Di hari ketika seluruh mimpinya hancur, Lin Yuan divonis memiliki Akar Roh Rusak Total dan diusir dari Sekte Awan Langit.
Tunangannya meninggalkannya, sahabat menjauhinya, dan musuh-musuhnya memilih membunuhnya agar tak menyisakan ancaman.
Namun di ambang kematian, sebuah sistem kuno terbangun.
**Sistem Pemakan Takdir.**
Selama mampu mengalahkan lawannya, Lin Yuan dapat melahap takdir, bakat, keberuntungan, bahkan kesempatan hidup mereka untuk menjadi miliknya.
Sejak malam itu, seorang "sampah" yang ditertawakan seluruh dunia mulai menapaki jalan yang belum pernah dilalui siapa pun.
Jika langit menolak memberinya takdir...
Maka ia akan memakan takdir langit itu sendiri.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Otna Forever, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 10: Penghuni yang Tak Seharusnya Ada
Angin dingin berembus pelan melintasi reruntuhan kota kuno, membawa debu halus di antara bangunan yang telah roboh.
Keheningan begitu pekat di tempat ini, seolah seluruh dunia telah lama kehilangan kehidupan.
Namun, di puncak menara tertinggi yang masih berdiri kokoh, sosok berjubah putih berdiri dengan sangat tenang.
Tatapannya lurus mengarah kepada Lin Yuan tanpa ada sedikit pun niat membunuh.
Tetapi justru itulah yang membuat suasana di sekitar kota terasa semakin mencekam.
Penjaga Makam perlahan melangkah maju ke depan. Wajah lelaki tua itu berubah menjadi sangat serius dan tegang.
"Itu... tidak mungkin terjadi," bisik Penjaga Makam dengan nada tidak percaya.
Lin Yuan menoleh ke arahnya. "Apa maksudmu tidak mungkin?"
Tatapan Penjaga Makam tidak pernah lepas dari sosok berjubah putih di puncak menara.
"Aku menyaksikan sendiri kehancurannya dahulu kala, jiwanya seharusnya telah lenyap puluhan ribu tahun lalu."
"Tapi... mengapa sekarang dia masih ada di sini?" tanyanya dengan kebingungan yang mendalam.
Jantung Lin Yuan berdetak lebih cepat mendengar penjelasan itu. Siapakah sebenarnya pria berjubah putih itu?
Di atas menara, pria berjubah putih perlahan mengangkat kepalanya hingga tatapan mereka akhirnya bertemu.
Saat itu juga, mata kanan Lin Yuan berdenyut pelan. Gerbang kecil di dalam pupilnya kembali berputar cepat.
Tanpa diperintah, Mata Takdir aktif dengan sendirinya seolah merespons kehadiran sosok yang sangat kuat.
Suara sistem terdengar.
[Mata Takdir aktif otomatis! Mendeteksi target khusus dengan karakteristik energi tidak biasa.]
Dalam sekejap, pemandangan di depan Lin Yuan berubah drastis. Ribuan benang Takdir yang biasanya memenuhi dunia menghilang.
Yang tersisa hanyalah kehampaan. Pria berjubah putih itu berdiri sendirian tanpa ada satu pun benang takdir yang terhubung.
Mata Lin Yuan membelalak. "Bagaimana mungkin ada makhluk tanpa benang takdir?"
Suara sistem kembali berbunyi dengan nada tidak stabil.
[Kesalahan analisis! Objek target tidak memiliki benang Takdir. Hasil tetap sama: nihil takdir.]
Keringat dingin mengalir di pelipis Lin Yuan saat menyadari tingkat kekuatan sosok di hadapannya.
Ini pertama kalinya dia melihat makhluk yang benar-benar tidak memiliki keterikatan takdir dengan dunia.
Di kejauhan, pria berjubah putih tersenyum tipis seolah tahu Mata Takdir sedang mengamati dirinya.
Kemudian, tanpa membuka mulutnya, suaranya langsung bergema di dalam kesadaran Lin Yuan.
"Sudah lama sekali... aku menunggu kedatanganmu ke tempat ini," ucapnya dengan nada tenang dan berwibawa.
Tubuh Lin Yuan langsung menegang. Suara itu tidak berasal dari telinganya, melainkan bergema langsung di dalam jiwanya.
Gerbang Pemakan Takdir bergetar pelan seolah memberi respons.
KLANG... KLANG...
Penjaga Makam juga tampaknya mendengar suara tersebut. Sorot matanya berubah semakin tajam dan penuh kewaspadaan.
"Jangan pernah dengarkan ucapannya!" seru Penjaga Makam.
"Dia bukan lagi orang yang pernah kukenal dahulu."
