seorang wanita yang hidup di zaman kerajaan,di usir oleh keluarga ibu dan ayahnya,dia bahkan terpaksa jadi seorang pengemis di jalanan.
bahkan tunangannya yang dia percayai mengkhianati nya.hidup sengsara membuat wanita itu putus asa,di harapan terkahir nya dia pergi kerumah ibu kandungnya,tapi justru ibunya mengusir nya dan lebih menyayangi putri dari suami kedua nya.
wanita itu begitu terpukul,dia teringat ayahnya yang di asingkan di perbatasan,hanya karna kejahatan yang di lakukan oleh ibunya.
putus asa,wanita itu memilih mengakhiri hidupnya,tapi tiba-tiba dia malah hidup kembali dan mendapatkan sistem yang membantu nya.
dari di remehkan dan di hina,menjadi wanita terkaya di seluruh negeri,namanya terkenal dimana-mana,bahkan sang kaisar yang berkuasa tunduk padanya.
bagaimana kah kelanjutan kisah selanjutnya ?
yuk mampir di cerita aku yah,, terimakasih.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Marwiyah Ningsih, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
pertengkaran pangeran mahkota dan komandan Dominic
“Hari ini kita merayakan. Tapi ingat, kemenangan ini bukan milik istana. Ini milik Hana. Ini milik seratus prajuritnya. Ini milik kalian semua yang percaya.”
“Mulai malam ini, pesta besar di alun-alun. Makanan gratis. Musik. Tarian. Karena Sanata aman. Karena kita punya Jenderal Hana!”
Sorakan meledak lagi. Kali ini sampai ke langit.
Kaisar hanya mengangguk pada Hana dari atas tangga marmer. "Istirahatlah, Jenderal Hana. Malam ini berpesta lah bersama rakyatmu."
Hana membungkuk hormat. "Hamba mengerti, Yang Mulia."
Dominic berdiri di belakangnya. Ia juga membungkuk, tapi matanya tidak lepas dari Hana sedetik pun.
Baru saja mereka hendak berpisah menuju barak, suara dari samping memanggil. "Jenderal Hana."
Itu Pangeran Mahkota Alexander. Jubah biru tuanya berkilau di bawah matahari sore. Wajahnya tampan, tapi ada lelah dan lega yang belum hilang sejak pagi.
"Yang Mulia Pangeran," jawab Hana, menunduk lagi.
Alexander tersenyum tipis. "Aku ingin bicara empat mata denganmu. Di Taman Sakura. Sekarang. Tanpa pengawal. Tanpa siapapun yang mendengar."
Hana mengerutkan alis. "Yang Mulia,saya...
potong Alexander. "Hari ini kau pahlawan. Dan aku... aku hanya ingin mengucapkan terima kasih secara pribadi. Untuk Sanata. Untuk ayahanda.dan Untukku."
Hana melirik Dominic sekilas. Dominic diam, tapi rahangnya mengeras.
"Baik," kata Hana akhirnya. "Saya ikut, Yang Mulia."
Alexander mengangguk puas. Ia berjalan lebih dulu, dan Hana mengikutinya.
Dominic tidak bergerak. Paman Juro yang berdiri di belakangnya menepuk bahunya. "Komandan... jangan."
Dominic tidak menjawab. Ia mengepalkan tangan di sisi tubuhnya. Kuku jarinya hampir menembus telapak. Lalu ia melangkah. Pelan. Mengikuti dari kejauhan, bersembunyi di balik pilar-pilar istana.
Taman Sakura sepi sore itu. Angin membawa kelopak bunga jatuh seperti salju merah muda. Di tengah taman ada bangku batu, dan di sekelilingnya kolam kecil berisi ikan koi emas.
Alexander berhenti. Ia menoleh pada Hana. "Duduklah."
Hana duduk di ujung bangku. Tegak. Jaraknya jauh dari Pangeran.
Alexander ikut duduk, tapi lebih dekat. "Hana,aku sangat senang kamu kembali dalam keadaan baik-baik saja,kamu sudah menyelamatkan kerajaan ini kedua kalinya,untuk itu aku berterimakasih padamu atas nama kerajaan Sanata.
Hana menatap kolam. " itu sudah menjadi tugas saya yang mulia,dan anda tidak perlu terlalu berlebihan menghawatirkan saya,karna masih banyak prajurit yang membutuhkan perhatian dari anda " tekan Hana,dia sebenarnya sudah lelah karna pria ini terus saja mengejar nya.
Alexander tersenyum kaku, tapi dia mengangguk dan ikut menatap kolam,lalu menatap wajah cantik juga tegas Hana.
" Hana.bisa kamu beritahu apa kekurangan ku ? Aku sudah mencintai mu sejauh ini,aku selalu memikirkan mu dan berusaha menjadi pria seperti yang kamu inginkan tapi saat ini aku tidak mengerti kenapa kamu terus menolak ku " tanya pangeran dengan tatapan sendu.
