NovelToon NovelToon
Cinta Ini Salah Tempat. (Kau Kaka Tiriku)

Cinta Ini Salah Tempat. (Kau Kaka Tiriku)

Status: sedang berlangsung
Genre:Diam-Diam Cinta / Fantasi
Popularitas:394
Nilai: 5
Nama Author: Denny Priyanto

Viona tumbuh di Candisari Semarang dengan selalu merasa terlindungi oleh Zidan– kakak tirinya yang sepuluh tahun lebih tua. Sejak ayahnya tiada, Zidan selalu ada buat dia.
pelindung, guru, bahkan tempat curhat setiap kali dia punya masalah. Perlahan, rasa kagum yang dulu ada berubah jadi sesuatu yang lebih dalam. Viona tahu bahwa cinta pada kakak tiri itu tidak boleh ada, tapi perasaan itu seperti akar yang tumbuh dalam hati, sulit untuk dihilangkan.
Sampai hari itu datang, saat Zidan dengan bangga memperkenalkan Gina sebagai calon istri di ulang tahunnya yang ke-30. Dunia Viona seolah runtuh. Akhirnya dia berani mengungkapkan semua yang ada di dalam hati, tapi Zidan menolaknya dengan lembut tapi tegas:

"Aku hanya bisa melihat kamu sebagai adik perempuanku, sebagai mana cinta dan kasih sayang antara Kaka & Adik. Tidak lebih dari itu."

Untuk menyembuhkan luka dan menempatkan Cinta yang salah, Cara apa yang harus Viona lakukan?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Denny Priyanto, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Jarak yang Mengajarkan Rasa

Tiga hari tanpa Zidan bukan sekadar ketiadaan fisik. Bagi Viona, itu adalah pelajaran brutal tentang bagaimana rasanya hidup di luar orbit pria yang selama ini ia anggap sebagai pusat gravitasi emosionalnya.

Rumah tetap berdiri megah, Rani dan Pak Wahyu tetap hangat dengan pertanyaan-pertanyaan keibuan mereka, namun ada keheningan spesifik yang hanya bisa diisi oleh kehadiran Zidan—keheningan yang kini terasa seperti ruang kosong yang menuntut diisi, atau setidaknya diakui keberadaannya.

Viona tidak menghabiskan waktunya dengan meratapi kesepian di kamar. Sebaliknya, ia menggunakan absennya Zidan untuk melakukan sesuatu yang selama ini ia tunda karena takut mengganggu konsentrasi pria itu: menyelesaikan bab terakhir skripsinya. Ia duduk di meja belajar kamarnya, dikelilingi tumpukan referensi dan laptop yang menyala hingga larut malam. Setiap kali rasa rindu muncul, setiap kali bayangan wajah Zidan atau suara beratnya menghantui pikirannya, ia memaksanya menjadi bahan bakar menulis. Menulis menjadi cara baru baginya untuk memproses perasaan yang terlalu besar untuk disimpan dalam diam.

Di pagi hari ketiga, saat Viona turun ke ruang makan dengan mata masih sembab kurang tidur, ia menemukan secarik kertas terlipat rapi di atas piring sarapannya. Tulisan tangan Zidan yang tegas, minimalis, dan sangat dikenali tertulis di sana:

"Sudah kucek skripsimu dari cloud drive jam 02.00 pagi tadi. Bab 3 perlu revisi argumen di paragraf kedua; premismu lemah terhadap teori postkolonialisme yang kau kutip. Referensi jurnal tahun 2021 lebih relevan daripada buku terbitan 90-an yang kau pakai. Aku sudah kirim catatan detail via email. Jangan bantah. Makan dulu."

Tidak ada tanda tangan. Tidak ada basa-basi "semangat" atau "jangan lupa istirahat". Hanya instruksi teknis yang dibungkus dengan perhatian terselubung yang begitu khas Zidan. Viona memegang kertas itu erat-erat, merasakan tekstur kertas yang masih beraroma samar parfum maskulin dan kopi hitam. Pria itu pergi tiga hari, sibuk dengan proyek infrastruktur bernilai miliaran di Surabaya, bertemu klien dan insinyur senior, namun masih meluangkan waktu tengah malam untuk membaca skripsi gadis tirinya dan memberikan masukan yang presisi. Ini bukan sekadar tanggung jawab kakak-adik. Ini adalah bahasa cinta Zidan:

Menunjukkan bahwa ia peduli melalui tindakan nyata yang terukur, bukan kata-kata manis yang mudah diucapkan namun sulit dipertanggungjawabkan.

Viona tersenyum, air mata bahagia menggenang di matanya. Ia memakan sarapannya dengan lahap, seolah setiap suapan adalah bentuk penghormatan terhadap usaha Zidan yang tak terlihat. Di sela-sela mengunyah, ia membuka email di ponselnya. Benar saja, ada lampiran PDF berisi anotasi merah yang rapi di setiap halaman skripsinya. Komentar Zidan singkat, padat, dan selalu tepat sasaran.

