Menceritakan tentang kehidupan seorang gadis yatim piatu yang mengalami masa-masa sulit dalam kehidupannya.
Semua bermula sejak kematian kakeknya yang tewas terbunuh saat dia masih kecil, hingga dirinya yang dijual dan dijadikan sebagai gadis penghibur di sebuah rumah bordil ternama yang mengubahnya menjadi salah seorang wanita penghibur yang menjadi favorit para bangsawan dan pejabat istana.
Hingga suatu saat, dia harus memutuskan untuk masuk ke lingkungan istana karena kematian kekasihnya yang ternyata dalang dari seseorang yang tinggal di istana.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon embun_senja, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Part 33
Karena insiden perampokan itu, Mei Yin akhirnya memutuskan untuk kembali ke istana. Niatnya untuk pergi ke makam Lian akhirnya dia urungkan. "Pria itu kenapa dia bisa muncul di tempat itu? Apa dia sengaja mengikutiku, tapi kenapa dia mau membantuku?" ucap Mei Yin yang masih bingung dengan sikap pria menakutkan itu.
"Nyonya, syukurlah Nyonya sudah kembali," ucap Dayang Ling saat melihat Mei Yin yang muncul bersamaan dengan Liang Yi yang juga baru datang.
Mei Yin kemudian turun dari kudanya dan memberikan kudanya pada pengurus kandang, begitupun dengan Liang Yi yang melakukan hal yang sama.
"Nyonya, kenapa Nyonya bisa pulang bersamaan dengan pria menakutkan itu?" bisik Dayang Ling pelan.
Mei Yin tidak merespon pertanyaan pelayannya itu dan terus berjalan walau tatapan pria itu terus mengarah kepadanya.
"Sudahlah, ayo kita kembali," jawab Mei Yin yang terus berjalan dan berusaha menghindar dari tatapan pria yang menurutnya sangat menakutkan itu.
Sesampainya di dalam kamarnya, Mei Yin mengembuskan nafas panjang karena lega karena bisa terbebas dari tatapan pria menakutkan itu.
"Apa yang harus aku lakukan kalau pria itu sengaja mengikutiku? Apakah dia sengaja karena Permaisuri yang menyuruhnya?" tanya Mei Yin pada dirinya sendiri.
Walau hatinya gelisah, tapi dia berusaha untuk bisa menenangkan hatinya. Belum selesai permasalahannya dengan Pangeran, kini hadir lagi permasalahan baru yang membuatnya mau tidak mau harus bisa dia selesaikan.
"Kalau memang Pangeran sudah tidak lagi menginginkanku, maka aku harus bisa menerimanya. Aku harus tetap bertahan. Ah, apa yang harus aku lakukan untuk bisa membuktikan kejahatan Permaisuri? Dan pada siapa aku harus meminta bantuan kalau pangeran saja sudah tidak peduli padaku?" ucap Mei Yin yang mulai menyerah.
"Nyonya, cepatlah keluar!!" Tiba-tiba saja dia di kagetkan dengan teriakan Dayang Ling yang memanggilnya.
"Ada apa? Kenapa kamu berteriak?" Tanpa menjawab, Dayang Ling langsung meraih tangan majikannya itu dan menuju keluar kamar.
Di halaman villa, Pangeran Zhao Li telah berdiri dan memandanginya. Tanpa berkata apapun, Mei Yin kemudian mendekati Pangeran Zhao Li dan menundukkan kepalanya sembari memberi hormat.
"Paduka, silahkan masuk. Hamba akan ... "
"Tidak perlu. Segeralah ke halaman istana, aku akan menunggumu di sana," ucap Pangeran Zhao Li yang kemudian pergi.
Mei Yin menatap kepergian Pangeran Zhao Li dengan hati yang kecewa. "Kalau kamu yang meminta, dengan senang hati akan aku lakukan," ucapnya dalam hati.
Mei Yin kemudian pergi ke halaman istana. Di sana sudah ada Pangeran Zhao Li dan Permaisuri yang duduk bersama. Sementara di samping permaisuri, sudah berdiri pria dengan wajah yang menakutkan itu dengan sorot matanya yang tajam.
Mei Yin kemudian mendekati mereka seraya menunduk memberi hormat.
"Menarilah, aku ingin melihatmu menari. Aku tidak ingin tamuku kecewa dengan tarianmu. Karena itu, malam ini aku ingin melihat tarianmu apakah pantas untuk aku pertontonkan pada tamuku atau tidak," ucap Permaisuri yang terlihat sombong.
