NovelToon NovelToon
Epos Tak Berujung: Pedang Sampah Terbang

Epos Tak Berujung: Pedang Sampah Terbang

Status: sedang berlangsung
Genre:Sci-Fi / Action / Fantasi
Popularitas:107
Nilai: 5
Nama Author: Liam Harrison

Kaelen—seorang pendekar dengan pedang besi berkarat yang menyimpan misteri dimensi lain—bersama Lyra, seorang alkemis cerdas berdarah dingin, nekat menerobos reruntuhan kuil kuno peninggalan Mazhab Pedang Purba.

Diintai oleh bayangan mematikan dari Faksi Tengkorak Darah dan desakan ancaman dari pengkhianat faksi lokal bernama Vance, perjalanan mereka bukan sekadar pelarian, melainkan perburuan berbahaya demi menemukan Jiwa Artefak Reruntuhan Langit. Menghadapi entitas Qi gelap, formasi penjara kuno, dan bisikan purba yang menguji jiwa, Kaelen dan Lyra harus mempertaruhkan nyawa untuk mengungkap kebenaran di balik masa lalu yang terkubur, sebelum perangkap pengkhianatan merenggut nyawa mereka di ujung lorong yang sunyi.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Liam Harrison, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 17: Puncak Keheningan dan Pembalasan Abadi

Sambaran petir ungu yang mengamuk di langit-langit gua reruntuhan memantulkan bias cahaya yang menyayat mata di atas platform batu hitam. Udara mendidih, dipenuhi oleh aroma ozon, belerang, dan sisa-sisa debu kosmik yang beterbangan akibat benturan tenaga dalam tingkat tinggi. Di tengah kawah kecil yang tercipta dari hantaman Jurus Pemusnah Langit, Kaelen berdiri tegak tanpa goresan sedikit pun. Sayap transparan berbalut pendaran cahaya biru keperakan di punggungnya mengepak pelan, mengibarkan gelombang energi kosmik yang menepis seluruh sisa badai petir seketika.

Xuan Ming terpaku di tempatnya. Sepasang iris mata merah darah penatua agung itu melebar selebar-lebarnya, merefleksikan rasa tidak percaya yang teramat sangat. Pria paruh baya itu mengerahkan seluruh sisa kultivasi tingkat puncaknya, menguras habis esensi Jantung Bayangan yang baru saja ia serap, namun serangan pamungkasnya justru diabaikan begitu saja oleh pemuda di hadapannya.

"I-itu tidak mungkin..." suara Xuan Ming bergetar hebat, air muka angkuhnya runtuh seketika digantikan oleh kepanikan primordial. "Serangan itu... seharusnya mampu meleburkan gunung batu menjadi debu! Bagaimana bisa kau menerimanya tanpa kehilangan setetes pun darah?!"

Kaelen tidak langsung menjawab. Ia memutar pergelangan tangannya perlahan, membuat pedang baja gelap di genggamannya berdengung merdu—sebuah suara yang menyerupai nyanyian alam semesta dari era purba. Setiap kali bilah transparan itu bergeser, celah-celah kecil di dimensi ruang sekitar mereka tampak terbelah dan menutup kembali secara insting.

"Kau mengira kekuatan diperoleh dari cara merampas, menjadikan jiwa-jiwa tak bersalah sebagai tumbal, dan memperbudak esensi leluhur demi ambisi egoismu," ucap Kaelen datar, suaranya tenang namun bergema memenuhi seluruh rongga jurang, menenggelamkan deru angin Pusaran Kabut Abadi. "Itulah sebabnya kultivasimu hanyalah cangkang kosong yang rapuh. Kau tidak memahami esensi sejati dari pedang, maupun takdir yang kau coba belokkan."

Mendengar kalimat itu, amarah Xuan Ming meledak melampaui batas kewarasan. Wajahnya yang semula tampak kembali muda akibat proses pemudaan paksa mendadak berkerut mengerikan, urat-urat lehernya menonjol keluar, dan pembuluh darah di kedua matanya pecah, mengalirkan air mata darah.