"Argumen ini bias."

"Kutipan ini tidak mendukung tesis."

"Perbaiki transisi antar paragraf." Tidak ada pujian berlebihan, tapi bagi Viona, setiap coretan merah itu adalah bukti bahwa Zidan benar-benar melihat usahanya.

Ponselnya bergetar. Pesan masuk dari nomor yang tidak perlu disimpan lagi karena sudah hafal di luar kepala.

"Sudah baca email?"

Jari Viona gemetar saat mengetik balasan. Ia ingin menulis sesuatu yang manis, sesuatu yang mengungkapkan betapa berartinya perhatian itu baginya. Tapi ia tahu Zidan tidak akan merespons dengan baik. Jadi ia memilih jawaban yang aman, namun tetap jujur.

"Sudah, Kak. Terima kasih. Aku akan revisi sekarang."

Balasan datang dua menit kemudian.

"Bagus. Jangan begadang lagi malam ini. Istirahat yang cukup sama pentingnya dengan kualitas tulisanmu."

Viona menatap layar ponselnya lama-lama. Kalimat itu sederhana, tapi nadanya... nadanya berbeda. Ada kelembutan yang disembunyikan di balik perintah. Ia membalas dengan stiker emoji sederhana, lalu meletakkan ponselnya dengan hati-hati, seolah itu adalah benda rapuh yang bisa pecah jika diperlakukan sembarangan.

Zidan pulang sore itu, tepat pukul lima seperti janjinya. Mobil sedan hitamnya masuk ke garasi dengan mulus, dan Viona yang sedari tadi menunggu di teras langsung berlari kecil menyambutnya. Bukan pelukan, bukan sentuhan romantis—hanya senyuman lebar dan mata yang bersinar lega. Ia berdiri di ambang pintu garasi, tangan tergenggam di belakang punggung, berusaha tampak santai padahal jantungnya berdebar kencang.

Zidan mematikan mesin, keluar dari mobil, dan menutup pintu dengan bunyi klik yang familiar. Ia mengenakan kemeja abu-abu yang sedikit kusut di bagian lengan, dasi sudah dilepas dan dimasukkan ke saku celana. Wajahnya lelah, ada bayangan gelap di bawah mata, tapi tatapannya langsung mencari wajah Viona.

"Kamu pulang."

Zidan berhenti di hadapannya, jarak satu meter—jarak aman yang mereka sepakati secara diam-diam sejak insiden selimut minggu lalu. Ia mengangguk, lalu berkata pelan,

"Kau kurusan lagi. Skripsimu selesai?"

"Sudah, Kak. Revisi sesuai catatanmu juga sudah aku kerjakan siang tadi."

"Aku bahkan menambahkan dua referensi baru yang Kakak sarankan. Dosen pembimbing bilang itu improvement signifikan."

Zidan menatapnya lama. Ada kilatan emosi di mata cokelat gelap itu—kelegaan, kebanggaan, dan sesuatu yang lebih dalam yang tidak berani ia namai. Ia mengangkat tangan, seolah ingin mengusap rambut Viona atau menyentuh pipinya, namun gerakannya terhenti di udara. Tangannya mengepal perlahan, lalu turun kembali ke sisi tubuhnya. Gestur penahanan diri yang kini menjadi bahasa tubuh khas mereka: keinginan yang ditahan demi menjaga batas yang rapuh.

"Bagus."

"Aku bangga padamu, Vion."

Kalimat sederhana itu menghantam dada Viona lebih keras daripada deklarasi cinta manapun. Bangga. Kata yang jarang Zidan ucapkan, kata yang bagi pria logis seperti dirinya adalah bentuk pengakuan tertinggi.

Viona menunduk, menyembunyikan senyum yang terlalu lebar, takut jika ia menatap Zidan lebih lama, ia akan kehilangan kendali atas batasan yang sama-sama mereka jaga.

"Kakak sendiri bagaimana? Proyek di Surabaya lancar?"

Mengalihkan topik sebelum emosinya bocor.

Zidan menghela napas, berjalan melewati Viona menuju pintu rumah.

"Lancar. Tapi melelahkan. Klien berubah spesifikasi tiga kali dalam seminggu." Ia berhenti sejenak, menoleh ke arah Viona yang masih berdiri di garasi.

"Kau tidak tidur semalam, kan?"

Viona tertawa gugup. "Ketahuan ya..."

"Aku bisa melihatnya dari caramu berdiri. Bahu kiri lebih rendah dari kanan. Itu tanda kelelahan ekstrem," ucap Zidan datar, tapi nada suaranya tidak menegur. Lebih seperti... khawatir.

"Malam ini kamu wajib tidur jam sembilan. Tidak ada pengecualian."

"Jam sembilan? Itu masih sore, Kak!" tertawa kecil.

