NovelToon NovelToon
Jangan Harap Cintaku Lagi

Jangan Harap Cintaku Lagi

Status: tamat
Genre:Slice of Life / Mengubah Takdir / Balas dendam dan Kelahiran Kembali / Tamat
Popularitas:69.5k
Nilai: 5
Nama Author: 𝕯𝖍𝖆𝖓𝖆𝖆𝟕𝟐𝟒

Setelah mengorbankan kuliah, rumah warisan, dan masa mudanya demi membuat Daril sukses, Vira malah dibunuh oleh suami yang dicintainya itu.

Lebih menyakitkan lagi, sepupu yang ia tampung ternyata berselingkuh dengan suaminya. Hatinya makin hancur saat tahu, suami, sepupu dan ibu mertua yang selama ini ia rawat dengan baik, ternyata sudah lama menantikan kematiannya.

Takdir memberinya kesempatan kedua: kembali ke masa lalu. Ia bertekad tidak akan pernah menikahi Daril.

Namun saat ia mengubah satu keputusan untuk selamat, rahasia demi rahasia keluarga terbuka. Rahasia yang mengubah arti cinta dan memaksa Vira memilih antara balas dendam atau memaafkan.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon 𝕯𝖍𝖆𝖓𝖆𝖆𝟕𝟐𝟒, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

24. Saat Musuh Mulai Bersekutu

Yanti baru saja keluar dari rumah dan hendak menuju toko ketika melihat Arvin sedang berbicara dengan Vira di balik etalase.

"Cowok dekil itu lagi."

Beberapa hari terakhir, Arvin memang sering datang. Setiap kali bertemu Vira, mereka selalu berbicara cukup lama dengan wajah serius.

"Apa yang mereka bicarakan?"

Rasa penasaran membuat Yanti diam-diam mendekat. Ia berdiri di balik dinding rumah, berusaha agar keberadaannya tidak disadari.

"Bagaimana, Vin? Ada perkembangan?" tanya Vira.

Arvin mengangguk pelan.

"Aku sudah bicara sama beberapa Bu RT. Mereka curiga Bu Mirna yang pertama kali menyebarkan gosip kalau kamu sudah gak perawan. Tapi..."

"Tapi?"

"Tapi belum ada bukti ataupun saksi."

Vira mengangguk pelan.

"Kalau Daril..." lanjut Arvin, "dia memang gak pernah bilang terang-terangan. Tapi waktu orang-orang bahas gosip itu di warung kopi, dia bicara ambigu. Akhirnya semua orang menyimpulkan sendiri kalau hubungan kalian dulu memang sudah melewati batas."

Raut wajah Vira tetap tenang, meski dadanya terasa sesak. Di kehidupan sebelumnya, ia tak menyangka dan tak pernah melihat bagaimana Daril yang sebenarnya, hingga akhirnya ia mati di tangan pria itu. Tapi sekarang, sifat aslinya sedikit demi sedikit terlihat.

"Lalu soal gosip aku sering bawa laki-laki masuk ke rumah?"

Arvin terdiam sejenak. Tatapannya beralih ke arah rumah Vira.

"Aku curiga..."

"Siapa?"

"Sepupumu."

Jantung Yanti seolah berhenti berdetak.

"Sepertinya," lanjut Arvin. "dia yang menyebarkan gosip itu."

Tubuh Yanti langsung menegang. "Bagaimana ini?" batinnya panik. "Kalau benar para ibu-ibu akhirnya jadi saksi kalau aku ikut menyebarkan gosip... Vira pasti mengusirku."

Wajahnya memucat. "Aku gak mau pulang kampung."

Tanpa berani mendengar lebih lama, Yanti buru-buru masuk ke dalam rumah.

"Harusnya aku gak ikut menyebarkan gosip."

Ia mondar-mandir di ruang tengah. Napasnya mulai memburu, sementara dahinya dipenuhi keringat dingin.

"Sekarang toko Vira makin sepi gara-gara gosip itu."

"Kalau semuanya terbongkar..." Yanti menggigit kukunya sendiri. "Aku benar-benar bodoh."

Ia memegangi kepalanya yang terasa pening.

"Gimana ini? Pikir, Yanti... pikir!"

 

Sementara itu, Vira dan Arvin masih berbincang di toko.

"Vin," ujar Vira pelan, "sejak gosip ini beredar tokoku makin sepi."

Arvin terdiam mendengarkan.

"Aku rasa aku gak bisa terus ngandelin toko ini buat menghidupi diriku."

"Lalu... apa rencanamu?"

