"Raka Laksana — yatim piatu, detektif gagal, ditertawakan semua orang. Sampai malam itu, sebuah sistem bangkit dalam dirinya: “Sistem Penghakiman”. Mata Dosa yang bisa membaca dosa siapa pun. Buku Penghakiman yang bisa menjatuhkan hukuman di hadapan seluruh negeri. Kekuatan yang tak dimiliki polisi, jaksa, atau hakim mana pun.
Menyamar sebagai konsultan biasa di Satreskrim Kota Elang Biru, Raka membongkar kasus demi kasus — pembunuhan, sindikat perdagangan manusia, konspirasi elite — sambil menyembunyikan identitas aslinya sebagai eksekutor bayangan. Sistem terus naik level, skill terus bertambah, dan setiap penjahat yang lolos dari hukum biasa... tidak akan lolos dari tangannya.
Tapi ada satu kasus yang tak pernah bisa ia lupakan: dua puluh tahun lalu, kedua orangtuanya difitnah dan dihancurkan oleh **Keluarga Halim** — konglomerat paling berkuasa di kota ini. Setiap kasus yang ia selesaikan membawanya selangkah lebih dekat pada kebenaran itu.
Dan pada hari penghakiman tiba, seluruh bangsa akan menyaksikan."
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Darma, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Episode 17
Bab 17: Tawaran
Dua hari setelah sistem menyarankan kata kepolisian, ponsel Raka berdering saat ia sedang mengedit video rekap kasus Dewi.
Nama di layar membuat jarinya berhenti.
Kompol Yudha Zulkarnain.
Kribo yang sedang makan kerupuk di lantai langsung mengangkat kepala. "Angkat. Kalau dia nawarin kerja, bilang iya dulu baru panik belakangan."
Raka menekan tombol terima.
"Selamat pagi, Pak."
Suara Yudha terdengar pendek seperti biasa. "Bisa bertemu hari ini? Ada yang ingin kubicarakan."
"Bisa, Pak. Di mana?"
"Kafe Sederhana, Distrik Surya. Jam sepuluh. Jangan bawa kamera."
Panggilan putus.
Raka menatap layar kosong.
Kribo mengangkat alis. "Itu suara pria yang tidak pernah mengundang orang cuma untuk minum kopi."
Jam sepuluh kurang lima, Raka tiba di kafe kecil di sudut Distrik Surya. Tempat itu tidak keren. Meja plastik, kursi besi, kipas menempel di dinding, aroma kopi hitam dan gorengan. Justru karena biasa, tempat itu cocok untuk percakapan yang tidak ingin menarik perhatian.
Yudha sudah duduk di pojok.
Dimas Kurniawan duduk di meja sebelah, pura-pura membaca menu padahal gelas kopinya sudah setengah habis.
Raka menahan senyum.
Yudha menunjuk kursi di depannya. "Duduk."
"Pak."
Raka duduk. Kribo memilih meja agak jauh, tetapi telinganya jelas bekerja lebih keras daripada mulutnya.
Yudha tidak membuka basa-basi.
"Kamu memecahkan kasus yang polisi desa gagal pecahkan. Kamu menemukan jasad, mengidentifikasi arah pelaku, mengumpulkan bukti, melindungi saksi rentan, dan membantu rekonstruksi. Semua dalam waktu kurang dari seminggu. Tanpa pelatihan formal kepolisian."
Raka menjawab seperti refleks, "Saya beruntung, Pak."
Yudha menatapnya datar. "Keberuntungan tidak membuat orang menemukan bayi di septik."
Raka diam.
"Aku sudah bicara dengan AKBP Fahri Ramadhan," lanjut Yudha. "Polres Distrik Surya membuka posisi Konsultan Khusus Satreskrim. Fleksibel. Statusnya di luar anggota organik Polri, jadi tidak membutuhkan akademi polisi. Kamu akan punya akses terbatas ke TKP, arsip, database tertentu, dan sumber daya penyelidikan. Kamu bekerja langsung di bawahku."
Kalimat itu seperti pintu terbuka tepat di depan Raka.
Sistem benar.
Ada jalan.
Raka tetap menjaga wajahnya. "Kenapa saya, Pak? Banyak detektif swasta berlisensi. Banyak analis kriminal."
Yudha mengambil gelas kopinya, tapi tidak langsung minum.
"Karena mereka tidak menemukan Dewi. Kamu yang menemukan."
Di meja sebelah, Dimas menutup menu dan batuk kecil seperti menahan tawa.
Yudha melanjutkan, "Ini bukan amal. AKBP Fahri setuju karena kasus Dewi mempermalukan banyak orang, termasuk institusi kami. Polres butuh orang yang bisa berpikir dari sudut yang tidak biasa. Tapi dengarkan baik-baik: kalau kamu menerima, kamu bukan selebritas di kantor. Kamu bukan Hakim. Kamu bukan raja kecil. Kamu konsultan. Kamu melapor padaku. Kamu ikut aturan TKP. Kamu tidak boleh bergerak solo tanpa koordinasi."
Kata Hakim membuat dada Raka sedikit menegang.
