Nadine Lavena membatalkan pernikahannya tiga minggu sebelum hari H setelah membongkar perselingkuhan tunangannya, Heyden Ames, di depan diskusi formal dua keluarga besar. Pengkhianatan itu membangkitkan trauma masa kecil saat dibuang ibu kandungnya, membuat Nadine skeptis pada cinta dan hanya memercayai uang.
Seminggu kemudian, di sebuah restoran industrial, Nadine menyaksikan Kyle Ernest pewaris bisnis sedingin es disiram air oleh teman kencan butanya akibat klausul pernikahan kontrak yang teramat kaku. Senyum sinis Nadine memicu harga diri Kyle yang angkuh hingga melayangkan tantangan gila: pernikahan kontrak tiga tahun dengan gaji 100 juta per bulan dan denda pembatalan 30 miliar.
Nadine menerima tantangan itu demi uang, murni sebagai mitra kerja. Namun, Kyle tidak menduga bahwa di balik sikap acuh tak acuh Nadine, wanita itu menyimpan kecerdikan tajam untuk menghadapi badai fitnah dari Kinara Inka, masa lalu Kyle yang licik yang tiba-tiba kembali untuk merebut segalanya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Seeula, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 13: Saat Badai Skandal Berubah Menjadi Panggung Kemenangan Proyektor Konvens
Udara dingin dari mesin pendingin ruangan berkapasitas besar di dalam gedung konvensi mewah itu mendadak terasa sedikit berubah menjadi tegang. Alunan musik instrumental klasik yang mengiringi langkah para tamu perlahan meredup saat pembawa acara di atas panggung utama mulai membacakan sambutan formal untuk memulai acara peresmian yayasan panti asuhan keluarga Ernest.
Di sela-sela kerumunan wartawan media massa yang sedang sibuk mengambil dokumentasi visual di barisan depan, beberapa pria asing berpakaian kasual tampak bergerak dengan sangat lincah. Mereka menyusup di antara jajaran kursi undangan, membawa beberapa bundel map cokelat tebal di dalam tas selempang yang sengaja mereka tutupi.
Nadine Lavena yang sejak awal berdiri tegak di samping Kyle di dekat meja bundar VIP memiliki ketajaman intuisi yang sangat tinggi. Sepasang mata indahnya menangkap pergerakan mencurigakan dari salah seorang pria berpakaian kasual yang sengaja mendekati meja jajaran direktur utama media cetak nasional. Pria itu bergerak cepat, mengeluarkan beberapa lembar salinan dokumen berformat resmi dari dalam mapnya lalu membagikannya secara acak dengan gerakan yang sangat halus.
Dari jarak beberapa meter, di bawah siraman lampu sorot kuning keemasan yang menerangi area VIP, Nadine dapat melihat dengan sangat jelas bentuk tata letak tulisan cetak hitam di atas putih dari lembaran kertas tersebut. Itu adalah salinan draf asli dari dokumen delapan pasal pernikahan kontrak mereka, lengkap dengan tanda tangan digital atas nama dirinya dan Kyle Ernest yang berkilau di lembaran putih tersebut.
{Kinara Inka dan Heyden Ames... dua makhluk bodoh itu benar-benar mengeksekusi rencana pembocoran dokumen ini tepat di tengah acara keluarga besar Ernest. Mereka mengira skenario sabotase murahan ini akan membuat diriku panik, berlutut memohon ampun, lalu diusir dari tempat ini dengan rasa malu yang mendalam? Sungguh cara berpikir parasit yang sangat picik.}
Sebuah senyuman dingin yang sarat akan kelicikan tingkat tinggi dan kecerdikan yang mematikan perlahan-lahan terukir di wajah anggun Nadine. Wanita berparas unik itu sama sekali tidak menunjukkan raut wajah takut, gemetar, atau salah tingkah sedikit pun.
Dengan gerakan tangan yang teramat anggun, ia merogoh ponsel pintarnya dari dalam tas jinjing kecil berbahan beludru perak, melakukan satu ketikan kode enkripsi rahasia ke nomor kontak pribadi tim ahli IT forensik siber dari perusahaan ayahnya yang sudah ia siagakan penuh sejak kemarin malam di luar gedung.
