Setelah mengorbankan kuliah, rumah warisan, dan masa mudanya demi membuat Daril sukses, Vira malah dibunuh oleh suami yang dicintainya itu.
Lebih menyakitkan lagi, sepupu yang ia tampung ternyata berselingkuh dengan suaminya. Hatinya makin hancur saat tahu, suami, sepupu dan ibu mertua yang selama ini ia rawat dengan baik, ternyata sudah lama menantikan kematiannya.
Takdir memberinya kesempatan kedua: kembali ke masa lalu. Ia bertekad tidak akan pernah menikahi Daril.
Namun saat ia mengubah satu keputusan untuk selamat, rahasia demi rahasia keluarga terbuka. Rahasia yang mengubah arti cinta dan memaksa Vira memilih antara balas dendam atau memaafkan.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon 𝕯𝖍𝖆𝖓𝖆𝖆𝟕𝟐𝟒, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
24. Saat Musuh Mulai Bersekutu
Yanti baru saja keluar dari rumah dan hendak menuju toko ketika melihat Arvin sedang berbicara dengan Vira di balik etalase.
"Cowok dekil itu lagi."
Beberapa hari terakhir, Arvin memang sering datang. Setiap kali bertemu Vira, mereka selalu berbicara cukup lama dengan wajah serius.
"Apa yang mereka bicarakan?"
Rasa penasaran membuat Yanti diam-diam mendekat. Ia berdiri di balik dinding rumah, berusaha agar keberadaannya tidak disadari.
"Bagaimana, Vin? Ada perkembangan?" tanya Vira.
Arvin mengangguk pelan.
"Aku sudah bicara sama beberapa Bu RT. Mereka curiga Bu Mirna yang pertama kali menyebarkan gosip kalau kamu sudah gak perawan. Tapi..."
"Tapi?"
"Tapi belum ada bukti ataupun saksi."
Vira mengangguk pelan.
"Kalau Daril..." lanjut Arvin, "dia memang gak pernah bilang terang-terangan. Tapi waktu orang-orang bahas gosip itu di warung kopi, dia bicara ambigu. Akhirnya semua orang menyimpulkan sendiri kalau hubungan kalian dulu memang sudah melewati batas."
Raut wajah Vira tetap tenang, meski dadanya terasa sesak. Di kehidupan sebelumnya, ia tak menyangka dan tak pernah melihat bagaimana Daril yang sebenarnya, hingga akhirnya ia mati di tangan pria itu. Tapi sekarang, sifat aslinya sedikit demi sedikit terlihat.
"Lalu soal gosip aku sering bawa laki-laki masuk ke rumah?"
Arvin terdiam sejenak. Tatapannya beralih ke arah rumah Vira.
"Aku curiga..."
"Siapa?"
"Sepupumu."
Jantung Yanti seolah berhenti berdetak.
"Sepertinya," lanjut Arvin. "dia yang menyebarkan gosip itu."
Tubuh Yanti langsung menegang. "Bagaimana ini?" batinnya panik. "Kalau benar para ibu-ibu akhirnya jadi saksi kalau aku ikut menyebarkan gosip... Vira pasti mengusirku."
Wajahnya memucat. "Aku gak mau pulang kampung."
Tanpa berani mendengar lebih lama, Yanti buru-buru masuk ke dalam rumah.
"Harusnya aku gak ikut menyebarkan gosip."
Ia mondar-mandir di ruang tengah. Napasnya mulai memburu, sementara dahinya dipenuhi keringat dingin.
"Sekarang toko Vira makin sepi gara-gara gosip itu."
"Kalau semuanya terbongkar..." Yanti menggigit kukunya sendiri. "Aku benar-benar bodoh."
Ia memegangi kepalanya yang terasa pening.
"Gimana ini? Pikir, Yanti... pikir!"
Sementara itu, Vira dan Arvin masih berbincang di toko.
"Vin," ujar Vira pelan, "sejak gosip ini beredar tokoku makin sepi."
