Di hari anniversary mereka yang ketiga tahun, Grizla ingin menaikkan jabatan suaminya dari Manager menjadi CFO dalam diam.
Tapi malam itu, ia terpaksa mengurung niatnya karena ibu dan adiknya ikut campur di hari perayaan anniversary mereka.
Dan lebih menyakitkan lagi, mertuanya itu membawa wanita asing bersama mereka yang membuat ia tidak nyaman dan membuat ia ragu harus menyerah posisi itu.
Lama kelamaan, suaminya mulai bersikap dingin, tidak ada keharmonisan ruma tangga yang ia dambakan. Akhirnya suaminya selingkuh dengan wanita tersebut yang ternyata satu kantor dengannya, alasan selingkuhnya adalah ia menginginkan seorang anak.
Plot twist-nya adalah, perusahaan itu miliknya, yang mengangkat suaminya sebagai manager adalah dirinya melalui orang Kepercayaan yang menjadi CEO sementara di perusahaan G' Jaya.
"Hari ini buka matamu lebar-lebar, siapa yang telah mengangkat derajatmu!" - Grizla
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon less22, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
22
"Miskin! Dasar tidak tahu diuntung! Harusnya kau itu bantu cari uang, bukan cuma bisa menghabiskan jatah!" caci Antonio, meluapkan seluruh kekesalannya pada Nyonya G di kantor kepada Grizla di rumah. "Kau tahu? Hari ini di kantor, aku bertemu dengan pemilik asli perusahaan, Nyonya G. Dia wanita yang mandiri, berkuasa, dan sangat kaya. Begitu dia bicara, semua orang tunduk!"
Grizla perlahan mendongak, menatap wajah suaminya dengan mata yang berkaca-kaca buatan. "Oh ya? Nyonya G itu... seperti apa orangnya, Mas?"
Antonio berdecak, berjalan mondar-mandir di dapur sambil berkacak pinggang. "Dia mengenakan pakaian bermerek yang harganya mungkin bisa membeli rumah ini! Auranya sangat mengintimidasi. Sayangnya dia memakai kacamata hitam dan topi besar, jadi wajahnya tidak terlalu kelihatan. Tapi yang jelas, dia seribu kali lipat lebih terhormat dibanding kau yang cuma bisa pakai daster rongsokan ini!"
Grizla menahan senyumnya kuat-kuat. "Oh, Antonio... kalau kau tahu wanita bertopi yang kau sembah-sembah itu ada di depanmu sekarang, mungkin kau sudah mati berdiri," batin Grizla puas.
"Lalu... kenapa jabatan Mas Antonio bisa turun?" tanya Grizla lagi, memancing rasa sakit hati suaminya.
"Itu karena si keparat Boni mencari muka di depan Nyonya G!" bentak Antonio, memukul meja makan hingga mangkuk di atasnya bergetar. "Tapi awas saja. Nyonya G memindahkanku ke bagian lapangan untuk menguji draf baru. Aku akan buktikan pada Nyonya G kalau aku jauh lebih hebat dari Boni. Aku akan buat Nyonya G bertekuk lutut dan memohon maaf padaku karena sudah meremehkan kemampuanku!"
Grizla mengangguk-angguk pelan, menatap suaminya dengan tatapan 'pria malang'.
"Semoga sukses ya, Mas. Semoga Nyonya G bisa melihat... kemampuanmu yang sebenarnya," ujar Grizla dengan nada yang terdengar tulus, namun menyembunyikan arti ganda yang mematikan.
"Tentu saja! Sekarang, ambilkan aku minum! Kepalaku mau pecah!" perintah Antonio kasar sebelum melangkah pergi menuju kamar mandi.
Begitu punggung Antonio menghilang di balik pintu kamar, Grizla menegakkan tubuhnya. Isakan buatannya hilang seketika, digantikan oleh tatapan mata yang tajam dan dingin. Ia mengambil gelas, mengisinya dengan air, lalu tersenyum licik.
"Silakan bermimpi setinggi langit, Antonio," bisik Grizla pada malam yang sunyi. "Karena besok di kantor, aku sendiri yang akan memastikan kau jatuh dan hancur lebih dalam lagi."
*****
Suara deru mobil yang berhenti di halaman depan seketika memecah keheningan rumah. Tak lama kemudian, pintu utama terbuka kasar.
Tiba-tiba saja Widya dan Tari melangkah masuk dengan tangan yang dipenuhi paper bag bermerek.
Dari tawa dan obrolan mereka yang nyaring, sangat terlihat jelas bahwa mereka baru saja menghabiskan banyak uang untuk berbelanja mewah.
Namun, suasana ceria itu langsung menguap begitu tatapan mata Widya menangkap sosok Grizla yang sedang berdiri di dalam rumah.
Sudut bibir Widya terangkat, menciptakan senyum sinis yang sarat akan penghinaan.
"Oh, lihat siapa yang sudah pulang," ledek Widya dengan suara sengau yang sengaja dikeraskan.
Ia menjatuhkan paper bag bawaannya begitu saja ke atas lantai di samping sofa ruang tamu, lalu bersedekap dada. "Sudah pulang kau, Grizla? Kenapa? Apa karena di luar sana kau baru sadar kalau kau tidak bisa makan dan tidak punya tempat tinggal tanpa uang anakku?"
Grizla hanya diam terpaku. Matanya menatap datar ke arah tumpukan belanjaan di lantai, lalu beralih menatap wajah mertuanya tanpa ekspresi.
Tidak ada sedikit pun niat di hatinya untuk membalas ucapan wanita tua itu. Ia tahu, meladeni Widya sekarang hanya akan membuang energinya secara percuma.
Melihat Grizla yang hanya membisu, Widya merasa di atas angin. Ia melangkah beberapa senti lebih dekat, menatap Grizla dari atas ke bawah dengan pandangan merendahkan.
kuy.. yg banyak geh ...😭
yg banyak lagi to Les... nanggung bacanya..
tak kasih kopi nih.. biar terang kontestrasinya... 😂😂🤭
yg semangat upnya, tak kirim kopi..💪
jgn kelamaan grizla yg disiksa di rumah hantu itu..