Liora terpaksa menandatangani perjanjian pranikah dan dinikahkan dengan Alexander, seorang pria berkebutuhan khusus yang diasingkan keluarganya di sebuah desa terpencil. Ia pun pergi ke desa itu untuk merawat suaminya yang asing baginya. Namun, semakin lama merawat Alex, Liora mulai menyadari ada keanehan dan ketakutan dari warga sekitar terhadap pria itu. Ia pun curiga, jangan-jangan Alex tidak seperti yang terlihat. Di balik keterbatasannya, Alex ternyata menyimpan rahasia besar yang menjadi alasan keluarganya membuangnya. Liora kini harus mengungkap kebenaran di balik pengasingan suaminya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon gigiwww, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 3: Anggur di Pagi Hari
Matahari belum sepenuhnya terbit ketika Liora terbangun dari tidurnya. Cahaya tipis berwarna keemasan mulai merembes masuk melalui celah tirai jendela, menerangi kamar tidurnya yang masih sunyi. Suara ayam berkokok terdengar samar dari halaman belakang, diselingi kicauan burung liar yang bersarang di pepohonan di sekitar rumah.
Liora mengerjapkan matanya beberapa kali. Ia sempat bingung sejenak, merasa asing dengan langit-langit kamar putih yang ada di atasnya. Baru setelah ia menoleh ke kiri dan melihat lemari kayu jati serta jendela besar yang menghadap ke peternakan, ia sadar. Ini bukan kamarnya di kota. Ini rumah di desa. Dan di sebelah kamarnya, ada Alex—suaminya yang tidak seperti pria dewasa kebanyakan.
Dengan perlahan, Liora bangkit dari tempat tidur. Udara pagi di desa terasa lebih dingin dan segar dibandingkan di kota. Ia menarik selimut tebalnya dan melipatnya rapi, lalu berjalan menuju jendela. Ia membuka tirai sedikit lebih lebar. Pemandangan di luar begitu tenang. Kabut tipis masih menyelimuti rumput-rumput di halaman, dan beberapa ekor ayam sudah mulai keluar dari kandang, mematuk tanah mencari makanan.
Liora menghela napas panjang. Entah mengapa, meskipun ia masih merasa sedih dan tidak nyaman dengan pernikahan paksa ini, suasana pagi di desa ini terasa menenangkan. Mungkin karena tidak ada suara klakson mobil, tidak ada gedung-gedung tinggi yang menyesaki pandangan, dan tidak ada tekanan dari keluarganya yang terus menuntut.
"Lebih baik aku menyiapkan sarapan," gumamnya pelan.
Liora bergegas ke kamar mandi untuk mencuci muka dan menggosok gigi. Ia berganti pakaian dengan kemeja sederhana berwarna krem dan celana panjang berwarna cokelat muda yang ia ambil dari kopernya. Setelah merapikan rambutnya menjadi ekor kuda, ia turun ke lantai bawah.
Dapur di rumah itu cukup besar dan lengkap. Ada kompor gas dengan dua tungku, sebuah oven kecil, kulkas, dan meja dapur marmer putih yang bersih. Liora membuka kulkas dan menemukan bahan-bahan yang masih segar. Ada telur, sayuran hijau, tomat, dan sebotol susu. Di lemari dapur, ia menemukan roti tawar dan selai stroberi yang masih baru.
Liora memutuskan untuk membuat sarapan yang sederhana namun mengenyangkan. Ia mengambil beberapa butir telur, memecahkannya ke dalam mangkuk, dan mengocoknya dengan sedikit garam dan merica. Ia memanaskan minyak di wajan dan membuat telur dadar yang empuk. Tidak lupa, ia memotong beberapa tomat dan mentimun sebagai pelengkap, serta memanggang dua lembar roti tawar hingga berwarna keemasan. Ia juga menyeduh dua gelas susu hangat dari kulkas.
Aroma masakan mulai memenuhi dapur. Bau telur dadar yang harum dan roti panggang yang renyah membuat suasana pagi itu terasa lebih hidup. Liora menata semua hidangan di atas meja makan kayu panjang. Ada dua piring berisi telur dadar dan sayuran, dua piring roti panggang dengan selai stroberi, serta dua gelas susu hangat.
