Demi melunasi utang keluarga dan menyelamatkan ayahnya dari kehancuran, Laras terpaksa menerima pernikahan yang dipaksakan—menjadi istri Arga Pratama, pewaris konglomerat yang dingin, angkuh, dan memandang pernikahan ini sekadar kewajiban bisnis semata. Tidak ada restu hati, tidak ada janji manis; hanya kesepakatan: hidup bersama, tapi tak perlu saling mencintai.
Awalnya, rumah tangga mereka bagai dua kutub yang bertabrakan. Arga bersikap dingin bagaikan es, sementara Laras berusaha menjaga harga diri di tengah cemoohan lingkungan dan tekanan keluarga besar. Namun seiring berjalannya waktu, di balik sikap kasarnya, Laras mulai melihat sisi lain Arga—rasa tanggung jawab, perlindungan diam-diam, dan luka masa lalunya yang tersembunyi. Sebaliknya, ketulusan serta ketabahan Laras perlahan mencairkan hati beku Arga.
Apa yang dimulai dari keterpaksaan dan permusuhan, perlahan berubah menjadi getaran rasa yang tak terduga. Ketika ancaman luar dan rahas
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon ayu gerimis, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 26: Janji di Bawah Langit Senja
Keesokan paginya, Laras segera menyiapkan sejumlah uang yang ia simpan dari uang sakunya selama ini. Ia tidak ingin Daffa terus merasa tertekan oleh ancaman orang-orang yang menagih utang itu, apalagi hal itu berkaitan langsung dengan nyawa adiknya.
Sesuai janji mereka, Laras menunggu di sudut jalan dekat pasar. Tidak lama kemudian, terlihat sosok Daffa berjalan tergesa-gesa menghampirinya. Wajahnya tampak lebih tenang dibandingkan hari kemarin, namun masih terlihat sisa kecemasan di matanya.
“Maaf membuatmu menunggu, Laras,” sapa Daffa pelan saat sudah berdiri tepat di hadapan gadis itu.
“Tidak apa-apa. Aku baru saja sampai juga,” jawab Laras sambil menyodorkan sebuah amplop berwarna cokelat ke arahnya. “Di dalam ini cukup untuk melunasi utangmu dan masih tersisa sedikit untuk kebutuhan Sari bulan ini.”
Tangan Daffa terasa ragu saat hendak menerima amplop itu. Ia menatap Laras lekat-lekat, seolah ingin memastikan bahwa gadis itu benar-benar tidak merasa terbebani oleh apa yang ia lakukan.
“Kau benar-benar yakin melakukan ini? Bagaimana jika keluargamu mengetahuinya dan melarangmu membantu orang asing sepertiku?” tanyanya dengan nada khawatir.
Laras tersenyum tipis. “Aku bertanggung jawab atas apa yang kulakukan. Dan bagiku, kau bukan orang asing lagi, Daffa. Kau adalah seseorang yang sedang berjuang demi orang yang sangat dicintainya.”
Mendengar ucapan itu, hati Daffa terasa sangat tersentuh. Dengan tangan yang sedikit gemetar, akhirnya ia menerima amplop itu.
“Terima kasih. Aku tidak akan pernah melupakan kebaikan ini. Aku berjanji, secepat aku memiliki pekerjaan yang lebih layak, aku akan mengembalikan uang ini padamu satu per satu. Bahkan jika harus memakan waktu bertahun-tahun sekalipun,” ucapnya dengan ketulusan yang mendalam.
“Aku percaya padamu,” jawab Laras singkat namun bermakna.
Setelah berpamitan, Daffa segera pergi menemui orang-orang yang menagih utangnya. Tak lama kemudian ia kembali lagi ke tempat Laras menunggu, dengan wajah yang jauh lebih lega dan terasa seolah beban berat baru saja terangkat dari pundaknya.
“Sudah selesai?” tanya Laras menyambutnya.
Daffa mengangguk pelan sambil tersenyum tipis—senyum pertama yang terlihat begitu tulus sejak mereka bertemu. “Ya. Mereka sudah menerima uangnya dan berjanji tidak akan menggangguku lagi. Terima kasih banyak, Laras. Kau benar-benar seperti malaikat penolong bagiku dan adikku.”
Wajah Laras memerah mendengar pujian itu. “Kau berlebihan. Aku hanya melakukan apa yang seharusnya kita lakukan sesama manusia.”
Karena hari itu cuaca terasa sangat cerah dan hati mereka pun terasa lebih lega, Daffa meminta izin untuk mengantar Laras berkeliling sebentar menggunakan sepeda tua miliknya. Laras menyetujuinya dengan senang hati.
Mereka melaju perlahan melewati jalanan desa yang asri dengan pemandangan sawah yang menghampar luas di kiri dan kanan. Angin sepoi-sepoi menyapu wajah mereka, membawa ketenangan yang belum pernah mereka rasakan sebelumnya. Di atas sepeda itu, mereka bercerita banyak hal—tentang cita-cita, tentang harapan, dan tentang masa lalu yang pernah menyakitkan hati masing-masing.
“Dulu aku pernah memiliki kehidupan yang cukup layak,” ujar Daffa pelan sambil terus mengayuh sepedanya. “Namun semuanya berubah saat ayah meninggal dunia dan meninggalkan banyak utang yang tidak kami ketahui. Sejak saat itu, aku berjanji akan melakukan apa saja demi menjaga Sari satu-satunya harta peninggalan ayah dan ibuku.”
Laras mendengarkan dengan saksama. Ia semakin memahami betapa besar hati yang dimiliki oleh pemuda yang kini didepannya itu.
“Kau sangat hebat, Daffa. Ayah dan ibumu pasti sangat bangga melihat betapa kuatnya kau menjaga adikmu,” ucap Laras tulus.
Matahari mulai turun perlahan ke peraduannya saat mereka berhenti di tepi sungai yang airnya jernih. Langit berubah warna menjadi jingga kemerahan, menciptakan pemandangan yang begitu indah dan menenangkan hati.
Daffa menatap jauh ke arah aliran air, lalu menoleh perlahan ke arah Laras.
“Laras… entah bagaimana harus kuucapkan terima kasihnya. Namun satu hal yang ingin kusampaikan saat ini juga. Sejak pertemuan pertama kita, kau membawa perubahan yang sangat besar dalam hidupku. Kau membuatku kembali percaya bahwa di dunia ini masih ada kebaikan yang tulus tanpa mengharap balasan.”
Ia berhenti sejenak, lalu melanjutkan dengan suara yang lebih lembut namun tegas.
“Suatu hari nanti, jika aku sudah layak dan mampu memberikan kehidupan yang pantas untukmu… bolehkah aku berharap lebih dari sekadar pertemanan ini?”
Jantung Laras berdegup kencang mendengar pertanyaan itu. Wajahnya kembali merona merah, namun ia tidak memalingkan wajahnya sedikit pun. Ia menatap balik ke dalam mata Daffa yang tampak menanti jawaban dengan penuh harap dan cemas.
“Aku akan menunggu hari itu datang, Daffa. Dan aku percaya, usahamu yang tulus pasti akan membawa kau ke tempat yang jauh lebih baik,” jawab Laras akhirnya.
Di bawah langit senja yang begitu indah itu, terucap sebuah janji sederhana namun terasa sangat dalam. Sebuah janji untuk saling mendukung, untuk saling menguatkan, dan untuk menanti waktu yang tepat di mana hati mereka berdua siap menyatukan jalan takdir yang sama.
(Bersambung ke Bab 27) ✨