Mei Yin hanya mengangguk mengiyakan. Di depan mereka, Mei Yin akhirnya mulai menari. Di bawah sinar bulan, Mei Yin mulai menari dengan segenap kemampuannya dan itu bukan karena dia ingin menuruti permintaan permaisuri, tapi karena dia ingin menari di depan Pangeran yang sudah lama tidak dilakukannya.
Tarian Mei Yin yang selalu memukau ternyata membuat Permaisuri cemburu. Karena itu, Mei Yin selalu diperintahkan untuk mengulangi tariannya walau sebenarnya tariannya itu sudah lebih dari sempurna.
Sinar bulan yang awalnya begitu terang perlahan mulai tertutup awan hitam. Suara petir yang tiba-tiba menggelegar tak bisa menghalangi Mei Yin untuk terus menari. Tak lama kemudian, titik air hujan perlahan mulai turun dan membasahi tubuhnya.
"Menarilah dengan baik dan jangan pernah membuat kesalahan, kalau tidak aku akan membuatmu menari hingga matahari terbit," ancam Permaisuri yang sengaja membuat Mei Yin kesulitan.
Pangeran Zhao Li yang melihat wanita yang sangat dicintainya itu tersiksa hanya bisa mengepalkan kedua tangannya. Hatinya begitu terluka saat melihat Mei Yin diperlakukan seperti itu. Andai saja dia bisa menghentikannya, maka saat itu juga dia akan segera berlari ke arah gadis itu dan segera memeluknya.
Mei Yin yang kelelahan dan menggigil kedinginan masih terus menari, hingga akhirnya dia jatuh ke tanah dengan kakinya yang mulai merasa kesakitan.
"Apa hanya itu kemampuanmu? Ayo suamiku, kita pergi dari sini," ucap Permaisuri sambil menggandeng tangan Pangeran Zhao Li dan pergi dari tempat itu.
Sementara Mei Yin masih terduduk di tanah dengan air matanya yang mulai jatuh. Dia menangis karena kesepian. Dia menangis karena tidak mampu membuat Pangeran Zhao Li kembali padanya.
Liang Yi yang masih memperhatikannya kemudian berjalan mendekati gadis itu. Walau hatinya merasa iba, tapi dia tidak bisa berbuat apa-apa. "Nyonya, bangkitlah dan kembalilah ke kamar," ucap Liang Yi pelan.
"Kenapa? Kenapa kalian begitu kejam padaku? Apa salahku hingga permaisuri sangat membenciku? Aku tidak pernah meminta untuk di cintai, dan kenapa Permaisuri harus merebut orang yang aku cintai?" teriak Mei Yin yang diiringi suara petir yang menggelegar.
"Apakah kamu juga akan membunuhku? Bunuhlah aku!! Aku tidak akan mengelak. Kalau mati adalah jalan yang terbaik bagiku maka aku mohon, bunuhlah aku," ucap Mei Yin sambil memegang kedua kaki Liang Yi dan menangis sejadi-jadinya. Air mata yang selama ini coba dia tahan akhirnya jatuh. Tubuhnya yang mulai menggigil dengan bibirnya yang mulai pucat membuatnya tidak bisa lagi bertahan, hingga pandangannya gelap dan akhirnya tubuhnya pun ambruk ke tanah.
Melihat wanita di depannya itu jatuh pingsan membuat Liang Yi segera meraih tubuh gadis itu dan membawanya ke kamarnya.
"Nyonya, apa yang terjadi pada Nyonya? Kenapa Nyonya bisa pingsan seperti ini?" tangis Dayang Ling ketika melihat majikannya dibawa oleh pria yang menurutnya terlihat sangat kejam.
"Jangan menangis, cepat ganti pakaiannya, setelah itu minumkan dia teh jahe hangat," ucap Liang Yi sambil membaringkan tubuh Mei Yin yang masih tidak sadarkan diri.
"Aku tidak bisa karena Nyonya melarangku untuk membuka penutup wajahnya dan aku tidak mungkin melakukannya."
"Lalu, apakah kamu ingin aku yang melepaskan pakaiannya?" tanya Liang Yi yang membuat Dayang Ling menjadi bingung.
"Nyonya, cepatlah sadar, aku tidak ingin melanggar janjiku, Nyonya," ucap Dayang Ling sambil mengelus-elus pergelangan tangan majikannya itu yang terasa dingin.
