NovelToon NovelToon
Menikahi Tunangan Kakakku

Menikahi Tunangan Kakakku

Status: tamat
Genre:CEO / Asmara / Penikahan Kontrak / Percintaan Konglomerat
Popularitas:4.1k
Nilai: 5
Nama Author: Bella

Kirana Wijaya tidak pernah membayangkan hari pernikahan kakaknya akan berakhir dengan dirinya memakai gaun pengantin. Ketika pengkhianatan Laras terbongkar tepat sebelum pesta, keluarga Wijaya memilih cara paling kejam untuk menyelamatkan muka: menyerahkan Kirana sebagai pengganti.
Damar Mahendra, pria dingin yang selama lima tahun ia panggil kakak ipar, menerima pernikahan itu tanpa ragu. Bagi semua orang, Kirana hanya solusi darurat. Namun di rumah baru, di balik sikap tenang dan perintah-perintah singkat Damar, Kirana perlahan menemukan sesuatu yang tidak pernah ia dapatkan dari keluarganya sendiri: tempat, perhatian, dan keberanian untuk dipilih.
Di antara kakak yang ingin merebut kembali masa lalunya, keluarga yang selalu menuntut Kirana mengalah, dan suami yang semakin sulit ia pahami, Kirana harus memutuskan apakah pernikahan yang dimulai sebagai pengganti bisa menjadi cinta yang benar-benar miliknya.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Bella, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Episode 33

Bab 33

Aku tidur seperti batu.

Tanpa mimpi.

Tanpa bolak-balik.

Tanpa Damar di samping.

Ketika membuka mata, kamar masih setengah gelap. Kuambil ponsel dari meja kecil dan melihat jam.

Enam pagi.

Aku menatap langit-langit sedetik.

Lalu langsung duduk.

Damar.

Semalam dia masih demam. Kalau belum turun, dia harus dibawa lagi ke rumah sakit. Dokter sudah jelas, dan Damar bukan tipe orang yang menerima sakit dengan rendah hati.

Aku cepat bangun, memakai jubah, lalu keluar ke lorong.

Pintu kamarnya tertutup.

Aku mengetuk tiga kali.

Tidak ada.

"Damar?"

Hening.

Aku mengetuk lagi.

"Damar, kamu sudah bangun?"

Tetap tidak ada.

Kekhawatiran mengalahkan sopan santun. Aku memutar gagang pintu dan masuk.

Kamar gelap. Tirai masih tertutup dan udara beraroma tidur, obat, dan dirinya. Aku berjalan pelan ke ranjang, mencoba membedakan bentuk di bawah selimut.

Ranjangnya besar sekali.

Dan di tengahnya ada gumpalan diam.

"Damar?"

Dia tidak menjawab.

Aku mendekat, sedikit membungkuk untuk menyentuh selimut.

Belum sempat benar-benar melakukannya.

Sebuah tangan panas menggenggam pergelangan tanganku dan menarikku dengan tenaga yang membuatku berteriak.

Aku jatuh ke ranjang.

Sebelum bisa bangun, Damar menangkapku dengan tangan dan kaki. Dia membungkusku utuh, menarikku ke tubuhnya seolah aku bagian dari selimut yang ia cari sepanjang malam.

"Diam sebentar," gumamnya, suara serak. "Aku mengantuk."

Jantungku menghantam gila-gilaan.

"Maaf," bisikku. "Aku memanggilmu dan kamu tidak menjawab. Aku cuma mau lihat apakah demammu sudah turun."

Damar mengeluarkan suara rendah yang nyaris hilang di rambutku.

Dia tidak membuka mata.

Tidak melepasku.

Aku juga tidak berani bergerak.

Tubuhnya masih panas. Terlalu panas. Kurasakan di dada yang menempel ke punggungku, di lengan yang melintang di pinggangku, di napasnya yang jatuh dekat wajahku. Rasanya seperti terperangkap pada kompor besar yang hidup.

Aku ingin menyentuh dahinya.

Tidak bisa.

