Di bawah langit Las Angeles, Scarlett Langford bertarung melawan kemiskinan dengan kecerdasan dan percaya diri.
Demi mempertahankan harga dirinya di High School, gadis yatim ini nekat menciptakan sebuah kebohongan besar sebagai kekasih rahasia Millian Vale-Knight—Pria yang tak pernah ia temui.
Namun, takdir gemar bercanda.
Saat bekerja paruh waktu sebagai pelayan pesta borjuis, Scarlett terlibat bentrokan sengit dengan seorang pemuda kaya yang angkuh dan bermata heterochromia.
Tanpa rasa takut, Scarlett memaki pria tersebut seraya berteriak bahwa ia hanya takut jika pria itu adalah Millian Vale-Knight .
Scarlett tidak pernah tahu bahwa pria 'brengsek' yang baru saja ia maki di depan mukanya justru adalah Millian yang sesungguhnya.
Ketika tameng kebohongan menabrak realitas, akankah kepalsuan ini berubah menjadi jerat cinta, atau justru menjadi awal dari kehancuran Scarlett?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Daeena, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
#28
Jauh dari gemerlap lampu kota Los Angeles dan dinginnya angin gunung yang menusuk di perkemahan, sebuah rahasia kelam sedang terurai di sebuah pinggiran kota California yang terisolasi.
Di dalam sebuah gudang tua berlantai beton yang lembap dan pengap, bau karat dan ketakutan menguar pekat ke udara.
Suara jeritan melengking memecah kesunyian malam yang mencekam di tempat itu.
"Tolong lepaskan saya! Saya tidak tahu apa-apa, Nyonya! Saya mohon..."
Brianna, dengan kondisi tubuh yang gemetar hebat dan pakaian yang sudah koyak di beberapa bagian, terikat kuat di atas sebuah kursi besi di tengah ruangan.
Wajah cantiknya yang biasa ceria kini dipenuhi memar, air mata, dan keringat dingin yang bercampur baur.
"Saya bahkan... saya bahkan tidak berteman dekat dengan Scarlett Langford! Demi Tuhan, kami sama sekali tidak mengenal satu sama lain secara mendalam! Aku bahkan membencinya... Aku membenci gadis itu!" teriak Brianna bohong, suaranya parau dan serak, mencoba mengorbankan egonya demi menyelamatkan nyawanya sendiri, sekaligus mencoba memutus benang merah yang mengaitkan dirinya dengan Scarlett.
Mendengar jeritan histeris tersebut, seorang wanita paruh baya yang duduk di atas kursi sofa kulit mewah di ujung ruangan tampak tertawa rendah.
Suara tawanya terdengar sangat dingin, kering, dan sarat akan kekejaman yang mutlak.
Wanita itu adalah Dorothy Moore.
Dengan setelan pakaian formal bermerek mahal dan tongkat berkepala perak yang bertengger di jemarinya yang keriput, ia memancarkan aura diktator yang tak tersentuh.
"Gadis miskin tidak berguna," cibir Dorothy Moore, menatap Brianna dengan pandangan seolah-olah sedang melihat seekor serangga kecil yang mengganggu.
"Kau pikir kau sedang berhadapan dengan siapa, hah? Kau pikir aku, Dorothy Moore, tidak tahu apa-apa tentang kehidupan kalian?"
Dorothy mengetukkan tongkat peraknya ke atas lantai beton dengan bunyi dentuman yang menggema kuat.
"Kau adalah sahabat terdekat dari cucu perempuanku. Aku sudah menyelidiki seluruh riwayat hubunganmu, pesan-pesanmu, dan setiap interaksimu dengan cucuku selama satu tahun terakhir ini. Jadi, berhentilah berbohong sebelum aku kehilangan sisa kesabaranku."
Brianna menggelengkan kepalanya dengan kuat, napasnya memburu dihantam kepanikan. "Itu bohong! Saya benar-benar membencinya karena... karena dia adalah gadis yang sangat cerewet, sombong, dan—"
"Siram dia lagi," perintah Dorothy dingin, melambaikan tangan kirinya dengan gestur malas tanpa emosi.
Byuuuurrr!
"Ahhhh! Dingin! Ampuni saya... tolong hentikan!" jerit Brianna seketika saat seember air es yang membekukan kembali diguyur tepat di atas kepalanya oleh seorang pria berbadan kekar di belakangnya.
Tubuhnya menggigil hebat, pasokan oksigennya seakan terputus oleh rasa dingin yang mencengkeram dadanya.
Dorothy Moore mendengus pekat, menatap bosan ke arah Brianna yang sudah separuh kesadaran. "Kau benar-benar gadis yang sangat keras kepala."
Dorothy kemudian memalingkan wajahnya, menatap ke arah kepala pengawal pribadinya yang berdiri tegap di samping pintu besi.
"Kapan kalian akan membawa wanita itu kemari?" tanya Dorothy dengan nada suara yang menuntut mutlak.
Pengawal berjas hitam itu menundukkan kepalanya dengan hormat sebelum menjawab, "Mohon maaf, Nyonya Besar. Target kedua—**Gloria**, ibu tiri dari Scarlett—selalu berada di lingkungan tempat kerja darurat yang sangat ramai dan selalu tersorot oleh kamera pengawas publik selama beberapa hari ini.
Hal itu membuat tim kami sedikit kesulitan untuk melancarkan aksi penjemputan paksa tanpa menimbulkan kecurigaan polisi.
