Park Soo-jin, siswi baru yang pindah ke SMA Haneul di Seoul, menghadapi beban berat: biaya sekolah dan pengobatan ayah yang terus menumpuk. Saat kehabisan pilihan, ia menemukan sebuah lowongan dengan bayaran tinggi—namun tugasnya tak terduga: menjadi pemburu hantu sekolah.
Di siang hari, ia adalah siswi biasa yang berusaha mengikuti pelajaran. Di malam hari, ia menyusuri koridor sepi, ruang kelas terbengkalai, dan lorong gelap untuk menenangkan arwah yang belum tenang. Awalnya hanya demi uang, perlahan Soo-jin menyadari tugas ini mengajarkannya lebih dari sekadar keberanian: setiap bayang memiliki kisah, dan setiap perjuangan punya makna.
Akankah ia mampu bertahan menyeimbangkan kehidupan sekolah dan rahasia kelam yang tersembunyi di balik tembok sekolahnya?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon chiechie kim, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Korban yang Tak Bersuara
“Seung-hyun! Kau baik-baik saja?” tanya Soo-jin cemas, saat melihat temannya perlahan luruh dan duduk bersandar di dinding, seolah seluruh tenaganya tersedot habis oleh kesedihan yang baru saja mereka saksikan.
Seung-hyun hanya mengangguk pelan, namun wajahnya basah oleh air mata yang tak mampu ia tahan lagi.
Tiba-tiba terdengar langkah kaki yang tergesa-gesa berlari mendekat ke arah mereka. Min-woo menoleh, dan matanya membelalak tak percaya mengenali sosok yang datang terhuyung-huyung dengan napas memburu.
“Kau…” gumam Min-woo, suaranya tercekat.
Gadis itu—teman sekelas Yeon-woo yang dulu lari ketakutan—berhenti di hadapan mereka, tubuhnya gemetar hebat. “Aku… aku minta maaf… pada Yeon-woo…”
Mendengar suara itu, Seung-hyun yang sedari tadi menunduk mendongak seketika. Matanya menyala penuh amarah. “Kau… kau kan?!”
Tanpa berpikir panjang, Seung-hyun melangkah maju dan mendorong gadis itu hingga terjatuh ke lantai. Min-woo segera bertindak cepat, menarik tubuh Seung-hyun ke belakang agar tidak terjadi hal yang lebih buruk.
“Kaulah yang membuat Yeon-woo menderita!” bentak Seung-hyun dengan suara bergetar, penuh kemarahan yang tak lagi bisa ia tahan. “Kau tahu segalanya… tapi kau diam saja!”
Gadis itu terjatuh, namun tak berusaha bangkit. Ia memeluk lututnya sambil menangis tersedu-sedu.
“Aku tahu… aku pengecut,” isaknya. “Aku melihat semuanya, tapi aku diam saja. Aku terlalu takut sampai dia akhirnya tertangkap. Sekarang aku baru berani datang meminta maaf… tapi sudah terlambat.”
Seung-hyun yang masih menahan amarah, perlahan merasakan kemarahan itu perlahan melebur bersama rasa sedih yang mendalam. Ia melepaskan genggaman tangannya yang mengepal.
Soo-jin kembali menatap sosok samar Yeon-woo. Di sana, gadis itu berdiri tenang, menatap temannya itu bukan dengan dendam, melainkan dengan tatapan yang memaafkan.
“Dia sudah tidak menyalahkanmu,” ucap Soo-jin pelan, seolah mengulang apa yang disampaikan Yeon-woo. “Dia tahu kau juga terjebak rasa takut yang sama. Dan karena pelakunya sudah dihukum, kau tidak perlu takut lagi.”
Mendengar itu, gadis itu menengadah, air matanya semakin deras namun kali ini terasa melegakan. “Benarkah… dia tidak marah padaku?”
Yeon-woo perlahan mengangguk samar, lalu melambaikan tangan pelan seolah berkata: Pergilah, hiduplah dengan tenang.
Min-woo menghela napas panjang, menatap sosok Yeon-woo yang perlahan terlihat lebih damai, beban yang mengikatnya selama ini mulai terangkat.
Mereka semua masih berada di dalam ruang kosong gedung sekolah tempat Yeon-woo sering melakukan siaran. Belum sempat gadis itu tenang sepenuhnya, tiba-tiba angin dingin menderu kencang menyapu ruangan itu. Sebuah bayangan gelap melesat dari arah jendela yang terbuka, dan dengan kasar mencengkeram bahu gadis itu hingga ia berteriak ketakutan.
Wujud itu adalah sosok siswi lain—salah satu korban yang juga terjebak dalam jaring kejahatan yang sama. Matanya menatap tajam penuh dendam.