Kakinya menahanku, tangannya berat di pinggang, dan dari cara dia bernapas, dia tampak kelelahan. Mungkin tidurnya buruk. Mungkin demamnya masih ada.

Aku diam.

Sangat diam.

Sampai kantuk kembali menangkapku.

Entah berapa lama berlalu.

Nada dering yang mendesak mulai berbunyi.

Aku membuka mata setengah, mengira itu ponselku. Tanganku meraba buta, mencari meja, bantal, apa saja. Jari-jariku menemukan sesuatu yang pendek, kasar, hangat.

Kuraba.

Kugosok.

Butuh beberapa detik untuk mengerti.

"Apa ini...?"

Aku membuka mata.

Damar sedang menatapku.

Tanganku ada di rambutnya.

Lebih parah: aku membuat rambutnya berdiri ke segala arah.

Kutarik tangan seolah terbakar.

"Maaf. Kukira ponselku."

Damar berkedip, masih setengah tidur. Rambutnya yang berantakan membuatnya kehilangan beberapa tahun dan sebagian wibawa, tapi tidak membuatnya kurang berbahaya.

"Kamu sedang apa di sini?"

Aku menatapnya.

"Kamu tidak ingat?"

Keningnya bertaut.

Luar biasa.

Tuan ini lupa bahwa dia menculikku lengkap dengan selimut.

"Aku datang untuk melihat apakah demammu masih ada," kataku, berusaha terdengar normal. "Aku mengetuk. Memanggilmu. Kamu tidak menjawab. Aku masuk untuk memeriksa, lalu kamu menarikku ke ranjang."

Tatapannya turun ke tubuh kami.

Kami masih menempel.

Sangat menempel.

"Dan kamu memelukku," tambahku, wajah terbakar. "Begini."

Damar terdiam.

Damar mengingat sesuatu yang kabur: kehadiran hangat, aroma Kirana, tubuhnya masuk ke ruang kosong yang tidak berhasil ia isi dengan bantal. Dia sempat mengira itu mimpi. Mimpi yang nyaman. Terlalu nyata untuk dilepaskan.

Ternyata bukan mimpi.

Kirana benar-benar mencarinya.

Dan dia menariknya ke ranjang.

Dia menatap Kirana dengan rambut berantakan, wajah merah, dan mulut terkatup malu.

Tenggorokannya kering.

"Jadi aku," katanya. "Aku yang menarik dan memelukmu."

Aku mengangguk.

"Iya."

"Dan kamu tinggal?"

"Kamu bilang jangan bergerak."

Damar tertawa rendah.

Tidak keras.

Tidak panjang.

Hanya suara serak yang jatuh ke telingaku dan turun ke punggung.

"Patuh sekali."

Aku menggigit bibir.

"Jangan mulai."

Tapi dia sudah mulai.

Aku merasakannya sebelum melihat. Tubuhnya berubah di bawah seprai. Tangan di pinggangku mengerat. Kakinya berhenti menahanku seperti orang tidur dan mulai mengaturku seperti orang yang terlalu sadar.

"Damar..."

Dia memutarku dengan mudah.

Aku terlentang.

Dia di atas.

Gelap kamar belum sepenuhnya hilang, tapi aku bisa melihat matanya. Demam memberinya kilau aneh, berbahaya, dan rambut berantakan membuatnya terlihat kurang benar. Lebih laki-laki. Lebih lapar daripada jas.

"Sudah beberapa hari aku tidak menyentuhmu dengan benar," katanya.

Napasku terputus.

"Kamu sakit."

"Tidak terlalu."

"Kamu belum tahu demammu sudah turun atau belum."

"Tidak akan berpengaruh."

"Damar."

"Sebaliknya."

Tangannya turun di pinggangku, berat, panas. Dia meremas seolah memastikan aku benar-benar ada.

"Sedikit olahraga membantu berkeringat."

Aku menatapnya.

"Kamu memakai demam sebagai alasan untuk bercinta?"

Kata itu keluar sebelum bisa kutahan.

Damar hanya mengangkat alis.

