NovelToon NovelToon
Aku Buat Suamiku Menyesal

Aku Buat Suamiku Menyesal

Status: tamat
Genre:Penyesalan Suami / Identitas Tersembunyi / Balas Dendam / Tamat
Popularitas:423.1k
Nilai: 5
Nama Author: Senja

“Kalau bukan karena gajiku, kamu nggak akan bisa makan enak, Ningsih!”

Tujuh tahun menikah, Ningsih rela meninggalkan dunia bisnis demi mendukung karier suaminya. Ia mengurus rumah, membantu pekerjaan Hendra dari belakang layar, bahkan diam-diam menjadi otak di balik kesuksesan pria itu tanpa sepengetahuannya.

Namun semakin Hendra berada di puncak, semakin besar pula egonya.
Tak ada yang tahu, pria yang dipuji semua orang itu sebenarnya tidak akan menjadi siapa-siapa tanpa Ningsih.

Sayangnya, pengorbanan tulus itu justru dibalas dengan hinaan, pengkhianatan, dan wanita lain.

Sampai akhirnya Ningsih lelah.
Ia berhenti membantu. Dan sejak saat itu, kehidupan Hendra mulai runtuh perlahan.

Barulah Hendra sadar, perempuan yang selama ini ia rendahkan ternyata adalah alasan dirinya bisa berdiri di puncak.

Penyesalan memang selalu datang terlambat.

Saat Hendra ingin kembali, Ningsih justru memilih pergi dan membalas sakit hatinya.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Senja, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab. 27

Hendra sudah berdiri di samping mobil sedan mewah yang terparkir di halaman luas kediaman keluarga Adiwangsa. Ya, hari ini adalah hari pertamanya bekerja sebagai sopir pribadi setelah kemarin beruntung menyelamatkan tas anak seorang konglomerat.

Hendra merapikan seragam kemeja hitamnya yang tampak sangat pas di tubuh tegap dan kekarnya. Jantungnya berdegup sedikit kencang, berharap pekerjaan baru ini bisa menjadi awal yang baik untuk menata hidupnya yang sempat hancur.

Tak lama kemudian, pintu utama rumah mewah itu terbuka. Nawang melangkah keluar dengan penampilan yang sangat mencolok. Ia berdandan seksi seperti biasa setiap kali akan pergi ke kantor, mengenakan dress ketat di atas lutut berwarna merah menyala yang memperlihatkan lekuk tubuhnya dengan jelas, dipadukan dengan sepatu hak tinggi sewarna.

Begitu pandangan matanya jatuh pada sosok Hendra yang berdiri gagah di samping mobil, wajah Nawang yang tadinya datar seketika berubah menjadi sumringah.

Sungguh, baru pertama kali ini dalam hidupnya, Nawang melihat ada pria setampan dan segagah sopir pribadinya ini. Otot lengan Hendra yang tercetak jelas di balik kemeja benar-benar membuat Nawang menelan ludah.

"Pagi, Mas Hen," sapa Nawang dengan nada suara yang sengaja dibuat mendayu-dayu.

Tanpa rasa canggung, Nawang langsung melangkah mendekat dan bergelayut manja di lengan kekar Hendra, memeluknya erat seolah-olah mereka adalah sepasang kekasih, bukan majikan dan sopir.

Hendra seketika menegang. Tubuhnya mendadak kaku, dan ia buru-buru menundukkan kepalanya, mencoba menjaga pandangan dan profesionalitasnya.

"Pagi, Non Nawang. Kita berangkat sekarang?" balas Hendra dengan suara yang sedikit gugup. Baru saja menit pertama bekerja, ia sudah dikejutkan oleh sikap majikannya yang menempel seerat ini.

Nawang mendongak, menatap rahang tegas Hendra dengan tatapan memuja.

"Iya, kita berangkat sekarang. Tapi nanti bawa mobilnya pelan-pelan saja ya, Mas. Biar kita bisa punya banyak waktu untuk mengobrol berduaan di dalam mobil."

"Baik, Non. Saya akan berkendara dengan aman," jawab Hendra sopan, sembari perlahan melepaskan lengannya dari rengkuhan Nawang untuk membukakan pintu mobil bagian belakang.

Nawang mengerucutkan bibirnya manja. "Ih, aku tidak mau duduk di belakang, Mas. Aku mau duduk di depan, di samping Mas Hendra!"

Tanpa menunggu persetujuan, Nawang langsung membuka sendiri pintu depan dan masuk ke dalam mobil dengan senyuman kemenangan.

Hendra hanya bisa menghela napas panjang, lalu berjalan memutari kap mobil untuk masuk ke kursi kemudi, bersiap menghadapi hari pertamanya yang tampaknya akan berjalan sangat tidak biasa.

