Ketika suaminya berselingkuh hingga menghamili wanita lain, tak ada lagi kata maaf yang tersisa di hati Nadia.
Dengan tekad yang bulat, ia mengajukan gugatan cerai. Tanpa menoleh ke belakang, Nadia memilih meninggalkan rumah megah yang selama ini menjadi tempat tinggalnya, beserta segala kemewahan yang pernah ia nikmati.
Baginya, harga diri dan ketenangan batin jauh lebih berharga daripada hidup bergelimang harta bersama seorang suami yang telah mengkhianati kepercayaan dan cinta yang selama ini ia jaga.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Fitria Susanti Harahap, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
22
Usai pemotretan, Nadia mengajak Dila mampir ke sebuah kedai kopi kecil yang letaknya tidak jauh dari studio. Mereka sengaja datang lebih awal karena masih ada waktu sebelum menjemput Kian pulang sekolah. Setelah memesan dua gelas kopi dan beberapa camilan ringan, keduanya memilih duduk di dekat jendela sambil melepas lelah.
Dila memperhatikan Nadia dari seberang meja dengan senyum bangga. "Jadi... sahabatku sudah jadi orang sukses."
Nadia yang sedang mengaduk kopinya langsung terkekeh. "Apanya yang sukses?"
"Lho, sekarang sudah jadi model."
Nadia menggeleng cepat. "Tau ahhh..."
"Kenapa?"
"Kayaknya yang ngontrak kapok pakai aku sebagai model."
Dila langsung tertawa. "Justru kalau mereka kapok, kenapa tadi fotografer berkali-kali bilang hasil fotomu bagus?"
"Itu cuma buat nyemangatin."
"Nggak juga." Dila menyeruput kopinya pelan. "Nad, kamu itu dari dulu memang cantik. Bedanya, dulu kamu sibuk ngurus rumah tangga sampai lupa kalau kamu punya potensi." Lalu Dila menasihati dengan gaya sok dewasanya. "Yang penting sekarang jangan besar kepala. Kalau nanti sudah terkenal, jangan pura-pura lupa sama sahabat yang dulu sering nombokin uang parkir."
Nadia tertawa sampai menggeleng-geleng. "Dila... lebay."
"Biarin. Nanti kalau kamu sudah jadi bintang iklan, aku tinggal bilang ke orang-orang, 'Itu model terkenal dulu sering aku pinjemin uang buat beli cilok waktu kami zaman sekolah."
Mereka pun kembali tertawa bersama. Di sela canda itu, Nadia menyadari satu hal. Sudah lama ia tidak menikmati sore yang begitu ringan tanpa memikirkan pertengkaran, tagihan, atau air mata. Untuk pertama kalinya setelah sekian lama, ia bisa duduk santai sambil menikmati secangkir kopi bersama sahabatnya, merasa bahwa hidupnya perlahan benar-benar bergerak ke arah yang lebih baik.
***
Setelah kontrak pertamanya sebagai model selesai, Nadia kembali menjalani rutinitas seperti biasa. Pagi hingga sore ia tetap menerima pesanan jahitan, menggambar desain pakaian, dan mengantar jemput Kian. Di dalam hatinya, ia tidak pernah berharap akan mendapat tawaran pemotretan lagi. Baginya, kesempatan pertama itu sudah merupakan rezeki yang sangat besar. Ia sadar dirinya bukan model profesional, tidak memiliki pengalaman, dan masih harus banyak belajar. Karena itu, ia memilih tidak memasang harapan terlalu tinggi agar tidak kecewa.
Namun, dugaan Nadia ternyata meleset. Beberapa hari setelah hasil kampanye pertama dipublikasikan, ponselnya kembali dipenuhi pesan dari berbagai agensi dan brand busana muslim. Rupanya, banyak pihak tertarik dengan penampilannya yang dinilai anggun, berwibawa, dan mudah merepresentasikan sosok ibu muda. Wajah Nadia yang fotogenik juga membuat hasil pemotretannya mendapat respons positif dari pelanggan.
Satu demi satu tawaran mulai berdatangan. Ada brand yang mengajaknya menjadi model koleksi mukena premium. Brand lain menawarkan kerja sama untuk mempromosikan hijab terbaru mereka. Bahkan beberapa perusahaan meminta Nadia menjadi wajah utama katalog busana muslim keluarga.
Yang paling membuat Nadia terharu adalah ketika sebuah perusahaan busana menghubunginya dengan konsep yang berbeda. Mereka tidak hanya menginginkan Nadia sebagai model, tetapi juga mengajak Kian untuk tampil bersamanya dalam kampanye busana Lebaran bertema kasih sayang seorang ibu dan anak.
