NovelToon NovelToon
My Angel

My Angel

Status: tamat
Genre:Cintapertama / Tamat
Popularitas:200.2k
Nilai: 5
Nama Author: Rahma AR

Bagi Ziza, Khalid Al Ghifari sangat jauh berbeda dari para sepupu dan sahabat laki lakinya.

Cowo pendiam yang baru dia kenal di penghujung SMAnya, kini malah satu kelas dengannya. Cowo itu lebih suka menghabisksn waktu di kelas atau di perpus.

Dia selalu terluka, bahkan di awal pertemuan mereka, Ziza menempelkan plester di keningnya.

Ini cerita anak anak Kaysar cs. Semoga suka ya...♡

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Rahma AR, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Menahan kesal

"Kenapa kamu melakukannya?" Ruby ngga bisa menahan bibirnya untuk bertanya setelah Theo mengantarkannya sampai di teras rumahnya.

Tadi satpam rumah yang membukakan gerbang rumahnya hingga motor balap.Theo.bisa mengantarkannya sampai ke sini.

"Maksudnya apa?" tanya Theo sambil melepaskan pelan helm Ruby.

Hampir saja Ruby mengumpat mendengar suara datar Theo. Sayangnya dia ngga bisa melihat ekspresi wajah dibalik helm fullface itu.

Ingin Ruby membuka paksa kaca helm laki laki ini. Setidaknya dia bisa melihat ke dalam bola mata hijaunya yang menawan. Yang selalu membuat tidurnya ngga nyenyak, terutama di hari hari menjelang kedatangannya.

"Ban mobilku," tuduh Ruby dengan wajah kesalnya.

"Kenapa ban mobilmu?" Dengan gaya acuh tak acuh Theo meletakkan helm yang tadinya dipake Ruby ke bagian depan motornya.

Rasanya ada dua tanduk yang sedang tumbuh di atas kepala Ruby.

"Kamu nyebelin," umpat Ruby sebal dan terus membalikkan badannya, masuk ke dalam rumahnya.

Untungnya kedua.orang tuanya belum pulang. Dia pasti akan dimarahi kalo meninggalkan Theo begitu saja di teras rumah setelah berbaik hati mengantarkannya pulang.

"Maminya Theo baik banget sama kamu. Kenapa kamu bisa jahat banget sama anaknya, sih, sayang. Kalian lagi marahan? Sudah, jangan lama lama marahnya."

Begitulah rentetan kalimat penuh penyesalan yang akan maminya lontarkan.

'Theo baik banget. Mama suka sama dia. Mama was was kalo ada perempuan yang.bisa membuat Theo kecantol. Sayang, bisa, nggak, kamu effortnya lebih keras agar Theo tetap memperhatikan kamu dan ngga naksir perempuan lain?"

Bagi mamanya, Theo adalah calon mantu idaman. Ruby pun sudah akrab dengan Theo sejak kecil.

Laki laki lain kalo pun ada bakal insecure karena nanti akan dibanding bandingkan mamanya dengan Theo. Udah ngga tergantikan.

Padahal mamanya ngga tau aja. Bukan dia yang nggak effort, tapi Theonya lagi model Quin, super nyebelin.

Sementara Theo tersenyum sambil menatap kepergian Ruby. Dia pun melajukan motornya tanpa merasa perlu pamit lagi.

Dari kaca spionnya, dia tau,Ruby menoleh dan menghentikan langkah saat mengetahui kepergiannya.

Theo terus melajukan motornya hingga beberapa meter keluar dari komplek perumahan Ruby. Kemudian dia menghentikannya.

Membuka ponselnya yang sedari tadi sudah mengirimkan beberapa kali getaran.

Bos, mobil nona sudah diderek.

Theo tersenyum sambil menyimpan ponselnya. Masih teringat ekspresi kaget Ruby menyadari keadaan mobil kesayangannya.yang jadi ngga karu karuan karena kekonyolannya.

"Makanya jangan nakal," gumamnya sambil menjalankan lagi motornya.

