"Arka Pratama hanyalah dokter muda magang di Instalasi Kedokteran Forensik. Gajinya kecil, pangkatnya rendah, dan semua orang meremehkannya. Tapi di hari pertamanya, sebuah sistem misterius bernama ""Kebenaran Forensik"" terbangun dalam dirinya — memberinya kemampuan melihat Label Kematian yang tak kasat mata di atas setiap jenazah.
Kasus yang sudah divonis bunuh diri? Arka melihat label merah: PEMBUNUHAN.
Mulai detik itu, tidak ada kebenaran yang bisa disembunyikan darinya."
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Putra, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Episode 22
Bab 022: Kasus Mutilasi Ditutup Sempurna
Sungai Kalimas tidak mengembalikan Putri Handayani dengan mudah.
Hari pertama, tim hanya menemukan potongan karung anyaman yang tersangkut di besi jembatan.
Hari kedua, penyelam menemukan batu pemberat dengan sisa tali plastik.
Hari ketiga, di bawah tumpukan lumpur dekat pilar lama, satu karung pertama terangkat.
Adira berdiri di tepi sungai sejak pagi.
Bambang mengatur garis polisi.
Arka menunggu di dekat meja bukti sementara, memakai masker dan sarung tangan.
Ketika karung itu dibuka di atas terpal, tidak ada yang berbicara keras.
Yang ditemukan bukan tubuh utuh.
Tulang.
Fragmen.
Sisa kain.
Rambut yang tersangkut pada simpul plastik.
Arka berjongkok.
"Foto dulu. Jangan pindahkan fragmen kecil sebelum diberi penanda."
Petugas Inafis bergerak cepat.
Dimas, yang biasanya paling banyak bicara, hari itu hanya menyebut nomor bukti.
"K1-A. K1-B. K1-C."
Bambang menatap sungai. "Joko bilang tiga karung."
"Kalau arus memindahkan satu, sisanya bisa tersangkut lebih jauh," kata Arka. "Cari di sisi hilir, dekat struktur yang menahan sampah."
Adira langsung mengangkat HT. "Tim hilir, perluas pencarian ke jaring sampah dan pilar kedua."
Sore itu, karung kedua ditemukan.
Keesokan paginya, karung ketiga terangkat dari dasar yang lebih dangkal.
Semua masuk IKF.
Semua diberi nomor.
Tidak ada bagian yang diperlakukan sebagai benda biasa.
Di ruang autopsi, Arka dan dr. Suherman bekerja tanpa banyak bicara.
Fragmen tulang disusun.
Kain dipisahkan.
Rambut masuk amplop bukti.
Sampel gigi dan tulang panjang diprioritaskan untuk DNA.
"Cukup untuk profil?" tanya Adira dari pintu.
Teknisi DNA menjawab, "Kemungkinan cukup. Kondisi buruk, tapi gigi masih membantu."
Arka menambahkan, "Tulang paha juga masih punya bagian medula yang terlindung. Ambil dari sana."
Suherman mengangguk. "Setuju. Jangan habiskan sampel dalam satu percobaan. Sisakan untuk pembanding."
Dua hari kemudian, hasil keluar.
Putri Handayani.
Cocok dengan darah di cold storage.
Cocok dengan data keluarga.
Cocok dengan cerita yang Joko kira bisa ia kubur di sungai.
Adira membaca laporan itu di ruang rapat kecil Satreskrim.
Bambang duduk di sampingnya.
Kevin menampilkan garis waktu di layar.
Dewi: tiga minggu lalu.
Putri: tiga bulan lalu.
Cold storage: masa sewa Joko.
Luminol: tiga titik.
DNA: dua korban.
Alat potong: gergaji tulang elektrik.
Pengakuan: dua perkara.
Adira menutup map. "Berkas dinaikkan. Pasal 340 KUHP untuk pembunuhan berencana, ditambah pasal terkait mutilasi dan menghilangkan jenazah. Koordinasi dengan Kejaksaan."
Bambang mengangguk. "P-21 kita dorong setelah semua lampiran lab masuk."
"Kejaksaan sudah minta rangkuman awal," kata Kevin. "Mereka bilang ancaman maksimal bisa sampai hukuman mati."
Tidak ada sorak.
Tidak ada yang merasa itu kabar gembira.
Hukuman berat tidak mengembalikan Dewi dan Putri.
Tetapi setidaknya Joko tidak lagi bisa berdiri di cold storage, memegang gergaji, dan memilih korban berikutnya.
Beberapa hari kemudian, Polrestabes mengadakan apel penghargaan di aula.
Tidak besar.
Tetapi cukup resmi.
Seragam memenuhi ruangan. Beberapa pegawai IKF hadir. Dr. Suherman berdiri di baris depan. Galang berada dua orang di belakangnya, wajahnya datar seperti papan tulis kosong.
Arka berdiri di sisi Adira.
Ia memakai kemeja rapi tanpa jas putih.