Yudha sengaja mengucapkannya atau hanya memakai istilah umum?
Mata Dosa aktif tanpa ia panggil, seperti refleks baru.
Di atas kepala Yudha, angka yang dulu pernah ia lihat muncul samar.
【Yudha Zulkarnain — Indeks Dosa: 3/100】
Tetap bersih.
Raka melirik Dimas.
【Dimas Kurniawan — Indeks Dosa: 5/100】
Angka rendah itu membuat napasnya lebih lega. Mereka tidak sempurna. Tetap saja, angka itu jauh dari busuk.
"Apa kewenangan saya?" tanya Raka.
"Menganalisis berkas, ikut ke TKP dengan izin, memberi pendapat dalam penyelidikan, membantu membaca pola. Kamu tidak menangkap orang. Tidak membawa senjata. Tidak bicara ke media atas nama Polres tanpa izin. Gaji kontrak tidak besar, tapi cukup untuk hidup lebih layak daripada iklan channel."
Kribo dari meja jauh tiba-tiba pura-pura tersedak, jelas mendengar bagian gaji.
Yudha meliriknya. "Temanmu boleh membantu dari luar selama tidak menyentuh data rahasia tanpa izin. Kalau dia melanggar, aku tangkap."
Kribo langsung mengangkat kedua tangan. "Saya warga teladan, Pak. Kadang."
Dimas akhirnya tertawa kecil.
Raka menatap kartu nama yang Yudha letakkan di meja.
Konsultan Khusus Satreskrim.
Akses legal ke TKP. Database. Laboratorium. Arsip. Jalur resmi.
Tapi juga aturan, batas, pengawasan, dan mata orang-orang yang mungkin tidak suka seorang anak panti viral masuk lewat pintu samping.
"Saya perlu waktu berpikir," kata Raka.
Yudha mengangguk, seolah sudah menduganya. "Tiga hari. Setelah itu, posisi ditawarkan ke orang lain."
Ia berdiri.
Dimas ikut bangkit, lalu melewati Raka dengan langkah santai. Sebelum keluar, ia membungkuk sedikit dan berbisik, "Terima saja. Bos jarang memuji orang. Kalau dia bilang kamu bagus, kamu memang bagus."
Lalu mereka pergi.
Raka dan Kribo berjalan pulang menyusuri trotoar Kota Elang Biru. Panas siang memantul dari aspal. Motor melintas terlalu dekat. Di atas ruko, spanduk berita masih menampilkan wajah Raka dari potongan livestream.
"Ini peluang gila," kata Kribo. "Akses database polisi? TKP? Forensik? Rak, sistemmu butuh ini."
"Aku juga kehilangan kebebasan. Kalau jadi bagian dari institusi, aku harus ikut aturan mereka."
"Kamu bisa ikut aturan mereka dan tetap menjalankan sistem. Dua dunia. Cover legal. Jalur resmi. Kalau ada kasus, kamu tidak perlu lagi menyusup ke kamar mandi orang sambil aku mengalihkan ibu-ibu galak."
"Itu argumen yang kuat."
"Aku tahu. Aku genius saat tidak lapar."
Malamnya, setelah Kribo tertidur, Raka menelepon nomor lama yang jarang ia hubungi kalau tidak benar-benar perlu.
Bu Yanti.
Pengasuh panti yang membesarkannya sejak ia terlalu kecil untuk mengingat wajah orang tuanya.
"Raka?" Suara perempuan itu lembut dan sedikit serak. "Kamu baik-baik saja? Aku lihat berita. Kamu kurus."
Kalimat pertama itu hampir membuat Raka tersenyum.
"Saya baik, Bu. Ada yang ingin saya tanyakan."
Ia menceritakan tawaran itu tanpa menyebut sistem. Konsultan polisi. Kasus Dewi. Yudha. Keraguannya.
Bu Yanti mendengarkan sampai selesai.
Lalu ia berkata, "Raka, sejak kecil kamu selalu marah kalau melihat anak lain diperlakukan tidak adil. Kadang kamu berkelahi, kadang kamu cuma diam sambil menyimpan nama orang yang salah. Aku selalu bilang: berdiri di sisi yang benar. Kalau sekarang kamu bisa melakukannya dari dalam, kenapa tidak?"
Raka memejamkan mata.
"Saya takut tidak cukup baik."
"Orang yang tidak cukup baik biasanya tidak takut soal itu."
Dadanya terasa sesak dengan cara yang aneh.
Bu Yanti menambahkan, lebih pelan, "Aku bangga padamu, Nak."
Kata itu sederhana.
Tapi bagi Raka, kata itu seperti sesSatu yang ia tunggu sejak kecil tanpa berani mengakuinya.
Setelah panggilan berakhir, ia duduk lama di tepi kasur.
Di meja, kartu nama Yudha tergeletak di samping Buku Penghakiman.
Dua jalan.
Satu dari manusia.
Satu dari sistem.
Raka mengambil kartu itu.
Belum menelepon.
Belum menjawab.
Tapi untuk pertama kali, keputusan itu tidak lagi terasa seperti pintu yang menakutkan.
Ia terasa seperti langkah pertama.