Vira tersenyum tipis. "Kita mulai usaha kredit bajunya."

"Kamu pikir, ini sudah saatnya?"

"Iya." Vira mengangguk. "Menurutku, lebih baik kita mulai merintis usaha baru sebelum tabunganku habis karena toko ini sudah gak bisa jadi sumber penghasilan utama."

Sebenarnya rencana awal Vira usaha itu akan dimulai bulan depan. Tapi siapa sangka akan ada gosip yang membuat usahanya menjadi sepi.

Arvin mengusap tengkuknya. "Aku sih ikut aja. Tapi jujur... aku gak ngerti sistemnya."

"Tenang. Aku jelasin." Vira lalu mulai menerangkan dengan sabar. "Nanti kamu ambil barang dari aku dengan harga modal. Setelah itu terserah kamu mau jual berapa."

Arvin mengangguk, menyimak setiap kata.

"Kamu juga gak perlu jualan keliling."

"Terus?"

"Kamu cukup cari satu orang di setiap RT atau kampung yang mau jadi pengedar."

"Pengedar?"

"Iya. Dia yang bakal nawarin barang ke warga, mencatat pesanan, mengantar barang, sekaligus menagih cicilan ke pembeli."

"Lalu aku?"

"Kamu cukup menyuplai barang dan mengambil setoran dari orang yang jadi pengedar itu."

"Soal keuntungan?"

"Nanti kita atur. Berapa bagianmu, berapa komisi mereka, termasuk bonus kalau penjualannya mencapai target."

Arvin mendengarkan dengan penuh perhatian. Semakin lama, matanya semakin berbinar. "Oh... jadi sistemnya kayak gitu."

Vira mengangguk. "Jadi, gimana? Kamu serius mau jadi sales pakaian?"

Arvin tersenyum lebar. "Mau."

"Yakin?"

"Sangat yakin."

"Kalau begitu," kata Vira sambil menutup buku catatannya, "besok pagi kamu ikut aku ke Cirebon. Kita beli stok baju dulu."

Arvin mengangguk mantap.

"Terus," lanjut Vira. "sekalian kita beli motor baru buat inventaris kamu."

Mata Arvin langsung membelalak. "Motor baru?"

"Iya. Biar kerjaanmu lebih mudah. Kalau motor second, takutnya gak lama rusak."

Arvin sampai kehilangan kata-kata. Selama ini ia tak pernah membayangkan akan memiliki motor sendiri. Apalagi yang baru dari dealer.

"Baik, Ra," ucapnya dengan suara bergetar karena haru. "Besok pagi aku datang lebih awal."

Vira mengangguk sambil tersenyum. "Jangan sampai kesiangan."

***

Keesokan harinya, Vira mengeluarkan mobil pick up tuanya dari garasi.

Yanti yang semalaman tidak bisa tidur nyenyak diam-diam mengintip dari balik jendela.

Tak lama kemudian, Arvin datang. Setelah berbincang sebentar, Arvin naik ke dalam mobil, lalu Vira menjalankan pick up tua itu keluar dari halaman rumah.

"Mau ke mana mereka?" gumam Yanti sambil menatap mobil yang semakin jauh.

Ia masih terus memandangi jalan yang mulai lengang.

"Padahal stok toko masih banyak. Kenapa malah pergi?"

Namun sesaat kemudian ia menggeleng sendiri.

"Ngapain aku mikirin mereka? Mending aku pikirin gimana caranya supaya gak diusir dari rumah ini."

Yanti mengembuskan napas panjang. Sampai sekarang ia masih belum menemukan jalan keluar.

Saat sedang menyapu halaman, matanya menangkap sosok Daril yang melintas dengan sepeda motor. Seketika sebuah ide muncul di kepalanya.

"Daril!" panggilnya.

Daril yang mendengar namanya disebut segera mengurangi kecepatan motornya, lalu berhenti di depan rumah.

"Iya? Ada apa?"

Yanti mendekat. "Aku mau ngomong sesuatu. Penting. Soal Vira."

Kening Daril langsung berkerut. "Soal Vira? Memangnya kenapa?"

Yanti melirik ke kanan dan kiri memastikan tak ada orang yang mendengar. "Kamu masih mau nikah sama Vira?"

Daril terdiam beberapa saat. Tatapannya berubah penuh selidik. "Kenapa kamu nanya begitu?"

"Jawab dulu."

Daril menghela napas pelan. "Kalau memang ada kesempatan..." ujarnya pelan, "...aku masih mau."

Mata Yanti langsung berbinar. "Kalau gitu, aku bisa bantu."

