NovelToon NovelToon
Berondong BEM Dan Mbak Reporter

Berondong BEM Dan Mbak Reporter

Status: sedang berlangsung
Genre:Kehidupan di Sekolah/Kampus / Misteri
Popularitas:886
Nilai: 5
Nama Author: ohlyn

Naura Adisty, seorang reporter muda yang ambisius, terjebak dalam kekacauan demonstrasi kampus yang justru mempertemukannya dengan Kaelith Atharrazka, ketua BEM yang angkuh namun karismatik. Pertemuan yang diawali dengan insiden cedera dan perdebatan sengit itu menjadi awal mula Kaelith terus mengusik hari-hari Naura dengan godaan khas "berondong" yang menyebalkan sekaligus menggemaskan.
​Namun, di balik layar organisasi BEM yang penuh intrik, Naura tanpa sengaja mengungkap skandal korupsi besar yang menyeret nama ayah Kaelith. Ketika ancaman teror mulai mengincar nyawa Naura, Kaelith pun menanggalkan sifat jahilnya untuk menjadi pelindung utama sang reporter. Kini, di tengah bahaya yang mengintai dan beban moral yang menghimpit, keduanya harus memilih antara mengungkap kebenaran yang pahit atau mempertahankan cinta yang baru saja bersemi di tengah konspirasi.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon ohlyn, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 9 Debat Liputan

Kantor redaksi Media Warta Nusantara sore itu terasa lebih mencekam dari biasanya. Naura baru saja duduk di mejanya setelah kembali dari pertemuan makan siang dengan Kaelith, ketika ia mendapati mejanya sudah dikelilingi oleh suasana yang tidak enak. Dimas sudah berdiri di sana, melipat tangan di dada dengan ekspresi yang sulit diartikan. Di sampingnya, seorang editor senior, Pak Surya, sedang memegang salinan draf berita yang kemarin diserahkan Naura.

"Naura, ikut saya ke ruang rapat sekarang," suara Pak Surya terdengar datar namun tajam.

Naura merasakan perutnya mual. Ia melirik Alyssa yang tampak cemas dari meja sebelah. Dengan langkah ragu, ia mengikuti langkah Pak Surya menuju ruang rapat kecil di sudut kantor, diikuti oleh Dimas yang masih tampak menyimpan kekesalan.

Begitu pintu ruang rapat tertutup, Pak Surya melemparkan salinan draf berita itu ke atas meja. "Saya sudah baca draf investigasi kamu soal demo gedung baru. Ini draf yang sangat berani, Naura. Terlalu berani."

"Saya hanya menuliskan apa yang saya temukan di lapangan, Pak," jawab Naura berusaha mempertahankan suaranya agar tetap stabil.

"Masalahnya, kamu menyeret nama besar," sela Dimas dengan nada dingin. "Kamu menyebut perusahaan milik Pramudita Atharrazka sebagai pihak yang diuntungkan dari alokasi dana yang tidak wajar. Kamu punya bukti kuat untuk menuduh pengusaha sebesar itu?"

Naura terdiam sejenak. Ia punya foto-foto dari gudang itu, tapi ia belum bisa menunjukkannya kepada siapa pun—bahkan kepada Dimas—sebelum ia yakin sepenuhnya. "Saya sedang dalam proses verifikasi data, Pak. Draf yang saya serahkan kemarin adalah poin-poin awal yang perlu ditindaklanjuti."

"Ini bukan soal poin awal," Pak Surya menghela napas, menatap Naura dengan pandangan lelah. "Ini soal kredibilitas media kita. Kalau kita menerbitkan tuduhan tanpa bukti yang tak terbantahkan, mereka bisa menuntut kita atas pencemaran nama baik. Kamu tahu konsekuensinya? Redaksi bisa tutup, dan karier kamu habis sebelum benar-benar dimulai."

"Tapi Pak," Naura memberanikan diri, "mahasiswa berhak tahu kalau dana yang seharusnya untuk fasilitas pendidikan mereka justru dikorupsi. Apa kita akan diam saja karena takut pada pengusaha besar?"

