Cerita ini bukan tentang siapa yang tercepat menjadi terkuat, melainkan tentang bagaimana seseorang yang dianggap paling lemah belajar memahami kekuatan yang sesungguhnya: kesabaran, ketahanan, kemampuan menahan badai tanpa tumbang, dan perlahan tumbuh melampaui batas yang dianggap mustahil oleh semua orang. Ia akan bertemu teman yang setia, menghadapi musuh yang meremehkannya, dan akhirnya mengungkap mengapa jalan kuno itu dihapus dari sejarah.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon cldazxx, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 18: Langit Tanpa Fondasi
Satu gerakan tangan Bai Yu seolah mengubah seluruh ruang di atas alun-alun menjadi kubus besi yang berat. Tekanan yang jauh lebih dahsyat daripada saat melawan Meng Tianxiong menghantam tubuh Lin Mo, membuat tulang-tulangnya berderit pelan. Warga di sekitarnya langsung jatuh berlutut, tak sanggup mengangkat kepala, sementara Meng Chao, Zhang Hao, dan Guru Shan terdorong mundur hingga menabrak tembok bangunan.
"Lihat betapa rapuhnya tanahmu," ucap Bai Yu dingin sambil melayang perlahan di udara, kakinya tak menyentuh sedikit pun permukaan bumi. "Langit memberi kemuliaan, kekuatan, dan keabadian. Tanah hanya tempat pembuangan debu dan bangkai. Mengapa kau tetap mempertahankan jalan yang sudah ditinggalkan semua orang?"
Lin Mo mengatupkan gigi, menahan rasa sakit yang menusuk hingga ke sumsum tulang. Ia tidak bisa melawan tekanan ini dengan kekuatan fisik semata. Ia menutup mata, membuang segala rasa takut, dan menyatukan kesadarannya sepenuhnya dengan lapisan tanah dalam yang baru ditemukannya tadi.
"Kau bisa melayang setinggi apa pun," jawabnya dengan suara parau namun jelas, "tapi kau tidak bisa memutuskan bahwa tanah itu tidak berharga hanya karena kau lupa berdiri di atasnya."
Ia menekan telapak kaki kanannya ke tanah.
Bukan gelombang kekuatan yang meledak ke atas. Sebaliknya, cahaya cokelat gelap menyebar perlahan dari kakinya, menyusuri setiap retakan di permukaan jalan, meresap ke dalam setiap jengkal tanah. Tekanan menindih itu perlahan berkurang, seolah tanah di bawah sedang menarik beban itu turun ke dalam perut bumi.
Bai Yu menyipitkan mata, sedikit terkejut. "Menyerap kekuatan? Itu tidak akan menyelamatkanmu!"
Ia mengangkat kedua tangan, dan ribuan bilah energi putih tajam muncul di udara, menghujani Lin Mo dari segala arah. Serangan ini dirancang bukan hanya melukai tubuh, tapi memutus hubungan antara pewaris dan kekuatan buminya.
Namun saat bilah-bilah itu hampir menyentuh kulit Lin Mo, permukaan tanah di sekelilingnya berubah menjadi seperti air yang tenang. Setiap bilah yang menghantamnya langsung tenggelam, lenyap tanpa meninggalkan jejak atau suara.
"Kau menghancurkan tanah yang kau injak," kata Lin Mo pelan. "Setiap pukulanmu melukai fondasi yang menopangmu sendiri."
Bai Yu tertawa sinis. "Bodoh! Aku tidak butuh fondasi. Aku sudah melampaui keterikatan duniawi!"
Ia melesat turun dengan kecepatan kilat, telapak tangannya menyala dengan cahaya menyilaukan—teknik terkuat Sekte Langit Kakuasaan: Telapak Tangan Penghapus Bumi.
Pertemuan kedua telapak tangan itu menimbulkan ledakan hebat. Debu merah beterbangan menutupi seluruh alun-alun. Warga menjerit ketakutan, yakin Lin Mo sudah hancur lebur.
Namun saat debu mereda, pemandangan yang dilihat membuat mereka terdiam.
Lin Mo berdiri tegak di tempatnya. Di depannya, tanah tidak hancur—melainkan terangkat perlahan membentuk dinding perisai yang halus dan padat. Telapak tangan Bai Yu menempel di sana, tidak bisa menembus sedikit pun, dan wajahnya kini penuh kaget bercampur ngeri.