Kini perhatian Daril benar-benar tertuju kepadanya. "Gimana caranya?"

"Tapi sebelum itu..." Yanti menatap Daril lekat-lekat. "Aku mau tahu dulu."

"Tahu apa?"

"Kamu benar-benar suka sama Vira... atau cuma punya tujuan lain?"

Daril tersenyum tipis. "Menurutmu?"

Yanti mengangkat bahu. "Aku gak peduli alasanmu. Yang penting, kita punya tujuan yang sama."

Daril menyilangkan kedua tangan di depan dada. "Lanjut."

Yanti merendahkan suaranya.

"Kalau Vira terus dijauhi orang, pada akhirnya dia bakal merasa sendirian. Saat semua orang berpaling, orang yang datang menawarkan perlindungan biasanya akan lebih mudah mendapatkan kepercayaannya."

Daril tidak langsung menjawab. Ia menatap Yanti beberapa saat, seolah menimbang ucapan wanita itu.

"Jadi..." lanjut Yanti, "yang penting dia dibuat kehilangan pilihan."

Sudut bibir Daril perlahan terangkat membentuk senyum tipis.

"Itu rencana yang licik."

"Tapi efektif, 'kan?" balas Yanti tersenyum miring.

Daril terkekeh pelan. "Mungkin."

Ia melangkah sedikit mendekat. "Tapi kalau memang mau memainkan sesuatu..." ucapnya pelan, "...biar aku yang menyusun caranya."

Yanti mengangkat sebelah alis.

"Kamu tinggal bantu sesuai kebutuhan. Selebihnya, serahkan padaku."

Yanti menatap Daril beberapa detik, lalu tersenyum puas. "Ternyata kamu juga gak mau rugi."

Daril membalas senyum itu. "Kalau ngelakuin sesuatu, tentu aja aku maunya hasilnya menguntungkan."

Yanti mengangguk pelan. "Baik."

Keduanya saling berpandangan beberapa saat.

 

...✨"Orang yang ingin bangkit akan mencari peluang. Orang yang iri akan mencari cara menjatuhkan."...

......"Pengkhianat sering kali saling menggenggam tangan, bukan karena saling percaya, melainkan karena memiliki tujuan yang sama."✨......

.

To be continued

1
anonim
Alvin pergi bekerja melewati rumah Vira.

Pulang dari bekerja kembali melewati rumah Vira.

Arvin beli beras sebagai alasan datang. Nanti kalau ada kesempatan ingin memperingatkan Vira tentang gosip yang sedang beredar.
anonim
Tokonya Vira sepi dari pembeli.

Yanti menawarkan diri untuk menjaga toko.

Vira tidak menjawab. Vira merasa ada yang aneh akhir-akhir ini.

Vira pikirannya berkelana mengingat tentang sikap pelanggan yang bersikap tidak semestinya. Tatapan mereka penuh rasa curiga, bahkan jijik.

Toko Vira bisa rugi kalau sepi pelanggan.

Vira memutuskan Yanti menjaga toko setelah pekerjaan rumah selesai.

Vira tetap akan mengawasi Yanti jangan sampai bisa mengutil uang atau barang dagangannya.
anonim
Gosip yang menimpa Vira masih saja jadi perbincangan warga. Ada yang percaya karena didukung dengan fakta telah melihat sendiri leher Vira merah.

Ada yang menegor tidak boleh sembarangan nebak. Bisa jadi memang benar karena tomcat.

Deril yang kecewa diputus sama Vira juga menambah keruh suasana.

Arvin geram mendengar pembicaraan mereka. Merasa Vira bukan perempuan seperti yang mereka bicarakan.

Arvin masuk ke dalam warung. Dia memperingatkan pada ibu-ibu yang sedang menggosip.

Apa yang dikatakan Arvin membuat mereka diam
Cicih Sophiana
sukses slalu...semangat kak 💪😍😍
𝕯𝖍𝖆𝖓𝖆𝖆𝟕𝟐𝟒: Aamiin. Terima kasih KK 🤗🤗🙏🙏🙏🙏🙏
total 1 replies
Cicih Sophiana
yg hati nya tulus berakhir dgn kebahagiaan... sehat bahagia dan sukses slalu kak Nama... bintang lima untuk kak Nana 🙏👍🥰🥰
𝕯𝖍𝖆𝖓𝖆𝖆𝟕𝟐𝟒: Aamiin, moga KK juga demikian 🤗🙏🙏🙏
total 1 replies
Cicih Sophiana
nanti mampir...
Cicih Sophiana
5 tahun telah terlewati Arvin dan Vira... usaha mereka semakin maju semoga Arvin dan Vira semakin bahagia...
Cicih Sophiana
hukuman penjara selama 15 tahun untuk Daril tok tok tok... sidang di tutup🫢😀
Cicih Sophiana
wah Vira seperti nya hamil nih...
fii 🤩
👍👍👍
anonim
Arvin setia mendampingi Ibunya yang mentalnya terganggu. Masa lalunya menjadikan Arvin tulus dalam merawat Ibunya.