"Integritas jurnalisme itu bukan berarti nekat!" bentak Pak Surya. "Kamu terlalu emosional karena terlalu dekat dengan objek liputan kamu sendiri. Jangan kamu pikir saya nggak tahu siapa yang memberikan kamu akses ke informasi ini. Itu si Kaelith, kan?"

Naura terpaku. Ia tidak menyangka Pak Surya akan membawa-bawa Kaelith.

"Kamu memanfaatkan kedekatan kamu dengan ketua BEM itu untuk mendapatkan data, dan sekarang kamu membiarkan dia mengarahkan tulisan kamu," lanjut Pak Surya dengan nada menuduh. "Itu melanggar etika jurnalisme, Naura! Kamu bukan lagi jurnalis yang objektif, kamu cuma jadi pion dari kepentingan pribadi dia."

"Itu nggak benar!" seru Naura. "Saya melakukan ini karena ini kebenaran, bukan karena pengaruh Kaelith."

"Lalu mana buktinya? Tunjukkan pada kami sekarang," tantang Pak Surya.

Naura terdiam. Ia tidak bisa menunjukkan flashdisk itu sekarang. Ia tahu, sekali ia memberikannya kepada redaksi, data itu akan berada di luar kendalinya. Ia butuh waktu lebih banyak untuk merangkai narasinya.

"Saya butuh dua hari lagi untuk melengkapi bukti-bukti fisik," kata Naura dengan nada tegas.

Pak Surya berpaling, lalu kembali menatap Naura. "Dua hari. Kalau dalam dua hari kamu nggak bisa kasih bukti yang valid, saya akan menarik seluruh tugas liputan ini dari tangan kamu. Dan saya minta kamu untuk tidak lagi berhubungan dengan narasumber dari pihak BEM terkait kasus ini selama masa investigasi."

Naura keluar dari ruang rapat dengan perasaan hancur. Ia tahu, perintah Pak Surya adalah ancaman. Jika ia tidak bisa membuktikan tuduhannya, maka kasus ini akan selamanya tertutup, dan korupsi itu akan terus berjalan.

Begitu keluar dari ruang rapat, ia segera pergi ke toilet kantor. Ia membasuh wajahnya dengan air dingin, mencoba meredam air mata yang hampir tumpah. "Kenapa semuanya jadi serumit ini?"

Saat ia keluar dari toilet, ponselnya bergetar di dalam tas. Pesan dari Kaelith.

“Lo di mana? Gue ada di depan kantor lo. Kayaknya ada yang ngikutin gue dari kampus. Gue butuh tempat buat sembunyi sebentar.”

Naura panik. Tanpa memikirkan risiko tertangkap kamera pengawas kantor, ia segera bergegas menuju lobi. Ia melihat mobil Kaelith terparkir di tempat yang agak gelap. Naura berlari kecil menghampirinya dan segera masuk ke dalam mobil.

"Lo bilang apa tadi? Ada yang ngikutin lo?" tanya Naura begitu ia menutup pintu mobil.

Kaelith tampak pucat, wajahnya yang biasanya santai kini dipenuhi keringat. Ia menatap spion tengah dengan cemas. "Tadi pas gue mau balik ke kampus, ada dua motor yang terus-terusan ngikutin mobil gue. Gue coba muter-muter buat mastiin, dan mereka beneran ngikutin."

"Apa mereka tahu siapa lo?"

"Mungkin. Atau mungkin mereka tahu gue habis ketemu sama lo di kafe tadi siang," Kaelith menjalankan mobilnya pelan, mencoba menghindari keramaian. "Gue nggak bisa balik ke kampus sekarang. Kalau mereka tahu gue tinggal di asrama mahasiswa, mereka bisa bikin keributan di sana."

"Ke apartemen gue saja," cetus Naura tanpa pikir panjang.

Kaelith menoleh, menatap Naura dengan tatapan tak percaya. "Lo yakin? Itu bahaya buat lo, Naura."

"Lebih bahaya kalau lo tertangkap di jalan," jawab Naura tegas.

