Dibuang oleh Klannya sendiri ke Shenzhou—daratan terlarang tempat pemujaan Dewa Jahat—seorang bayi harusnya mati menjadi abu. Namun, takdir menolak tunduk. Dia justru bangkit dengan menyedot habis seluruh energi terkutuk di daratan tersebut. Tumbuh besar seorang diri dengan ingatan jurus-jurus terlarang purba, kini tiba saatnya ia melangkah keluar. Sembilan Daratan yang korup harus bersiap, karena tumbal yang mereka buang telah kembali sebagai pembawa kiamat.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Danzo28, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 15
Pagi yang cerah menyinari Koloseum Raksasa Klan Wu, tempat di mana ribuan penonton dari berbagai pelosok Yunzhou telah memadati tribun melingkar. Gemuruh suara obrolan penonton terdengar bagai deburan ombak. Di panggung kehormatan tertinggi, menjulang tiga singgasana megah yang dipahat dari batu giok berharga, tempat bagi para penguasa tiga faksi pilar Yunzhou duduk berdampingan.
Di singgasana tengah, Tetua Agung Wu Cang duduk dengan jubah emasnya yang agung. Tatapan matanya menyapu arena di bawah dengan penuh wibawa. "Tahun ini, Klan Wu menyambut kedatangan kalian dengan tangan terbuka. Kami berharap kompetisi ini menjadi pembuktian bahwa wilayah selatan tetap menjadi pusat kultivator berbakat," ucap Wu Cang dengan nada menekan yang terselubung.
Tetua Agung Klan Li yang duduk di singgasana sebelah kiri mendengus pelan, melempar senyum sinis. "Klan Wu selalu pandai berbicara tentang dominasi. Namun, kudengar belakangan ini murid-murid kalian seringkali mundur saat berpapasan dengan patroli Klan Li di perbatasan. Kuharap di atas arena nanti, mereka tidak lari secepat itu."
Di singgasana kanan, perwakilan dari Sekte Pedang Langit hanya tersenyum tipis sembari mengelus janggut panjangnya, bertindak sebagai penengah yang netral namun tetap menyelipkan kalimat sombong. "Kedua klan tidak perlu saling menyindir. Pada akhirnya, di hadapan ketajaman teknik pedang sekte kami, semua bualan akan terbukti tidak berarti."
Perang urat syaraf tidak hanya terjadi di panggung kehormatan. Di area khusus murid inti di bawah tribun, ketegangan antara generasi muda juga berada di titik didih.
Wu Jun, Wu Yan, dan Wu Xue berdiri di barisan depan perwakilan Klan Wu. Di seberang pembatas, Li Peng bersama beberapa jenius top Klan Li menatap mereka dengan pandangan membunuh.
"Wu Jun! Kejadian di kedai waktu itu belum selesai!" desis Li Peng dengan urat-urat yang menonjol di pelipisnya. "Di turnamen utama nanti, aku sendiri yang akan mematahkan pedang tipismu itu!"
Wu Jun mengibaskan kipas lipatnya dengan santai, meski matanya menajam. "Hmph, Tuan Muda Li, pastikan saja kali ini kamu memegang hulu pedang besarmu dengan benar. Sangat memalukan jika pedangmu harus terlempar lagi seperti tempo hari."
Di saat para jenius pria saling melempar sindiran tajam, Wu Xue—sang Bidadari Es—hanya berdiri diam sembari memejamkan sepasang mata birunya yang indah. Ia sepenuhnya mengabaikan keriuhan di sekitarnya, memisahkan diri dari kepura-puraan dunia luar dengan auranya yang sedingin salju.
Sementara itu, di barisan paling belakang area murid luar yang akan mengikuti babak eliminasi massal, suasananya jauh lebih padat dan pengap. Wu Lin berdiri setia di samping Wu Tian, mendampingi pemuda berbaju biru tua itu di antara ribuan peserta lainnya.
Wu Lin menatap ke arah panggung arena yang luas, lalu menghela napas pendek. Ia berbalik menghadap Wu Tian, tersenyum agak kaku. "Wu Tian... sebenarnya, aku tidak mendaftarkan diriku untuk kompetisi tahun ini."
Wu Tian menoleh perlahan, menatapnya dengan wajah datarnya yang khas. "Kenapa?"
"Bakat dan kekuatanku belum cukup untuk bersaing di panggung berdarah seperti ini," aku Wu Lin jujur, matanya sedikit meredup. "Kompetisi ini sangat kejam, terutama di babak eliminasi murid luar nanti. Dibandingkan terluka sia-sia, aku lebih memilih berada di bawah untuk mendukungmu."
Mendengar pengakuan tulus dari gadis di depannya, Wu Tian terdiam sesaat. Di dalam ingatannya tentang daratan Shenzhou yang kejam, garis depan pertempuran yang berdarah adalah tempat berburu bagi para predator, bukan tempat bagi makhluk-makhluk yang rapuh.
Tanpa ada niat untuk merayu, tanpa ada modus terselubung, dan murni didorong oleh kepolosan pragmatisnya sebagai sosok pelindung, Wu Tian berkata dengan nada suara yang sangat lempang, tenang, dan teramat enteng.
"Pilihan yang bagus. Seorang wanita cantik sepertimu tidak pantas menodai tubuhnya dengan darah di atas sana. Biar aku saja yang naik dan mengurus sisanya."
DEG.
Kalimat enteng yang keluar dari bibir Wu Tian itu bagaikan hantaman petir yang meledakkan seluruh pertahanan batin Wu Lin untuk kesekian kalinya. Kalimat itu terdengar begitu jantan, protektif, dan sarat akan janji perlindungan yang mutlak.
Dalam sekejap, wajah cantik Wu Lin langsung memerah merona hebat sampai ke lehernya. Jantungnya berdebar kencang menabrak rongga dadanya, membuat seluruh tubuhnya mendadak kaku dan gemetar karena rasa malu yang bercampur bahagia. Di tengah kerumunan ribuan murid yang riuh, Wu Lin hanya bisa menundukkan kepalanya dalam-dalam, mengangguk gugup dengan suara yang hampir tidak terdengar. "U-Um... baiklah. Berjanjilah untuk kembali dengan selamat."
Wu Tian hanya mengangguk sekali tanpa ekspresi, kembali menatap datar ke depan seolah tidak tahu bahwa ucapannya baru saja membuat hati seorang gadis berantakan.
DONG...!!!
Tepat pada momen itu, gong raksasa di tengah arena utama dipukul dengan kekuatan penuh, suaranya menggelegar membelah langit Koloseum. Pembawa acara turnamen melompat ke tengah panggung dan berteriak menggunakan tenaga dalam yang membahana.
"Babak Eliminasi Massal Murid Luar, resmi dimulai! Seluruh peserta, naik ke atas panggung sekarang juga!"
Gemuruh langkah kaki ribuan murid luar langsung berhamburan maju menaiki tangga panggung raksasa. Wu Tian menyandarkan tangannya di pinggang, melangkah maju dengan santai di antara kerumunan. Saatnya bagi sang monster dari Shenzhou untuk menginjakkan kakinya di atas genangan darah pertama.