"Keparat kau! Jangan mengguruiku dengan omong kosong murahan itu!" maki Xuan Ming histeris. Ia merentangkan kedua tangannya lebar-lebar, memanggil kembali bola energi hitam kemerahan—Jantung Bayangan—yang bersemayam di atas altar batu. Bola itu berdenyut liar, menyerap sisa-sisa kegelapan dari seluruh dinding gua hingga membesar dua kali lipat dari ukuran semula. "Jika aku tidak bisa meremukkanmu, maka mari kita hancur bersama-sama di dalam kehampaan dimensi ini!"

Xuan Ming menghimpun seluruh sisa tenaga dalamnya dalam satu titik bunuh diri, berniat meledakkan inti Jantung Bayangan untuk memicu keruntuhan total ruang kendali bawah tanah tersebut. Tekanan gravitasi di sekitar platform melonjak drastis, membuat sisa-sisa jembatan batu yang menghubungkan mereka mulai retak dan runtuh berjatuhan ke dalam jurang kegelapan.

Di seberang jurang, Mo Xingchen berteriak panik sambil menahan keseimbangannya. "Kaelen! Dia gila! Dia akan meledakkan Jantung Bayangan! Cepat hentikan dia!"

Lyra, yang berhasil bangkit dari posisi bertarungnya, mengepalkan kedua tangan erat-erat di dekat dada. Meskipun sekujur tubuhnya dipenuhi luka bakar ringan dan kelelahan yang teramat sangat, matanya tidak beralih sedikit pun dari sosok Kaelen di tengah badai energi tersebut. Gadis itu tahu, dalam situasi hidup mati itu, tidak ada hal lain yang bisa ia lakukan selain mempercayakan keselamatan mereka sepenuhnya pada pemuda yang dicintainya.

Kaelen menatap tindakan nekat Xuan Ming dengan sorot mata yang dipenuhi belas kasihan hampa. Ia tidak panik, tidak pula menunjukkan keraguan. Sebaliknya, Kaelen menutup kedua matanya sejenak, membiarkan pikirannya menyatu sepenuhnya dengan kesadaran kolektif dari Jiwa Artefak Reruntuhan Langit.

Saatnya mengakhiri siklus penderitaan ini.

Ketika Kaelen membuka kembali matanya, iris hitamnya telah bertransformasi sepenuhnya menjadi lautan bintang yang berputar tenang. Ia melangkah maju satu langkah, namun dalam sepersekian detik, tubuhnya lenyap dari pandangan. Jurus Teknik Jiwa Pedang Hampa mencapai bentuk tertingginya—bukan lagi sekadar kecepatan fisik, melainkan kemampuan untuk menembus dan memanipulasi ruang hampa itu sendiri.

Sebelum Xuan Ming sempat menyelesaikan mantra peledakan intinya, Kaelen sudah berdiri tepat di hadapan penatua agung tersebut. Jarak di antara mereka yang tadinya terbentang belasan meter seolah terhapus begitu saja oleh hukum kehampaan.

Xuan Ming terkesiap, dadanya terasa sesak bukan karena tekanan fisik, melainkan karena ujung bilah pedang baja gelap milik Kaelen kini sudah menempel tepat di tengah-tengah dadanya—menembus lapisan perisai spiritual tertebal yang ia miliki tanpa menimbulkan suara benturan apa pun.

"S-satu langkah..." bisik Xuan Ming terbata-bata, darah segar mengocor deras dari mulutnya, membasahi jubah sutra putih yang kini ternoda merah. "Bagaimana mungkin... gerakannya sama sekali tidak memiliki lintasan..."

"Karena pedang ini tidak memotong ruang, melainkan menghapus keberadaan di tempat di mana ia diayunkan," jawab Kaelen dingin.

Kaelen tidak menusuk lebih dalam atau mengoyak organ tubuh musuhnya secara brutal. Ia hanya memutar pergelangan tangannya perlahan, membiarkan resonansi hampa dari bilah pedangnya menyerap seluruh aliran Qi, memori, dan esensi kegelapan yang selama puluhan tahun dikumpulkan oleh Xuan Ming.

