**Keira Salim** tidak pernah menyangka hidupnya akan berubah drastis dalam semalam.
Ayahnya masuk penjara karena judi, ibunya sakit keras, dan adik kembarnya baru saja menabrak mobil Bugatti milik pewaris konglomerat terbesar di Jakarta — **Rayhan Kurnia**.
Ganti rugi: dua ratus miliar rupiah.
Keira mendatanginya untuk negosiasi, tapi pria itu justru menatapnya dengan mata gelap yang tak terbaca, lalu berkata dengan santai:
*"Bayar pakai dirimu."*
*"Syarat pertama — jadi pacarku."*
Keira tahu ini gila. Tapi demi adiknya, demi ibunya, dia mengangguk.
Yang tidak Keira tahu: Rayhan sudah **mencintainya dalam diam selama sepuluh tahun** — sejak pertama kali melihatnya di trotoar saat mereka berusia delapan tahun.
Di balik wajah dingin dan sikap arogan itu, tersimpan ratusan surat cinta yang tak pernah dikirim, ribuan foto yang diam-diam diambil, dan sebuah ruangan rahasia yang dipenuhi jejak obsesi selama satu dekade.
Dia rela **mengorbankan mimpinya**, berlutut di hadapan ibunya yang kejam, dan **mempertaruhkan seribu miliar** — semua demi satu orang.
*"Selama Rayhan hidup, Keluarga Salim tidak akan jatuh."*
Tapi ketika Rayhan akhirnya kembali setelah lima tahun berjuang sendirian di luar negeri...
Keira menatapnya dengan mata kosong.
*"Maaf... apakah kita pernah saling kenal?"*
Dia sudah **melupakannya**.
Sepenuhnya.
---
**「Dia mencintainya sepuluh tahun dalam diam. Dia melupakannya dalam sekejap. Tapi cinta sejati tidak bisa dihapus — bahkan oleh waktu.」**
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Siti Kembang, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Episode 35
Bab 35: Main-main Saja
Tiga hari bukan waktu yang panjang.
Namun di Villa PIK, tiga hari itu terasa seperti benang yang ditarik pelan dari kain. Tidak langsung robek, tetapi setiap tarikan membuat bentuknya berubah.
Rayhan masih tidur di sisi Keira. Masih mencium keningnya sebelum keluar kamar. Masih mengingatkan obat Liana, jadwal latihan tari, dan makan siang. Namun ada bagian dari dirinya yang seperti sudah berdiri di depan pintu.
Koper hitam muncul di ruang kerja pada hari kedua.
Keira melihatnya saat hendak mengambil charger laptop. Koper itu tidak besar, tetapi cukup untuk perjalanan jauh. Di atas meja kerja, ada map berisi dokumen perjalanan, kartu nama pengacara, dan satu amplop dengan logo Somerfield Estate yang langsung membuat dada Keira mengencang.
Ia tidak membuka map itu.
Ia hanya berdiri di ambang pintu, menatap koper, lalu kembali ke kamar seperti orang yang baru melihat hujan dari jauh dan belum berani menanyakan apakah rumahnya bocor.
Sore itu, Rayhan memberinya kartu akses tambahan untuk RS Kurnia.
"Kalau aku sedang rapat dan kamu mau lihat Mama, pakai ini," katanya.
Keira membolak-balik kartu itu. "Aku sudah punya akses pendamping."
"Yang ini akses keluarga eksekutif. Tidak perlu antre administrasi."
"Kenapa baru sekarang?"
Rayhan mengancingkan jam tangannya tanpa menatap langsung. "Supaya lebih mudah."
Jawaban itu terdengar masuk akal. Terlalu masuk akal. Sama seperti kunci cadangan Villa PIK, daftar kontak dokter, nomor Ricky, dan catatan kecil berisi jadwal obat Liana yang tiba-tiba ditempel di kulkas.
Keira menyentuh kertas jadwal itu lama sekali.
Orang yang akan tinggal biasanya tidak menulis semua petunjuk seolah ia takut tidak sempat menjelaskan nanti.
Malamnya, Rayhan pulang terlambat.
Keira sedang menunggu di dapur dengan sup jagung yang sudah dua kali dipanaskan. Ia mendengar pintu utama terbuka, langkah kaki pelan, lalu suara Rayhan berhenti di dekat tangga.
"Belum tidur?" tanyanya.
"Belum."
"Aku sudah makan."
Keira melihat kantong matanya. "Bohong."
Rayhan tersenyum lelah. "Sedikit."
"Makan sup."
"Kei..."
"Makan."
Ia menurut.
Mereka duduk berhadapan di meja dapur. Rayhan makan beberapa suap, lalu berhenti karena ponselnya menyala. Nama Evelyn tidak muncul di layar, hanya nomor luar negeri tanpa foto. Namun tubuh Rayhan langsung kaku.
