lelah."

​Bita menerima gelas itu, menyesapnya sedikit. "Gus..."

​"Ya? Ada apa?" Ibra menatap Bita dengan sabar, menunggu kelanjutan kalimat istrinya.

​"Umi... udah pulang, ya," gumam Bita bodoh, merutuki dirinya sendiri karena tidak bisa menemukan topik pembicaraan yang lebih bermutu.

​Ibra tersenyum sangat tipis, seolah bisa membaca keraguan yang sedang berkecamuk di dalam kepala gadis di depannya. "Iya. Umi sudah sampai di pondok dengan selamat."

​Ibra menjeda kalimatnya sejenak, menaruh gelasnya di atas meja konsol, lalu menatap Bita dengan sorot mata yang teramat tenang dan penuh pengertian. "Terkait barang-barang saya di kamar utama... sore ini akan saya pindahkan kembali ke kamar sebelah. Umi sudah tidak ada di sini, jadi kamu bisa mendapatkan kembali ruang privasimu tanpa perlu merasa canggung lagi karena kehadiran saya."

​Deg.

​Kalimat Ibra yang begitu pengertian dan penuh rasa hormat terhadap batasannya justru terasa seperti cubitan kecil di dada Bita. Bita menunduk, menatap lantai parket kayu di bawah kaki mereka. Sifat gengsi tingginya mendadak berperang hebat di dalam kepala. Ia ingin melarang pria itu pindah, tapi harga dirinya menolak untuk terlihat terlalu berharap.

​Melihat Bita yang hanya diam membisu, Ibra mengira istrinya setuju. Pria itu berbalik perlahan, bersiap menaiki anak tangga untuk mulai membereskan pakaiannya di dalam lemari kamar utama.

​"G-Gus! Bentar!"

​Langkah tegap Ibra seketika terhenti di anak tangga pertama. Ia membalikkan tubuhnya, menaikkan sebelah alisnya dengan tatapan bertanya yang sabar. "Ya, Tsabita? Ada apa?"

​Bita menggigit bibir bawahnya keras-keras, meremas ujung kaus panjangnya dengan gugup. Wajahnya mulai merona merah pekat. "Itu... lo... lo gak usah buru-buru pindah deh."

​Ibra terdiam sejenak, menatap lekat-lekat pada ekspresi wajah istrinya yang tampak begitu menggemaskan dengan pipi yang merona. "Maksud kamu?"

​"Y-ya... maksud gue... mindahin baju sore-sore gini kan capek, kita baru balik dari nganter Umi, terus lo besok mesti ngurusin urusan bisnis ekspor-impor lo lagi yang numpuk," cerocos Bita dengan alasan yang dicari-cari, matanya bergerak liar menghindari tatapan Ibra. "Terus... kasur di kamar utama kan king size. Kegedean kalau gue tidurin sendirian, berasa sepi aja setelah Umi pulang..."

​Suara Bita merendah di akhir kalimat, menyisakan keheningan yang mendebarkan di antara mereka berdua.

​Ibra tidak langsung menjawab. Pria itu melangkah turun kembali dari anak tangga, memotong jarak di antara mereka hingga ia berdiri tepat di hadapan Bita. Kehadiran tubuh tegapnya yang maskulin seketika mendominasi indra penciuman Bita dengan aroma lavender dan kayu cendana.

​Ibra mengulurkan tangannya, dengan sangat lembut menyelipkan beberapa helai rambut Bita yang keluar dari jilbab kaosnya ke belakang telinga. Sentuhan jarinya yang hangat membuat tubuh Bita berdesir halus.

​"Bita, lihat saya," bisik Ibra teramat lembut.

​Bita perlahan mendongak, memberanikan diri menatap sepasang mata tajam milik suaminya.

​"Kamu tidak perlu mencari alasan soal baju atau kasur yang kegedean jika kamu memang ingin saya tetap tinggal di sana," tutur Ibra dengan suara baritonnya yang sarat akan ketulusan dan ketenangan yang mendalam. Ia tersenyum, sebuah senyuman yang begitu menawan hingga sanggup meluluhkan seluruh pertahanan ego Bita. "Cukup katakan kalau kamu membutuhkan saya di sisimu, maka saya tidak akan pernah melangkah keluar dari kamar itu."

​Jantung Bita serasa berhenti berdetak sekilas sebelum akhirnya berdegup dengan ritme yang luar biasa liar. Air matanya hampir saja menetes karena rasa haru. Tanpa memedulikan gengsinya lagi, Bita mengangguk perlahan, menyembunyikan wajahnya yang merah merona di dada bidang suaminya.

​"Iya... jangan pindah, Gus. Tetep di sini aja," bisik Bita tulus dari lubuk hatinya yang paling dalam.

​Ibra tidak menjawab dengan kata-kata. Sebagai balasannya, lengan kekarnya bergerak melingkar erat di sekeliling tubuh Bita, membawa istrinya ke dalam sebuah dekapan hangat yang penuh dengan rasa aman dan kepemilikan mutlak. Sore itu, di tengah keheningan rumah baru mereka, sekat pembatas di antara dua dunia yang berbeda itu akhirnya benar-benar runtuh, menyisakan dua hati yang mulai belajar untuk saling bertaut selamanya.

1
Anita Rahayu
kapan ni buat dedek bayi yg gemoy
Elma Grace: eh tenang aja. ada kok nanti. tunggu yaa, bikin sedikit konflik biar makin deket dulu merekanyaa
total 1 replies
merry
kyky reno ngk bergerak sndrian dehh,, x Safira itu terlibat krn iri sm bita x y
Clarisa Putri: aku juga mikir gini
total 1 replies
Sri Jumiati
apa safira suka sm gus ibra ya
Elma Grace
/Rose//Heart/
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!