Proses itu terjadi dalam keheningan yang mencekam. Xuan Ming bisa merasakan kehidupannya ditarik keluar dari raganya bukan dengan rasa sakit fisik yang hebat, melainkan dengan sensasi dingin yang merayap dari dada ke seluruh ujung jemarinya, membuat tubuhnya membeku seketika. Kulitnya yang sempat kembali muda berangsur-angsur menua dalam hitungan detik, keriput kembali mendera wajahnya, rambut hitam legamnya rontok dan berubah menjadi putih abu-abu, hingga akhirnya sosok paruh baya itu berubah menjadi pria renta yang nyaris tak dikenali.

"Tidak... aku... aku adalah penguasa..." rintih Xuan Ming dengan suara yang semakin lama semakin parau, sebelum akhirnya butiran debu hitam mulai terkelupas dari kulit tangannya dan tersapu oleh angin hampa.

Dalam hitungan detik berikutnya, tubuh fisik Xuan Ming hancur lebur menjadi abu halus yang melayang dan lenyap ditelan oleh pusaran angin di atas jurang keabadian. Tidak ada sisa darah, tidak ada jasad yang tertinggal—hanya keheningan mutlak yang kembali merajai ruangan tersebut.

Bersamaan dengan lenyapnya Xuan Ming, bola energi Jantung Bayangan yang tadinya mengamuk liar mendadak kehilangan pasokan energi pengendalinya. Pusaran hitam kemerahan itu bergetar hebat, lalu perlahan-lahan menyusut ukurannya menjadi sebesar kepalan tangan biasa, memancarkan cahaya biru keemasan yang hangat dan menenangkan—wujud asli dari esensi murni artefak sebelum dicemari oleh ilmu hitam Sekte Kuno.

Di kejauhan, para Tetua Bayangan berjubah emas yang tersisa melihat pemimpin tertinggi mereka musnah tanpa perlawanan berarti. Mental mereka runtuh seketika. Keberanian dan kesetiaan palsu yang dibina di atas fondasi keserakahan hancur berkeping-keping. Tanpa aba-aba, beberapa dari mereka memilih melarikan diri kocar-kacir menuruni sisa-sisa lorong, sementara sebagian lainnya menjatuhkan senjata dan bersujud di atas lantai batu, menyerah pada takdir yang tidak lagi bisa mereka elakkan.

Kaelen menarik napas panjang. Ia mengulurkan tangan kirinya ke depan, menangkap bola Jantung Bayangan yang kini telah murni tersebut. Begitu bola itu bersentuhan dengan telapak tangannya, energi hangat langsung meresap ke dalam dantian Kaelen, menyatukan seluruh fragmen artefak yang tersebar menjadi satu kesatuan yang utuh dan sempurna.

Sayap transparan di punggung Kaelen perlahan-lahan memudar, kembali menyatu ke dalam tubuhnya, sementara pedang baja gelap di tangan kanannya mengeluarkan kilatan cahaya biru terang sebelum kembali bersarang di dalam sarungnya dengan tenang.

Kaelen berbalik arah, melangkah tenang melewati puing-puing reruntuhan menuju ke arah Mo Xingchen dan Lyra yang masih berdiri terpaku di seberang jembatan yang tersisa. Dengan menggunakan sedikit sisa energi kosminya, Kaelen menciptakan jembatan cahaya transparan sementara yang menghubungkan kedua sisi jurang, memungkinkan Mo Xingchen dan Lyra untuk menyeberang dengan aman.

Begitu menginjakkan kaki di platform utama, Lyra langsung berlari kecil dan menghambur memeluk tubuh Kaelen erat-erat. Gadis itu tidak peduli lagi pada rasa sakit di bahunya atau kelelahan yang mendera; air mata kelegaan tumpah begitu saja membasahi pundak jubah Kaelen.

"Kaelen... kau berhasil..." bisik Lyra parau, suaranya bergetar hebat di dalam dekapan pemuda tersebut. "Aku sempat takut... aku takut kita tidak akan bisa keluar dari tempat ini."

Kaelen membalas pelukan itu dengan lembut, tangan kanannya mengusap punggung Lyra perlahan untuk menenangkan gemetar di tubuh gadis tersebut. "Sudah kubilang, semuanya akan baik-baik saja. Perjalanan panjang kita akhirnya terbayar lunas."