Dia masih bisa merasakan debaran keras jantung Ruby yang ngga beraturan di punggungnya tadi. Juga eratnya pelukan gadis itu tadi. Theo bahkan tadi sempat mengusap lembut jemari itu.

*

*

*

"Boleh buatku?" tanya Khalid sambil menatap wajah Ziza yang sedang serius melukis sketsa dirinya.

Ziza mendongak dengan tangan menggerakkan pensil yang terhenti mengambang.

"Yakin mau? Ini jelek loh. Pasti bagusan teman kamu yang pelukis itu kalo buatinnya," senyum Ziza menyimpan perasaan cemburu yang muncul tiba tiba.

"Dia ngga pernah lukis aku dalam bentuk sketsa," jujur Khalid.

"Berarti kamu sering dilukis, dong." Ziza menahan perasaan ngga sukanya. Dia tetap tersenyum dan mengalihkan tatapnya pada sketsa wajah Al yang sedang dibuatnya.

Hatinya mendadak melow.

Ziza iseng aja tadi melukis wajah laki laki yang mengganggu pikirannya akhir akhir ini.

Keinginannya itu muncul begitu saja ketika dia merasa ada bayangan Khalid di dalam diri Al. Juga untuk membuat pikirannya waras, karena wajah Keduanya sangat berbeda.

"Ya. Tapi aku ngga pernah menjadi model yang harus diam ngga bergerak saat akan dilukis."

Tawa keduanya berderai.

Ziza jadi mengingat waktu Khalid sempat menjadi modelnya. Laki laki itu melakukannya dengan sabar.

"Dulu seorang temanku waktu SMA mau ku lukis," kenang Ziza setelah tawa mereka mereda.

"Tapi ekspresi lukisannya berbeda dari aslinya," tawa Ziza lagi.

"Seperti apa?" Khalid jadi tertarik.

Ziza tidak menjawab. Tapi tawanya masih terdengar.

"Dia pasti sangat spesial, ya," gumam Khalid agak kecewa.

Ziza masih ngga memberikan jawabannya secara lisan.

Dia memang spesial. Sangat, batin Ziza yang menjawab

"Dia sudah meninggal," lirih Ziza berucap. Rasa sakitnya muncul lagi. Berdenyut dan nyeri

"Karena sakit?" Harapan Khalid yang layu kini segar lagi.

Mungkin dia salah, bergembira dengan kedukaan gadis ini.

"Kecelakaan." Ziza merobek kertas gambar itu dengan hati hati dari sketch booknya.

"Ooh."

"Ini, kalo kamu suka." Ziza mengulurkan sketsa itu dan Khalid langsung menerimanya.

"Thank's." Senyum Khalid merekah.

Khalid menatap dalam sketsa wajahnya yang tanpak kokoh tapi memancarkan kelembutan.

Entah kapan gadis ini bisa mendapatkan ekspresinya yang begini.

"Kamu sangat berbakat," puji Khalid jujur dan kagum. Belum tentu juga Sharla bisa melukisnya seperti ini.

Ziza hanya tersenyum tipis berharap Al ngga kaget nantinya setelah tau tentang dirinya yang memang pelukis.

"Melihat ini membuat pikiranku mengatakan kalo dulu aku juga pernah menerina sketsa begini dari seorang gadis."

"Benerkah?" Sepasang mata indah Ziza mengerjap.

"Ya," senyum Khalid terpancar lembut dan hangat.

"Dari Sharla mungkin," tebak Ziza.

"Bukan," bantah Khalid sangat yakin.

Keduanya saling bertatapan yang menimbulkan gemuruh di dada.

"Besok sabtu bisa ikut, kan?" tawar Ziza menetralisir suasana aneh yang tiba tiba melingkupi mereka.

"Bisa. Tapi sepupu kamu ngga keberatan, kan?"

"Nggak sama sekali." Ziza mengabaikan penolakan keras Quin.

"Oke."

"Kamu boleh bawa teman." Setidaknya Khalid tidak akan merasa kasepian. Apalagi dia yakin Quin pasti sudah punya segudang rencana untuk menjahili Khalid.

Tapi semoga bukan pelukis itu.

