Asha dijodohkan oleh keluarga dengan tuan muda dari keluarga Rahardi. Keluarga nomor satu di kota mereka. Pria itu tampan, mirip aktor luar negara, bahkan terlihat bak anime hidup. Hanya saja, itu saat ia tidak bergerak saja. Jika ia bergersk atau berbicara, dia berbeda dari yang kaum hawa harapkan. Pria itu gemulai, kemayu, pria bertulang lunak atau apapun lah itu sebutan untuk dia yang berbeda dari pria pada umumnya.
Perjodohan itu karena hutang budi papa Asha pada keluarga Irza. Namun, dibalik itu semua, ada hal tersembunyi yang Asha tidak ketahui. Apakah hal tersembunyi itu? Yuk! Ikuti kisah mereka sekarang.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Rani, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Eps*25
Malam panjang nan berat itu akhirnya berhasil juga mereka lalui. Entah karena terlalu lelah pada siang hari, sampai-sampai mereka bisa tidur dengan lelap tak lama setelah berbaring di atas ranjang yang sama. Entah juga karena alasan lain yang membuat keduanya merasa nyaman. Yang jelas, malam itu berhasil terlewatkan dengan sangat baik.
Pagi akhirnya datang menyapa. Sha perlahan memaksa mata beratnya untuk terbuka. Awalnya, dia lupa kalau semalam, ia sudah tidak lagi menjadi seorang gadis. Status itu sudah ia lepaskan kemarin. Alhasil, saat mata terbuka, Asha langsung terkejut karena kehadiran seseorang yang masih terlelap dengan manis di depan matanya.
"Astaga! Ya Tuhan." Sha berucap sambil bangun.
Reflek tubuh Sha membuat Irza yang masih terlelap langsung terbangun. "Sha .... " Irza berucap sambil mengucek matanya secara perlahan sambil bangun. "Ada apa?"
Asha sontak langsung menggelengkan kepalanya. Nyengir kuda tak enak langsung ia perlihatkan. "Enggak. Gak papa."
Sha beranjak meninggalkan ranjang dengan cepat. "Maaf, udah ganggu kamu tidur, Za."
"Gak papa, Sha. Gak ganggu kok. Udah waktunya bangun pun sekarang."
Irza terlihat sangat santai saat ini. Padahal, Sha sedang sangat canggung luar biasa.
"Ee ... ya sudah. Aku ... ke sana dulu," ucap Sha sambil menunjuk ke arah kamar mandi.
"Hm. Iya."
Berjalan cepat menuju kamar mandi, sampai di sana, Sha langsung terdiam sambil menatap diri di depan cermin. Suasana itu masih sangat asing. Dia masih butuh banyak waktu agar bisa terbiasa dengan kehadiran Irza.
*
Usai sarapan, mereka akhirnya meninggalkan kamar hotel tempat mereka menginap bersama tadi malam. Tidak terlalu banyak drama, tidak terlalu banyak kata, keduanya berjalan dengan langkah pelan masuk ke mobil.
"Aku yang nyetir ya, Sha." Irza berucap saat keduanya tepat di samping mobil.
"Iya. Silahkan. Tunggu! Inikan mobil kamu. Ya jelas kamu yang bawa," ucap Asha saat sadar dengan apa yang baru saja Irza ucapkan.
Ucapan itu membuat Irza tersenyum lebar.
"Kamu salah, tau .... Ini bukan hanya mobil aku saja sekarang, Sha. Tapi, ini juga mobil kamu. Karena, ini hadiah yang mama berikan buat kita. Jadi, ini adalah mobil kita."
Sontak, Sha langsung menoleh ke arah Irza. Jujur saja, dia cukup terkejut akan hal tersebut. Mobil sport biru elektrik itu adalah hadiah untuk pernikahan mereka? Bagaimana bisa?
"Kamu ... serius?"
Irza mengangguk sambil mengukir senyum di bibir. "Hm. Tentu saja. Ini mobil kita. Tapi, kalo kamu gak suka warnanya, nanti warnanya kita ubah jadi warna kesukaan kamu. Gimana?"
Sha hanya bisa menaikkan kedua alis tanda bingung harus bicara apa. Maklum, dapat mobil sport ini saja sudah membuatnya bingung, ditambah lagi Irza mau mengubah warna dari mobil tersebut jadi warna kesukaannya. Tentu saja ia langsung kehabisan kata-kata dibuat kenyataan yang sedang ia hadapi saat ini.
"Itu ... nanti saja kita bicarakan. Sekarang, ayo pulang."
"Oke, baiklah."
"Ah, iya. Aku yang nyetir atau kamu, Sha?"
"Kamu aja. Karena jujur, aku gak suka bawa mobil. Aku suka duduk manis saja tanpa ngelakuin apapun."
"Baiklah. Ayo masuk," ucap Irza sambil membuka pintu mobil untuk Asha.