"Apakah kamu ingin Nyonya kamu ini mati kedinginan? Kalau kamu tidak mau mengganti pakaiannya, biarkan aku yang akan melakukannya. Pergilah dan ambilkan aku secangkir teh jahe hangat."
Tanpa ragu, Dayang Ling kemudian pergi mengambil teh jahe hangat sesuai perintah pria itu. Sementara Liang Yi, mulai menutupi seluruh tubuh Mei Yin dengan selimut.
"Kalau aku tidak melepaskan pakaiannya, wanita ini bisa saja mati kedinginan. Hah, kenapa aku harus dihadapkan dengan situasi rumit seperti ini? Kenapa juga aku harus peduli pada wanita yang sama sekali tidak aku kenali?" ucap Liang Yi yang mulai kesal sendiri.
Setelah menutupi tubuh Mei Yin dengan selimut, Liang Yi kemudian mendekat dan perlahan membuka penutup wajah yang masih menutupi wajah gadis itu. "Apa aku harus melakukan ini?" ucap Liang Yi yang tampak ragu-ragu.
Dengan tangannya yang mulai gemetar, Liang Yi kemudian membuka cadar hitam yang masih melekat di wajah Mei Yin. Dengan perlahan, Liang Yi mulai membuka cadar itu dan betapa terkejutnya dia ketika melihat wajah yang sudah tidak asing lagi baginya. Wajah yang selalu dia rindukan. "Apa benar ini kamu, Mei Yin." Tangan Liang Yi gemetar saat mengelus wajah Mei Yin yang telah pucat dan tidak sadarkan diri. Dia seakan tidak percaya kalau wanita yang sangat dicintai dan dirindukannya itu kini ada di depannya.
Dengan air mata yang mulai jatuh, Liang Yi kemudian meraih tubuh Mei Yin dan segera memeluknya. "Maafkan aku karena tidak mengenalimu," ucap Liang Yi yang semakin mengeratkan pelukannya. Melihat kondisi Mei Yin yang belum sadarkan diri membuat Liang Yi semakin khawatir. Liang Yi kemudian memakaikan kembali cadar hitam yang tadi sempat dilepasnya dan tetap memeluk gadis itu untuk menghangatkan tubuhnya.
"Aku akan melindungimu, karena itu aku mohon bersabarlah. Sebentar lagi kita akan pergi dari sini dan tinggal di padang bunga seperti yang sudah aku janjikan padamu," ucap Liang Yi pelan sambil menatap wajah Mei Yin yang masih terdiam dalam pelukannya.
Liang Yi masih memeluk tubuh Mei Yin dan mengelus-elus punggungnya agar hangat. Hingga tak lama kemudian, Mei Yin perlahan mulai membuka matanya dan mendapati dirinya dalam pelukan seorang pria yang tentu saja membuat dia terkejut dan segera melepaskan diri dari pelukan pria itu.
"Apa yang sudah kamu lakukan padaku? Kenapa kamu memelukku di dalam kamarku??!" teriak Mei Yin yang mulai ketakutan.
"Nyonya, akhirnya Nyonya kembali sadar. Maafkan aku Nyonya, karena telah membiarkan pria ini masuk kedalam kamar Nyonya. Tadi Nyonya pingsan dan Tuan ini yang sudah membawa Nyonya ke kamar. Karena Nyonya kedinginan dan tidak sadarkan diri, aku ke dapur untuk mengambil teh jahe hangat untuk Nyonya dan Tuan ini berusaha menghangatkan Nyonya karena tubuh Nyonya yang menggigil kedinginan. Maafkan aku, Nyonya," jelas Dayang Ling sambil duduk berlutut meminta pengampunan.
Mendengar penjelasan Dayang Ling, Mei Yin perlahan mengingat kembali kejadian tadi saat dia meminta pria itu untuk membunuhnya.
"Aku tidak tahu niatmu menolongku, tapi kenapa kamu tidak membiarkan saja aku mati? Kenapa kamu harus susah payah menolongku dan aku tidak ingin kamu menyelamatkanku," ucap Mei Yin dengan air mata yang mulai jatuh.
"Kalau kamu ingin mati, maka selesaikan dulu tujuan hidupmu. Jangan biarkan hatimu terluka dan menghabiskan hidupmu dengan sia-sia. Apakah semudah itu kematian bagimu?" ucap Liang Yi yang membuat Mei Yin memandanginya.