Dimas berbisik dari belakang, "Mas Arka, kalau dipanggil maju, jangan lupa senyum. Foto dokumentasi itu kejam."
Bambang menyahut pelan, "Dia tidak usah senyum. Wajah dingin laku di media."
"Pak Bambang iri?"
"Saya sudah tampan sejak sebelum kamu lahir."
Adira menoleh sedikit. "Diam."
Dua orang itu langsung diam.
Di podium, Kapolrestabes Waskito Harjono mengambil mikrofon.
"Perkara mutilasi Rungkut resmi memasuki tahap pemberkasan lengkap. Dua korban telah diidentifikasi: Dewi Anggraini dan Putri Handayani. Tersangka Joko Prabowo telah mengakui perbuatannya, dan berkas perkara disiapkan dengan pasal maksimal."
Ruangan sunyi.
Waskito melanjutkan, "Saya ingin menekankan satu hal. Perkara ini tidak berhenti pada korban pertama karena ada orang yang menolak puas pada jawaban mudah."
Beberapa kepala menoleh ke Arka.
Galang juga menoleh.
Label kuning langsung muncul.
[Iri kuat]
[Permusuhan tertahan]
[Harga diri terluka]
Arka tidak membalas tatapan itu.
Waskito berkata, "Jika bukan karena kegigihan Dokter Arka Pratama untuk melakukan pemeriksaan ulang pada cold storage, jejak Putri Handayani mungkin tetap berada di celah drainase, tidak pernah menjadi nama dalam berkas perkara."
Tepuk tangan mulai terdengar.
Suasananya tertahan.
Tapi berat.
Waskito memberi isyarat. "Dokter Arka, Iptu Adira, Bripka Bambang, Briptu Dimas, Kevin Tanuwijaya, dan tim Inafis, silakan maju."
Arka maju bersama tim.
Di sudut matanya, ia melihat Galang tetap di tempat, rahangnya mengeras.
Piagam diberikan satu per satu.
Ketika giliran Arka, Waskito menatapnya langsung.
"Dokter Arka. Jangan cepat puas. Orang seperti Anda berguna justru karena tidak berhenti saat laporan terlihat rapi."
"Siap, Pak Kapolrestabes."
"Dan lain kali, kalau memakai skalpel di gang, pastikan laporan pembelaan daruratnya lebih cepat selesai daripada gosipnya."
Dimas nyaris batuk.
Bambang menunduk menahan tawa.
Adira pura-pura tidak mendengar.
Arka menjawab datar, "Siap, Pak. Saya akan prioritaskan laporan sebelum legenda."
Waskito tertawa pendek.
Tepuk tangan kembali terdengar.
Setelah apel selesai, Suherman mendekati Arka di lorong.
"Bagus," katanya.
"Terima kasih, Dok."
"Tapi ingat. Semakin sering namamu disebut, semakin banyak orang berharap kamu salah."
Arka melirik ke arah Galang yang berjalan keluar tanpa menoleh.
"Saya tahu."
Suherman menepuk bahunya. "Kalau tahu, jangan beri mereka celah."
Sore itu, Arka kembali ke IKF.
Ruang autopsi sudah bersih.
Meja stainless kosong.
Tidak ada kantong hitam.
Tidak ada tong biru.
Tidak ada karung dari sungai.
Hanya lampu putih dan bau disinfektan yang terlalu akrab.
Ponselnya bergetar.
Panel sistem muncul.
[Misi selesai: Kasus Mutilasi Rungkut]
[Korban teridentifikasi: 2]
[Tersangka utama ditahan]
[Reputasi meningkat]
[Evaluasi: pengguna berhasil menemukan korban tersembunyi melalui pemeriksaan ulang berbasis bukti]
Arka membaca tanpa ekspresi berlebihan.
Dua kasus besar sudah lewat sejak ia masuk IKF.
Sari Rahayu mendapatkan keadilan.
Dewi Anggraini mendapatkan nama kembali.
Putri Handayani tidak lagi ditulis sebagai perempuan yang pergi sukarela.
Tiga nyawa.
Tiga kebenaran.
Tetapi Surabaya tidak menjadi bersih hanya karena satu meja autopsi selesai dicuci.
Arka menyimpan piagam di laci.
Di bawah piagam itu ada amplop dari bagian administrasi RSUD. Isinya jadwal evaluasi kompetensi dipercepat: ujian tertulis, praktik autopsi, dan wawancara panel. Tanggalnya sudah dekat.
Ia membaca sekali, lalu menutup amplop.
Penghargaan membuat orang menepuk tangan.
Ujian membuat orang mencari kesalahan.
Arka lebih percaya pada yang kedua.
Besok ia masih harus datang pagi.
Masih harus mengisi laporan.
Masih harus menjalani evaluasi kompetensi yang dipercepat.
Dan di luar sana, di balik gang, sungai, rumah mewah, gudang dingin, dan kantor yang menyala sampai malam, masih ada rahasia lain yang menunggu seseorang cukup keras kepala untuk melihat lagi.