NovelToon NovelToon
REMBULAN YANG DIRINDUKAN

REMBULAN YANG DIRINDUKAN

Status: sedang berlangsung
Genre:Cinta Seiring Waktu / Penyesalan Suami / Penyelamat
Popularitas:939
Nilai: 5
Nama Author: Katumbiri Lazuardi

Fatih, seorang ustadz.. yang hampir 10 merindukan kekasihnya Wulan seorang gadis bercadar sejak dia pesantren dulu.
tak kunjung bertemu, surat terakhirnya pun tak kunjung ada balasan.

Namun, alih-alih menemukan sosok wulan, dia malah terjebak dan terpaksa menikah dengan seorang gadis pelarian bernama Bella, yang kontradiksi dengan kehidupannya sebagai ustadz.. gadis itu datang dengan pakaian yang tidak pantas. namun hatinya tetap mencintai wulan..bagaimana kisahnya...
drama religi ini.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Katumbiri Lazuardi, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 29

Aroma khas rumah sakit—campuran antara antiseptik, obat-obatan, dan keheningan yang mencekam—menjadi saksi bisu dari pertemuan dua jiwa yang takdirnya sengaja diulur oleh waktu. Setelah kondisinya dinyatakan membaik dan diperbolehkan pulang oleh dokter, Wulan melangkah keluar dari ruang perawatan. Langkahnya pelan, jemarinya masih bertumpu pada lengan Hasna yang setia menuntunnya.

Namun, alih-alih berjalan menuju pintu keluar, Hasna justru menghentikan langkah mereka di depan sebuah lorong panjang yang menuju ke bangsal perawatan intensif kelas satu.

"Wulan, mumpung kita masih di sini, temani Kakak sebentar, ya? Kita jenguk Ustadz Fatih. Kamarnya ada di ujung lorong ini," ajak Hasna dengan nada memohon yang tulus.

Wulan tertegun. Jantungnya mendadak berdegup kencang, memukul dinding dadanya dengan taluan yang bertalu-talu. Di dalam hatinya, ada pergolakan batin yang sangat hebat. Rasanya ia ingin menolak, ingin berbalik arah dan berlari sejauh mungkin dari nama itu. Namun, di sudut terjauh dari hatinya yang paling dalam, ada sepercik rindu dan cinta yang tetap membara, menolak untuk padam oleh tiupan badai kekecewaan.

Ia tidak bisa menolak ajakan Hasna. Dengan kepala menunduk, ia mengangguk perlahan di balik cadar putihnya.

“Kang... apakah akang merasakan keberadaanku di sini? Apakah jika aku berdiri di dekatmu, akang akhirnya akan mengenaliku?” batin Wulan merana. Air matanya hampir saja menetes, namun ia tahan dengan sekuat tenaga agar tidak menimbulkan kecurigaan di mata Hasna.

### **Ratapan dalam Ketidaksadaran**

Pintu kayu berwarna cokelat itu terbuka perlahan tanpa menimbulkan derit. Hasna dan Wulan melangkah masuk ke dalam ruang perawatan yang sunyi. Di tengah ruangan, di atas ranjang dengan sprei putih bersih, Fatih terbaring tak berdaya. Kepalanya dibalut perban putih yang melingkar, menyembunyikan luka akibat benturan keras di lantai ubin. Beberapa kabel monitor medis menempel di tubuhnya, memperdengarkan bunyi detak jantung yang konstan namun lemah.

Diagnosa dokter menyatakan Fatih mengalami gegar otak ringan akibat jatuh terguling dari tangga. Namun, yang membuat kondisinya tak kunjung siuman bukanlah luka fisik itu, melainkan beban mental dan tekanan batin yang teramat mendalam. Jiwanya terlalu lelah memikul rasa bersalah.

Wulan berdiri mematung di sudut ruangan, hanya beberapa langkah dari kaki ranjang suaminya. Matanya menatap wajah Fatih yang kuyu, janggutnya yang tak terurus, dan bibirnya yang kering pecah-pedah. Hati wanita itu mencelos. Sisi keibuannya yang kini sedang mengandung buah cinta mereka berdenyut perih.

Tiba-tiba, tubuh Fatih bergerak gelisah di bawah selimut. Bibirnya yang pucat mulai meracau, mengeluarkan suara serak yang memecah keheningan kamar.