Mo Xingchen berjalan mendekati mereka dengan langkah pelan, tongkat kayunya mengetuk lantai marmer secara berirama. Pria tua itu menatap ke arah altar tempat Jantung Bayangan tadi berada, lalu beralih menatap Kaelen dengan tatapan penuh rasa hormat yang teramat dalam. Air mata keruh tampak menggenang di sudut mata kataraknya.

"Sumpah leluhur kita... akhirnya tertunai malam ini," ucap Mo Xingchen dengan suara serak penuh haru. Ia menjatuhkan diri berlutut di hadapan Kaelen, gestur penghormatan tertinggi yang hanya diberikan kepada pemimpin sejati dari sekte yang telah bangkit kembali. "Terima kasih, pendekar muda... Terima kasih telah membebaskan arwah-arwah leluhur kami dari kutukan abadi."

Kaelen segera membungkuk dan mengangkat tubuh Mo Xingchen agar berdiri tegak kembali. "Jangan lakukan itu, Kakek Mo. Kemenangan ini bukan milikku seorang, melainkan hasil dari keteguhan kita semua dalam mempertahankan kebenaran di tengah dunia yang gelap."

Suasana di dalam ruang kendali kuno itu perlahan-lahan mulai berubah. Seiring dengan pulihnya esensi murni Jiwa Artefak, formasi labirin dan kabut ilusi yang menyelimuti Pusaran Kabut Abadi di luar sana mulai menipis, digantikan oleh masuknya udara segar dari permukaan dunia luar yang membawa kehangatan fajar pagi. Langit kelabu yang selalu mendung di atas Lembah Bintang Kelabu dan kawasan sekitarnya mendadak terbelah oleh sinar matahari keemasan yang menembus celah-celah pegunungan, menyinari daratan luas yang lama tertidur dalam bayang-bayang ketakutan.

Namun, di balik kedamaian yang baru saja tercipta, Kaelen tahu bahwa lembaran sejarah dunia kultivasi tidak akan pernah berhenti berputar di sini. Runtuhnya Faksi Sekte Kuno di wilayah barat hanyalah riak kecil dari pusaran konflik yang jauh lebih besar di daratan tengah, tempat di mana sekte-sekte raksasa dan para penguasa absolut bersemayam di atas singgasana kekuasaan mereka. Berita tentang kebangkitan artefak purba di tangan seorang pemuda misterius pasti akan segera menyebar luas seperti api di musim kering, memicu gelombang perburuan baru dari para petinggi sekte besar yang haus akan kekuatan mutlak.

Kaelen meraba gagang pedangnya yang kini terselip rapi di pinggang. Tidak ada rasa gentar di dalam hatinya. Dengan pemahaman mutlak atas Teknik Jiwa Pedang Hampa dan keselarasan penuh dengan Jiwa Artefak Reruntuhan Langit, ia bukan lagi pemuda pelarian yang harus bersembunyi di balik bayang-bayang malam.

"Apa rencana kita selanjutnya setelah ini, Kaelen?" tanya Lyra setelah melepas pelukannya, merapikan helai rambut peraknya yang sedikit berantakan sambil menatap lurus ke arah Kaelen dengan binar mata penuh keyakinan.

Kaelen menoleh ke arah fajar yang sedang merekah di ufuk timur, tempat di mana menara-menara megah dari aliansi sekte daratan tengah berdiri menantang langit. Senyum tipis yang penuh wibawa terukir di bibirnya.

"Kita pulang ke daratan tengah," jawab Kaelen mantap. "Sudah waktunya bagi kita untuk mendatangi para penguasa angkuh itu, dan menagih pertanggungjawaban atas setiap tetes darah yang mereka tumpahkan di masa lalu."

Bersama Mo Xingchen yang memutuskan untuk mendampingi perjalanan mereka sebagai saksi sejarah, Kaelen dan Lyra melangkah meninggalkan ruang kendali kuno yang kini kembali damai. Mereka berjalan menyeberangi jembatan cahaya, menyambut fajar baru yang bersinar terang di atas reruntuhan abadi, siap mengukir takdir baru yang akan mengguncang seluruh penjuru dunia kultivasi untuk selamanya.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!