Satu detik kemudian, seluruh layar proyektor raksasa yang berada di atas panggung utama gedung konvensi yang seharusnya menampilkan video dokumenter sejarah berdirinya yayasan panti asuhan keluarga Ernest mendadak berubah menjadi gelap gulita selama dua detik.
Saat layar proyektor itu kembali menyala terang dengan resolusi tinggi, gambar yang ditampilkan di sana bukan lagi tentang kegiatan panti asuhan. Layar tersebut menampilkan sebuah rekaman video klip interogasi resmi dari pihak kepolisian siber nasional terhadap beberapa orang suruhan Kinara Inka dan Heyden Ames yang tertangkap basah di luar gedung beberapa menit lalu.
Suara pengakuan digital mereka terdengar sangat jelas dari pengeras suara gedung, membeberkan fakta mengenai draf dokumen pernikahan kontrak palsu yang sengaja mereka rekayasa dan manipulasi menggunakan sistem kecerdasan buatan AI untuk memfitnah nama baik CEO Ernest Group demi motif pemerasan dana materi sebesar lima puluh miliar rupiah.
Seluruh ruangan gedung konvensi seketika menjadi gempar. Suara bisik-bisik keterkejutan dari ratusan tamu undangan dan jajaran wartawan media massa bergemuruh, menenggelamkan keheningan malam yang formal. Para wartawan yang awalnya memegang lembaran kertas salinan kontrak dari orang suruhan Kinara langsung berbalik arah.
Mereka mengabaikan lembaran kertas tersebut, lalu mengarahkan seluruh lensa kamera mereka ke layar proyektor dengan kilat blitz putih yang mematikan, merekam bukti kejahatan siber pemerasan yang nyata di depan mata mereka secara real-time.
Kyle Ernest yang berdiri di samping Nadine langsung menatap layar proyektor tersebut dengan sepasang mata kelabunya yang melebar karena terkejut. Rahang tegasnya mengeras sesaat sebelum ia menolehkan kepalanya perlahan, menatap wajah Nadine yang sedang menyesap minuman sampanye non-alkoholnya dengan ketenangan yang mutlak.
Wanita berparas unik di sebelahnya hanya menyunggingkan seulas senyuman kemenangan bisnis yang teramat menawan di bibirnya. Pria beraura es itu menyadari dengan sangat jelas malam itu bahwa seluruh skenario sabotase dokumen kontrak yang bisa menghancurkan reputasi perusahaannya telah diantisipasi, diputarbalikkan, dan dihancurkan total oleh kecerdikan luar biasa dari istri kontraknya sendiri bahkan sebelum riak skandal itu sempat menyentuh ujung karpet merah mereka.
Aroma mesiu dari kembang api perayaan yang dinyalakan di luar gedung konvensi berpadu samar dengan keharuman kain wol karpet merah yang mulai dibersihkan oleh para petugas malam itu. Acara peresmian yayasan panti asuhan keluarga Ernest telah resmi ditutup dengan kesuksesan publisitas yang luar biasa masif. Berkat pemutaran video bukti kejahatan siber di layar proyektor raksasa tadi, reputasi bisnis Kyle Ernest dan nama baik keluarga besar Ernest justru kian melambung tinggi di mata publik dan media massa sebagai korban fitnah konspirasi pemerasan yang sangat berwibawa dan dilindungi oleh hukum siber yang kuat.
Di dalam ruang VIP utama yang sunyi dan beraroma wewangian bunga bakung segar, Tuan dan Nyonya Ernest duduk di atas sofa kulit dengan raut wajah yang dipenuhi rasa lega sekaligus kekaguman yang mendalam terhadap menantu kontrak mereka.
Nyonya Ernest melangkah maju, meraih kedua telapak tangan Nadine dengan kehangatan dan rasa sayang yang kini terlihat sangat tulus, tanpa ada lagi pandangan meremehkan seperti di awal pertemuan mereka.
