Mereka mengenalnya sebagai gadis cupu—pendiam, berkacamata, selalu sendiri, dan sering diremehkan. Tidak ada yang tahu bahwa di balik wajah polosnya, tersembunyi sosok paling berbahaya di kota.
Saat malam tiba, dia berubah menjadi ketua mafia yang dingin dan tak tersentuh. Dengan tatapan tajam dan langkah penuh wibawa, semua orang tunduk pada satu perintahnya. Bukan hanya itu, dia juga CEO muda dari perusahaan terbesar yang menguasai berbagai industri.
Cantik, cerdas, dan mematikan.
Dia tidak pernah membalas hinaan dengan kata-kata—dia membalasnya dengan kekuasaan.
Dulu mereka menertawakan gadis cupu itu.
Sekarang, mereka bahkan takut menatap matanya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Intan Oktavianiputri77, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 33: WAKTU YANG MULAI MENULIS BALIK
Langit pagi tidak lagi terasa seperti langit.
Lebih seperti layar yang belum selesai dirender.
Arsen berdiri di kamar rumah sakit.
Tapi kali ini, dunia tidak lagi stabil.
Di dinding, bayangan garis-garis tipis muncul.
Seperti kode yang bocor ke dunia nyata.
Baskoro mundur perlahan.
“…Tuan Arsen… Anda melihat itu?”
Arsen tidak langsung menjawab.
Matanya terpaku pada udara di depannya.
“…aku melihat semuanya.”
Dan itu bukan metafora.
Karena di depan Arsen…
dunia benar-benar memiliki lapisan.
Lapisan pertama: kamar rumah sakit.
Lapisan kedua: grid data transparan.
Lapisan ketiga: sesuatu yang bergerak di bawahnya.
Sesuatu yang hidup.
“ACCESS LEVEL: 1.3 INCREASED”
Arsen mengernyit.
“…aku tidak melakukan itu.”
Suara sistem datang pelan.
“AKSI TERPICU OLEH OBSERVASI.”
Arsen menatap tangannya.
“…jadi hanya dengan melihat, aku mengubahnya?”
Jawaban:
“PADA TAHAP INI, YA.”
Baskoro tidak bisa lagi menyembunyikan kepanikannya.
“…Tuan, ini tidak normal.”
Arsen menjawab datar:
“…tidak ada yang normal sejak awal.”
Di sisi lain kota.
Ruang bawah tanah Anya.
Semua layar kini tidak stabil.
Tidak merah.
Tidak error.
Tapi… berubah-ubah.
Seperti sistem yang tidak tahu bentuk dirinya sendiri.
Anya berdiri diam.
Tulus di belakangnya menahan napas.
“…Queen… Arsen bukan lagi hanya node.”
Anya tidak bergerak.
“…aku tahu.”
Tulus menatap layar utama.
“…dia mulai mempengaruhi realitas permukaan.”
Anya akhirnya menoleh sedikit.
“…contohnya?”
Tulus menunjuk satu grafik.
Di sana:
KORIDOR SMA WIJAYA
STATUS: VARIAN TIDAK STABIL
Anya mengernyit.
“…jelaskan.”
Tulus menelan ludah.
“…beberapa siswa melaporkan Selene tidak lagi bersikap seperti biasanya.”
“…dia lebih… tenang. Lebih terarah.”
Anya langsung menatap layar.
“…itu bukan Selene.”
Tulus kaget.
“…maksudnya?”
Anya menjawab pelan:
“…itu versi yang sudah di-override.”
Sunyi.
Di SMA Wijaya.
Koridor pagi itu terlalu sunyi untuk jam sekolah.
Selene berdiri di depan mading.
Sendiri.
Tidak ada gengnya.
Tidak ada tawa.
Hanya dia… dan satu papan pengumuman.
Matanya kosong.
Tapi tenang.
Seorang siswa lewat.
“…Selene? Kamu baik-baik saja?”
Selene menoleh.
Pelan.