Keira melihatnya.
"Angkat saja."
"Tidak penting."
"Kalau tidak penting, kamu tidak akan terlihat seperti itu."
Rayhan menatapnya beberapa detik. Lalu ia berdiri, membawa ponsel ke ruang kerja.
"Aku sebentar."
Pintu ruang kerja tertutup.
Keira menatap sup yang masih mengepul.
Ia ingin menjadi orang yang sabar. Orang yang percaya. Orang yang tidak menguping karena hubungan mereka seharusnya punya ruang. Namun sejak mimpi Somerfield, sejak koper hitam, sejak kata "nanti" terus-menerus menjadi tembok, kesabaran itu terasa seperti kain tipis yang dibentangkan di atas luka terbuka.
Ponselnya bergetar.
Pesan dari Daisy.
Daisy: Kau di rumah?
Keira: Iya.
Daisy tidak langsung membalas.
Keira menunggu.
Daisy: Kalau Ray bicara sesuatu yang menyakitkan, jangan percaya kalimat pertama.
Keira menatap pesan itu sampai huruf-hurufnya kabur.
Apa maksudnya?
Sebelum ia sempat mengetik, dari ruang kerja terdengar suara Rayhan. Tidak keras, tetapi pintu tidak tertutup rapat.
"Saya akan berangkat sesuai jadwal."
Keira membeku.
Suara Evelyn terdengar dari speaker, halus dan dingin. "Dan gadis itu?"
Keira berdiri pelan.
"Tidak ada yang perlu Mama urus," kata Rayhan.
"Rayhan, jangan membuat saya mengulang syarat. Kau kembali sendiri. Tidak membawa gangguan, tidak membawa skandal kampus, tidak membawa gadis Salim itu ke dalam program saya."
Keira melangkah mendekati ruang kerja.
Jantungnya berdetak di telinga.
Rayhan tertawa kecil. Tawa yang tidak hidup.
"Keira bukan gangguan untuk program Mama."
"Karena?"
Hening.
Keira berhenti tepat di luar pintu. Celah kecil memperlihatkan Rayhan berdiri membelakangi pintu, satu tangan di meja, bahunya tegang.
Evelyn berkata lagi, "Kalau dia penting, saya akan memperlakukannya sebagai leverage. Kalau dia tidak penting, tinggalkan dia di Jakarta dan selesai."
Kata leverage terasa asing di telinga Keira, tetapi nada Evelyn membuat artinya cukup jelas.
Rayhan tidak langsung menjawab.
Keira melihat tangan kirinya mengepal di sisi meja.
Lalu suara Rayhan keluar.
Datar.
Hampir malas.
"Main-main saja."
Dunia Keira berhenti.
Di dalam ruang kerja, Evelyn diam sebentar.
"Ulangi."
Rayhan menarik napas. "Dengan Keira. Main-main saja."
Keira merasakan sesuatu pecah tanpa suara di dadanya.
Mawar putih.
Cincin.
Surat cinta di laci.
Kunci Villa PIK.
Tangan Rayhan yang gemetar saat ia berkata bahagia.
Semua gambar itu jatuh satu per satu seperti kaca.
Evelyn tertawa pelan dari speaker. "Bagus. Akhirnya kau belajar membedakan mainan dan tujuan."
Rayhan menunduk. "Jangan sentuh dia."
"Kalau dia mainan, saya tidak perlu menyentuhnya."
Keira tidak mendengar kalimat berikutnya.
Tubuhnya sudah bergerak.
Ia mendorong pintu ruang kerja hingga terbuka.
Rayhan berbalik.
Wajahnya langsung kehilangan warna.
Di meja, layar ponsel masih menyala. Panggilan belum terputus. Evelyn tidak bicara, tetapi Keira bisa merasakan perempuan itu mendengar.
Keira berdiri di ambang pintu.
Tangannya dingin. Cincin di jarinya terasa terlalu berat.
"Main-main saja?" suaranya keluar lebih pelan daripada yang ia kira.
Rayhan membuka mulut. "Kei..."
"Jangan panggil aku begitu dulu."
Rayhan seperti ditampar.
Keira masuk selangkah. Air mata belum jatuh, tetapi matanya sudah panas sampai pandangan di depannya bergetar.
"Aku mau dengar dari mulutmu langsung."
Rayhan tidak bergerak.
"Semua ini," Keira mengangkat tangan yang memakai cincin, "main-main saja?"
Di speaker, Evelyn akhirnya berkata pelan, "Rayhan, jawab."
Keira menatap Rayhan, bukan Evelyn.
"Iya," katanya. "Jawab."