NovelToon NovelToon
Istri Cadangan Sang Mayor

Istri Cadangan Sang Mayor

Status: sedang berlangsung
Genre:Perjodohan / Menikahi tentara / Ibu Tiri
Popularitas:273.5k
Nilai: 5
Nama Author: Mommy Ghina

"Tante Kei, mau nggak jadi mamanya Rafka?"
"What!! Berarti jadi Ibu Persit dong? Dan jadi bini Mayor kaku kayak kanebo?"

Mayor Satria Pramudya, 33 tahun, sudah lima tahun menduda, keluarganya sudah mendesaknya untuk menikah lagi. Sementara, Rafka, anaknya sejak lahir sudah dekat dengan adik istrinya–Keisa Azzura, 21 tahun.

"Dek, kamu yakin Kakak boleh nikah lagi?"
"Ya, boleh lah, masa dilarang. Nanti ularnya bisa karatan loh ... lama-lama menduda. Lagian, Rafka juga butuh sosok ibu."
"Kalau begitu Kakak boleh melamar Adek?"
"Eh, Apa! Maksud Kak Satria gimana?

Keisa tak menyangka kakak iparnya meminang, sedangkan ia sudah punya cowok incaran. Apalagi Satria tidak pernah mengucapkan kata cinta dan ada sesuatu...

Bagaimanakah rumah tangga Satria yang kaku menghadapi Keisha yang barbar? Belum lagi ada rahasia Satria yang tiba-tiba...

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Mommy Ghina, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 29. Kedatangan Rombongan Resmi

Sisa gerimis semalam masih menyisakan aroma tanah basah yang pekat di pekarangan rumah keluarga Farrel. Burung-burung gereja bernyanyi riuh di dahan pohon mangga, kontras dengan suasana di dalam kamar lantai atas yang masih diselimuti keheningan. Di balik selimut tebal bermotif garis-garis, Keisha masih meringkuk pulas. Rambut panjangnya berantakan di atas bantal, dan satu kakinya mencuat keluar, menendang guling hingga hampir jatuh ke lantai. Ketenangan pagi itu adalah kemewahan terakhir yang dimilikinya sebelum badai tak terduga datang mengetuk pagar rumah.

Di lantai bawah, Ibu Dania sudah selesai merapikan dapur setelah sarapan pagi, kini menata kembali cangkir-cangkir teh dan sepiring pisang goreng hangat yang baru matang. Ayah Farrel duduk di kursi rotan teras depan, menikmati udara pagi yang mulai menghangat sembari membolak-balik halaman koran. Semuanya tampak berjalan santai, sampai jarum jam dinding tepat menunjukkan pukul 9 pagi.

Suara deru mesin mobil yang halus namun bertenaga terdengar berhenti tepat di depan gerbang besi rumah mereka.

Krieeek...

Pagar rumah digeser. Ayah Farrel menurunkan kacamatanya, menatap ke arah halaman. Sebuah SUV hitam yang sangat ia kenali terparkir rapi. Pintu kemudi terbuka, menampilkan sosok Satria yang turun dengan gerakan tegap yang teratur. Pria itu tampak sangat gagah. Di bawah asuhan matahari pagi yang mulai meninggi, seragam dinas harian (PDH) hijau lumutnya terlihat licin tanpa cela. Baret hijaunya terpasang sempurna, memancarkan aura wibawa seorang perwira yang siap maju ke medan laga.

Namun, kejutan sebenarnya muncul dari pintu penumpang. Ayah Isa dan Bu Reni turun dengan pakaian yang teramat resmi dan rapi—Ayah Isa mengenakan kemeja batik sutra lengan panjang, sementara Bu Reni tampil anggun dengan kebaya modern berwarna salem. Di barisan paling belakang, Ingrid turun sembari merapikan ujung rok plisketnya yang berwarna senada dengan kebaya Bu Reni. Wajah ayunya dihiasi senyuman manis, meski sepasang matanya dengan cermat merekam setiap detail rumah masa kecil almarhumah Vania itu. Tangannya memegang sebuah keranjang anyaman berisi buah-buahan segar pilihan yang sengaja ia siapkan sejak subuh.