*

*

Sementara itu, suasana di dalam ruang makan utama, Luna sedang asyik mengunyah roti bakar cokelatnya.

Pagi ini, ia bersiap untuk berangkat sekolah langsung dari rumah sang kakek, sesuai dengan keputusannya yang merengek ingin menginap semalam. Di sampingnya, Ningsih duduk dengan anggun, menyesap kopi hitamnya tanpa ekspresi, mengenakan setelan kerja.

Yeni, yang duduk di ujung meja dengan gaun rumahannya yang glamor, sejak tadi tidak berhenti menatap Ningsih dengan pandangan sinis. Kejadian es sirup merah tadi malam rupanya masih menyisakan dendam yang mendalam di hatinya.

"Duh, Ningsih. Pagi-pagi begini penampilannya sudah rapi sekali, seperti orang yang mau merebut proyek besar. Tapi kalau dipikir-pikir, buat apa ya kerja keras bagai kuda di kantoran kalau statusnya cuma janda? Ujung-ujungnya kan tidak ada suami yang menikmati hasilnya. Kasihan sekali, harta melimpah tapi hidupnya kesepian."

Yudha yang duduk di kepala meja langsung menghentikan aktivitas makannya. Dahinya berkerut dalam.

"Yeni, jaga ucapanmu. Ini masih pagi, jangan mulai memancing keributan di meja makan," lerai Yudha.

Namun, Yeni sama sekali tidak memedulikan teguran suaminya. Ia justru semakin mencondongkan tubuhnya ke depan, menatap Ningsih dengan senyuman meremehkan.

"Lho, Pa, aku kan cuma bicara kenyataan. Apalagi sekarang Ningsih tiba-tiba rajin menginap di sini semenjak Papa sakit-sakitan. Aku jadi curiga, jangan-jangan ada maksud terselubung soal pembagian harta warisan ya? Jangan sampai anak yang sudah bertahun-tahun pergi menelantarkan ayahnya, tiba-tiba pulang hanya untuk menguras sisa aset yang menjadi hak milik putriku, Nawang!"

Yudha menggebrak meja dengan pelan, wajahnya memucat. "Yeni! Cukup! Aku bilang diam!"

Namun, seperti biasa, Yudha selalu kalah dominan jika berhadapan dengan watak Yeni yang keras dan serakah.

Mendengar rentetan sindiran dan tuduhan tentang harta tersebut, Ningsih sama sekali tidak terkejut atau terpancing emosi. Ia meletakkan cangkir kopinya ke atas tatakan dengan sangat perlahan tanpa menimbulkan suara sedikit pun. Gerakannya yang tenang justru memancarkan aura intimidasi yang sangat kuat.

Ningsih menoleh, menatap Yeni lurus-lurus dengan mata bajanya yang tajam dan menusuk.

"Tante Yeni, mulut anda sejak tadi malam sepertinya selalu membahas tentang harta, uang, dan warisan, ya? Apakah isi kepala anda memang se-miskin itu sampai tidak ada topik lain yang bisa dibicarakan?" balas Ningsih dengan santai.

Wajah Yeni seketika memerah padam mendengarnya. "Apa kamu bilang?!"

"Dengar baik-baik, dan catat ini di dalam otak anda. Perusahaan Adiwangsa yang aku pimpin saat ini, nilainya jauh lebih besar daripada seluruh aset gabungan milik papa yang ada di rumah ini. Jadi, jika anda berpikir saya datang ke sini untuk mengemis warisan seperti yang biasa anda lakukan dulu, anda salah besar. Aku tidak butuh sepeser pun uang dari rumah ini untuk menghidupi diri saya dan Luna."

Ningsih berdiri dari kursinya, merapikan pakaiannya dengan sangat anggun, lalu menatap Yeni dengan pandangan meremehkan.

"Justru aku yang harus memperingatkan anda. Jaga Nawang, agar bekerja dengan benar. Jangan sampai karena ketidakbecusan kalian dalam mengelola sisa aset papa, kalian berdua yang berakhir menjadi pengemis di jalanan. Mengerti?"

Yeni seketika bungkam seribu bahasa. Lidahnya mendadak kelu, tak mampu membalas sepatah kata pun karena semua ucapan Ningsih adalah fakta mutlak tentang kekuatan finansialnya saat ini.

Ningsih mengabaikan Yeni yang napasnya sudah memburu menahan malu dan amarah. Ia menunduk, mengusap kepala Luna dengan lembut.

"Luna sayang, habiskan rotinya. Setelah ini kita berangkat sekolah, ya."