Mereka pun melaju menuju apartemen kecil milik Naura. Selama perjalanan, suasana di dalam mobil sangat mencekam. Tidak ada musik, tidak ada candaan, hanya suara deru mesin dan napas mereka yang memburu.

Sesampainya di apartemen, Naura segera mengunci pintu rapat-rapat dan menutup gorden. Apartemen itu kecil, namun bagi mereka saat ini, itu adalah satu-satunya tempat paling aman di dunia.

Kaelith duduk di sofa, kepalanya disandarkan ke belakang. Ia tampak sangat lelah. Naura berjalan menuju dapur, mengambilkan segelas air dingin dan memberikannya kepada Kaelith.

"Makasih," bisik Kaelith sambil menerima gelas tersebut. Tangannya sedikit gemetar.

Naura duduk di lantai, bersandar di samping sofa. "Kael, kalau ini terlalu berat, kita bisa berhenti. Redaksi gue tadi sudah kasih peringatan keras. Mereka mau narik tugas gue kalau gue nggak kasih bukti dua hari lagi."

Kaelith menatap Naura. "Mereka kasih waktu dua hari?"

"Iya."

"Dua hari itu cukup," jawab Kaelith yakin. "Besok pagi, gue punya akses ke server utama perusahaan bokap gue yang di-backup secara offline. Itu tempat di mana semua aliran dana yang sebenarnya disimpan."

Naura menatap Kaelith dengan mata terbelalak. "Itu gila! Lo bakal ketahuan, Kael."

"Gue bakal jadi umpan," jawab Kaelith tenang. "Gue bakal bikin mereka sibuk melacak gue di kantor, sementara lo bisa masuk ke sistem lewat remote access yang sudah gue siapin. Gue sudah kasih software-nya ke lo, kan?"

"Kael, ini terlalu berbahaya! Kalau bokap lo tahu..."

"Bokap gue sudah tahu gue nggak sejalan sama dia," potong Kaelith. Ia menunduk, menatap tangannya sendiri. "Selama ini gue diem bukan karena gue takut. Gue diem karena gue nggak punya alasan yang cukup kuat buat ngelawan dia. Tapi sekarang... gue punya alasan."

Naura terdiam. Alasan itu... apakah itu dirinya?

"Lo adalah alasan gue sekarang, Naura," ucap Kaelith pelan, matanya menatap tajam ke arah mata Naura. "Gue nggak mau lo terus-terusan dalam bahaya gara-gara gue. Satu-satunya cara buat menghentikan ini adalah dengan membongkar semuanya."

Naura merasa jantungnya berdegup kencang. Ia tidak menyangka pengakuan itu akan keluar dari mulut pria yang selama ini selalu ia panggil "berondong tengil".

"Gue nggak mau lo kenapa-kenapa, Kael," ucap Naura, suaranya sedikit bergetar.

Kaelith tersenyum kecil, senyum yang sangat tulus dan menenangkan. Ia mengulurkan tangannya dan merapikan rambut Naura yang berantakan. "Gue bakal baik-baik saja. Asalkan lo tetap pegang janji lo buat bongkar kasus ini."

Tiba-tiba, suasana di apartemen itu terasa sangat intim. Jarak mereka yang begitu dekat membuat Naura bisa merasakan panas tubuh Kaelith. Untuk sesaat, mereka lupa akan bahaya yang mengintai di luar sana. Yang ada hanya mereka berdua, di tengah badai skandal yang mengancam masa depan mereka.

"Istirahatlah," bisik Kaelith. "Malam ini kita aman di sini."

Naura mengangguk, namun ia tidak beranjak. Ia masih menatap Kaelith, mencoba memproses semua yang terjadi. Dari sebuah demo mahasiswa, hingga malam ini, di mana ia harus menyembunyikan seorang ketua BEM di apartemennya.

Hidupnya benar-benar sudah berubah total. Dan ia tahu, tidak ada jalan untuk kembali.

1
Bu Dewi
ditunggu kelanjutannya kak😍😍😍👍🙏
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!