"Loh, Mas Isa, Jeng Reni? Astaga, jam sembilan tepat sudah sampai di sini?" seru Ayah Farrel, langsung bangkit dari kursi rotannya dengan wajah berseri-seri. Ia melangkah lebar menuruni anak tangga teras untuk menyambut sang mantan besan.

"Assalamualaikum, Mas Farrel," sapa Ayah Isa hangat, menjabat tangan Ayah Farrel dengan erat khas cengkeraman sesama pensiunan tentara. "Maaf kalau kami bertamu agak mendadak pagi-pagi begini. Ini semua karena anak laki-laki saya yang satu ini sudah tidak sabar."

"Waalaikumsalam," balas Ayah Farrel

Satria hanya memberikan anggukan hormat yang kaku sembari mencium tangan Ayah Farrel. "Selamat pagi, Ayah."

Bu Reni terkekeh pelan sembari menyenggol lengan suaminya. "Iya, Mas Farrel. Satria ini kalau soal tugas negara disiplin, tapi kalau soal urusan hati ternyata lebih diktator lagi. Kami dipaksa bersiap sejak pagi-pagi dari rumahnya, padahal jam sembilan baru sampai sini karena jalanan agak padat."

Ingrid melangkah maju setapak, membungkuk pelan dengan senyuman yang teramat sopan. "Selamat pagi, Pakde Farrel. Saya Ingrid, keponakan jauh Bude Reni. Mohon maaf jika kedatangan kami mengganggu waktu pagi Bapak."

"Ah, tidak, tidak mengganggu sama sekali. Mari, mari silakan masuk semua. Bu ... Ibu! Ini ada tamu jauh datang!" seru Ayah Farrel ke arah dalam rumah, mempersilakan rombongan resmi itu masuk ke dalam ruang tamu yang wangi karbol pinus.

Sementara di lantai atas, suara riuh di bawah perlahan menembus alam bawah sadar Keisha yang memang terbiasa bangun agak siang jika sedang tidak ada kelas pagi. Gadis dua puluh tahun itu mengerang pelan, menarik selimut untuk menutupi telinganya. Namun, suara tawa Ibunya dan derap langkah kaki yang berat khas sepatu pantofel militer membuat matanya mendadak terbuka lebar.

Tunggu. Suara langkah kaki itu...

Keisha langsung terduduk tegak di atas kasur. Jantungnya mendadak berdegup kencang karena firasat buruk yang tiba-tiba menyengat otaknya. Dengan gerakan panik, ia melompat dari tempat tidur, berlari kecil menuju pintu kamar dan membukanya sedikit untuk mengintip ke arah tangga bawah.

"Satria, minumlah dulu teh hangatnya. Ibu beneran tidak menyangka kamu secepat ini membawa rombongan jam sembilan begini," suara Ibu Dania terdengar jelas dari ruang tamu bawah.

Mampus! Si Kanebo Kering beneran datang bawa pasukan! pekik Keisha dalam hati, wajahnya seketika pucat pasi.

Tanpa sempat mandi atau bahkan menyisir rambutnya yang acak-acakan mirip sarang burung, Keisha langsung dilanda shock therapy tingkat tinggi. Ia melirik penampilannya sendiri di cermin rias; hanya mengenakan daster longgar warna biru pudar bermotif bunga-bunga yang sudah agak belel, wajah bantal tanpa riasan, dan mata yang masih menyisakan sisa kantuk.

"Keisha! Turun, Nak! Ini ada Bapak Isa dan Ibu Reni datang!" teriakan Ayah Farrel dari bawah terdengar bagai bunyi terompet komando bagi Keisha.

