Sejak bayi, Chelsea tumbuh dalam pelukan keluarga yang memberinya cinta tanpa batas.
Tanpa sadar ... Chelsea mencintai satu orang yang tak seharusnya ia cintai. Sampai sebuah rahasia menghancurkan semuanya.
Sayangnya, orang yang paling ia cintai memilih untuk mempercayai kebohongan. Chelsea pergi dengan hati yang hancur dan berjanji untuk kembali sebagai kebanggaan keluarga.
Dia bangkit dan membuktikan bahwa dirinya mampu berdiri sendiri. Saat semua kebenaran terungkap
El baru sadar bahwa dia telah kehilangan seseorang yang selalu mencintainya.
Namun di saat yang sama, seseorang datang membawa cinta yang selama ini diam-diam ia simpan, Al. Akankah Chelsea membuka hatinya kembali? Atau memilih meninggalkan semua luka di masa lalu?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon mama reni, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab Empat
Malam itu berakhir lebih cepat dari yang Chelsea bayangkan. Setelah makan malam selesai, mereka bertiga keluar dari restoran. Udara malam terasa dingin, tapi justru hati Chelsea terasa lebih sesak dari sebelumnya.
El berjalan di samping Zoya, sementara Chelsea berada sedikit di belakang mereka. Pemandangan biasa bagi pasangan kekasih itu seharusnya tidak menyakitkan, karena memang sudah seharusnya seperti itu.
El bersama kekasihnya. Bukan bersamanya. Namun entah kenapa, melihat El yang kini lebih sering menoleh pada Zoya membuat Chelsea merasa kehilangan sesuatu yang bahkan tidak pernah ia miliki.
Sampai di mobil, El membukakan pintu untuk Chelsea seperti biasanya. “Masuk, Chel.”
Chelsea menatap pintu mobil itu sebentar. Kebiasaan kecil yang selalu El lakukan sejak dulu. Dulu, ia akan tersenyum bahagia hanya karena El masih mengingat hal-hal kecil tentang dirinya.
Tapi malam ini berbeda. “Bang El, aku bisa sendiri.”
El terdiam. Chelsea tersenyum kecil lalu masuk ke dalam mobil. Sementara El hanya menatapnya beberapa detik sebelum akhirnya menutup pintu.
Zoya yang berdiri di sampingnya memperhatikan perubahan kecil itu. “Kamu kenapa?”
El menoleh. “Emang aku kenapa?” Bukannya menjawab pertanyaan Zoya, El justru bertanya balik.
“Kamu terlihat seperti sedang memikirkan sesuatu.”
El menggeleng. “ Aku rasa nggak ada.”
Zoya tidak langsung percaya, tapi ia memilih diam. Perjalanan pulang terasa lebih sunyi dari perjalanan berangkat tadi. Chelsea duduk di kursi belakang.
Biasanya ia akan duduk di depan bersama El. Mereka akan berbicara tentang banyak hal, tertawa, atau bahkan saling mengejek seperti anak kecil.
Tapi malam ini ia memilih diam. El beberapa kali melihat ke kaca tengah. Ia melihat Chelsea yang menatap keluar jendela. Ada sesuatu yang berbeda. Dan anehnya, itu membuat El merasa tidak nyaman.
Sesampainya di rumah, Chelsea langsung turun setelah El memarkirkan mobil. “Aku masuk dulu ya.”
El mengernyit. “Chel.”
Chelsea berhenti. “Iya?”
“Kamu marah sama Abang?”
Pertanyaan itu membuat Chelsea terdiam. Marah? Bagaimana mungkin ia marah? El tidak melakukan kesalahan apa pun. Ia hanya mencintai seseorang. Sesuatu yang memang berhak ia lakukan. Tapi semua hanya Chelsea ucapkan dalam hati.
Chelsea tersenyum. “Nggak kok.”
“Tapi kamu beda.”
Chelsea menunduk sebentar. “Itu perasaan Abang saja. Mungkin aku cuma capek.”
Jawaban yang sama. Jawaban yang tadi ia berikan juga di perjalanan. El tahu Chelsea sedang menghindar. Tapi ia tidak tahu alasannya.
“Kamu tahu kan, kalau ada apa-apa cerita sama Abang. Jangan di pendam sendiri."
Lagi-lagi kalimat sederhana dan biasa dari El itu membuat Chelsea hampir kehilangan pertahanannya. Karena bagaimana ia bisa mengatakan semuanya? Bagaimana ia bisa berkata bahwa alasan ia berubah adalah karena pria di depannya?
Bahwa setiap perhatian kecil yang El berikan membuatnya semakin sulit melepaskan perasaan yang dirasakan. Chelsea hanya mengangguk.
“Iya, Bang.” Lalu ia masuk ke dalam rumah, meninggalkan El yang masih berdiri di tempatnya.
Di kamar, Chelsea duduk di tepi tempat tidur. Ia membuka ponselnya. Ada foto lama dirinya dan El. Foto saat mereka masih kecil.
