Berawal Dari sebuah kutukan. dari Hana yang mengutuk habis Tokoh kedua wanita bernama Elsa. Elsa (20thn) seorang gadis yang di jadikan jaminan hutang oleh orang tuanya. Elsa yang di dalam cerita di katakan terpaksa menikah menjadi istri kedua juragan Tama. pria tua. tak terima...pada akhirnya memilih berselingkuh pada bawahan Tama yang bernama Ardana. Nasib malang menimpa hana, gadis itu di tarik masuk oleh takdir, masuk kedalam buku Novel _The Jurag's Wife_ dan menjadi Tokoh Wanita yang sudah dia maki habis-habisan.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Tasya Chuky, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Halaman 33
Elsa melangkah keluar dari gerbang rumah megah itu, menyeret langkah kakinya dengan perasaan bingung yang teramat sangat. "Gue sekarang mau kemana...?" gumamnya lirih pada kesunyian jalanan.
'Apa gue pulang ke rumah Ayah dan Ibu Elsa aja ya?... Ah, enggak-enggak! Nggak sudi gue kalau harus ketemu si Ramdan sialan itu lagi,' batin Elsa menolak keras.
'Atau... gue minta tolong sama Jihan dan Luqman?! Nggak juga! Ada bapaknya, dia karib banget sama si Juragan,' ucap Elsa kembali menimang-nimang pilihan yang semuanya terasa buntu.
Namun, di tengah kebingungannya yang mendalam, sebuah sepeda motor tiba-tiba melambat dan berhenti tepat di depannya.
"Elsa...!" panggil pengendara motor itu sembari membuka kaca helmnya.
Elsa menoleh, matanya sedikit membelalak. "Ardana...!" ucap Elsa terkejut.
"Kamu mau kemana...?" tanya Ardana heran, menatap koper dan tas besar yang dibawa oleh Elsa.
Elsa terdiam sejenak. "Nggak tahu ini... aku bingung," jawabnya jujur dengan nada lemas.
'Dulu Elsa yang asli diusirnya karena dituduh selingkuh dengan kamu, Ardana. Sekarang, dia diusir karena hal lain,' batin Elsa berkata, meratapi nasib tubuh yang ditempatinya ini.
"Apa Juragan mengusir kamu?" tanya Ardana menyelidik.
Elsa menatap Ardana dalam-dalam. Tak lama, sepasang matanya mulai berkaca-kaca menahan bendungan air mata yang siap tumpah. Kepala Elsa lalu mengangguk pelan. "Hiks... Hiks... Juragan mengusir aku. Aku enggak tahu harus kemana sekarang..." ucapnya sedih, pertahanannya runtuh juga.
Ardana segera turun dari motornya. Tanpa ragu, pria muda itu lantas menarik tubuh Elsa ke dalam pelukannya, mendekapnya dengan erat. "Sudah, diam... Jangan menangis lagi. Kalau kamu bingung mau kemana, kamu ikut aku aja ke kecamatan. Kamu tinggal di rumah Ibuku," ucap Ardana menawarkan solusi.
Elsa mendongak dari dada Ardana, melihat wajah pria itu dengan ragu. "Apa... enggak apa-apa?" tanyanya memastikan.
Ardana menggelengkan kepalanya dengan yakin. "Nggak apa-apa..." ucapnya lembut. Pria itu lalu mengulurkan tangannya, mengusap sisa-sisa air mata yang membasahi pipi mulus Elsa. "Yuk, sekarang ikut di motorku..." sambung Ardana.
Elsa akhirnya mengangguk setuju. Ardana dengan sigap membantu menaikkan barang-barang Elsa, lalu membonceng wanita muda itu pergi membelah jalanan.
••••••••••••••••
Di sisi lain, setelah mengantar Andini masuk ke dalam kamarnya untuk beristirahat, langkah kaki Tama justru membawanya menuju kamar miliknya—kamar tempat di mana biasa Elsa tidur.
Tama membuka pintu kayu itu perlahan, lalu menutupnya kembali dengan rapat. Pandangannya memindai ke seluruh penjuru kamar yang kini terasa begitu kosong dan sunyi. Pria besar itu berjalan perlahan mendekati ranjang, lalu terduduk di tepinya. Tama menyugar rambut hitamnya dengan kasar dan frustrasi.
"Kenapa, El...?! Kenapa kamu harus jahat...?! Maaf Om udah usir kamu..." ucap Tama teramat lirih, suaranya bergetar menahan rasa bersalah yang teramat besar.
Mata pria itu beralih pada bantal tidur yang biasa digunakan Elsa. Tama meraih bantal tersebut, memeluknya dengan erat ke dadanya sembari menghirup dalam-dalam aroma tubuh Elsa yang masih tertinggal samar di sana. Penyesalan seketika menghantam batinnya.
"Nggak! Om enggak seharusnya mengusir kamu...! Om harus bawa kamu pulang!" kata Tama, menyadari kebodohannya akibat emosi sesaat tadi.
Pria itu langsung bangkit berdiri dengan tergesa-gesa. Dia melangkah keluar kamar lalu berteriak memanggil asisten kepercayaannya. "Gilang...!" teriaknya menggelegar.
"Ya, Juragan," sahut Gilang yang langsung berlari mendekat.
Tama menatap Gilang dengan sorot mata penuh perintah. "Sekarang kamu cari Elsa, dan bawa istriku kembali ke rumah ini!" ucap Tama tegas.
Tanpa banyak bertanya atau mendebat, Gilang langsung mengangguk patuh dan bergegas berangkat melaksanakan perintah tuannya.
"Kamu enggak boleh pergi, El... Kamu harus ada di sini, di rumah ini," ucap Tama pada dirinya sendiri sembari memijat pelipisnya yang mendadak berdenyut nyeri.
Beberapa jam pun berlalu dengan penuh ketegangan, hingga akhirnya Gilang kembali datang menghadap. "Lapor, Juragan. Nona Elsa tidak bisa ditemukan," ucap Gilang dengan raut wajah menyesal.
"Apa...?! Apa kamu sudah cari ke rumah orang tuanya?!" tanya Tama panik.
"Sudah, Juragan."
"Sama teman-temannya?!"
Gilang pun kembali mengangguk, menandakan bahwa semua tempat itu hasilnya nihil.
"Lapor, Juragan!" tiba-tiba suara Joko memotong pembicaraan. Pria itu berlari kecil menuju ke arah mereka dengan napas yang sedikit terengah-engah. "Apa Juragan sedang mencari Non Elsa...?" tanyanya memastikan.
Tama langsung mengangguk cepat. "Iya, kenapa?"
"Tadi saya melihat Non Elsa pergi bersama Ardana. Bocah itu yang membawanya pergi, Juragan," ucap Joko memberikan kesaksian dengan sangat yakin.
Mendengar nama Ardana disebut, rahang Tama seketika mengetat kuat dengan urat-urat yang menonjol di lehernya. Amarah dan kecemburuan membakar habis akal sehatnya.
"Gilang! Ikut saya!" ucap Tama penuh penekanan pada Gilang.
Tanpa membuang waktu lagi, keduanya lantas bergerak secepat kilat menaiki mobil, siap memburu keberadaan Ardana dan membawa Elsa pulang.