Ratna Wulandari, dokter desa berusia enam puluh tahun, telah mengabdikan 37 tahun hidup untuk suami Bambang dan seluruh keluarga. Namun sebuah paket terlarang membongkar rahasia gelap suaminya: selama puluhan tahun ia berselingkuh dengan cinta pertama Sari, rutin kirim uang, belikan rumah bahkan pesan kavling makam pasangan untuk berdua. Saat Ratna buktikan semua fakta ke anak-anaknya, mereka justru minta dia diam demi nama keluarga dan harta. Dikhianati suami, diabaikan anak, Ratna akhirnya berhenti bersabar dan berjuang merebut hak hidupnya yang sempat terbuang sia-sia.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Anindita Kirana, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Episode 23
Bab 23 - Saudara yang Datang
Berita tentang Arman Wibisana sampai ke keluarga besar Ratna lebih cepat daripada surat panggilan sidang.
Pagi itu, Ratna baru selesai memeriksa stok obat ketika sebuah mobil kecil berhenti di depan klinik. Dari dalamnya turun kakak laki-lakinya, Surya Wulandari, bersama istrinya, Rukmini. Di belakang mereka, adik perempuan Ratna, Lilis, turun sambil membawa kantong buah.
Ratna menatap mereka dari pintu klinik.
Sudah lama mereka tidak datang bersama.
Biasanya Surya menelepon hanya saat butuh surat keterangan sehat untuk cucunya. Lilis datang kalau ada arisan dekat kampung dan ingin menumpang istirahat. Rukmini jarang datang karena selalu merasa rumah Ratna terlalu dekat dengan bau obat.
Hari itu mereka datang dengan wajah penuh perhatian.
Ratna langsung curiga.
"Mas Surya. Mbak Rukmini. Lis. Ada yang sakit?"
Surya tertawa keras. "Adik sendiri disangka pasien."
"Karena datangnya ke klinik."
Lilis mengangkat kantong buah. "Kami dengar kamu kurang sehat. Ini buah."
Ratna menerima kantong itu. Isinya apel, jeruk, dan anggur. Bukan buah pasar biasa. Pasti dibeli di supermarket kota.
"Terima kasih. Masuk."
Mereka masuk ke ruang tunggu. Ratna menutup pintu setengah, tetapi tidak mengunci. Ia tidak ingin percakapan keluarga berubah menjadi panggung, namun juga tidak ingin terjebak.
Surya duduk dengan napas berat. Usianya hampir tujuh puluh, tetapi gaya bicaranya masih seperti kakak yang merasa berhak memberi arahan. Rukmini duduk di sampingnya, mata bergerak mengamati ruangan. Lilis langsung melihat kamar belakang klinik.
"Kamu benar tidur di sini?"
"Sementara."
Lilis menghela napas dramatis. "Ya Allah, Rat. Kamu ini dokter, punya anak tiga, masa tidur di kamar sekecil itu?"
Ratna menuang air mineral ke gelas plastik.
"Kecil, tapi cukup."
Surya berdeham. "Kami sebenarnya datang mau bicara baik-baik."
"Tentang Bambang?"
"Tentang kamu."
Ratna duduk.
Rukmini memulai dengan suara lembut yang dibuat-buat. "Rat, kami dengar kamu kenal Pak Arman Wibisana."
Ratna memandangnya.
Langsung ke inti.
Baiklah.
"Kenal karena beliau menolong saya saat dijambret."
Lilis condong ke depan. "Tapi katanya beliau datang ke sini. Bahkan mencarikan rumah."
"Kata siapa?"
Lilis tersenyum canggung. "Orang-orang cerita."
"Orang-orang punya banyak waktu."
Surya mengangkat tangan. "Kami tidak mau menghakimi. Justru kami senang kalau ada orang baik membantu kamu. Bambang memang keterlaluan. Mas dari dulu juga kurang sreg sama dia."
Ratna hampir tertawa.
Surya dulu yang paling mendukung pernikahannya dengan Bambang karena keluarga Bambang dianggap punya nama baik. Ketika Ratna ingin tetap bekerja di RSUD, Surya juga berkata istri sebaiknya dekat suami.
Sekarang ia "dari dulu kurang sreg".
"Lalu?" tanya Ratna.
Surya tersenyum. "Begini. Anak Lilis, si Fajar, kan baru lulus kuliah. Sudah setahun cari kerja belum dapat. Kalau benar Pak Arman punya perusahaan besar, mungkin kamu bisa titip..."