El yang saat itu berusia lebih tua dua bulan berdiri sambil tersenyum, sementara Chelsea kecil memegang tangannya erat. Walau perbedaan usia mereka tak begitu jauh, badan Chelsea yang kecil membuat umurnya seperti jauh dibawah El.
Di bawah foto itu ada tulisan dari El. “Adik yang akan selalu Abang lindungi.”
Chelsea tersenyum sedih. Dulu kalimat itu membuatnya bahagia. Sekarang justru membuatnya sadar. Ia memang hanya akan menjadi adik bagi El. Tidak lebih.
Air mata yang sejak tadi ia tahan akhirnya jatuh. “Kenapa harus kamu, El?”
Suara Chelsea bergetar. “Kenapa harus orang yang selalu membuat aku merasa dicintai?”
Chelsea menghapus air matanya. Ia kembali berkata dalam hatinya, "Aku yang salah. Seharusnya perasaan ini tak boleh ada. Aku yang memulai dan aku yang harus mengakhiri perasaan ini."
Sementara itu di ruang keluarga, El masih belum tidur. Ia duduk bersama Arsaka dan Hana.
Arsaka yang sejak tadi memperhatikan anaknya akhirnya bertanya. “Kamu kenapa?”
El menoleh. “Tak ada apa-apa. Emang kenapa Daddy bertanya begitu?"
“Dari tadi kamu terlihat melamun.”
El diam. Kemudian ia menghela napas. “Aku merasa Chelsea berubah.”
Hana yang sedang membaca sesuatu langsung menatapnya. “Berubah bagaimana?”
“Entahlah.”
El mengingat kembali bagaimana Chelsea malam ini lebih diam. Bagaimana ia menolak bantuan kecilnya. Bagaimana senyumnya terlihat berbeda.
“Dia seperti menjaga jarak.”
Hana dan Arsaka saling melihat. Mereka tidak mengatakan apa-apa. Karena sebagai orang tua, mereka tahu terkadang ada hal-hal yang bahkan anak mereka sendiri belum siap ungkapkan.
“Chel mungkin merasa sudah dewasa, El.”
Ucapan Hana membuat El menatap ibunya.
“Mungkin dia sedang belajar punya dunianya sendiri.”
El mengerutkan kening. “Tapi dia tetap Chelsea.”
Hana tersenyum kecil. “Iya. Tapi Chelsea bukan anak kecil lagi.”
Kalimat itu membuat El diam. Karena tanpa ia sadari, selama ini ia memang selalu melihat Chelsea sebagai gadis kecil yang harus ia jaga. Padahal Chelsea sudah tumbuh menjadi wanita dewasa. Dan sebenarnya usia mereka sama.
Dan mungkin suatu hari nanti, akan ada seseorang yang menggantikan posisinya untuk menjaga Chelsea. Pikiran itu entah kenapa membuat El merasa aneh.
Keesokan paginya, meja makan keluarga Arsaka kembali ramai seperti biasa. Namun Chelsea terlihat berbeda. Ia tersenyum, berbicara, dan tertawa. Tapi El tahu senyum itu tidak sama.
“Kamu mau ke kampus?” tanya El.
Chelsea mengangguk. “Iya.” Gadis itu saat ini sedang melanjutkan Pascasarjana.
“Aku antar.”
Chelsea langsung menggeleng. “Nggak perlu, Bang. Aku bisa pergi sendiri.”
El terdiam. Tidak biasanya gadis itu menolak bantuan dan tawaran darinya. Karena selama ini Chelsea selalu berkata, “Iya, Abang.”
Bukan menolaknya. El lalu berkata lagi, “Chel .…”
Chelsea tersenyum. “Abang jangan khawatir. Aku bukan anak kecil lagi. Aku harus belajar mandiri. Lagi pula usia kita sama. Abang saja yang mengganggap aku kecil."
Dan entah kenapa, kalimat itu membuat El terdiam. Karena baru kali ini Chelsea mengingatkannya bahwa gadis kecil yang dulu selalu menggenggam tangannya, sudah mulai melepaskan tangannya.
"Bang, suatu hari nanti jika kamu telah berkeluarga aku tak mungkin akan terus minta bantuan. Aku harus belajar mandiri. Jangan kuatir. Usiaku saat ini justru seharusnya sudah memiliki anak yang harus dilindungi."
Chelsea lalu pamit setelah mengucapkan itu pada El. Tanpa menunggu jawaban dari pria itu.
jgn El....
biarin dia ma yoza aj...🤣🤣🫣mkn tu gundik GK tau diri
bahagia banget karena ga ngurusi hidup orang lain.
ga ada sirik maupun dengki
lagian juga lu ga sepenting itu buat dipikirin 😁
jadi ..awas kalau lu ga ganggu " chealsea
lu mau koprol" kek Ama El
bomat 🤣
lanjut thor 🙏
tapi sama Noah jg gak papa🤭
semoga Arsaka lebih ngek dengan tujuan mereka