"Bella... Bella... maafkan abang... abang salah, Nak..." Fatih mengigau, kepalanya bergerak ke kanan dan ke kiri dengan pelipis yang mulai dibanjiri keringat dingin. "Bella, hukum saja abang... pukul abang... tapi jangan pergi... Jangan tinggalkan abang, Umi, dan semua keluarga kita... kami semua sedih, Bella..."

Napas Fatih memburu, igauannya terdengar semakin tersiksa. "Bella... abang mencintaimu... demi Allah, abang sangat mencintaimu... jangan pergi..."

Mendengar setiap kata yang keluar dari bibir suaminya, pertahanan Wulan runtuh seketika. Setiap kalimat Fatih bagai mata pisau yang dihujamkan tepat di ulu hatinya. Rasa sakit, rindu, cemburu, dan ego pribadinya berbenturan hebat di dalam dada, menciptakan dinding penghalang yang begitu kokoh sekaligus rapuh. Ia tidak kuat lagi berada di ruangan itu. Isak tangisnya hampir pecah berkeping-keping.

Tanpa mempedulikan pandangan Hasna, Wulan membalikkan tubuhnya dengan tergesa-gesa. Ia berlari keluar dari kamar perawatan, menyusuri koridor dengan langkah seribu, mencari tempat di mana ia bisa menumpahkan seluruh sesak yang mencekik tenggorokannya. Ia masuk ke dalam toilet rumah sakit.

### **Ledakan di Depan Cermin**

Wulan mengunci pintu toilet dari dalam. Di dalam ruangan yang riuh oleh suara gemericik air dan langkah kaki orang-orang di luar, Wulan berdiri di depan cermin besar. Ia membuka cadarnya dengan tangan yang bergetar hebat. Wajahnya yang pucat kini basah oleh air mata yang tumpah ruah.

"Kang... Kang Abbas... sampai segininya akang..." Wulan berbisik histeris, menatap bayangan dirinya di cermin dengan tatapan nanar yang dilematis. "Kenapa, Kang? Kenapa baru sekarang akang menangisiku?!"

Suaranya tertahan di tenggorokan, meledak menjadi batin yang menjerit perih. “Akang, biarkan saja aku pergi! Akang sendiri yang mengusirku malam itu tanpa mau mendengar satu patah kata pun pembelaanku! Akang egois! Demi wibawa dan kesombongan akang sebagai ustadz, akang rela menyerahkan aku kembali ke tangan serigala lapar seperti Deni! Tapi kenapa... kenapa sekarang akang justru bertingkah seolah-olah akang adalah orang yang paling tersakiti? Kenapa akang tidak pernah mengenaliku sebagai Wulan-mu?!”

Dilema itu menyiksanya tanpa ampun. Bagian dari dirinya ingin sekali kembali ke kamar itu, meraih tangan Fatih yang terpasang jarum infus, mencium punggung tangannya, dan memeluk tubuh pria itu untuk meredakan igauannya. Namun, rasa sakit hati yang terlanjur bernanah akibat fitnah, ditambah rasa bersalah dan hormatnya kepada Hasna—yang diam-diam mengagumi Fatih—membuat Wulan menahan egonya dalam-dalam.

Ia membasuh wajahnya dengan air dingin, mencoba menenangkan detak jantungnya yang tak beraturan. Di atas wastafel yang dingin, ia menangkupkan kedua tangannya, menyelipkan sebuah doa yang tulus dari lubuk hatinya yang paling suci.

"Ya Allah... sembuhkanlah suami hamba... Hamba tidak tega, Ya Allah, hamba tidak tega melihat dia menderita seperti itu. Jika memang rasa sakit ini adalah jalannya, maka sembuhkanlah dia terlebih dahulu. Ya Allah, berikanlah jalan terbaik buat hamba, buat anak di dalam kandungan hamba, dan buat suami hamba..."

Tok! Tok! Tok!

Suara ketukan pintu toilet membuyarkan doanya. Suara Hasna terdengar dari luar, dipenuhi nada kecemasan.

"Wulan... Wulan, kamu di dalam? Kamu tidak apa-apa, Dek? Kamu mual lagi? Ayok, kita keluar, kita pulang sekarang," panggil Hasna.