Dengan tangan yang agak gemetar, Keisha buru-buru mengikat rambut panjangnya asal-asalan ke belakang menjadi cepolan cepol, mencuci mukanya dengan air wastafel seadanya, lalu melangkah turun dengan perasaan yang campur aduk antara malu, kesal, dan geregetan setengah mati.

Begitu kakinya menapak di anak tangga terakhir yang berbatasan langsung dengan ruang tamu, seluruh pasang mata di ruangan itu seketika menoleh ke arahnya.

Satria yang duduk tegap di sofa tunggal langsung mengalihkan sepasang mata hitam pekatnya. Pandangan mata tajam sang Mayor menyapu penampilan kasual—atau cenderung berantakan—milik adik iparnya dari ujung kepala hingga ujung kaki. Tidak ada riak ejekan di wajah kaku Satria, namun sorot matanya yang pekat mengunci pergerakan Keisha dengan intensitas yang teramat dalam, membuat dada Keisha berdesir aneh sekaligus dongkol.

Di sebelah Bu Reni, Ingrid menatap Keisha dengan senyuman ayu yang tersungging di bibirnya. Namun, jika Keisha tidak salah lihat, ada kilatan penilaian yang meremehkan dari balik mata indah gadis itu saat melihat daster pudar yang dikenakan Keisha.

"Eh ... pagi Bapak, Ibu ... Kak Satria," cicit Keisha kikuk yang teramat sangat. Sifat barbarnya mendadak macet total karena situasi yang teramat resmi ini. Ia berjalan mendekat, menyalami tangan kedua orang tua Satria satu per satu dengan gerakan kaku.

"Wah, ini dia anak gadis yang membuat Satria sampai tidak bisa tidur semalaman," goda Ayah Isa sembari terkekeh, membuat wajah Keisha seketika merona merah padam dalam sekejap karena malu.

"Mari duduk di sebelah Ibu, Kei," ajak Ibu Dania sembari menepuk ruang kosong di sofa panjang.

Bersambung...

1
yuni ati
Inggid gigit jari🤭
yuni ati
Satria luar biasa👍
Teh Euis Tea
syukurinnnnn udah ga ada celah buat km ingrid bu reni udah berpuhak sm keusha
Zalmah Adiwi
👍👍👏👏sdh dpt sekutu dr mertua..🥰🥰🥰
Zalmah Adiwi
si ular berbisa bikin ulah lg..🤣🤣
Ruwi Yah
ditunggu bab selanjutnya
Ruwi Yah
mungkin kecebong satria udah tumbuh di rahim keisha
Nar Sih
kasihan ingrid🤣🤣sdh di tolak mentah,,oleh ibu nya satria jht sih
Nar Sih
sip 👍👍satria ,ditunggu pulang nya stlh selesai tugas negara cpt cri tau biang kerok yg sdh bikin istri kecil mu nangis
Nar Sih
sedih ya satria ,mesti nahan rindu berat ,sama,,kangen rsa nya pasti tersiksa,sabarr ya
Mutaharotin Rotin
🌹🌹🌹
Engkar Sukarsih
kacau... kacau....silampir🤣🤣🤣
Engkar Sukarsih
jangan di dengerin Mak Lampir Inggrid ngomong Keysa,anggap aja angin lalu 🙄🙄🙄
Engkar Sukarsih
rindu aku.. rindu kamu...cinta kita Keysa 🥰🥰🥰🥰
Mutaharotin Rotin
🥰🥰🥰 laaannjjuut Mak ghin
Mutaharotin Rotin
🤭🤭🤭🤭🤣🤣 Ayam gosong
Lilis Suryani
siap mommy 👍
Mutaharotin Rotin
😭😭😭😭😭
Mutaharotin Rotin
jangan percaya SM racunnya si ular betina key🥰🥰
Wiek Soen
🤣🤣🤣🤣🤣 calon pelakor langsung pucat ... mommy kira2 Ingrid kerja apa ya kok sdh bawa mobil
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!