Menjadi Dokter sukses di usia 31 tahun ternyata tidak cukup bagi Hazel untuk membeli satu hal yang paling ia inginkan yaitu kebebasan dari kekangan Ibunya, hingga ia dipaksa untuk pergi ke daerah perbatasan demi ambisi sang Ibu mencari menantu tentara.
Namun, takdir punya rencana lain. Di tempat itulah Hazel kembali dipertemukan dengan seorang pria yang sudah lama ia kenal, pria yang mampu menggoyahkan perasaan Hazel setelah 14 tahun lamanya.
Bagaimana kelanjutan ceritanya? Siapakah pria itu? Bagaimana nasib Hazel?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon elaretaa, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Ingat Pesan Mama
Kabar mengenai keikutsertaan Hazel ke wilayah perbatasan utara menyebar di lingkungan rumah sakit. Dalam waktu kurang dari dua puluh empat jam, memo resmi yang ditandatangani oleh Dokter Julian telah tersebar di papan pengumuman digital internal dan ruang staf medis, nama Hazel pun tertulis di urutan paling atas sebagai perwakilan utama.
Bagi para dokter muda, program pengabdian ini adalah kesempatan emas yang langka. Selain kompensasi yang besar, sertifikat khusus dari kementerian kesehatan dan markas besar militer akan menjadi batu loncatan yang luar biasa untuk mendapatkan rekomendasi beasiswa dokter spesialis jalur khusus. Tidak heran jika ratusan dokter di rumah sakit berebut mendaftar sejak minggu lalu, hingga kuota yang disediakan langsung terpenuhi dalam hitungan hari.
Namun, ketika nama Hazel tiba-tiba muncul tanpa melalui proses seleksi berkas, wawancara, maupun tes fisik yang ketat, riak-riak ketidakpuasan mulai memicu perdebatan negatif di setiap sudut rumah sakit.
Siang ini, Hazel berniat mengambil salinan dokumen rekam medis pasien di ruang arsip yang terletak di lantai dasar. Langkahnya terhenti tepat di balik partisi pembatas pantry, ia mendengar beberapa suara yang sangat ia kenal sedang berbincang dengan nada sinis.
"Hebat ya Dokter Hazel, tidak ada angin tidak ada hujan, tiba-tiba namanya langsung keluar sebagai ketua tim pula," cibir Dokter Niken, salah satu dokter senior yang sudah dua kali mendaftar program serupa namun selalu gagal di tahap seleksi berkas.
"Kamu seperti tidak tahu saja, keluarga Dokter Hazel kan pemilik rumah sakit ini. Kalau orang kaya mau sesuatu, tinggal tunjuk jari saja, jalur reguler langsung lewat," sahut Dokter kebidanan yang sedang menyeduh kopi.
Seorang perawat senior ikut menimpali sambil menggelengkan kepala, "Kasihan Dokter Ferry yang sudah belajar materi trauma medik berbulan-bulan, ikut pelatihan fisik mandiri dan berharap lolos tahun ini demi dapat beasiswa spesialis bedah. Tapi, katanya kemarin namanya dicoret begitu saja dan digantikan sama Dokter Hazel yang bahkan sepertinya tidak tahu cara mendirikan tenda darurat," ucap perawat tersebut.
"Begitulah hidup, yang punya kuasa dan uang bisa menentukan takdirnya sendiri, sedangkan kita yang cuma modal pas-pasan harus tahu diri," sahut Dokter Niken dengan tawa hambar yang sarat akan sarkasme.
Hazel berdiri mematung di balik dinding kayu partisi, mencengkeram map kosong di tangannya hingga kertasnya sedikit terlipat. Dada Hazel berdenyut nyeri, bukan karena ia marah atas ucapan rekan-rekannya, melainkan karena ia menyadari betapa kejamnya kebenaran dari gosip tersebut.
Hazel menyadari apa yang dikatakan mereka tidak salah, namanya bisa ada di dalam daftar itu karena kuasa dan uang yang dimiliki keluarganya.
Hazel memejamkan mata perlahan, menarik napas dalam-dalam untuk menekan rasa sesak yang kembali naik ke tenggorokannya. Ia ingin sekali melangkah masuk ke pantry dan berteriak di depan wajah mereka bahwa ia juga korban di sini, ia ingin mengatakan bahwa ia sama sekali tidak menginginkan posisi ini.
Namun, Hazel mengurungkan niatnya. Ia tahu betul, membela diri di hadapan publik hanya akan membuat dirinya terlihat seperti wanita manja yang tidak tahu diuntung di mata orang lain. Di dunia luar, statusnya sebagai anak konglomerat adalah sebuah privilege yang didambakan semua orang, mereka tidak akan pernah paham bahwa privilege itu adalah sebuah tali yang secara perlahan mencekik lehernya sendiri.