"Mas."
Surya berhenti.
Ratna menatapnya. "Saya baru kenal beliau."
"Kenal juga hubungan. Tidak harus minta besar-besar. Cuma titip CV."
Lilis cepat menimpali. "Iya, Rat. Fajar anak baik. Daripada kerja tidak jelas, kalau masuk perusahaan besar kan masa depannya bagus. Kamu tinggal bilang saja."
Ratna menatap adiknya. "Aku sedang menggugat cerai. Tinggal di klinik. Lengan masih memar. Dan yang kalian pikirkan pekerjaan Fajar?"
Lilis tersinggung. "Kok ngomong begitu? Kami juga khawatir padamu."
"Khawatirnya setelah dengar nama Arman Wibisana."
Rukmini menyela, "Ratna, jangan sensitif. Keluarga itu saling bantu. Kalau kamu nanti dekat dengan orang besar, keluarga juga ikut terbantu. Itu wajar."
Ratna meletakkan gelasnya.
"Tidak wajar bagiku."
Surya mengerutkan kening. "Kamu berubah."
"Kalimat itu sedang populer akhir-akhir ini."
"Dulu kamu tidak pernah pelit."
Ratna menatap kakaknya.
Pelit.
Kata itu sering dipakai keluarga ketika perempuan mulai menolak memberi.
"Mas, aku pernah membantu biaya sekolah keponakan. Pernah membantu bayar rumah sakit Ibu. Pernah meminjamkan uang ke Lilis yang sampai sekarang tidak kembali. Waktu anak-anakku menikah, aku tidak pernah merepotkan kalian. Kalau hari ini aku menolak meminta pekerjaan pada orang yang baru kukenal, itu bukan pelit. Itu tahu malu."
Lilis memerah. "Kamu mengungkit?"
"Iya."
Ruangan sunyi.
Ratna sendiri terkejut betapa mudah kata itu keluar.
Dulu ia paling takut disebut mengungkit. Perempuan baik harus memberi lalu lupa. Tetapi orang yang menerima sering tidak lupa untuk meminta lagi.
Surya berkata dengan nada berat, "Kami ini keluargamu."
"Aku tahu."
"Jangan karena sekarang ada orang kaya mendekat, kamu merasa tidak butuh saudara."
Ratna tertawa pelan.
"Mas, saat Bambang menyakitiku, apakah Mas datang sebelum mendengar tentang Arman?"
Surya terdiam.
Rukmini mencoba menyelamatkan. "Kami baru tahu jelasnya sekarang."
"Kalian tahu aku pindah ke klinik?"
Lilis menunduk.
"Tahu."
"Tapi baru datang setelah dengar Arman?"
Tidak ada jawaban.
Ratna mengangguk. "Cukup."
Surya tampak marah. "Jadi kamu tidak mau bantu Fajar?"
"Tidak."
"Titip CV saja tidak mau?"
"Tidak."
"Kalau Pak Arman sungguh menyukaimu, hal sekecil itu tidak masalah."
Ratna menatapnya dingin. "Justru karena mungkin dia menghormatiku, aku tidak akan memakainya untuk membayar utang budi keluarga."
Lilis berdiri. "Kamu sombong sekarang."
"Mungkin. Atau mungkin aku baru bisa berkata tidak."
Rukmini menarik tangan Lilis, memberi tanda agar tidak ribut.
Surya berdiri pelan. "Ingat, Rat. Laki-laki kaya tidak selalu serius. Kalau nanti kamu dibuang, jangan sampai keluarga sudah kamu sakiti."
Ratna ikut berdiri.
"Aku tidak menolak kalian karena Arman. Aku menolak karena permintaan kalian tidak pantas."
"Keluarga sendiri kamu bilang tidak pantas?"
"Iya."
Surya menatapnya lama, lalu berbalik keluar. Rukmini mengikuti. Lilis berhenti sebentar di pintu.
"Rat, aku benar-benar butuh bantuan untuk Fajar."
Ratna melembut sedikit. "Suruh Fajar kirim lamaran sendiri ke perusahaan mana pun yang dia mau. Kalau dia butuh latihan wawancara, aku bisa bantu. Kalau butuh ongkos cetak berkas, aku beri. Tapi aku tidak akan meminta Arman."
Lilis tampak ingin membantah, tetapi akhirnya pergi.
