Dinginnya malam di puncak musim dingin menampar Gu Mingyue dengan kenyataan yang kejam. Alih-alih kehangatan, sang suami justru menyuguhkan cawan berisi racun demi bisa bersanding dengan perempuan lain. Di ambang kematiannya yang tragis, Mingyue menyadari bahwa ketulusannya selama ini hanyalah sebuah kesia-siaan.
Kini, takdir memberinya kesempatan kedua. Terlahir kembali di masa lalu, Gu Mingyue bersumpah demi sisa napasnya: ia tidak akan pernah lagi menjadi istri penurut yang mencintai Adipati Yu'an, Zhao Yuchen.
Langkahnya kali ini membawa Mingyue bertemu dengan Shen Mufeng—Jenderal Perang Penakluk Utara yang terkenal dingin, tegas, tajam, dan anti-wanita. Menolak mengulang tragedi yang sama, Gu Mingyue membulatkan tekad: ia akan menikahi sang Jenderal Agung dan membiarkan mantan suaminya hancur dalam penyesalan.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon AnaDww, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
DelapanBelas—Tandu Pernikahan
Pagi di Kediaman Gu terasa jauh lebih sibuk daripada biasanya. Para pelayan tampak berlarian kesana-kemari untuk menghias ruangan, merapikan dekorasi, serta menyajikan jamuan kepada beberapa kerabat jauh yang sengaja datang untuk menyaksikan pernikahan ganda hari ini—momen di mana dua putri keluarga Gu akan diberangkatkan menuju kediaman pengantin pria masing-masing.
Di dalam paviliunnya yang tenang, Gu Mingyue masih duduk dengan anggun di depan meja rias. Ia menatap lekat pantulan wajahnya sendiri di permukaan cermin perunggu. Gaun sutra merah pekat dengan sulaman benang emas berornamen megah telah melekat pas di tubuhnya. Sebuah mahkota emas murni serta set perhiasan dari batu giok utara yang berkilau dingin tampak serasi menghiasi dirinya. Sentuhan polesan merah merona di bibirnya memberikan kesan segar yang begitu memikat, sekaligus memancarkan aura ketegasan yang menawan.
"Nona, Anda sangat cantik," puji Fan Li'er dengan mata berbinar kagum sembari menyematkan satu hiasan sanggul perak berbentuk naga yang indah.
"Terima kasih, Li'er," ucap Gu Mingyue datar.
Merasa persiapannya sudah cukup, Gu Mingyue mulai bangkit berdiri. Ia meraih sebuah kipas bundar besar bersulam keemasan dengan hiasan giok yang menggelantung indah di bagian bawahnya, lalu mengangkat benda itu untuk menutupi separuh wajahnya. Tangannya terangkat tegak dan stabil di depan dada.
"Mari kita sambut suamiku," ucapnya tenang.
Ia melangkah perlahan, ketukan anggun dari sepatu satinnya terdengar begitu selaras di atas lantai kayu. Begitu daun pintu paviliun digeser terbuka, suasana koridor luar sudah tampak sepi dari pelayan biasa. Sebagai gantinya, para prajurit elite Pasukan Api yang sejak semalam berjaga di sekitar paviliunnya langsung bergerak tegap, mengawal setiap jengkal langkah Gu Mingyue.
Arak-arakan megah itu bergerak konstan hingga akhirnya tiba di halaman aula depan. Di sana, Gu Lian dan Selir Lin rupanya sudah berdiri menunggu.
Hari ini, Gu Lian mengenakan gaun pengantin berwarna merah mencolok dengan sulaman emas. Namun, kemegahannya sama sekali tidak bisa menandingi jubah kebesaran milik Gu Mingyue. Terlebih lagi, terdapat aksen kain hijau di bagian lipatan lengannya—menandakan statusnya yang hanya dinikahi sebagai istri pendamping. Mahkota di kepalanya pun berukuran jauh lebih kecil dan tampak redup jika dibandingkan dengan mahkota emas murni milik kakak tirinya.
Tak berselang lama, rombongan penjemput dari klan Zhao akhirnya tiba. Zhao Yuchen tampak menaiki seekor kuda cokelat, mengenakan pakaian pengantin yang serasi dengan jubah milik Gu Lian. Namun, pemandangan itu jauh dari kesan megah. Tandu yang dibawanya sangat sederhana tanpa banyak hiasan, dan barisan pengiringnya terhitung sedikit tanpa ada satu pun bendera kehormatan klan yang dikibarkan.
Di balik kipas bundar yang menutupi wajahnya, Gu Mingyue menyunggingkan senyum penuh cemoohan. Nyatanya, Zhao Yuchen tidak terlalu bodoh. Pria itu sadar diri dan sengaja mengambil Gu Lian hanya sebagai istri pendamping demi meredam skandal, tanpa sudi mengorbankan martabat klannya dengan menggelar arak-arakan Di Qi (Istri Utama).
"Kakak Zhao..." Gu Lian menjadi orang pertama yang bersuara, mengabaikan tata krama demi melayangkan protes. "Kenapa tidak ada iring-iringan meriah seperti yang kau janjikan?" tanyanya dengan nada rendah yang bergetar menahan malu.
Zhao Yuchen segera turun dari kudanya dan melangkah terburu-buru menghampiri Gu Lian. Wajah pria itu tampak tegang dan gusar saat berbisik, "Lian'er, tahan dirimu. Kita harus melewati pintu samping ibu kota."