"Siap, Mama!" jawab Luna dengan riang, sama sekali tidak terpengaruh oleh ketegangan orang dewasa di sekitarnya.

Ningsih kembali memenangkan pertempuran mental pagi itu, membuktikan sekali lagi bahwa posisinya sebagai wanita mandiri yang sukses tidak akan pernah bisa digoyahkan oleh wanita picik seperti Yeni.

"Mas, kenapa malah diam saja! Harusnya kamu belain aku dong!" protes Yeni.

"Apanya yang mau dibela. Salah kamu sendiri memancing amarah Ningsih," ucap Yudha beranjak dari duduknya, meninggalkan Yeni yang mengomel sendirian.

"Dasar bapak dan anak sama saja! Apa aku harus membuatmu sekarat dulu, baru kamu mau menyerahkan semuanya padamu mas?!" lirih Yeni kesal.

1
Kembarr Kembaarr
apem bosok di tawak2ne. ngono ko yoo enek seng gelem . tp seng gelem biasane podo bosok'e
Kembarr Kembaarr
lanangan nek wes diwei apem bosok lali anak bojo.
Kembarr Kembaarr
jngn terlalu bodoh ningsih. dn jngn terlalu banyak bicara buktikn kemampuanmu dn tunjukn pd laki2 gak guna itu
Kembarr Kembaarr
lepas saja ningsih laki macam itu. gak guna. dari pd stres sendiri punya suami tak tau diri
merry
ko ning msh ksh krjaan le selingkuhan mntn laki ya 🤔🤔🤔pdhl Hendra rela keluarin uang bnyk demi arumi bli tas mewah
arniya
luar biasa kak
Elina thea
semakin lama semakin menjengkelkan sich iklan2 ini...datang gak di jemput tapi pulang harus di antar....ngeselin bangettt,lagi enak2 baca juga....
Senja: Banyk iklan skrg ya kak? kok tumben yah ntoon iklan bejibun, coba di pengaturan hapenya
total 1 replies
Lesmana
makan noh yeni kelakuan lu tuh.. elu nolak cucu dr hendra , diksh dobel ama Tuhan..skalian keturunan elu putus sampai di nawang aja..😄😄😄
Lesmana
sadis gila nih nenek lampir😡😡 hendra cacat jg gara2 nolongin nawang anak elu sndr.. astagaa nyawa gak berharga amat yah dimata nih nenek lampir😭😭
Setiawan
loh td kan udah liat2an sama ningsih & satria..kog skrng nanya mana ningsih ??🙄🙄
Dewa Nara
baru mampir Thor
Lesmana
kirain rmh mamanya pun pny satria , secara satria kan prnh ngaku sama ningsih kalo dulu msh jaman sekolah , satria msh susah ekonominya..
Lesmana
mending janda ketauan gak perawan skalian , hilang perawan nya jg jelas.. drpd gadis tp gak perawan , gak jelas siapa yg merawanin😄😄😄
Setiawan
hendra keliatan nya sdh insyaf.. tp kog aneh yah , wkt mertua nya yudha serangan jantung , katanya krn dgr alasan hendra yg ribut dgn yeni , mamanya nawang.. hendra suruh yeni jualan rmh warisan kakek nawang utk nutupin hutang hendra.. kog gak dibahas lg yah wkt yudha sembuh ?? bukannya hendra cm korupsi 10M di ktr yudha doang yah ?? masa sih hendra ada hutang juga diluaran ?? 🙄🙄🙄
Setiawan
nih si nawang yah.. dulu hendra msh calon suami aja , dia cemburu sama ningsih , gak mau lelaki miliknya diganggu cwe lain.. eh eh eh skrng dia sndr yg gangguin lelaki org.. emang wataknya ulet bulu nih cwe.. emak nya aja yg mantan ulet bulu jd ikut malu liat kelakuan anaknya😄😄😄😄
Lesmana
author sadis🤣🤣🤣 udah ky ditampol bulak balik , pake sendal jepit pula🤣🤣🤣
Lesmana
kan kan si bloon🤣🤣 jelas2 lg hamil , jatuh pula😄😄😄
Lesmana
krn ningsih mau terima satria walopun dlm keadaan lumpuh.. nah elu ?? yg ada menghina satria cacat.. ente sombong pisan euyy 🤣🤣
Lesmana
elu emang sial , hendra...dimata elu , mantan slalu dah lbh indah.. pdhl arumi cm OB , msh aja di blng lbh modis , konslet emang otak si hendra kynya nih🤣🤣🤣
Lesmana
perasaan td satria ksh nya bunga matahari , gak sebut ada bunga mawar nya🙄🙄
Senja: blm kurevisi 🤣🤭
total 3 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!