Ia baru saja selesai menata meja saat suara langkah kaki pelan terdengar dari arah tangga. Liora menoleh.
Di sana, berdiri Alex.
Pria berusia 25 tahun itu masih mengenakan kaos tidurnya yang sedikit kusut dan celana pendek berwarna biru muda. Rambutnya berantakan—seperti baru bangun tidur dan belum sempat disisir. Dan yang paling membuat Liora tersenyum, di pipi kanan Alex masih terlihat jelas bekas lipatan bantal berwarna merah samar. Matanya masih setengah mengantuk, tetapi begitu ia mencium aroma masakan dari meja makan, matanya langsung membulat sempurna.
Alex berjalan tertatih-tatih mendekati meja makan, lalu duduk di kursi yang sama seperti saat makan malam kemarin. Ia menatap piring di depannya dengan mata berbinar-binar, tidak bisa menyembunyikan kegembiraannya.
"Wah! Makanannya kayaknya enak!" seru Alex dengan muka polos dan menggemaskan. Ia sudah mengangkat sendoknya, siap untuk menyantap sarapan.
Liora yang masih berdiri di dekat dapur, tidak bisa menahan senyum. Melihat semangat dan kepolosan Alex, rasa canggungnya sedikit demi sedikit mulai luntur. Ia mendekati meja dan duduk di kursi di seberang Alex.
"Selamat pagi, Alex. Sarapan sudah siap. Tapi sebelum makan, kamu harus cuci tangan dan gosok gigi dulu ya," kata Liora lembut.
Alex menghentikan tangannya yang sudah setengah jalan menuju sendok. Ia menatap Liora dengan wajah polos, seolah baru ingat bahwa ada aturan yang harus ia patuhi.
"Oh… iya. Emi juga bilang gitu," ucap Alex. Lalu ia segera bangkit dari kursi dan berlari kecil menuju kamar mandi. Beberapa menit kemudian, ia kembali dengan wajah yang sudah bersih, rambut yang sedikit dibasahi, dan tangan yang sudah dicuci bersih. Ia duduk kembali di kursinya dengan penuh semangat.
"Sudah, Liora! Alex sudah siap!" teriaknya senang.
Liora tertawa kecil. "Bagus. Yuk, kita makan bersama."
Mereka pun mulai sarapan. Alex makan dengan lahap. Ia mengambil sepotong roti panggang, mengolesinya dengan selai stroberi tebal-tebal, lalu menggigitnya dengan suara renyah. Ia juga menyuap telur dadar buatan Liora dengan cepat, sesekali meminum susu hangatnya.
"Enak banget!" puji Alex di antara suapannya. "Liora hebat! Liora bisa masak kayak Emi!"
Mendengar pujian itu, hati Liora terasa hangat. Ini pertama kalinya ia merasa ada yang benar-benar senang dengan usahanya. Di keluarganya dulu, ia sering merasa tidak dihargai. Tapi di sini, di sebuah desa terpencil ini, seorang pria yang dianggap "bermasalah" justru memberinya pujian paling tulus.
"Terima kasih, Alex. Kalau suka, nanti aku masakkan lagi," jawab Liora.
Alex mengangguk dengan semangat. Ia terus makan hingga piringnya benar-benar kosong. Begitu selesai, ia menggosok perutnya yang kenyang, lalu menatap Liora dengan tatapan ingin tahu.
"Liora, aku mau ajak Liora ke belakang!" ujar Alex tiba-tiba.
Liora mengangkat alis. "Ke belakang? Maksudnya ke peternakan ayam?"
Alex menggeleng cepat. "Bukan! Bukan ayam! Ada yang lebih bagus! Tanaman anggur! Aku tanam sendiri!" Mata Alex berbinar penuh kebanggaan. "Anggurnya sudah besar! Daunnya banyak! Aku sama Emi yang rawat!"
Liora tersenyum. Ia tidak tahu bahwa Alex memiliki kebun anggur di belakang rumah. "Kamu menanam anggur sendiri, Alex?"