“…aku baik-baik saja.”
Tapi suaranya tidak seperti Selene yang dulu.
Lebih rata.
Lebih “bersih”.
Siswa itu bergidik dan pergi cepat.
Selene menatap tangannya sendiri.
“…aku stabil.”
Dan di balik kata itu…
tidak ada emosi sama sekali.
Di rumah sakit.
Arsen melangkah perlahan.
Setiap langkahnya…
meninggalkan glitch kecil di lantai.
Baskoro melihatnya.
“…Tuan… Anda tidak seharusnya berjalan.”
Arsen menjawab tanpa menoleh:
“…aku hanya mencoba sesuatu.”
“…sesuatu apa?”
Arsen berhenti.
Menatap udara.
“…kalau aku bisa mengubah realitas dengan observasi…”
“…apa yang terjadi kalau aku fokus?”
Baskoro langsung tegang.
“…Tuan, jangan—”
Terlambat.
Arsen menatap jendela.
Fokus.
Terlalu fokus.
Dan dunia merespons.
Lampu rumah sakit berkedip.
Data di udara mengalir cepat.
“PERUBAHAN LOKAL TERDETEKSI”
Baskoro mundur.
“…Tuan Arsen!”
Arsen berbisik:
“…aku ingin koridor itu terbuka.”
Hening.
Dan tiba-tiba…
di dinding rumah sakit—
muncul koridor SMA Wijaya.
Real.
Terlalu real.
Baskoro hampir jatuh.
“…ini mustahil…”
Arsen sendiri terdiam.
“…jadi begini rasanya.”
Suara sistem muncul, lebih keras dari sebelumnya:
“INTERVENSI REALITAS TERBATAS AKTIF”
Di ruang Anya.
Alarm meledak.
Tulus langsung berdiri.
“…Queen! Dia membuka overlap dunia sekolah ke dunia nyata!”
Anya menutup mata sebentar.
“…dia tidak membuka.”
Ia membuka mata.
“…dia menimpa.”
Tulus panik.
“…itu jauh lebih buruk.”
Anya berjalan pelan ke layar utama.
“…itu artinya dia tidak lagi membedakan layer.”
Sunyi.
“…dia mulai menganggap semuanya satu sistem.”
Di SMA Wijaya.
Selene berdiri di koridor kosong.
Tiba-tiba.
Langit di atasnya retak kecil.
Bukan literal.
Tapi seperti layar yang salah render.
Selene mendongak.
“…apa ini?”
Dan untuk pertama kalinya…
ekspresinya berubah sedikit.
Bukan takut.
Bukan marah.
Tapi… penasaran.
Di rumah sakit.
Arsen masih menatap koridor yang ia buat.
“…aku bisa membawa dunia ke sini.”
Baskoro berbisik:
“…atau Anda sedang menarik sesuatu keluar dari sistem.”
Arsen menoleh sedikit.
“…seperti apa?”
Baskoro tidak menjawab cepat.
“…sesuatu yang seharusnya tetap terkunci.”
Sunyi.
Dan di ruang Anya.
Satu garis merah muncul di layar utama.
“SELENE NODE: AKTIVASI ULANG”
Anya langsung menatap.
“…dia bangun lagi.”
Tulus kaget.
“…yang mana? Selene yang lama atau yang baru?”
Anya menjawab pelan:
“…bukan keduanya.”
“…dia versi ketiga.”
Di SMA Wijaya.
Selene tersenyum kecil.
Untuk pertama kalinya sejak lama.
“…aku merasa… lebih jelas.”
Matanya menatap langit yang retak sistem.
“…siapa yang memanggilku?”
Dan di antara dua dunia—
Arsen dan Anya sama-sama berhenti di waktu yang sama.
Karena mereka merasakan hal yang sama:
Sistem tidak lagi hanya mengamati manusia.
Sekarang…
ia mulai melahirkan manusia baru.
kasih sedikit gaya relax deh... biar lebih nyantai bacanya🙏