Cerita yang mengisahkan tentang dua orang yang awalnya cuma kenal secara basa-basi karena si cewek adalah pacar dari sahabat si cowok, namun siapa sangka jika keduanya adalah jodoh yang sudah tertulis ditakdir Tuhan, bagaimana awal mula mereka menyadarinya, cerita selengkapnya akan tersaji dalam bab demi bab didalamnya...
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Septica, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bercak di Leher
Aku langsung saja memberikan bucket dan juga parfum yang sengaja aku belikan untuknya kemarin.
''Kasian sekali cintanya aku sampai kehabisan parfum gak bisa beli, ini aku kasih yang baru sesuai aroma favoritmu." Uluran tanganku ke arah Celo diimbangi oleh nada bicara yang penuh sarkas dari bibirku.
"Te- Terimakasih princess, aku pasti akan selalu memakainya." Celo mencium keningku.
Semua orang terdekat kita pun ikut terhanyut dengan momen romantis yang diciptakan olehnya. Tak lama berselang, Celo mengajak semua orang untuk makan di restoran.
"Aku bawa sushi padahal loh, kenapa harus ke restoran sih." Bibirku seketika cemberut mengisyaratkan penolakan.
"Jangan cemberut dong, aku akan menjadikannya cemilan di mobil pas perjalanan ke restoran." Bujuk Celo.
Mataku mengecil penuh heran dengan bujukan kali ini, sejak kapan orang menjadikan sushi sebagai cemilan. "Hahaha... Terus nanti di restoran kamu makan lagi?"
"Jelas dong, belum makan nasi artinya belum kenyang." Celo mengusap rambutku lembut.
Reaksiku kali ini benar-benar sudah tidak bisa dilepaskan, tak bisa aku gambarkan bagaimana untuk menanggapi sikap Celo kali ini.
Sebagai pasangan dia memang senantiasa membujukku agar marahku tak berkepanjangan, tetapi bukan hal konyol ini juga yang menjadi pilihannya.
Melihat langit yang sudah semakin biru, kita semua kembali melanjutkan perjalanan ke restoran untuk makan bersama.
Aku dan Celo naik mobil Rafka, sementara para keluarga naik mobil Ayah. Sepanjang perjalanan di dalam mobil Rafka mencoba membuka obrolan dengan menanyakan kondisi kesehatan Lady.
"Bro, gimana kondisi Lady? Sakit apa dia?"
"Uhuk... Uhuk... Su- Sudah mulai ada perubahan, wajar saja fasilitas luar negeri kan lebih canggih." Celo tersedak sushi saat menjawabnya.
"Calon suami aku baik banget sih, tetapi aku penasaran deh dia sakit apa dan kenapa kamu bilang dia sepupu padahal kan kata Rani juga gak ada keluarga kalian yang namanya Lady?" Aku segera menimpali beberapa pertanyaan sebelum obrolan beralih.
"Sayang, Lady itu kunci agar aku bisa memenangkan tender di sana dan aku terpaksa mengakui sepupu agar kamu gak semakin murka dengannya kala itu."
"Untuk sakitnya dia sakit kanker otak, bukankah sebagai makhluk sosial kita harus tolong menolong." Celo menghentikan aktivitasnya dan mengusap pipiku.
Dia juga m menarik kepalaku pelan untuk bersandar di bahunya. Rafka yang menyaksikan kita dari kaca depan terlihat ikut kebingungan.
Aku bisa menangkap ekspresi wajahnya pun sama denganku yang mengatakan jika ada sesuatu yang disembunyikan oleh Celo.
Kedipan mataku memberi sinyal kepadanya agar tetap fokus dan tenang untuk mengungkap kebenaran yang terjadi.
Rafka yang menyadarinya pun kembali fokus ke arah jalanan yang siang ini cukup padat mungkin karena banyak karyawan kantoran yang sedang keluar meskipun hanya sekedar mencari makan siang.
Helaan nafas demi nafas aku hembuskan, aku juga sesekali memandang wajah Celo dengan tetap manja agar dia yakin jika aku masih percaya dengannya dan aku juga masih sama seperti dulu selalu manja dan penuh keceriaan di matanya.
Kecupan terus menghujani seluruh mukaku, mulai dari kening, pipi kanan dan kiri, hidung hingga bibir. Celo selalu memberikan itu setiap kali kita sedang bermanja.
"Makanya bro cari pasangan biar gak jadi obat nyamuk terus." Celo melemparkan candaan kepada Rafka.