Ayahnya sebagai penyebab dari penderitaan yang mereka alami.

Sebagai suami selingkuh, sebagai seorang Ayah perlakuannya sangat biadap.

Mereka diusir. Menghina Ibunya. Ayahnya membawa perempuan yang katanya istri barunya.

Ibunya kena mentalnya. Arvin menjadi pincang.

Arvin akan menjaga Ibunya, yang menjadi tameng hidup baginya ketika angkara murka merasuki Ayahnya.

Arvin pergi ke warung untuk membeli obat flu. Tiba di warung langkahnya terhenti ketika ia mendengar pembicaraan di dalam warung.

Lagi-lagi gosip tentang Vira ??
anonim
Pak Kades dan istrinya sudah mendengar gosip tentang Vira.

Hartato juga sudah mendengar. Dia tidak percaya. Vira bukan perempuan seperti yang digosipkan.

Pak Kades juga belum tentu percaya.

Mengingat Bapaknya Hartato masih menjabat sebagai kepala desa, setiap keputusan yang di ambil pasti menjadi perhatian banyak orang.

Kebenaran dari gosip itu belum terbukti. Niat lamaran di tunda.

Hartato hanya bisa berdoa, semoga gosip tentang Vira hanya fitnah. Dia lebih baik menunggu daripada mempercayai gosip tanpa bukti.
anonim
Dasar Ibu dan anak sama-sama bejatnya. Keduanya masih menginginkan Vira tapi dengan cara yang salah.
anonim
Kebetulan sekali leher Vira di gigit tomcat. Jadi semakin meyakinkan ibu-ibu dengan apa yang telah dikatakan Tari.

Sembarangan Tari bicara dengan mengatakan Tuhan pun membantuku. Mana ada Tuhan membatu orang jahat.

Jadi orang jahat itu pilihanmu, Tari. Tuhan itu memberi pilihan - mau menjadi orang baik atau menjadi orang jahat. Nantinya tinggal menunggu mau mendapat karma baik atau karma buruk.

Jangan senang dulu Tari. Ditunggu saja karma menjemputmu.
anonim
Daril ini lekaki pecundang. Menambah omongan yang sudah gak benar, dengan bicara bohong.

Memang Daril ini tidak pantas menjadi suami Vira. Hidupnya seperti benalu, juga pengkhianat.

Di kesempatan kehidupan kedua Vira, jangan sampai menjalin hubungan dengan Daril lagi.
A.R
mau bangun usaha kok minta dana sama org lainn,,, gadaikan saja tuhh rmh ibu mu
Anitha
Alhamdulillah akhir bahagia Vira dan Arvin...

Terimakasih kak Nana...semoga sehat selalu
𝕯𝖍𝖆𝖓𝖆𝖆𝟕𝟐𝟒: Aamiin. Kembali kasih KK 🤗🙏🙏🙏
total 1 replies
fii 🤩
mampir kk
𝕯𝖍𝖆𝖓𝖆𝖆𝟕𝟐𝟒: Makasih, Kak 🤗🙏🙏
total 1 replies
abimasta
terimakasih thor
𝕯𝖍𝖆𝖓𝖆𝖆𝟕𝟐𝟒: Sama-sama KK 🤗🙏🙏🙏
total 1 replies
anonim
Saatnya Vira menanyakan skincare yang hilang.

Yanti langsung tersedak mendengarnya.

Dia mengelak, tidak tahu.

Begitu Vira mau lapor polisi, Tari melarang. Vira tanya kenapa. Salah taruh katanya.

Tari mengelak tidak mengambil. Melarang Vira melihat lemarinya. Tetap kekeh tidak mengambil.

Tari langsung panik ketika Vira mau panggil Ketua RT. Baru mempersilahkan Vira mencari di lemarinya.

Vira nenemukan empat kotak skibcare miliknya.

Tari mengaku itu miliknya.

Ditanya beli di mana, harganya berapa.

Kebohongannya sudah tak ada obatnya ini Tari.
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!