Saat membaca penawaran itu, Nadia spontan tersenyum. Ia membayangkan Kian yang biasanya pemalu harus berdiri di depan kamera bersamanya. Entah mengapa, hati Nadia terasa hangat.
Jika dulu ia dan Kian harus berjuang menghadapi hari-hari sulit hanya untuk memenuhi kebutuhan hidup, kini mereka justru diberi kesempatan membangun kenangan baru bersama. Bukan sebagai korban dari masa lalu, melainkan sebagai ibu dan anak yang saling menguatkan.
Nadia menatap putranya yang sedang belajar di ruang tamu. Dalam hati, ia berbisik penuh syukur. "Terima kasih, Ya Allah. Ternyata setelah setiap kesulitan, benar ada kemudahan yang tak pernah kuduga."
Sejak kehidupan Nadia mulai berubah, Dila justru semakin sering datang ke kontrakannya. Hampir setiap beberapa hari sekali, ia menyempatkan diri berkunjung, entah hanya untuk mengobrol, membantu memilih pakaian yang akan dikenakan Nadia saat pemotretan, atau sekadar mencicipi masakan sahabatnya. Kehadirannya membuat rumah kontrakan yang dulu terasa sunyi kini dipenuhi tawa dan cerita.
Jika jadwal pemotretan Nadia berlangsung pada hari kerja, Dila hampir selalu menawarkan diri untuk menemani. Menurutnya, setidaknya Nadia memiliki teman mengobrol di sela-sela menunggu pergantian busana atau saat jeda pengambilan gambar. Para kru yang sudah beberapa kali bertemu dengan Dila pun mulai mengenalnya sebagai sahabat Nadia yang cerewet, jenaka, tetapi sangat perhatian. Tak jarang candaan Dila membuat suasana studio yang tegang berubah menjadi penuh gelak tawa.
Usai pemotretan, mereka memiliki kebiasaan baru yang perlahan menjadi rutinitas. Sebelum menjemput Kian pulang sekolah, mereka mampir ke kedai kopi langganan. Di sana, mereka menghabiskan waktu sambil menikmati secangkir kopi dan camilan sederhana. Obrolan mereka pun beragam, mulai dari desain pakaian terbaru, tingkah lucu Kian, rencana memperluas usaha jahit Nadia, hingga candaan Dila yang tak pernah kehabisan bahan untuk menggoda sahabatnya.
Bagi Nadia, momen-momen sederhana itu jauh lebih berharga daripada kemewahan apa pun. Dulu ia sering melewati hari-hari dengan tangisan dan kecemasan, sedangkan kini ia memiliki waktu untuk tertawa lepas bersama sahabat yang selalu berdiri di sisinya. Di sela kesibukan yang mulai padat, ia belajar bahwa kebahagiaan tidak selalu datang dalam bentuk keberhasilan besar. Terkadang, kebahagiaan hadir dalam secangkir kopi hangat, obrolan ringan tanpa beban, dan kehadiran orang-orang yang tidak pernah meninggalkannya saat hidup sedang berada di titik terendah.
Meski mulai dikenal sebagai model untuk beberapa brand busana muslim, Nadia tidak pernah melupakan impian yang telah ia bangun jauh sebelum semua itu terjadi. Baginya, dunia modeling hanyalah sebuah kesempatan yang datang sebagai jalan rezeki, bukan tujuan akhir yang ingin ia kejar. Mimpi terbesarnya tetap sama, yaitu memiliki label busana sendiri dan dikenal sebagai seorang desainer yang menghasilkan karya-karya berkualitas.
Karena itu, Nadia tidak menghamburkan penghasilan dari kontrak-kontrak yang ia terima. Setelah menyisihkan uang untuk kebutuhan sehari-hari, biaya sekolah Kian, dan tabungan darurat, sebagian besar penghasilannya ia simpan sebagai modal usaha. Sedikit demi sedikit ia mulai membeli mesin jahit yang lebih baik, menambah perlengkapan produksi, serta mengumpulkan berbagai jenis kain berkualitas yang selama ini hanya bisa ia lihat di katalog. Ia juga mulai membuat beberapa koleksi contoh berdasarkan desainnya sendiri, berharap suatu hari nanti dapat dipasarkan dengan mereknya sendiri.
Bagi Nadia, setiap rupiah yang ia tabung bukan sekadar uang, melainkan langkah kecil menuju cita-cita yang selama ini ia perjuangkan. Ia tidak ingin selamanya bergantung pada tawaran menjadi model. Ia sadar bahwa dunia modeling memiliki masanya sendiri, sedangkan sebuah karya yang baik dapat bertahan jauh lebih lama.