"Apa yang kau lakukan?" teriaknya panik. "Teknik ini... seolah seluruh gunung menahanku!"
"Bukan menahanmu," jawab Lin Mo tenang. "Aku hanya membiarkanmu merasakan apa artinya berdiri di atas sesuatu yang kokoh. Selama ini kau berlatih untuk terbang tinggi, tapi kau tidak pernah belajar bagaimana cara berdiri tegak. Kekuatanmu besar, tapi tidak ada akar. Seperti awan yang terbawa angin—indah sebentar, lalu hilang tanpa jejak."
Ia menekan tangannya ke depan. Dinding tanah itu perlahan mendorong balik, lembut namun tak terbendung. Bai Yu terpaksa mundur, kakinya gemetar, dan aura cahayanya mulai berkedip-kedip. Ia baru menyadari hal yang mengerikan: semakin ia mengerahkan tenaga, semakin berat tekanan yang ia terima, seolah seluruh kekuatannya dikembalikan berlipat ganda oleh bumi itu sendiri.
"Cukup!" suara berat bergema dari kejauhan. Sebuah cakram perak raksasa melesat cepat, memisahkan keduanya. Di atas cakram itu berdiri seorang pria tua berjubah perak—Penatua Sekte yang datang terlambat.
"Murid Bai Yu, mundur," perintah pria tua itu dingin. Ia menatap Lin Mo dengan mata yang tajam namun penuh pertimbangan. "Anak muda, kau memiliki pemahaman yang langka. Tapi kau salah arah. Dunia ini berubah. Tanah memang tempat tinggal kita, tapi langit adalah tujuan akhir. Mengapa kau menentang takdir?"
"Takdir tidak memaksa kita memilih satu dan membuang yang lain," jawab Lin Mo tegas. "Pohon tidak tumbuh ke atas jika akarnya mati di bawah. Langit dan tanah saling melengkapi, bukan saling memusuhi. Kalian yang memaksakan satu sisi, sedang merusak keseimbangan seluruh benua."
Penatua itu terdiam sejenak, lalu menghela napas. "Kata-katamu benar. Tapi kekuatan yang mengatur kami tidak akan mendengarkan alasan. Sekarang aku tidak bisa membunuhmu di sini—warga sudah melihat keajaibanmu, dan membunuhmu hanya akan menanam keraguan lebih dalam. Pergilah. Tapi ingat: saat kau sampai di Istana Langit Mengambang, tidak ada lagi tempat untuk belas kasihan."
Cakram perak itu berbalik dan melesat pergi, membawa Bai Yu yang masih menatap Lin Mo dengan tatapan campur aduk—antara benci, takut, dan sedikit rasa bingung yang mulai merayap di hatinya.
Setelah mereka pergi, keheningan menyelimuti alun-alun. Kemudian perlahan, satu per satu warga mulai berlutut. Bukan untuk menyembah, tapi karena terharu dan haru.
"Terima kasih," kata seorang ibu sambil memeluk anaknya. "Selama ini kami diajari bahwa tanah adalah kutukan. Kau membuktikan bahwa tanah adalah rumah kami."
Malam itu, berita menyebar ke seluruh penjuru Kota Merah Pasir. Banyak orang diam-diam datang menemui Lin Mo, bercerita tentang warisan nenek moyang mereka yang melarang teknik bumi, tentang tempat-tempat tersembunyi di mana batu-batu kuno masih tersimpan, dan tentang jejak aneh yang menuju ke arah utara—tempat di mana Istana Langit Mengambang berada.
Lin Mo tahu pertarungan hari ini bukan kemenangan atas musuh, tapi kemenangan atas kebohongan. Ia telah menanam benih kesadaran di tanah yang paling keras sekalipun. Dan benih itulah yang suatu hari nanti akan menumbuhkan hutan yang tak bisa dirubuhkan siapa pun.
Esok harinya, mereka melanjutkan perjalanan ke utara. Di belakang mereka, Kota Merah Pasir perlahan berubah—tanah yang mati mulai bernapas kembali, dan orang-orang mulai berani berjalan dengan kepala tegak, tidak lagi merasa malu akan asal-usul mereka.
Di depan mereka masih ada jalan panjang, bahaya besar, dan musuh yang jauh lebih kuat. Namun Lin Mo tidak ragu. Karena ia kini mengerti: selama ada tanah di bawah kaki, selama ada akar yang tumbuh, tidak ada langit yang terlalu tinggi untuk dijangkau.