Pria berjubah putih terkekeh pelan mendengar peringatan itu. "Kau masih tetap sama seperti dulu, selalu terlalu berhati-hati."
Dia melangkah maju dari puncak menara dengan gerakan yang sangat aneh. Padahal jarak mereka masih ratusan meter.
Namun dalam satu langkah saja, sosoknya telah berpindah puluhan meter tanpa ada riak energi yang keluar.
Langkah kedua, dia telah berada di atas gerbang kota yang hancur. Langkah ketiga, dia berdiri tepat di depan.
Pupil mata Lin Yuan mengecil karena dia sama sekali tidak mampu melihat bagaimana pria itu bergerak.
Tidak ada aura Qi, tidak ada teknik tubuh, bahkan tidak ada riak ruang yang biasanya muncul saat berpindah tempat.
Seolah dia memang selalu berada di sana sejak awal. Penjaga Makam segera berdiri di depan Lin Yuan.
"Berhenti di sana!" seru Penjaga Makam dengan nada mengancam.
Pria berjubah putih hanya tersenyum tenang. "Aku tidak datang untuk bertarung denganmu," ucapnya sambil menatap Lin Yuan.
Sorot matanya tenang namun terasa mampu melihat seluruh rahasia terdalam yang tersimpan di dalam jiwa Lin Yuan.
"Akhirnya... Gerbang Agung itu telah memilih pewaris baru untuk mengemban tugas yang sangat berat di masa depan."
Begitu kalimat itu terucap, Gerbang Pemakan Takdir di dalam jiwa Lin Yuan bergetar jauh lebih keras dari sebelumnya.
KLANG! KLANG!
Rantai emas pertama memancarkan cahaya hitam yang pekat, sementara delapan rantai lainnya ikut bergetar merespons.
Pria berjubah putih memperhatikan semua fenomena itu dengan tatapan yang sulit diartikan.
"Lima belas ribu tahun lamanya... ternyata masih belum cukup untuk menyembuhkan luka yang ditinggalkannya di masa lalu."
Ucapan itu membuat Penjaga Makam membelalakkan mata karena terkejut.
"Diam! Jangan pernah sebut lagi masalah kelam itu!"
Namun pria berjubah putih hanya menggelengkan kepalanya pelan, tatapannya kembali mengarah kepada Lin Yuan dengan penuh makna.
"Kalau kau ingin mengetahui kebenaran yang sesungguhnya, maka jadilah cukup kuat untuk menanggung beban kebenaran itu."
"Karena saat hari itu tiba, kau akan membenci Takdir lebih daripada siapa pun yang pernah hidup di dunia ini."
Keheningan kembali menyelimuti Kota Kuno setelah kalimat itu diucapkan. Lin Yuan menggenggam pedangnya dengan erat.
Dia tidak memahami maksud ucapan pria itu, namun nalurinya mengatakan bahwa setiap kata sangat penting.
Pria berjubah putih perlahan mengangkat tangan kanannya, hanya satu jari saja yang terulur ke arah Lin Yuan.
Tidak ada ledakan aura Qi ataupun gelombang energi dahsyat, namun seluruh ruang di sekelilingnya mendadak menjadi sangat sunyi.
Penjaga Makam langsung berteriak panik.
"Lin Yuan! Segera mundur dari posisimu sekarang juga!"
Sayangnya peringatan itu sudah terlambat. Pria berjubah putih mengayunkan jarinya perlahan ke arah Lin Yuan dengan gerakan anggun.
SWIING!
Sebuah cahaya pedang putih melesat tanpa suara dengan kecepatan yang tidak bisa dijelaskan oleh akal sehat.
Bahkan Mata Takdir langsung bereaksi memberikan peringatan ancaman ekstrem yang belum pernah dirasakan sebelumnya.
[Ancaman ekstrem terdeteksi! Mengaktifkan Mata Takdir secara maksimal untuk mencari jalur kehidupan!]
Dalam sekejap, dunia kembali dipenuhi ribuan benang Takdir, namun kali ini benang-benang itu putus satu per satu.
Hanya tersisa satu jalur kehidupan yang sangat tipis di antara ribuan benang yang telah terputus.
Lin Yuan tidak berpikir lagi, tubuhnya bergerak naluriah mengikuti jalur kehidupan tipis yang ditunjukkan Mata Takdir.
Satu langkah ke kiri, memutar pinggang, lalu menundukkan kepalanya dengan gerakan yang sangat cepat dan presisi.
SWISH!
Cahaya pedang putih melintas tepat di atas rambutnya, memotong beberapa helai rambut Lin Yuan dengan sangat halus.
Sesaat kemudian,
BOOOOOOM!