Pertanyaan itu menghantam Hana. Ia menutup mata sebentar. "Pangeran, seperti kata pepatah cinta tidak bisa di paksakan, meskipun kamu berusaha menjadi pria yang aku inginkan, perasaan ku tidak akan semudah itu menerima nya,,daripada membuang waktu anda, lebih baik pengeran melupakan ku dan mencari wanita yang Lebih baik dari ku" ucap Hana dengan nada menekan.
Suara Hana tidak bergetar. Tapi tangannya di pangkuan mengepal.
Alexander merasa dadanya nyeri,matanya berkaca-kaca dia menatap Hana mengangguk dan tersenyum pedih.. " aku tau kamu pasti akan tetap menolak ku,Hana bagaimana jika aku tetap memaksa mu menjadi permaisuri ku ? Apa yang akan kamu lakukan? " itu adalah pertanyaan yang sudah Pangeran mahkota fikirkan sejak seminggu yang lalu,dia penasaran apa yang akan dilakukan oleh wanita itu saat dia memaksa keinginan nya.
Hana membuka mata.dia tersenyum dingin dan menatap pangeran mahkota dengan tajam.
" aku akan menjadikan mu sebagi musuh, bukan hanya kamu bahkan kerajaan Sanata ini akan aku hancurkan dengan tangan ku sendiri! Jika tidak percaya coba saja " sinis Hana,pria ini sungguh egois fikir nya,dan keputusan nya sudah benar untuk tidak menerima cinta pria seperti pangeran mahkota.
Deggggggggggggggg
Pangeran mahkota terkejut,dia sontak berdiri dan menarik tangan Hana dengan sedikit kuat,lalu dia menatap Hana dengan mata berkaca-kaca.
" apa aku sehina itu bersanding dengan mu ?kamu bahkan memilih menghancurkan kerajaan ini hanya karna aku memaksa mu ? Hana katakan padaku,apa yang sebenarnya tidak kamu sukai dari ku ? Dan...
"Cukup!" suara Hana meninggi. "yang mulia pangeran,saya sudah muak dengan sikap anda ! Sudah berapa kali saya katakan! Saya tidak akan pernah menerima anda,,dan.. ucapannya terpotong saat mendengar suara yang begitu dia kenal.
Dari balik pilar, Dominic tidak tahan lagi. Dadanya sesak. Setiap kata Alexander seperti tombak menembus hatinya. Ingatan tentang gulingan di tanah kemarin, tentang sentuhan tangan Hana di bangku batu, semuanya terbakar oleh kata-kata Pangeran sekarang.
Ia melangkah keluar. "LEPAS TANGANMU DARI JENDERAL HANA!"
Alexander dan Hana menoleh bersamaan.
"Dominic?" Hana terkejut.
Dominic berjalan cepat. Matanya merah,dia bahkan melepaskan genggaman Alex dari tangan Hana."Saya komandan. Tugas saya melindungi Nona Hana. Bahkan dari Pangeran sendiri jika perlu."
Alexander mengerutkan alis. "Beraninya kau bicara begitu padaku, Komandan."
"Saya bicara pada pria yang mencoba mengambil sesuatu yang bukan miliknya," balas Dominic. Suaranya rendah, berbahaya.
"Apa maksudmu?" Alexander maju selangkah. "Hana bukan milik siapa-siapa."
"Tepat," kata Dominic. "Dan dia juga bukan untukmu. apa anda tidak tau nona hana kelelahan. Dia tidak butuh kata-kata manis dari pangeran mahkota.dia hanya butuh istirahat "
Alexander mendelik. "Kau pikir kau lebih tahu dari aku? Aku lebih dulu mengenal Hana .kau hanya orang baru komandan Dominic! Jadi jangan ikut campur dalam..." ucapannya terpotong.
" aku tau ,tapi aku sudah memeluknya saat ia jatuh dari kuda," bentak Dominic. " jadi meski anda adalah orang pertama yang mengenal nona Hana,,tapi aku yang hanya orang baru ini yang lebih dulu mendapatkan nya ! "
Tamparan udara terasa di antara mereka.dan pangeran mahkota yang mendengar itu, amarahnya melonjak,dia menatap tajam pria tampan itu, tangannya mengepal kuat.
Sedangkan Hana, yang tidak ingin keduanya bertengkar akhirnya melangkah di tengah. "cukup ! Komandan Dominic dan pangeran mahkota jangan..
Tapi sudah terlambat.
Amarah Dominic meledak. Ia maju dan mendorong dada Alexander. " jadi Jangan dekati dia lagi!"
Alexander terhuyung, lalu membalas dengan mendorong bahu Dominic. "Kau sudah melewati batas, Komandan!"
_DUG!_
Dominic mengayunkan tinjunya. Pukulannya mendarat di rahang Alexander. Pangeran itu terjatuh ke tanah, darah menetes dari sudut bibirnya.
"DOMINIC!" teriak Hana. Ia langsung berlari dan berdiri di depan Alexander, melindungi. Pedangnya belum terhunus, tapi tangannya di gagang. "Cukup! Kau gila?" dia hanya takut Dominic mendapatkan masalah hanya karna dia.