"Kalau kau tidak mau aku setel alarm di ponselmu dan menelepon Ibu buat memastikan kau sudah di kasur, turuti saja," ancam Zidan, tapi sudut bibirnya tertarik naik sepersekian detik. Ancaman kosong. Dan mereka berdua tahu itu.

Viona mengikuti Zidan masuk ke rumah, langkah mereka hampir sinkron meski tidak bersentuhan. Di ruang tamu, Rani dan Pak Wahyu menyambut dengan antusias.

"Zidan! Alhamdulillah pulang selamat," sapa Rani, langsung memeluk putra tirinya.

"Kamu kelihatan capek banget, Nak."

"Ibu, aku baik-baik saja. Hanya butuh mandi dan makan," jawab Zidan lembut pada ibunya, lalu menatap Viona sekilas.

"Vion, tolong ambilkan air putih di dapur. Es batu jangan terlalu banyak."

"Siap, Bos," canda Viona, berlari kecil ke dapur. Ia mendengar Zidan tertawa pelan di belakangnya—suara rendah yang jarang terdengar, dan setiap kali mendengarnya, Viona merasa seperti memenangkan undian yang besar.

"Bagaimana nak Zidan di Surabaya? Aman kan yah? Barang kali ada sedikit kesulitan, bisa hubungi Ayah mu lah. Jago juga tuh." Rani sambil tertawa kecil.

"Aman dong Bu, Hmmm.... percaya Bu. Ayah kan jago, apa sih gak bisa untuk Ayah. Iya gak Yah?"

"Mulai...nih.! Ayah tau apa yang kamu maksud. Udah sana jangan lupa mandi, selesai itu langsung makan."

"LAKSANAKAN!" Zidan tersenyum kecil.

"Akhir-akhir ini Zidan berbeda ya Yah. Mulai sedikit humoris."

"Kadang-kadang Bu. Sikap dia cepat berubah"

Malam itu, setelah makan malam bersama keluarga yang berlangsung hangat namun singkat, Zidan meminta Viona menemaninya ke ruang kerja. Bukan untuk membahas skripsi, bukan untuk memberi nasihat akademis. Ia hanya ingin duduk bersamanya dalam keheningan yang kini terasa berbeda—keheningan yang tidak lagi canggung, melainkan penuh dengan pemahaman timbal balik.

Ruang kerja Zidan berbau kayu mahoni dan kopi. Lampu meja menyala remang, menciptakan lingkaran cahaya hangat di tengah ruangan yang otherwise gelap. Zidan duduk di sofa kulit, sementara Viona memilih kursi tunggal di seberangnya. Jarak aman tetap terjaga, namun aura di antara mereka telah berubah. Zidan tidak membuka laptop, tidak membaca berita. Ia hanya duduk, menatap api lilin dekoratif di atas meja kopi, sementara Viona memandangi profilnya dari samping.

"Vion," bisik Zidan tiba-tiba, suaranya hampir tak terdengar di tengah heningnya ruangan. "Aku tidak akan pernah bisa memberimu apa yang kau inginkan. Tapi aku akan selalu ada untukmu. Dalam cara yang bisa kutanggung."

Viona menoleh, matanya berkaca-kaca. Ia mengerti. Zidan tidak menjanjikan cinta romantis yang konvensional. Ia menjanjikan kehadiran yang konsisten, perlindungan yang tak kenal lelah, dan dukungan yang tak tergoyahkan—bentuk cinta yang mungkin tidak sesuai dengan definisi dunia, namun sangat nyata bagi mereka berdua.

"Aku mengerti, Kak," bisik Viona balik, suaranya stabil meski hatinya berdebar kencang.

"Aku tidak butuh janji yang tidak bisa kau tepati. Aku hanya butuh kamu... tetap menjadi kamu."

Zidan menatapnya, dan untuk pertama kalinya, ia tidak menahan diri sepenuhnya. Ia mengulurkan tangan, menyentuh puncak kepala Viona dengan lembut—gestur kekeluargaan yang kini bermakna jauh lebih dalam. Sentuhan itu singkat, namun cukup untuk mengirimkan pesan yang tidak perlu diucapkan:

"Aku di sini. Aku tidak pergi. Dan aku tidak akan pernah berhenti peduli."

Viona menutup mata sejenak, menyerap kehangatan sentuhan itu. Ia tahu cinta ini memang salah tempat. Ia tahu dunia mungkin tidak akan pernah memahaminya. Namun di momen itu, di ruang kerja yang remang dan hening, ia juga tahu bahwa tempat yang salah pun bisa menjadi rumah, selama ada seseorang yang bersedia tinggal di dalamnya bersamamu—meski hanya dalam bayang-bayang, meski hanya dalam jarak yang aman, meski hanya dalam cara yang tidak bisa dinamai.

Dan bagi Viona, itu sudah lebih dari cukup.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!