Namun, kami pastikan kami akan segera membawanya ke tempat ini dalam waktu dekat, Nyonya."
"Ya, bagus. Aku ingin kedua wanita miskin yang menjadi parasit di sekitar cucuku itu bisa segera bergabung di gudang ini," ucap Dorothy dengan senyuman keji yang terukir di wajah keriputnya.
"Siap, dimengerti, Nyonya Besar," jawab sang pengawal patuh.
Di atas kursi besinya, Brianna yang rambutnya basah kuyup hanya bisa terdiam dengan bibir yang membiru karena kram dingin.
Di dalam lubuk hatinya yang terdalam, rasa takut yang luar biasa menjalar bukan lagi untuk keselamatan dirinya sendiri, melainkan untuk sahabat terbaiknya yang saat ini berada di perkemahan.
*Ya Tuhan... tolong lindungi Scarlett. Jangan biarkan nenek sihir ini menyentuhnya*... batin Brianna menangis dalam kesunyian malam.
Kenyataan pahit yang tidak pernah diketahui oleh Scarlett Langford adalah bahwa wanita paruh baya berdarah dingin bernama Dorothy Moore ini ternyata adalah ibu kandung dari mendiang **Tyler Moore**—ayah kandung Scarlett yang baru saja meninggal dunia beberapa waktu lalu.
Bertahun-tahun yang lalu, Tyler Moore adalah satu-satunya putra mahkota sekaligus pewaris tunggal dari dinasti bisnis keluarga Moore yang sangat disegani.
Namun, demi mempertahankan cintanya pada seorang wanita sederhana, Tyler memilih untuk kabur dan memutus hubungan dari rencana pernikahan bisnis yang telah dirancang secara paksa oleh ibunya, Dorothy.
Akibat pembangkangan itu, Tyler dicoret dari silsilah keluarga dan terpaksa hidup susah, melarat, dan berjuang sendirian di luar sana tanpa menerima sepeser pun uang atau bantuan dari keluarga Moore.
Dorothy Moore bahkan sama sekali tidak peduli jika putra kandungnya atau cucu perempuan satu-satunya—Scarlett—harus hidup dalam kemiskinan dan kelaparan di pinggiran kota–San Marino.
Bagi Dorothy, nama besar klan Moore, gengsi sosial, dan kehormatan keluarga di mata relasi bisnis jauh lebih berharga daripada nyawa darah dagingnya sendiri. Ia tidak sudi ditertawakan oleh para kolega konglomeratnya karena memiliki putra yang hidup melarat.
Namun, roda keserakahan kini kembali berputar ke arah yang mengerikan.
Saat ini, perusahaan raksasa milik klan Moore yang selama ini dikelola oleh orang kepercayaan Dorothy sedang berada di ambang kebangkrutan besar akibat kegagalan investasi.
Di tengah keputusasaan tersebut, seorang investor raksasa dari klan relasi bisnis lamanya datang menawarkan sebuah kesepakatan emas yang sangat menggiurkan.
Para relasi bisnis itu ternyata mengetahui bahwa Dorothy memiliki seorang cucu perempuan yang selama ini sengaja disembunyikan dan diabaikan dari publik—anak kandung dari mendiang Tyler.
Dan demi menyelamatkan aset kekayaannya, keserakahan Dorothy kembali bangkit untuk membangun sebuah rencana matang yang sangat keji.
Selama satu tahun belakangan ini, Dorothy sengaja membiarkan Scarlett menyelesaikan masa *high school*-nya tanpa gangguan.
Kini, begitu Scarlett menginjakkan kaki di dunia perkuliahan, Dorothy berniat untuk menculik cucu perempuannya itu secara paksa untuk kemudian dinikahkan dengan putra dari relasi bisnisnya demi mengamankan suntikan dana segar senilai jutaan dolar.
Dan untuk memastikan agar Scarlett tidak melakukan pembangkangan seperti yang dilakukan ayahnya dulu, Dorothy telah menyiapkan rencana cadangan yang sangat sempurna: Brianna (sahabat karib Scarlett) dan Gloria (ibu tiri Scarlett) akan dijadikan sebagai jaminan dan ancaman terbesar di balik perencanaan pernikahan paksa tersebut.
Scarlett tidak akan punya pilihan selain patuh jika ia tidak ingin melihat dua orang yang dicintainya itu terluka.
Dorothy Moore berdiri dari sofanya, mengetukkan tongkat peraknya sekali lagi dengan pandangan mata yang dipenuhi ambisi jahat. Ia menatap kepala pengawalnya dengan ketegasan yang mutlak.
"Atur waktu kalian dengan sangat rapi," perintah Dorothy Moore dingin.
"Kau harus bisa menculik dan membawa wanita miskin dari San Marino itu ke hadapanku dalam minggu ini juga. Aku tidak mau tahu bagaimana caranya. Pastikan pernikahan cucu perempuanku dengan putra rekan bisnisku dapat berjalan dengan lancar tanpa ada hambatan apa pun di bulan depan!"
"Baik, Nyonya Besar. Perintah dilaksanakan," jawab sang pengawal, menutup malam darurat itu dengan sebuah konspirasi gelap yang siap menjerat kehidupan Scarlett Langford dalam waktu dekat.
apa bisa up yg banyak biar aku semakin mager
pleaseeee
tinggal ketahap talking stage 🤣🤣🤣