"Aku sedang praktis."

"Kamu tidak tahu malu."

"Aku orang sakit yang sedang berusaha pulih."

"Jangan mengarang."

Dia menciumku.

Dan di situlah argumenku selesai.

Mulutnya panas. Seluruh dirinya panas. Dia membuka bibirku, memasukkan lidah, dan menciumku tanpa kesabaran terukur seperti biasanya. Dia memang demam, tapi juga punya kekuatan hidup yang keras kepala, mendorongku ke kasur sampai aku lupa bahwa aku masuk untuk memeriksa suhunya.

Aku meletakkan tangan di dadanya.

Untuk mendorongnya.

Kurasa.

Tangan itu tetap di sana.

Kulitnya terbakar di balik kaus tipis. Damar menurunkan mulut ke leherku dan menggigit tepat di tempat tubuhku selalu lebih dulu berkhianat. Aku memejamkan mata. Kedua kakiku menegang. Dia merasakannya dan mengembuskan napas rendah di kulitku.

"Masih khawatir soal demamku," gumamnya.

"Iya."

Tangannya masuk ke bawah bajuku.

"Kalau begitu bantu aku berkeringat."

Panas naik ke wajah, dada, perutku. Aku ingin menjawab, tapi jarinya sudah berada di pahaku, membuka ruang dengan keyakinan yang membuatku kehabisan udara. Dia tidak bertanya lagi. Tidak perlu. Tubuhku, pengkhianat sialan itu, menjawab sebelum harga diriku: aku melengkung saat tangannya naik, bernapas kacau ketika ia menemukan basah yang sudah ada, dan berakhir mencengkeram bahunya seolah itu bisa menyelamatkanku.

"Damar..."

"Ssh."

Dia melepas pakaianku tergesa. Bukan kasar karena kikuk, tapi karena hasrat. Kain itu naik, jatuh ke samping, dan udara dingin pagi menyentuhku sebentar sebelum dia kembali menutupku dengan tubuhnya yang panas.

Demam membuatnya membara.

Dadanya.

Tangannya.

Mulutnya.

Semuanya.

Dan ketika dia masuk ke dalamku, panas itu menembusku utuh.

Aku mengerang di bahunya. Damar berhenti sedetik dalam-dalam, bernapas berat, seolah dia juga perlu terbiasa dengan intensitas itu. Lalu dia mulai bergerak.

Tidak pelan.

Tidak seperti orang sakit.

Dia memegang pinggangku dan menetapkan ritme yang kokoh, dalam, dengan tubuh menempel pada tubuhku dan mulut di leherku. Setiap dorongan membuatku makin tenggelam di ranjang. Seprai kusut di bawah kakiku. Tanganku berubah dari mendorongnya menjadi menggenggamnya, dari menggenggam menjadi mencakar punggungnya ketika dia menemukan sudut yang membuatku kehilangan suara.

Panas itu tidak lagi hanya miliknya.

Itu juga milikku.

Naik dari bawah, pekat, memalukan, sampai membuat kepalaku kosong. Damar berkeringat. Aku merasakannya meluncur di kulitku, menetes di leherku, menempel di dadaku. Seharusnya itu tidak terlihat seksi.

Tapi iya.

Sangat.

Aku mencapai puncak dengan wajah terkubur di bahunya, gemetar, tenggorokan berantakan. Damar terus bergerak sampai selesai dengan suara serak, memelukku begitu erat sampai sesaat aku tidak tahu di mana tubuhku berakhir dan tubuhnya dimulai.

Kami tetap menempel.

Berkeringat.

Bernapas seolah benar-benar berlari berkilo-kilometer.

Saat bisa membuka mata, kulihat dadanya tertutup butiran halus. Otot tegang, kulit panas, beberapa bekas merah yang kukunya tinggalkan tanpa izin.

Aku menelan ludah.

"Kamu berkeringat banyak."

Damar mengangkat wajah.

Matanya masih gelap.

Terlalu terjaga.

"Kamu merasa lebih baik?" tanyaku, terlambat mengingat alasan resmi semua ini.