Gu Lian tampak tercekat mendengarnya. Ia diam mematung dengan rona wajah yang perlahan memerah padam akibat luapan rasa malu yang luar biasa di hadapan para kerabat klan Gu.
Gu Mingyue yang berdiri tak jauh di sebelahnya, sedikit menurunkan kipas bundarnya, lalu berbisik pelan dengan nada teramat tenang, "Adik, kurasa rute pintu samping itu sangat cocok untuk menggambarkan jalan hidupmu ke depan."
Napas Gu Lian memburu seketika. Ia mencengkeram erat gagang kipas merahnya hingga jemarinya memutih. Kepalanya menoleh patah-patah, melemparkan tatapan penuh belati langsung ke arah Gu Mingyue.
"Kau boleh saja tinggi hati sekarang, Kakak! Tapi ingatlah, kau menikahi si kejam Shen Mufeng! Kau mungkin hanya mendapatkan kekayaan dan martabatnya, tapi bersiaplah menghadapi hatinya yang sedingin es. Siapa tahu... posisinya sebagai panglima militer justru akan membuatnya mati lebih cepat di medan perang!" kutuk Gu Lian dengan suara tertahan yang sarat akan kedengkian.
Gu Mingyue tidak terpengaruh sedikit pun. Sudut matanya justru melengkung manis di balik kipas emasnya.
"Setidaknya, jika kelak aku menjadi janda, aku akan menjadi janda yang jauh lebih kaya dan berkuasa darimu," tandas Gu Mingyue dingin tanpa riak.
Namun, seolah semesta sengaja ingin merendahkan harga diri klan Zhao dan Gu Lian lebih dalam lagi, seorang pelayan kediaman utama mendadak berlari kencang dari arah gerbang depan. Napasnya terputus-putus, dan wajahnya pias seperti baru saja melihat hantu.
"Tuan Besar! Nyonya Besar! Ada... ada rombongan lain di depan gerbang!" lapor pelayan itu dengan suara bergetar hebat seraya berlutut gemetar di hadapan Jenderal Besar Gu.
Suara derap langkah kaki yang beriringan mantap mulai terdengar kian mendekat dari arah luar gerbang.
Boom. Boom. Boom.
Gendang pernikahan ditabuh dengan dentuman yang menggelegar keras, menggetarkan dada siapa pun yang mendengarnya. Tepat di depan pintu gerbang utama Kediaman Gu, sebuah iring-iringan mahakarya bergerak masuk dengan kemegahan yang luar biasa. Dari tempat mereka berdiri, tampak sebuah Tandu Kebesaran Klan Shen yang berkilau mewah tengah dipikul oleh delapan prajurit bertubuh tegap yang mengenakan zirah besi yang berdenting nyaring pada setiap langkah serempak mereka. Puluhan panji dan bendera kehormatan klan berkibar gagah, mengapit barisan prajurit elite yang mengawal di sepanjang sisi jalan.
Namun, di tengah kemegahan yang menyilaukan mata itu, ada sedikit kejanggalan yang tertangkap indra.
Shen Mufeng tidak ada di sana. Kursi penunggang kuda pengantin pria tampak kosong.
Melihat hal itu, Gu Lian seketika menemukan celah untuk kembali membusungkan dadanya. "Kakak, di mana suamimu? Iring-iringan ini memang megah, tapi pengantin prianya sendiri tidak sudi menampakkan batang hidungnya!" cibirnya ketus.
Gu Mingyue menahan tawa geli di balik kipas bundarnya. "Adik, kenapa kau justru sibuk mencari suamiku, sementara calon suamimu sendiri sedang berdiri membeku di sebelahmu?"
Sebelum Gu Lian sempat membalas, sesosok pria tegap berzirah resmi melangkah maju dari barisan depan pengiring pengantin. Langkahnya mantap dan penuh hormat saat membungkuk di hadapan Gu Mingyue. "Nona Besar Gu, waktu keberangkatan telah tiba. Mari, kami akan mengawal Anda."
Gu Mingyue menurunkan sedikit kipas emasnya, melemparkan tatapan penuh kemenangan ke arah Gu Lian yang kini makin pucat pasi. "Adik, kurasa ini adalah gambaran jalanku ke depannya."
Dengan kalimat tenang yang sarat akan wibawa itu, Gu Mingyue mulai melangkah. Ketukan anggun dari sepatunya terdengar pelan di atas anak tangga kayu, menuntun tubuhnya menuju ke tempat di mana Tandu Kebesaran Klan Shen berhias megah itu berada. Ia menaiki tandu tersebut dengan gerakan yang luar biasa luwes, lalu mendudukkan diri dengan nyaman di atas bantalan sutra yang empuk dan hangat.
"Jalan."
Melalui satu perintah datar yang keluar dari balik tirai tipis tandu, rombongan agung itu pun bergerak maju. Gu Mingyue benar-benar telah meninggalkan Kediaman Gu dengan segala kemuliaan tertinggi, meninggalkan Gu Lian dan Zhao Yuchen yang terpuruk dalam kehinaan di depan pintu samping yang sunyi.
...----------------...
Iseng aja bikin karena lagi suka nonton drachin 🦭
Semoga kalian menyukainya