"Mama akan menikah."
Kalimat itu menghantamku tanpa aba-aba.
"Aku tidak setuju, Ma..."
Suaraku bergetar, berharap keputusan itu masih bisa berubah.
"Mama berhak bahagia, Amerta."
Kalimat sederhana itu seolah menjadi palu yang menghancurkan seluruh angan-anganku.
Amerta Bunga Adiguna.
Namaku dipanggil untuk menerima kenyataan yang tak pernah siap kuhadapi.
Di balik rumah yang diselimuti nuansa temaram, berdiri seorang pria bertubuh tinggi dengan tatapan yang sulit ditebak. Ia hanya mengamati jalannya acara dari kejauhan, membiarkan keheningan berbicara lebih banyak daripada kata-kata.
Mahesa Putra Dirgantara.
Sosok yang kehadirannya perlahan mengubah seluruh jalan hidupku.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon bulane, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
chapter 16
Pukul 06.30 WIB. Suara deru mesin mobil mewah yang memasuki pelataran rumah memecah keheningan pagi yang berkabut. Disusul oleh suara ketukan pintu utama yang megah dan langkah kaki beberapa orang yang masuk ke dalam rumah.
Orang tua mereka telah pulang.
Di dalam kamar, Amerta terbangun lebih dulu. Alarm waspada di dalam otaknya langsung menyala begitu menyadari posisi tidurnya. Ia masih berada di dalam dekapan erat Mahesa, dengan tangan kekar pria itu yang melingkar posesif di pinggangnya sejak malam tadi. Mengabaikan rasa lemas yang tersisa di tubuhnya, Amerta menyentak tangan Mahesa dengan kasar dan bergeser menjauh hingga ke tepi ranjang.
Sentakan itu seketika membuat Mahesa membuka mata. Sepasang netra birunya langsung kembali tajam dan jernih, kehilangan seluruh gurat kehangatan yang sempat ia tunjukkan semalam saat memijat punggung Amerta.
"Mereka sudah datang," ucap Mahesa datar. Suaranya kembali bariton, dingin, dan penuh kendali. Ia duduk di tepi ranjang, merapikan kaus rumahan hitamnya yang sedikit kusut, lalu menoleh menatap Amerta yang sedang menatapnya dengan pandangan penuh permusuhan.
"Ingat aturan mainnya, Amerta," bisik Mahesa sambil berdiri, melangkah mendekati wajah gadis itu hingga jarak mereka hanya tersisa beberapa senti. "Satu kata saja keluar dari mulutmu tentang tiga hari kemarin, aku akan memastikan kuliahmu selesai detik ini juga. Jadilah adik manis yang baru saja sembuh dari demam akibat salah makan. Paham?"
Amerta mengepalkan tangannya di balik selimut. Bibirnya bergetar menahan tangis dan amarah. "Kamu monster, Kak Esa. Aku benci kamu."
Mahesa hanya menarik sudut bibirnya, membentuk senyuman miring yang dingin—topeng andalannya. Tanpa membalas makian itu, ia berbalik dan melangkah keluar kamar dengan tenang, tepat sebelum langkah kaki Mama terdengar menaiki anak tangga menuju lantai dua.
"Amerta! Sayang!"
Pintu kamar terbuka lebar. Mama masuk dengan raut wajah yang dipenuhi kecemasan, langsung berlari memeluk putri kandungnya. Di belakangnya, Ayah mengekor dengan wajah yang kelelahan namun tampak lega melihat putrinya sudah bisa duduk di atas ranjang.
"Astaga, Esa bilang kamu sakit parah sampai demam tinggi dua hari lalu? Kenapa tidak menelepon Mama, Sayang? Ponselmu ke mana? Mama hubungi sejak kemarin tidak aktif," cecar Mama bertubi-tubi sambil meraba dahi Amerta yang kini sudah mendingin.
Amerta melirik ke arah pintu. Di sana, Mahesa berdiri di ambang pintu dengan kedua tangan dimasukkan ke dalam saku celana. Tatapan mata birunya mengunci Amerta, seolah siap menerkam jika gadis itu berani membongkar rahasia mereka.
"P-ponsel Amerta rusak, Ma. Jatuh ke air waktu badai tiga hari lalu," bohong Amerta, suaranya serak dan bergetar karena menahan air mata yang mendesak keluar. Ia terpaksa menelan kembali semua kebenaran pahit bahwa ia dikurung tanpa makan. "Badan Amerta juga lemas karena salah makan waktu Kak Esa kerja."
"Esa sudah merawatnya sebaik mungkin, Ma, Ayah," potong Mahesa dengan nada suara yang luar biasa santun dan penuh tanggung jawab di depan orang tua mereka. "Esa membelikan obat dan memasak bubur untuk Amerta setiap pulang dari kantor. Untunglah pagi ini demamnya sudah benar-benar turun."
Ayah mengangguk-angguk bangga, menepuk pundak tegap Mahesa. "Terima kasih, Esa. Kamu benar-benar kakak sulung yang bisa diandalkan. Ayah tenang meninggalkan rumah kalau kamu bisa menjaga adikmu seperti ini."
Mendengar pujian Ayah untuk sang predator, dada Amerta terasa sesak luar biasa. Rasa tidak berdaya kembali mencengkeram jiwanya. Di bawah perlindungan orang tua mereka yang semu ini, Amerta menyadari bahwa ia harus mulai menyusun strategi baru. Mengamuk secara histeris tidak akan membuatnya menang dari manipulasi kejam Mahesa. Ia harus pura-pura patuh, memulihkan tenaganya, dan mencari celah untuk benar-benar melarikan diri dari sangkar emas ini sebelum orang tua mereka kembali pergi ke luar kota.