"Nadine, Ibu benar-benar tidak menyangka bahwa kamu memiliki kesigapan mental dan jaringan tim siber yang begitu cepat untuk mengantisipasi serangan fitnah kotor dari orang-orang suruhan wanita jalang bernama Kinara itu malam ini. Kamu benar-benar telah menyelamatkan muka dan nama baik seluruh silsilah keluarga Ernest dari skandal besar yang bisa menghancurkan reputasi bisnis kita."
Nadine Lavena mempertahankan senyuman anggunnya yang menawan, menundukkan kepalanya sedikit dengan gerakan tubuh seorang menantu yang teramat santun dan penuh wibawa.
"Ini adalah bentuk kewajiban mutlak saya sebagai seorang istri untuk selalu menjaga dan melindungi kehormatan suami saya serta nama besar keluarga Ernest dari segala bentuk gangguan kelicikan murah di luar sana, Tante. Saya tidak akan pernah membiarkan siapa pun merusak ketenangan hidup dan reputasi profesional yang sudah kita bangun bersama dengan susah payah."
{Tentu saja aku harus bergerak cepat menghancurkan sabotase konyol itu. Jika reputasi Kyle hancur dan perusahaannya bangkrut malam ini, siapa lagi yang akan membayar gaji bulanan seratus juta rupiah milikku dengan lancar setiap bulan? Aku hanya sedang melindungi aset investasi finansial terbaikku malam ini.}
Kyle Ernest yang duduk di sofa seberang hanya diam membisu. Sepasang mata tajam kelabunya menatap wajah unik Nadine dengan kedalaman pandangan yang kian tidak terbaca di bawah temaram lampu ruangan. Ada rasa takjub bercampur ego pria yang kembali bergejolak di dalam dadanya melihat bagaimana Nadine dengan begitu mudahnya mengambil hati ibunya, membalikkan badai sabotase raksasa menjadi sebuah panggung kemenangan pribadi hanya dengan beberapa ketukan jari di atas layar ponsel pintarnya.
Setelah mereka berpamitan dan melangkah masuk ke dalam kabin mobil sedan mewah hitam untuk perjalanan pulang menuju rumah Menteng, keheningan yang teramat pekat kembali mendominasi atmosfer di antara mereka berdua. Wangi jok kulit mewah yang khas berpadu dengan aroma tipis parfum amberwood milik Kyle memenuhi kabin mobil. Kendaraan mewah itu melaju membelah jalanan ibu kota yang mulai sepi di bawah siraman lampu jalanan kuning yang temaram, memproyeksikan bayangan garis-garis cahaya bergantian di wajah mereka.
Kyle menatap lurus ke arah jendela luar mobil tanpa ekspresi wajah yang jelas, membiarkan keheningan malam menyelimuti mereka beberapa saat sebelum akhirnya memecah kesunyian dengan suara beratnya yang rendah.
"Kamu benar-benar wanita yang luar biasa licik dan berbahaya, Nadine Lavena."
Nadine tidak menoleh. Ia menyandarkan kepalanya rileks pada sandaran kursi kulit mobil yang empuk dengan keanggunan yang santai.
"Itu bukan kelicikan, Tuan Ernest. Itu disebut antisipasi taktis tingkat tinggi terhadap potensi kerugian materi perusahaan kita. Saya harap Anda mencatat kualitas pelayanan proteksi reputasi malam ini ke dalam draf bonus akhir tahun saya nanti."
Kyle mendengus pelan. Seulas senyuman smirk yang tipis dan sarat akan retaknya dinding keangkuhannya kembali muncul di sudut bibirnya yang kokoh. Pria es itu menyadari bahwa di hadapan wanita berparas unik di sebelahnya ini, ia tidak akan pernah bisa menang menggunakan kekuasaan konvensional atau keangkuhan materi, karena Nadine selalu memiliki cara yang jauh lebih cerdik, dingin, dan tidak terduga untuk mengendalikan jalannya permainan kontrak pernikahan mereka.