Setelah mereka hilang, Bu Rini muncul di pintu dengan wajah serba salah.
"Saya tidak sengaja dengar."
Ratna menatapnya.
Bu Rini cepat mengangkat tangan. "Sedikit saja. Bagian Fajar."
Ratna menghela napas.
Bu Rini meletakkan sebungkus nasi uduk di meja.
"Bu Dokter belum makan, kan?"
"Bu Rini, semua orang sekarang datang membawa sesuatu."
"Saya bawa nasi, bukan permintaan kerja."
Ratna tidak bisa menahan tawa.
Ia membuka nasi uduk itu setelah Bu Rini pergi. Aromanya hangat, sederhana, tidak punya maksud tersembunyi.
Sore harinya, Arman mengirim pesan.
Arman: Kontrak rumah sudah disiapkan. Ibu bisa baca dulu. Tidak perlu jawab cepat.
Ratna menatap pesan itu lama.
Jarinya bergerak membalas.
Ratna: Pak Arman, keluarga saya mulai meminta bantuan melalui saya.
Balasan Arman datang beberapa detik kemudian.
Arman: Saya menduga itu akan terjadi.
Ratna: Maka sebaiknya kita menjaga jarak.
Kali ini Arman tidak langsung membalas.
Ratna menunggu dengan dada yang entah kenapa terasa berat.
Akhirnya pesan masuk.
Arman: Kalau itu yang Ibu butuhkan, saya hormati. Tapi jangan menjauh karena kesalahan orang lain.
Ratna membaca kalimat itu berkali-kali.
Ia ingin percaya.
Tetapi hari itu, setelah melihat wajah kakak dan adiknya, Ratna mengerti satu hal: hubungan dengan Arman tidak hanya membawa perhatian.
Ia membawa pintu.
Dan begitu pintu itu terlihat, banyak tangan akan mencoba masuk.
Malamnya, Surya mengirim pesan panjang.
Isinya bukan permintaan maaf. Ia menulis bahwa Ratna terlalu terbawa emosi, bahwa keluarga seharusnya saling mengangkat, bahwa Fajar sudah seperti anak Ratna sendiri karena dulu sering main ke rumah saat kecil.
Ratna membaca sampai selesai.
Lalu ia membalas pendek:
Ratna: Mas, aku bisa membantu Fajar menyiapkan lamaran. Aku tidak akan memakai nama Pak Arman.
Surya membalas hampir langsung.
Surya: Kamu sekarang hitung-hitungan.
Ratna menatap kalimat itu lama. Dulu ia akan gelisah. Ia akan menjelaskan, meminta dimengerti, bahkan mungkin akhirnya mengalah agar tidak dianggap berubah.
Sekarang ia hanya meletakkan ponsel.
Beberapa menit kemudian, Lilis menelepon. Ratna tidak mengangkat. Bukan karena benci, melainkan karena tahu percakapan itu hanya akan berputar di tempat yang sama.
Ia membuat teh tawar, duduk di teras rumah sewa yang belum banyak perabot, dan mendengarkan suara motor lewat.
Arman tidak mengirim pesan lagi malam itu.
Mungkin ia benar-benar menjaga jarak setelah membaca pesan Ratna.
Ratna merasa lega dan kecewa dalam waktu yang sama.
Perasaan manusia ternyata merepotkan. Ia bisa menolak seseorang demi menjaga diri, lalu merasa kehilangan ketika orang itu menghormati penolakannya.
Ratna menertawakan dirinya sendiri pelan.
"Dasar tua bodoh," gumamnya.
Namun kali ini, kata bodoh itu tidak ia ucapkan dengan benci.
Lebih seperti perempuan yang baru belajar mengenali hatinya sendiri, lalu menemukan hati itu masih bisa bergerak.
keren bued...
Bu Rini bukan nya punya warung dkt klinik Bu Ratna dl?
Iki sing bener sing mana?
koq ga ada mediasi dan sidang?
ato pas crita ini di skip?
ini td melati di awal katanya hamil anak ke2
koq ini bilang blm PNY anak
ini Bu Ratna pindah ke kontrakan dkt ma rmh pak RT? Bu Rini juga? ato ak yg gagal paham nich?
emosiiii akuuuuu
Sayang ya Melati kaya bikin ibunya jd pelacur dg meminta pd lelaki lain yg masih bs dibilang bukan siapa²nya, cuma kenalan