Selama tiga tahun Keyra berkorban demi mendukung karier Arkan dari nol hingga sukses menjadi CEO. Namun setelah berada di puncak, Arkan justru mencampakkannya demi wanita kaya. Di tengah keterpurukannya, Keyra dipertemukan dengan Devan, konglomerat papan atas yang mengubahnya menjadi wanita bersinar tak tergapai. Saat Arkan menyadari berlian yang telah dibuangnya kini milik pria yang paling ditakutinya, penyesalan pun tiba. Apakah pintu maaf Keyra masih terbuka?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Yuni Denara, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bayang-bayang baru
Satu bulan telah berlalu sejak badai yang menghancurkan hidup Arkan dan Mentari. Lini kosmetik baru Alister Group yang menjadikan Keyra sebagai ikon utamanya sukses besar di pasaran. Wajah Keyra kini terpajang di berbagai papan reklame digital raksasa di pusat kota, memancarkan aura keanggunan seorang wanita yang sukses bertransformasi.
Pagi itu, di dalam ruang kerja VVIP Devan Alister, suasana terasa begitu tenang. Keyra sedang duduk di sofa kulit sembari membaca laporan penjualan bulanan yang terus meroket. Di seberang meja kerjanya, Devan fokus menatap layar laptop, namun sesekali matanya melirik ke arah Keyra dengan binar penuh perhatian.
"Penjualan bulan ini naik hingga tiga ratus persen, Devan," ucap Keyra, menutup map dokumen di pangkuannya dengan senyum puas. "Aku masih sering merasa ini semua seperti mimpi."
Devan menutup laptopnya, lalu berdiri dan berjalan mendekati Keyra. Ia duduk di samping wanita itu, lalu merangkul pundaknya dengan lembut. "Ini bukan mimpi, Keyra. Ini adalah hasil dari kerja kerasmu dan nilai yang memang pantas kamu dapatkan sejak dulu."
Keyra menyandarkan kepalanya di bahu tegap Devan, menikmati rasa aman yang selalu pria itu berikan. Namun, ketenangan mereka terusik saat pintu ruangan diketuk dengan ritme yang agak terburu-buru. Asisten pribadi Devan, Leon, melangkah masuk dengan ekspresi wajah yang tampak serius.
"Maaf mengganggu waktu Anda, Tuan Muda, Nona Keyra," ucap Leon sembari membungkuk hormat.
Devan sedikit mengernyitkan alisnya. "Ada apa, Leon?"
"Ada dua hal yang perlu saya laporkan. Pertama, mengenai Arkan. Sidang putusan pertamanya sudah keluar pagi ini. Dia resmi dijatuhi hukuman tujuh tahun penjara atas kasus penipuan korporat dan gagal bayar ganti rugi," lapor Leon datar.
Mendengar nama itu kembali disebut, tidak ada gejolak emosi lagi di wajah Keyra. Baginya, Arkan hanyalah bagian dari masa lalu yang sudah terkubur dalam-dalam di balik jeruji besi.
"Lalu yang kedua?" tanya Devan, menyadari ada hal lain yang membuat asistennya itu tampak lebih berhati-hati dalam berbicara.
Leon melirik sedikit ke arah Keyra sebelum melanjutkan, "Keluarga Wijaya baru saja mendarat di bandara internasional pagi ini setelah menetap di London selama lima tahun. Dan... Tuan Besar Wijaya mengundang Anda untuk hadir dalam makan malam keluarga besok malam."
Mendengar nama 'Keluarga Wijaya', rahang Devan seketika mengeras. Suasana di dalam ruangan mewah itu mendadak turun beberapa derajat, menjadi begitu dingin dan tegang. Keyra yang menyadari perubahan drastis pada sikap Devan langsung menegakkan duduknya dan menatap pria itu dengan bingung.
"Keluarga Wijaya?" bisik Keyra pelan, belum pernah mendengar nama itu sebelumnya.
Devan tidak langsung menjawab. Ia mengepalkan tangannya di atas lutut, matanya memancarkan kilatan emosi yang campur aduk antara amarah dan luka lama yang kembali terbuka.
Leon yang memahami situasi tersebut segera membantu menjelaskan kepada Keyra dengan nada suara yang sangat sopan. "Nona Keyra, Keluarga Wijaya adalah salah satu dinasti bisnis tertua yang merupakan sekutu sekaligus rival terbesar Alister Group. Dan... mendiang Ibu dari Tuan Muda Devan berasal dari keluarga tersebut. Namun, lima tahun lalu terjadi perselisihan internal yang besar yang membuat hubungan kedua keluarga ini merenggang total."
Keyra menatap Devan dengan pandangan khawatir. Ia perlahan mengulurkan tangannya, menggenggam jemari Devan yang mengepal kuat. "Devan... ada apa? Jika kamu tidak ingin membicarakannya, tidak apa-apa."
Devan menarik napas dalam-dalam, mencoba meredam gejolak amarah di dadanya saat merasakan kehangatan dari tangan Keyra. Ia menoleh, menatap Keyra dengan tatapan yang melunak.
"Mereka bukan hanya sekadar keluarga biasa, Keyra," ucap Devan, suaranya terdengar lebih berat dari biasanya. "Lima tahun lalu, mereka mencoba mengatur hidupku. Mereka bahkan berusaha menjodohkanku dengan putri angkat mereka demi menguasai sebagian saham Alister Group. Aku menolaknya dan memutus hubungan dengan mereka. Sekarang, kepulangan mereka yang tiba-tiba pasti membawa rencana baru."
Devan kemudian menatap Leon kembali dengan tatapan tajam dan mutlak. "Katakan pada mereka, aku akan datang ke makan malam itu. Dan aku akan membawa Keyra sebagai calon istriku secara resmi di hadapan seluruh tetua Wijaya."
Leon tampak sedikit terkejut, namun dengan cepat menguasai dirinya kembali. "Baik, Tuan Muda. Saya akan menyampaikan konfirmasinya."
Setelah Leon keluar dari ruangan, Keyra menatap Devan dengan jantung yang berdebar kencang. Kata 'calon istri' yang diucapkan Devan tadi bergema berulang kali di telinganya. "Devan... apakah kamu serius? Menghadapi keluarga besarmu... aku takut latar belakangku yang dulu hanya orang biasa akan membuat posisimu sulit di depan mereka."
Devan membawa tangan Keyra ke depan bibirnya, mengecup punggung tangan wanita itu dengan sangat dalam dan penuh komitmen. "Latar belakangmu tidak pernah menjadi masalah bagiku, Keyra. Di mataku, kamu jauh lebih berharga daripada seluruh wanita sosialita di kota ini. Aku membawamu bukan untuk meminta persetujuan mereka, melainkan untuk menegaskan bahwa tidak ada satu pun orang yang bisa mengatur hidupku lagi. Bersiaplah, Ratu-ku. Kita akan memasuki medan perang yang baru bersama-sama."
Keyra melihat kesungguhan yang luar biasa di mata elang Devan. Rasa takutnya perlahan menguap, digantikan oleh keberanian baru. Jika Devan selalu siap menjadi pelindungnya, maka ia juga harus siap berdiri tegap di samping pria itu untuk menghadapi siapa saja, termasuk masa lalu keluarga Alister yang penuh dengan intrik kekuasaan.