Khalid tersenyum tanpa menjawab.

Dia akan datang sendiri saja.

*

*

*

"Ruby sayang...... Mobilmu sudah diderek," lapor Nara heboh. Dia menyaksikan sendiri penderekan mobil temannya, ngga lama setelah Ruby pergi bersama laki laki keren itu

"Ooh...." Wajah Ruby masih memancarkan perasaan kesal.

Dia tinggal menunggu mobilnya dikembalikan saja.

Iseng banget sampai satu ban mobilnya pun dilepas, geramnya dalam hati.

"Laki laki itu siapa? Apa karena dia kamu ngga bisa membalas perasaan Endru?" Nara bertanya dengan heboh.

"Hanya teman," sangkal Ruby cepat.

"Bukan pacar, ya.... Boleh nggak kenalin aku dengan dia. Wiiih.... Ruby, dia seperti pangeran yang dikirim untukku."

Ruby menatap ponselnya dengan perasaan ngga suka, seakan dia sedang melototi Nara.

"Ruby.... Ruby..... Hellooww....," panggil Nara ketika ngga mendengar jawaban Ruby.

"Dia ngga berasal dari bumi."

Hening.

Nara yang berada di seberang sana tertegun.

"Sudah, ya. Aku mau tidur."

"RUBYYY.... Kamu apaan, sih." Nara tersadar dan dia terkekeh.

Ruby langsung menutup ponselnya.

Menyebalkan. Padahal Theo masih mengenakan helm, makinya dalam hati.

Ruby merebahkan tubuhnya di kasurnya.

Matanya dipejamkan. Tapi bayangan Theo tetap jelas berada di sana.

Dia memang terlalu keren, batin Ruby mengaku.

Wajahnya merona. Tadi dia terlalu erat memeluk Theo. Genggaman Theo tadi begitu hangat.

Pasti Theo bisa merasakan degup keras jantungnya tadi.

Memalukan sekali.... Ruby menutup wajahnya yang terasa makin hangat dengan bantal.

1
ZHANG LINGHE 🥰🥰🥰
🥰🥰
Novano Asih
dasar bocah "gemblung 🤣🤣🤣
Novano Asih
😀😀😀seneng y punya sahabat kayak mereka yang saling menjaga dan melindungi
Novano Asih
Sheren bukan yg ktnya keponakan Wikan yg fotomodel
Novano Asih
🤣🤣🤣🤣
Novano Asih
😂😂😂bener juga Quin
Novano Asih
hahaha tambah panas si Theo
Novano Asih
fix habis ini cus ke pendahulunya hehehe
Novano Asih
kasihan Khalid jd ingat sama Karrel yg sama nasibnya jadi pelampiasan kemarahan mamanya
Novano Asih
jadi penasaran sama kisah "pendahulunya
Rezki Wahyuni Nasir: makasih kak
total 5 replies
Novano Asih
baru baca pertama kali karya author ini kalau suka nanti kucari karya yg lain
rarr
huhuhu sakit bgt jd Khalid, org tua egoisssss
noval raziqhanan
endingnya bagus bangetttt
noval raziqhanan
bagus banget, seru, tokoh2ny juga seru semua. persahabatan mereka jg asyik banget. mkasi.
Lia Kiftia Usman
kok saya ikutan ☺☺🤭
noval raziqhanan: theo...theo....sampai kapan diem- diem terus
total 1 replies
Lia Kiftia Usman
saya menikmati 1 sd 7 karyamu thor... dan bertemu karyamu setelah tamat semua jadilah marathon bacanya
Lia Kiftia Usman
khalid ... empati ku keluar baca karaktermu
Sri Muryati
Luar biasa
Pujierde
bagus, klo boleh saran utk yg gak terlalu mengikuti cerita serialnya utk nama pemerannya di kasih dlm kurung seperti ziza ( cucu dr.....) karena byknya cerita jafi suka lupa klo mereka keturunan dari opa & oma nya siapa 🙏🏻🙏🏻
Rahma AR: oiya....
total 1 replies
Rasti Si Cw Imuet
Luar biasa
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!