Gunung batu besar di belakang Lin Yuan terbelah menjadi dua bagian dengan suara ledakan dahsyat.
Retakan raksasa membelah tanah hingga ratusan meter jauhnya, membuat mata Lin Yuan mengecil karena terkejut.
"Hanya satu ayunan jari saja..." bisiknya dengan tubuh yang dipenuhi keringat dingin.
Pria berjubah putih mengangguk pelan seolah puas.
"Bagus sekali responsmu tadi. Sepertinya Mata Takdir benar-benar telah menerimamu sebagai tuannya."
Wajahnya kembali menunjukkan sedikit kekecewaan.
"Sayangnya... kau saat ini masih terlalu lemah untuk memahami kekuatan sesungguhnya di dalam dirimu."
Dia kembali melangkah maju, dan dalam satu langkah saja dia telah berada tepat di depan wajah Lin Yuan.
Begitu dekat hingga Lin Yuan dapat melihat pantulan dirinya sendiri di mata jernih pria berjubah putih itu.
Namun yang membuatnya bergidik ngeri adalah pantulan dirinya di sana bukan mengenakan pakaian murid luar Sekte Awan Langit.
Melainkan mengenakan jubah hitam panjang misterius dengan pedang hitam yang dikelilingi rantai emas di tangannya.
Lin Yuan tertegun melihat pemandangan aneh itu.
"Itu... itu bukan diriku yang sekarang," bisiknya dengan suara bergetar.
Pria berjubah putih tersenyum tipis. "Belum," satu kata itu membuat jantung Lin Yuan berdetak kencang.
Penjaga Makam langsung muncul di antara mereka, menghentakkan tongkat batunya ke tanah hingga kabut hitam menyelimuti area.
"Cukup untuk hari ini! Dia belum siap menerima semua informasi ini sekarang!" seru Penjaga Makam dengan nada tegas.
Pria berjubah putih memandang Penjaga Makam beberapa saat lalu menghela napas pelan. "Benar, kalau sekarang dia hanya akan mati."
Dia berbalik perlahan untuk pergi. "Ingat satu hal, Lin Yuan. Gerbang Pemakan Takdir bukanlah berkah bagi hidupmu."
"Ia adalah sebuah belenggu. Semakin banyak Takdir yang kau mangsa, semakin dekat kau kepada pemilik aslinya."
Begitu kalimat terakhir selesai diucapkan, tubuh pria berjubah putih berubah menjadi jutaan titik cahaya yang indah.
Perlahan sosoknya menghilang bersama embusan angin hitam, meninggalkan kota yang kembali menjadi sangat sunyi dan sepi.
Lin Yuan masih berdiri mematung di tempatnya, ucapan terakhir pria itu terus bergema di dalam benaknya tanpa henti.
"Pemiliknya... Apakah Gerbang Pemakan Takdir ini pernah memiliki tuan di masa lalu?" tanyanya di dalam hati dengan bingung.
Penjaga Makam menghela napas panjang untuk menenangkan diri.
"Waktunya belum tiba bagimu untuk mengetahui semua jawaban ini sekarang. Tetapi satu hal yang harus kau ingat baik-baik: semakin kuat dirimu, semakin banyak rahasia gelap dunia yang akan mencarimu."
Lin Yuan menatap tangannya sendiri dengan perasaan campur aduk. Kekuatan ini ternyata bukan sekadar anugerah baginya.
Melainkan sebuah tanggung jawab besar yang sangat berat. Tiba-tiba, cincin hitam di jarinya memancarkan cahaya keemasan yang terang.
Batu hitam kecil di dalam ruang penyimpanan mulai bergetar hebat. KRAK... Muncul retakan pertama, lalu diikuti retakan selanjutnya.
Penjaga Makam menoleh dengan cepat ke arah cincin tersebut.
"Akhirnya... Batu Warisan itu memberikan respons terhadap kehadiranmu di sini."
Lin Yuan segera memusatkan kesadarannya ke dalam cincin, melihat batu hitam itu perlahan pecah dan mengeluarkan cahaya keemasan yang menyilaukan.
Di tengah cahaya itu melayang sebuah gulungan giok kuno dengan ribuan huruf emas yang berputar cepat mengelilingi gulungan tersebut.
Suara sistem langsung bergema.
[Warisan Terdeteksi! Teknik Gerbang Takdir - Jurus Pertama: Langkah Pembelah Takdir. Segera pelajari untuk meningkatkan kemampuan bertahan hidup!]
Belum sempat Lin Yuan menyentuh gulungan giok itu,
DOOONG!
Suara lonceng kuno mengguncang seluruh Kota Kuno Takdir dengan sangat keras.
........
Bersambung...