Arvin terdiam mendengarkan.
"Aku rasa aku gak bisa terus ngandelin toko ini buat menghidupi diriku."
"Lalu... apa rencanamu?"
Vira tersenyum tipis. "Kita mulai usaha kredit bajunya."
"Kamu pikir, ini sudah saatnya?"
"Iya." Vira mengangguk. "Menurutku, lebih baik kita mulai merintis usaha baru sebelum tabunganku habis karena toko ini sudah gak bisa jadi sumber penghasilan utama."
Sebenarnya rencana awal Vira usaha itu akan dimulai bulan depan. Tapi siapa sangka akan ada gosip yang membuat usahanya menjadi sepi.
Arvin mengusap tengkuknya. "Aku sih ikut aja. Tapi jujur... aku gak ngerti sistemnya."
"Tenang. Aku jelasin." Vira lalu mulai menerangkan dengan sabar. "Nanti kamu ambil barang dari aku dengan harga modal. Setelah itu terserah kamu mau jual berapa."
Arvin mengangguk, menyimak setiap kata.
"Kamu juga gak perlu jualan keliling."
"Terus?"
"Kamu cukup cari satu orang di setiap RT atau kampung yang mau jadi pengedar."
"Pengedar?"
"Iya. Dia yang bakal nawarin barang ke warga, mencatat pesanan, mengantar barang, sekaligus menagih cicilan ke pembeli."
"Lalu aku?"
"Kamu cukup menyuplai barang dan mengambil setoran dari orang yang jadi pengedar itu."
"Soal keuntungan?"
"Nanti kita atur. Berapa bagianmu, berapa komisi mereka, termasuk bonus kalau penjualannya mencapai target."
Arvin mendengarkan dengan penuh perhatian. Semakin lama, matanya semakin berbinar. "Oh... jadi sistemnya kayak gitu."
Vira mengangguk. "Jadi, gimana? Kamu serius mau jadi sales pakaian?"
Arvin tersenyum lebar. "Mau."
"Yakin?"
"Sangat yakin."
"Kalau begitu," kata Vira sambil menutup buku catatannya, "besok pagi kamu ikut aku ke Cirebon. Kita beli stok baju dulu."
Arvin mengangguk mantap.
"Terus," lanjut Vira. "sekalian kita beli motor baru buat inventaris kamu."
Mata Arvin langsung membelalak. "Motor baru?"
"Iya. Biar kerjaanmu lebih mudah. Kalau motor second, takutnya gak lama rusak."
Arvin sampai kehilangan kata-kata. Selama ini ia tak pernah membayangkan akan memiliki motor sendiri. Apalagi yang baru dari dealer.
"Baik, Ra," ucapnya dengan suara bergetar karena haru. "Besok pagi aku datang lebih awal."
Vira mengangguk sambil tersenyum. "Jangan sampai kesiangan."
***
Keesokan harinya, Vira mengeluarkan mobil pick up tuanya dari garasi.
Yanti yang semalaman tidak bisa tidur nyenyak diam-diam mengintip dari balik jendela.
Tak lama kemudian, Arvin datang. Setelah berbincang sebentar, Arvin naik ke dalam mobil, lalu Vira menjalankan pick up tua itu keluar dari halaman rumah.
"Mau ke mana mereka?" gumam Yanti sambil menatap mobil yang semakin jauh.
Ia masih terus memandangi jalan yang mulai lengang.
"Padahal stok toko masih banyak. Kenapa malah pergi?"
Namun sesaat kemudian ia menggeleng sendiri.
"Ngapain aku mikirin mereka? Mending aku pikirin gimana caranya supaya gak diusir dari rumah ini."
Yanti mengembuskan napas panjang. Sampai sekarang ia masih belum menemukan jalan keluar.
Saat sedang menyapu halaman, matanya menangkap sosok Daril yang melintas dengan sepeda motor. Seketika sebuah ide muncul di kepalanya.
"Daril!" panggilnya.