Wulan menarik napas panjang, mengembuskannya perlahan. Ia kembali menata kerudung besarnya, memasang kembali kain cadar putihnya dengan rapi, dan mengusap sisa-sisa air mata di sudut matanya. Setelah memastikan penampilannya kembali tenang, ia membuka pintu.

"I..iya, Kak. Maaf membuat Kakak menunggu," ucap Wulan pelan.

Hasna menatap Wulan dengan dahi berkerut. "Mata kamu merah sekali, Wulan. Kamu masih sakit, ya? Apa kita perlu kembali ke ruang pemeriksaan?"

Wulan menggeleng perlahan, mencoba tersenyum di balik cadarnya. "Tidak apa-apa, Kak. Mungkin... saya hanya sedikit butuh istirahat saja."

"Baiklah kalau begitu. Ayo kita pamit dulu, lalu kita langsung pulang ke markas," ujar Hasna lega.

### **Gugupnya Sang Kurir Surat**

Mereka kembali ke depan kamar Fatih, di mana Lukman sedang duduk berjaga di kursi tunggu koridor dengan wajah yang kuyu. Hasna melangkah mendekat untuk berpamitan.

"Ustadz Lukman, saya sama Wulan pamit pulang duluan, ya. Semoga Ustadz Fatih bisa cepat sembuh dan siuman," ucap Hasna dengan nada yang terselip rasa khawatir yang mendalam—entah itu rasa cinta yang terpendam atau sekadar rasa kagum yang luar biasa kepada sang idola.

Di belakang Hasna, Wulan mematung. Matanya menatap tajam ke arah Lukman. Ingatannya kembali berputar ke masa sepuluh tahun yang lalu di Tasikmalaya.

“Ustadz Lukman... dia ini kan teman Kang Abbas waktu itu. Pria yang dulu sering mengirimkan surat-surat Fatih melalui Rina di pesantren. Jangan-jangan... dia yang menyembunyikan surat terakhirku? Atau mungkin Rina yang lupa menyampaikannya?” batin Wulan bertanya-tanya dengan rasa penasaran yang bercampur kecurigaan. Rina adalah sahabat karib Wulan di kampung, dan Rina memiliki hubungan kerabat jauh dengan Lukman. Lewat jalur itulah surat-surat cinta masa lalu mereka beredar.

Mendengar nama yang disebut Hasna, Lukman mendongak. Pandangannya beralih dari Hasna ke arah gadis bercadar putih di belakangnya.

"Tunggu..." Lukman menahan kalimatnya sejenak, matanya menyipit menatap postur tubuh Wulan. "Ini... yang namanya Wulan?"

Deg!

Jantung Wulan berdebar sangat kencang. Ia menahan napas, takut penyamarannya terbongkar di tempat ini.

"Benar, Ustadz. Ini Wulan, anggota baru di komunitas kami," jawab Hasna membantu menjelaskan.

"Oh... i..iya. Hati-hati di jalan ya," jawab Lukman dengan suara yang mendadak gugup dan terbata-bata.

Lukman menatap punggung kedua wanita itu yang mulai berjalan menjauh menyusuri lorong rumah sakit. Pikirannya mendadak kacau. “Wulan? Gadis ini pindah ke Jakarta? Apakah dia... Wulan yang itu? Tapi Hasna bilang dia anggota baru, dan setahuku Wulan sudah hampir tujuh tahun pindah dari Tasikmalaya. Mungkin... mungkin ini hanya kebetulan saja namanya sama, dan kebetulan sama-sama memakai cadar,” batin Lukman mencoba menenangkan dirinya sendiri.

Lukman memang tidak begitu dekat dan tidak mengenal wajah Wulan secara detail di masa lalu; dia hanyalah seorang kurir yang bertugas mengantar surat dari Fatih ke Rina, bukan langsung ke tangan Wulan. Ditambah lagi, kini wajah gadis itu tertutup rapat oleh selembar kain putih, membuat kepastian itu semakin bias.

1
falea sezi
😒😒 umi umi klo qm. jodohin fatih pasti bella pergi jauhh🤣🤣🤣 biar mampus anak mu itu
Katumbiri Lazuardi: iya kak, makasih komen nya.. sehat selalu.. jangan lupa like dan subcribe ya.. ikuti terus
total 1 replies
falea sezi
lanjut
Katumbiri Lazuardi: siap kak, jangan lupa like dan subcribe nya .. terus ikuti yah🙏🙏
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!