Dia menatap mulutku.

"Masih kurang."

Napasku tersangkut.

"Masih?"

"Ya."

"Kamu sakit."

"Dan kamu lelah."

"Tepat."

Tangannya turun di pinggulku.

"Kamu tidak perlu bergerak."

Aku tidak sempat protes.

Kali kedua lebih kotor.

Lebih sedikit alasan.

Lebih sedikit demam.

Lebih banyak Damar.

Dia menahan pergelangan tanganku di atas bantal saat aku mencoba menyembunyikan wajah, membuka kakiku dengan lutut, lalu masuk lagi dengan keyakinan yang merenggut erangan patah dariku. Aku sudah sensitif. Terlalu sensitif. Setiap gesekan sedikit sakit dan membuatku makin menyala. Damar menyadarinya dan mengubah ritme: lebih dalam, lebih lambat pada awalnya, lalu lebih kuat ketika tubuhku kembali mencarinya.

Kami hampir tidak bicara.

Tidak perlu.

Dia berkeringat di atasku, bernapas di mulutku, menahan pinggangku setiap kali kakiku kehilangan tenaga. Aku hanya bisa berpegangan kepadanya, menggigit bahunya, dan membiarkan dia membawaku ke titik di mana rasa malu larut dan hanya tubuh yang meminta lebih meski kepala berkata cukup.

Ketika selesai, ranjang tampak seperti baru selamat dari badai.

Aku tidak.

Damar menggendongku ke kamar mandi.

Kakiku tidak berguna.

Sedikit pun tidak.

Air hangat jatuh di atas kami. Kami telanjang, menempel, dengan uap bercampur keringat. Di dadanya ada bekas cakaranku, halus dan merah.

Aku membuang muka.

Damar tertawa rendah.

"Sekarang malu?"

"Diam."

"Kamu sudah melihatku seluruhnya."

"Justru karena itu."

Senyumnya nyaris muncul.

Aku bersandar ke dinding kamar mandi dan meliriknya.

"Kamu merasa tidak enak?"

"Jauh lebih baik."

"Sungguh?"

"Sungguh."

Pipiku panas.

"Bagus."

Aku tidak tahu harus mengatakan apa lagi kepada pria yang baru saja memakaiku sebagai obat demam.

Damar menatapku dengan air mengalir di wajahnya, masih dengan lapar itu di matanya.

"Di sini juga kita bisa berkeringat."

Aku mendorong dadanya.

Lemah.

Sangat lemah.

"Tidak."

"Uap membantu."

"Damar, tidak."

"Yakin?"

Tubuhku, pengkhianat mengerikan, menjawab sebelum mulutku. Dia melihatnya. Tentu saja dia melihatnya. Tapi kali ini aku benar-benar merapatkan kaki dan menatapnya dengan seluruh martabat yang tersisa.

"Aku benar-benar lelah."

Damar mengamatiku.

Lalu menyisir rambut basahku dengan tangan.

"Baik."

Aku berkedip.

"Baik?"

"Aku biarkan kamu istirahat."

Aku tidak tahu harus lega atau curiga.

"Terima kasih."

"Tapi staminamu buruk sekali."

Itu dia.

"Maaf?"

"Dua kali saja sudah tidak bisa."

Aku membuka mulut.

"Kamu sakit."

"Itu maksudku."

Aku membencinya.

Sedikit.

"Kalau aku sudah pulih, kamu lari pagi denganku."

"Tidak."

"Iya."

"Siapa yang lari pagi?"

"Orang yang tidak mau pingsan setelah dua ronde."

Kusiram dia dengan air.

Damar memejamkan mata sejenak, tapi tidak marah. Saat membukanya, dia punya ketenangan puas yang membuatku ingin menciumnya dan menendangnya bersamaan.

Kami membilas diri cepat. Keluar terbungkus handuk.

Ranjang kacau.

Kacau yang sangat jelas.

Seprai lembap, bantal terlempar, selimut miring. Aku berdiri di pintu kamar mandi dengan wajah terbakar.