Daril yang mendengar namanya disebut segera mengurangi kecepatan motornya, lalu berhenti di depan rumah.
"Iya? Ada apa?"
Yanti mendekat. "Aku mau ngomong sesuatu. Penting. Soal Vira."
Kening Daril langsung berkerut. "Soal Vira? Memangnya kenapa?"
Yanti melirik ke kanan dan kiri memastikan tak ada orang yang mendengar. "Kamu masih mau nikah sama Vira?"
Daril terdiam beberapa saat. Tatapannya berubah penuh selidik. "Kenapa kamu nanya begitu?"
"Jawab dulu."
Daril menghela napas pelan. "Kalau memang ada kesempatan..." ujarnya pelan, "...aku masih mau."
Mata Yanti langsung berbinar. "Kalau gitu, aku bisa bantu."
Kini perhatian Daril benar-benar tertuju kepadanya. "Gimana caranya?"
"Tapi sebelum itu..." Yanti menatap Daril lekat-lekat. "Aku mau tahu dulu."
"Tahu apa?"
"Kamu benar-benar suka sama Vira... atau cuma punya tujuan lain?"
Daril tersenyum tipis. "Menurutmu?"
Yanti mengangkat bahu. "Aku gak peduli alasanmu. Yang penting, kita punya tujuan yang sama."
Daril menyilangkan kedua tangan di depan dada. "Lanjut."
Yanti merendahkan suaranya.
"Kalau Vira terus dijauhi orang, pada akhirnya dia bakal merasa sendirian. Saat semua orang berpaling, orang yang datang menawarkan perlindungan biasanya akan lebih mudah mendapatkan kepercayaannya."
Daril tidak langsung menjawab. Ia menatap Yanti beberapa saat, seolah menimbang ucapan wanita itu.
"Jadi..." lanjut Yanti, "yang penting dia dibuat kehilangan pilihan."
Sudut bibir Daril perlahan terangkat membentuk senyum tipis.
"Itu rencana yang licik."
"Tapi efektif, kan?" balas Yanti.
Daril terkekeh pelan. "Mungkin."
Ia melangkah sedikit mendekat. "Tapi kalau memang mau memainkan sesuatu..." ucapnya pelan, "...biar aku yang menyusun caranya."
Yanti mengangkat sebelah alis.
"Kamu tinggal bantu sesuai kebutuhan. Selebihnya, serahkan padaku."
Yanti menatap Daril beberapa detik, lalu tersenyum puas. "Ternyata kamu juga gak mau rugi."
Daril membalas senyum itu. "Kalau melakukan sesuatu, tentu aku maunya hasilnya menguntungkan."
Yanti mengangguk pelan. "Baik."
Keduanya saling berpandangan beberapa saat.
...✨"Orang yang ingin bangkit akan mencari peluang. Orang yang iri akan mencari cara menjatuhkan."...
......"Pengkhianat sering kali saling menggenggam tangan, bukan karena saling percaya, melainkan karena memiliki tujuan yang sama."✨......
.
To be continued
silahkan saja kalo bisa,nanti kalianlah yang akan menyesal...
buat mereka jera Vira
orang yg di beri kesempatan bukan ya berbuat Baik tapi malah semakin jahat ..
keluarga bisa Jadi musuh terbesar dalam ujian hidupmu vira , kamu usir Salah g kamu usir kamu sendiri yg di buat menderita oleh mereka
keep strong vira
semangat buat kak Nana juga
ra vira usir aja tuh yanti sudah cukop kamu kasih dia kesempatan Dan tempat tinggal ,, jauhilah orang² yang tak pernah menghargai kebaikanmu
Hayo lo Yanti bentar lagi kamu di usir karena ulahmu sendiri nyari penyakit sama Vira😄
mirna sm daril hukim untuk minta maaf dan denda sejumlah uang.. krn dia sdh menyebabkan usaha vira menurun., dan biarkan hukuman sosiak daru masyarakat..