"Hahahaha.... Nanti juga misalkan gue punya pacar, lu berdua pasti akan kalah mesra." Rafka mengangkat kedua alisnya tengil.
Kondisi di dalam mobil pun rame karena kita bertiga saling lempar candaan. Rafka beberapa kali terpantau menempelkan ponsel ke telinganya bukan karena sedang menelepon.
Kegiatannya ini lebih mengarah kepada mendengarkan voice note dari seseorang. Aku dan Celo iseng mendekatkan posisi duduk kita dan menempelkan telinga di balik jok pengemudi.
Dapat kita tangkap jika dia sedang berbalas pesan suara dengan seorang wanita, tentu saja hal ini membuatku dan Celo saling pandang dan saat tatapan kita bertemu membuatku tak mampu menahan tawa yang sedari tadi coba ku tahan.
"Hmmm... Rupanya lu berdua suka menguping ya, wajar aja awet pacarannya." Rafka melotot ke arahku dan Celo.
"Yaelah, kita tuh gak sengaja denger, lu juga ngapain berhenti coba mendadak berhenti jadinya kan badan kita spontan terdorong ke depan." Aku coba mengalihkan.
"Wahai nyonya Dirganda yang baik hati dan tidak sombong, lihat tuh lampu merah."
"Sejak kapan lampu merah semua pengendara tidak menghentikan laju kendaraannya?" Tangan Rafka menunjuk ke sebuah lampu lalu lintas yang tepat berada di depan mobil kita.
Aku dan Celo kompak tersenyum dengan kelihatan gigi, malu dan tak ada kata yang mampu kita ungkapkan lagi sebagai bahan alasan karena aktivitas kita telah diketahui olehnya.
Celo pun akhirnya memilih untuk menghubungi Rani untuk menanyakan posisi dia dan juga kedua orang tua kita telah sampai atau belum.
"Assalamualaikum, Udah dimana ran?"
"Waalaikumsalam kak, bentar lagi sampai paling gak ada ti- tiga menit lah. Eh kak..." Suara Rani terdengar samar terhalang sinyal.
"Halo... Gimana suara lu putus-putus, chat aja ya." Celo menggoyangkan ponselnya dengan harapan sinyalnya lebih jelas.
"Okey deh, nanti saja kalau ketemu, tut.. Tut..." Ucap Rani sebelum teleponnya terputus.
Pria di sampingku itu mengusap wajahnya dengan tangannya. Dia memang sangat benci jika sedang berkomunikasi dengan seseorang, tetapi mendadak mati hanya gara-gara sinyal.
Tak lama kemudian lampu merah berubah menjadi hijau, perjalanan siap dilanjutkan. Setelah melewati satu tikungan lagi, maka kita pun sampai di restoran yang akan kita tuju.
Rupanya semuanya sudah ada disana dan semua menu juga sudah tersaji sesuai permintaan pada saat reservasi.
Aku tentunya duduk di samping calon suami tercinta dan masih meneruskan kemanjaanku yang sudah lama tertunda karena harus menjalani hubungan jarak jauh dengannya.
Ku usap pipinya penuh kelembutan yang membuat Celo kemudian menggenggam tanganku untuk di kecupnya.
"Sudah, lepas kangennya nanti saja, makanannya basi nanti jika terlalu lama dibiarkan." Sindir Bunda kepadaku dan Celo.
Aku mengeluh kasar. "Bunda gak pernah muda aja."
Semua orang tertawa mendengarnya tak terkecuali beliau, tetapi karena perutku juga sudah lapar akhirnya kita pun menyantap makanan masing-masing.
Menu favoritku di restoran ini adalah baby cumi saus tiram, yang menurut rating dari review pengunjung yang ku baca di maps nya memang itu merupakan salah satu menu best seller.
Saat-saat penghabisan nasi di piring, Celo kemudian terlihat berdiri dari kursinya. Aku menahan tangannya. "Mau kemana sayangku?"
"Steak kita ketinggalan di mobil, aku ambil dulu." Jawab Celo.
"Udahlah, nanti bisa di makan pas di rumah. Atau buat cemilan lagi pas pulang." Aku tersenyum jika teringat dia memakannya layaknya jajanan ringan.
Tak menghiraukan omonganku, dia tetap berjalan keluar untuk kembali ke mobil mengambil steak.
Namun dari belakang aku perhatian ada yang aneh dari lehernya seperti ada bercak atau goresan sesuatu, aku bingung bekas apa itu seperti bekas ciuman atau bekas yang lain.
..