"Tahu apa kamu tentang kematian. Aku sudah merasakan ditinggal mati orang-orang yang aku sayangi. Aku sudah merasakan kehilangan orang-orang yang aku cintai, lalu untuk apa aku hidup kalau aku tidak bisa melakukan apapun untuk mereka?" tangis Mei Yin pecah. Dia tidak bisa membendung rasa bersalahnya hingga membuatnya menangis dan terus menangis. Sementata Liang Yi tak kuasa menahan air matanya karena melihat wanita yang paling dia cintainya itu menangis sendirian tanpa dirinya bisa berbuat apa-apa.
Liang Yi kemudian keluar dari kamar itu dengan air mata yang tak bisa lagi dia tahan. Dengan mengepalkan kedua tangannya, Liang Yi lalu pergi ke sebuah taman kecil yang biasa di pakainya untuk berlatih.
Sesampainya di taman itu, Liang Yi kemudian mengeluarkan pedangnya dan mulai melakukan gerakan kung fu yang terlihat lincah. Dengan lihainya, Liang Yi mulai mengayunkan pedangnya dan melakukan gerakan seakan sedang bertarung. Gerakannya yang terlihat mematikan itu semakin cepat dan pedangnya mulai menebas batang-batang pohon yang hampir saja tumbang andai saja dia tidak segera menghentikan gerakannya itu.
Dengan matanya yang memerah dan air mata yang mulai menggenang, Liang Yi kemudian menancapkan pedangnya ke atas tanah dan terduduk di depan pedang itu.
"Aku tidak akan membuatmu kehilangan lagi. Aku akan tetap hidup karena aku tidak ingin meninggalkanmu. Aku ingin menghabiskan sisa hidupku bersamamu dan aku akan membalaskan dendammu. Mei Yin, tolong tetaplah hidup karena aku tidak ingin kehilanganmu lagi," ucap Liang Yi yang menunduk dengan air mata yang jatuh.
"Aku akan melindungimu, dan aku mohon tunggulah aku, Mei Yin."
*****
Sudah dua hari Mei Yin tidak meninggalkan kamarnya. Dia masih terbaring lemah karena demam yang sudah di deritanya sejak malam itu. Sementara Dayang Ling masih setia menemaninya dan membawakannya ramuan obat yang dibuatnya sendiri.
"Nyonya, sudah dua hari demam Nyonya belum juga turun. Apa sebaiknya aku memanggil tabib istana?"
"Tidak usah, aku hanya butuh istirahat. Buatkan saja aku ramuan obat seperti biasa, maafkan aku karena sudah membuatmu susah," ucap Mei Yin sambil meminta semangkok ramuan obat yang tadi dibawa Dayang Ling.
Dayang Ling kemudian membawa mangkok obat dan menyerahkannya pada majikannya itu, tapi sebelum itu Mei Yin perlahan membuka penutup wajahnya di depan Dayang Ling dan membuat Dayang Ling segera memalingkan wajahnya.
"Tidak perlu berpaling, aku tahu kamu kesusahan karena janji yang sudah kamu buat, aku tidak akan memakai cadar kalau hanya ada kita berdua," ucap Mei Yin sambil melepaskan penutup wajahnya itu.
Dayang Ling yang mulai penasaran perlahan membalikkan tubuhnya dan menatap lurus ke arah majikannya itu dan betapa dia terpesona dengan kecantikan wajah Mei Yin walau terlihat sedikit pucat.
"Nyonya, ternyata Nyonya sangat cantik," puji Dayang Ling yang begitu terpesona dengan kecantikan majikannya itu.
Setelah meminum ramuan obat, Mei Yin kembali berbaring dan memejamkan matanya. Sesaat, dia mengingat kembali perkataan pria itu yang perlahan membuatnya tersadar kalau tujuan hidupnya kini adalah membuat Permaisuri menebus kejahatannya pada Lian dan keluarga angkatnya itu.
Liang Yi yang belum melihat Mei Yin selama dua hari ini perlahan mulai merasa khawatir. Dia ingin ke kamar gadis itu sekedar untuk menanyakan keadaannya, tapi itu tidak mungkin dia lakukan. Perasaan khawatir yang terus mengganggunya akhirnya membuatnya nekat pergi ke villa bunga.
Apa Lian itu kekasih yg di sebut di prolog itu.... Yg mati krna orang istana??
bingung aku🤔🤔