Dengan langkah yang setenang mungkin, Hazel berbalik arah, ia membatalkan niatnya ke ruang arsip dan memilih kembali ke ruangnya yang sepi.
Sesampainya di ruangan, Hazel mengunci pintu dari dalam lalu duduk di kursinya dan menatap lurus ke arah meja yang kini dipenuhi oleh modul-modul panduan medis lapangan, daftar logistik militer yang diberikan Mama Vivian pagi tadi.
.
Satu hari sebelum keberangkatan, Hazel mulai berkemas. Sebuah koper kecil berwarna hitam tergeletak di atas karpet dan dikelilingi oleh tumpukan barang.
Tidak ada gaun, sepatu hak tinggi atau kosmetik mahal di dalam koper. Hazel hanya membawa beberapa pasang kaus katun polos, celana kargo tebal dan jaket. Pakaian-pakaian kasar itu terasa begitu kaku di jemarinya, sangat kontras dengan kulitnya yang selama 31 tahun selalu dirawat.
Hazel berlutut di tepi tempat tidur dan menatap nanar isi kopernya, pikirannya benar-benar kacau karena besok pagi, ia harus melepaskan seluruh kenyamanan hidupnya untuk terbang menuju wilayah perbatasan utara. Sebuah tempat antah-berantah yang dalam bayangannya dipenuhi dengan hutan belantara, tempat yang pengap, serangan serangga malam dan keterbatasan air bersih.
Hidup di kota besar dengan segala fasilitas instan saja terkadang sudah membuatnya lelah mental, apalagi di daerah perbatasan nanti. Hazel tidak yakin, fisiknya yang lemah dan manja ini bisa bertahan di tempat seperti itu selama enam bulan.
Tiba-tiba, pintu kamar diketuk pelan. Bi Hani melangkah masuk dengan wajah sendu, membawa sebuah kotak obat-obatan pribadi dan beberapa botol losion anti-serangga berukuran besar.
"Non Hazel... ini dari Nyonya besar. Katanya, ini harus dibawa, karena di sana banyak nyamuk dan serangga," ujar Bi Hani dengan suara bergetar menahan iba.
Hazel mendongak, matanya yang sembap menatap botol-botol itu. "Terima kasih, Bi. Taruh di sana aja," ucap Hazel.
Bi Hani mendekat lalu memberanikan diri mengusap pundak rapuh Hazel, "Non, yang kuat ya di sana... Bibi tahu ini berat buat Non Hazel. Ingat untuk selalu jaga kesehatan ya, Non," pesan Bi Hani dan diangguki Hazel.
Tak berselang lama setelah Bi Hani menutup pintu, terdengar ketukan yang jauh lebih tegas. Pintu kamar Hazel terbuka lebar lalu muncullah Mama Vivian yang berdiri dengan keanggunan yang dingin, ia mengenakan gaun sutra rumah berwarna marun dan rambutnya tersanggul rapi.
Mama Vivian melangkah masuk, mengedarkan pandangan ke sekeliling kamar sebelum tatapan matanya yang tajam tertuju pada koper hitam yang tergeletak di atas karpet, lalu mendekat dan ujung sepatu hak tingginya berhenti tepat di samping Hazel yang masih berlutut di lantai.
"Semua keperluan kamu sudah siap?" tanya Mama Vivian.
"Sudah, Ma," jawab Hazel.
Mama Vivian melangkah mendekati meja rias, jemarinya yang dihiasi cincin berlian besar mengusap permukaan botol losion anti-serangga yang tadi dibawa oleh Bi Hani. Beliau berbalik, menatap Hazel dengan tatapan intimidasi yang sudah menjadi makanan sehari-hari bagi Hazel.
"Ingat pesan Mama, Hazel. Jaga sikap kamu di depan para petinggi militer dan perwira di sana, jangan sekali-kali kamu mempermalukan nama besar keluarga Ganendra," pesan Mama Vivian penuh penekanan, setiap kata yang keluar dari bibirnya terdengar seperti titah yang tak boleh diganggu gugat.
"Hazel tahu, Ma. Toh, sejak awal Hazel memang tidak pernah punya pilihan untuk menolak, kan?" sahut Hazel, setitik keberanian yang sarkas terselip dalam suaranya.
"Bagus, ingat pesan Mama," ucap Mama Vivian dan langsung keluar dari kamar Hazel.
.
.
.
Bersambung.....
SeMangattt Up Lagii Buat Besok Kak
Makasiiii Kak Cerita Sorenya
SeMangattt Up Sorenya Kakkkk
Makasiii Ceritanya Siang Iniiii
SeMangattt Up Lagiii Buat Siang Kak