Tanpa berucap, Sha langsung masuk ke mobil tersebut. Pria gemulai, tapi punya rasa tanggung jawab, punya niat untuk meratukan dirinya layaknya pria normal pada umumnya. Namun saat ini, Sha masih belum menyadari akan hal tersebut. Karena yang terus ia pikirkan adalah, bagaimana agar dirinya bisa terbiasa dengan kehadiran manusia asing yang ada di dekatnya saat ini. Yang sudah bergelar suami untuknya.
Sesaat setelah Irza duduk di samping Asha, mobil itupun bergerak dengan pelan. Lalu, melaju dengan kecepatan sedang. Irza menjalankan mobil itu dengan baik di jalan raya yang sibuk.
Perjalanan itu berlangsung dengan tenang. Tidak ada kata yang terucap, tidak ada pembicaraan lagi saat perjalanan berlangsung. Namun, lirikan mata Irza terus saja terulang. Meski ia tidak bicara, meski matanya fokus ke arah jalan, tapi pikirannya tetap tertuju pada istri yang ada disebelahnya.
Sementara itu, Asha hanya diam saja. Wajahnya terus mengarah ke samping, arah di mana sisi jalan raya yang lainnya bisa ia lihat.
Sha tidak memperhatikan Irza. Sha juga tidak memikirkan suami gemulainya itu. Yang ia perhatikan hanyalah jalanan yang mereka lewati saat ini.
Awalnya, Sha tidak menyadari ke mana arah mobil itu bergerak. Namun, perlahan ia sadar, semakin lama, jalan yang ia lewati semakin terasa asing. Lalu, saat mobil berhenti di depan sebuah apartemen mewah, wajah bingungnya semakin terlihat.
"Za. Kok kita ke sini?"
"Ha? Ada apa, Sha?"
"Kita, kok berhenti di sini?"
"Asha lupa? Kita akan tinggal di sini mulai sekarang."
"Ha!"
Ekspresi terkejut yang Sha perlihatkan membuat Irza merasa bingung. "Ke-- kenapa, Sha? Gak mau tinggal di sini ya?"
"Ah, bu-- bukan. Bukan itu. Maksud aku ... ha ... aku lupa. Lupa kalau kita akan tinggal di sini." Sha beralasan.
Sungguh, dia sebenarnya sama sekali tidak tahu kalau mereka akan tinggal di sana. Entahlah. Entah kapan ia melewatkan hal itu, dia juga tidak sadar. Maklum, hal seputar Irza memang sering kali ia abaikan. Tidak terlalu ia anggap penting akan apapun yang Irza katakan padanya.
"Ha ... itu, ayo kita masuk sekarang," ucap Asha pada akhirnya.
"Iya .... " Irza berucap pelan. Wajahnya sedikit berubah.
Apartemen mewah pusat kota memang tempat tinggal yang elit. Namun, apartemen tetaplah apartemen. Tidak seluas rumah, bahkan tidak punya dua kamar di dalamnya.
"Ini ... tempat tinggal kita yang sekarang, Za?" Asha bertanya tanpa menoleh saat mereka sudah ada di dalam apartemen tersebut.
Irza mengangguk mantap meski ia sadar kalau Asha tidak melihatnya sedikitpun. "Iya, Sha. Ini tempat tinggal kita. Kenapa? Terlalu kecil ya, Sha?"
"Nggak juga. Gak, maksud aku bukan soal ukuran tempatnya. Melainkan, soal kamar tidur yang hanya ada satu-satunya saja di sini."
"Za, kamarnya cuma satu. Gimana ... caranya kita berdua tidur?"
Ucapan itu malah membuat Irza menarik senyum kecil di sudut bibir.
"Aku bisa tidur di sofa, Sha. Kamu tenang saja. Kita gak perlu berbagi ranjang jika kamu gak mau. Jangan terlalu terbebani, Asha."
"Tapi-- "
"Ee ... sebenarnya, mama minta aku pilih tempat tinggal yang mana yang mau kita tempati setelah kita menikah. Mama kasi tiga pilihan. Yang pertama vila besar di ujung kota. Yang kedua, rumah mewah di perkomplekan elit yang ada di pusat kota. Terus, yang ketiga ya apartemen yang saat ini kita datangi."
"Ya ... aku pilih apartemen ini karena aku pikir, kita hanya berdua saja, gak butuh vila atau rumah mewah untuk kita huni. Setidaknya, untuk saat ini. Tapi, jika kamu mau, kita bisa pindah, Sha. Kita bisa tinggal di vila atau rumah mewah. Kamu tinggal bilang saja ingin yang mana."
ga salah juga ya Thor secara melambai 🤭🤭😂
🤣🤣🤣🤣
visualnya pas jadi manten itu kaya pemuda jepang jaman now yg jadi temennya Ani" kesepian
Thor pernah lihat dokumentasi ga Thor cowok jepang jaman now
ga gemulai lagi