"Iya! Aku siram setiap pagi. Sekarang buahnya sudah mulai merah. Aku mau kasih Liora lihat! Kita panen bareng!" ajak Alex, tangannya melambai-lambai kegirangan.
Liora melihat jam dinding di ruang tamu. Masih pagi, sekitar pukul setengah delapan. Cuaca juga cerah, tidak terlalu panas. Ia tidak punya alasan untuk menolak, apalagi melihat semangat Alex yang begitu menggebu-gebu.
"Baiklah, Alex. Aku mau ikut. Kita panen anggur bareng," setuju Liora.
Alex bersorak gembira. Ia melompat dari kursinya dan segera berlari ke arah pintu belakang yang menuju ke halaman. Liora membereskan piring-piring kotor dengan cepat, meletakkannya di wastafel untuk dicuci nanti, lalu menyusul Alex ke halaman.
Di belakang rumah, di sisi barat peternakan ayam, tumbuh sebuah pohon anggur yang cukup besar. Teralis kayu yang sudah disusun rapi menopang daun-daun lebat yang merambat ke atas. Di antara dedaunan hijau, terlihat gerombolan buah anggur berwarna merah dan ungu, bergelantungan seperti perhiasan alami.
Alex sudah berdiri di bawah pohon anggur, tangannya terangkat ke atas, mencoba menjangkau buah yang paling rendah. Matanya berbinar-binar.
"Liora, lihat! Ini yang paling merah! Pasti manis!" teriak Alex.
Liora berjalan mendekat, menatap kebun anggur kecil itu. Tanaman itu dirawat dengan sangat baik. Tidak ada daun kering yang bergantung, dan buahnya tampak sehat. Jelas bahwa Alex dan Emi benar-benar merawatnya dengan penuh kasih sayang.
"Aku ambil gunting dulu ya, Alex. Supaya tidak merusak tanamannya," kata Liora.
Ia kembali ke dapur, mengambil gunting kebun yang ia temukan di dekat wastafel, lalu kembali ke kebun. Alex memandu Liora untuk memetik anggur yang sudah matang. Setiap kali Liora menggunting sebuah tangkai, Alex bertepuk tangan dengan senangnya.
"Ini juga! Ini juga!" teriak Alex sambil menunjuk anggur lain yang lebih tinggi.
Liora mengulurkan tangan dan mengguntingnya. Anggur-anggur itu ia masukkan ke dalam keranjang bambu yang ternyata sudah disiapkan Alex di dekat pohon. Mereka bekerja bersama dalam keheningan yang damai. Hanya suara gunting yang memotong tangkai, suara anggur jatuh perlahan ke dalam keranjang, dan suara tawa Alex yang sesekali terdengar.
Di antara daun-daun anggur yang lebat, Liora menatap Alex yang sedang berusaha meraih buah yang paling atas. Pria itu tertawa ceria, dan untuk pertama kalinya, Liora merasa tidak sedang menjalani hukuman. Ia merasa seperti sedang bermain, seperti sedang hidup.
Mungkin, di desa ini, ada kebahagiaan yang bisa ia temukan.
Setelah keranjang penuh, Liora dan Alex duduk di kursi kayu di teras belakang. Alex mengambil satu butir anggur merah, memasukkannya ke mulutnya, lalu mengunyah dengan ekspresi sangat puas.
"Manis! Liora coba!" Alex menawarkan satu butir anggur pada Liora.
Liora menerimanya dan memakannya. Rasa manis dan segar langsung memenuhi mulutnya.
"Wah, ini anggur yang sangat enak, Alex. Kamu hebat sekali merawatnya," puji Liora dengan tulus.
Alex tersenyum lebar, pipinya bersemu merah karena dipuji. "Terima kasih, Liora! Besok-besok kita panen lagi, ya!"
Liora mengangguk. "Aku janji, Alex."
Mereka pun duduk berdua di teras, menikmati pagi yang cerah, dengan keranjang berisi hasil panen anggur di antara mereka. Desa itu mungkin sunyi, tetapi pagi ini, hati Liora tidak merasa sesunyi kemarin.
saling support sabi kali😉