“Kaulah penyebabnya!” suaranya melengking bergema di dinding kosong. “Kau tahu semuanya, tapi kau diam saja! Kau yang membuatku mati sia-sia! Kau harus ikut bersamaku!”
Cengkeraman itu semakin kuat, gadis itu meronta tak berdaya. Seung-hyun, Min-woo, dan Soo-jin segera bergerak mencegahnya, namun kemarahan arwah itu begitu besar hingga hawa di ruangan itu terasa semakin mencekam.
Di tengah kekacauan itu, sosok samar Yeon-woo tiba-tiba melangkah maju, berdiri tegak di hadapan arwah yang marah itu.
“Cukup!” suara Yeon-woo terdengar lembut namun tegas, bergema memenuhi ruangan yang sunyi. Ia berdiri tegak di antara arwah yang marah dan gadis yang gemetar ketakutan. “Dia bukan musuh kita. Kita semua adalah korban dari orang yang sama.”
Arwah yang penuh amarah itu terhenti sejenak, menatap Yeon-woo dengan pandangan yang masih bercampur sakit hati. “Tapi dia tahu… dia bisa bicara… dan dia diam saja…”
“Karena dia juga takut,” jawab Yeon-woo pelan namun mantap. “Sama seperti kita dulu. Ketakutan itulah yang membuat kita semua menderita. Jangan biarkan rasa takut itu menguasai kita lagi sekarang, saat orang yang menyakiti kita sudah mendapatkan balasannya.”
Perlahan namun pasti, cengkeraman arwah itu melemah. Ia menatap telapak tangannya sendiri, lalu melihat wajah Yeon-woo yang penuh pengertian tanpa sedikit pun dendam. Rasa marah yang membakar dadanya perlahan luluh berganti menjadi kesedihan yang mendalam.
“Sudah selesai… semuanya sudah selesai,” bisik Yeon-woo lagi. “Kita tidak perlu membawa rasa sakit itu lagi. Mari kita berdamai, dan beristirahatlah dengan tenang.”
Arwah itu perlahan menangis, tubuhnya yang samar bergetar. Ia akhirnya mengangguk pelan, dan bayangan gelap di sekelilingnya mulai memudar perlahan.
Cahaya lembut perlahan menyelimuti seluruh ruangan. Wujud samar Yeon-woo dan arwah korban lainnya kini tampak begitu tenang, jauh dari rasa takut dan amarah yang selama ini mengikat mereka.
Yeon-woo menoleh ke arah gadis yang masih terisak, lalu tersenyum tulus—senyum yang sama seperti dulu, sebelum semuanya berubah kelabu. “Terima kasih sudah datang. Jangan kau sesali dirimu lagi. Hiduplah dengan baik, dan jangan biarkan siapapun menyakitimu atau orang lain.”
Gadis itu mengangguk deras, air matanya mengalir namun kali ini membawa lega. “Maafkan aku… terima kasih, Yeon-woo.”
Kemudian Yeon-woo menatap Soo-jin, Min-woo, dan Seung-hyun bergantian. “Terima kasih… karena kalian mau mendengar ceritaku, dan mempercayai bahwa aku tidak bersalah.”
Perlahan wujud mereka semua mulai memudar, menyatu dengan cahaya lembut itu hingga akhirnya menghilang sepenuhnya. Ruangan kembali sunyi, namun tidak lagi dingin dan menakutkan—melainkan terasa damai, seolah beban berat yang menggantung di sana selama ini akhirnya terangkat pergi.
Seung-hyun menghela napas panjang, menatap ruangan kosong itu dengan hati yang lega meski masih terasa perih. “Mereka sudah pergi… mereka akhirnya bisa beristirahat dengan tenang.”
Min-woo merangkul bahu temannya pelan. “Ya. Dan keadilan sudah ditegakkan. Sekarang giliran kita yang melanjutkan hidup dengan lebih berhati-hati.”
Soo-jin perlahan menghampiri gadis itu, mengulurkan tangan dan merangkul bahunya untuk membantunya berdiri.
“Jangan takut… kau sudah aman sekarang,” ucap Soo-jin lembut, menatapnya dengan pandangan yang tulus menenangkan.
Gadis itu menatapnya sejenak, lalu langsung membalas pelukan itu erat-erat. Ia menangis sejadi-jadinya, melepaskan semua rasa takut dan rasa bersalah yang selama ini ia pendam sendirian.
“Terima kasih… terima kasih banyak…” isaknya pelan.
Mereka semua berdiri di sana dalam keheningan yang damai, menyadari bahwa meski luka itu takkan hilang begitu saja, kini tak ada lagi rahasia, tak ada lagi ancaman dan tak ada lagi yang harus disembunyikan.setidaknya semua sudah teratasi dengan baik.