"Aku harus mengganti itu."

Damar melihat ranjang.

Matanya menggelap dengan cara yang sama sekali tidak membantuku.

"Bu Rosa bisa melakukannya."

"Tidak akan."

"Itu pekerjaannya."

"Bukan yang ini."

Aku mendekat sebisaku. Kakiku masih gemetar. Kulepas seprai, sarung bantal, semua yang tampak mencurigakan, lalu memasukkannya ke mesin cuci secepat penjahat menyembunyikan bukti.

Damar keluar dari ruang pakaian sudah berpakaian. Kemeja bersih, celana gelap, rambut basah disisir ke belakang. Dia tampak kembali menjadi pria serius.

Sampai dia melihat lantai.

Tisu.

Bungkus.

Kondom bekas.

Dia diam dua detik.

Lalu berjongkok dan memungut semuanya.

Tidak mengatakan apa-apa.

Aku juga.

Lebih baik.

Kami berdua membuat kamar terlihat layak tepat sebelum Bu Rosa mengetuk pintu.

"Pak Damar, sarapan sudah siap."

Damar melihat ke pintu.

"Kami turun."

Lalu menatapku.

"Kamu ikut?"

"Aku ganti baju."

"Aku tunggu di bawah."

Aku mengangguk.

Ketika turun ke ruang makan, Bu Rosa sudah menaruh kopi, jus, roti manis, telur, dan buah di meja. Damar duduk dengan ketenangan tidak senonoh untuk seseorang yang setengah jam lalu menahanku di ranjang.

Bu Rosa memperhatikannya.

"Pak Damar, hari ini kelihatan jauh lebih baik. Demamnya sudah turun?"

Damar mengangkat wajah kepadaku.

Tidak.

Jangan sampai dia.

"Kurasa iya," katanya. "Aku olahraga pagi dan berkeringat cukup banyak."

Kopi hampir masuk ke hidungku.

Mata Bu Rosa membesar.

"Olahraga? Tapi saya tidak melihat Bapak keluar."

"Mungkin Ibu sibuk di dapur."

Aku menatap piring.

Konsentrasi.

Serius.

Perempuan damai yang tidak tahu apa-apa.

Damar, si kurang ajar, tampak terhibur.

Setelah sarapan, Bu Rosa membawa termometer. Damar memakainya tanpa protes. Ketika berbunyi, Bu Rosa memeriksa angkanya.

"Tiga puluh enam koma lima. Sudah normal."

Aku menatap termometer.

Semalam tiga puluh delapan.

Tidak mungkin.

Benarkah itu berhasil?

Tidak.

Pasti obat.

Dan istirahat.

Dan air.

Dan mungkin, sedikit, olahraga yang katanya itu.

Sedikit.

Otakku, sekutu terburuk, melempar pertanyaan absurd: kalau suatu hari aku demam, apakah juga...?

Aku menggeleng.

Tidak.

Apa yang terjadi padaku?

Damar mencondongkan tubuh kepadaku saat Bu Rosa pergi ke dapur.

Mulutnya dekat telingaku.

"Terima kasih sudah bekerja sama pagi ini."

Seluruh tubuhku menegang.

"Kalau bukan karena kamu," gumamnya, "aku tidak akan pulih secepat ini."

Aku hampir tersedak ludah sendiri.

"Sama-sama," kataku, merah sampai leher. "Itu yang seharusnya kulakukan."

Damar terdiam.

Lalu tertawa rendah.

Aku memejamkan mata.

Tolong.

Mulutku membenciku.

1
Zalmah Adiwi
saat bertunangan dg Laras mngkn damar sdh menyukai kirana..
Zalmah Adiwi
konflikx kurang kuat..alur ceritax jg trll lamban bergerak.. 🤭
Zalmah Adiwi
knp mesti minum pil KB.. 🤦‍♀️🤣🤣🤣
Zalmah Adiwi
ibu kirana GILA..pikirx pernikahan ini macam beli bajukah.. 🤣🤣🤣🤣
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!