NovelToon NovelToon
The Boss I Hate, The One I Can'T Lose

The Boss I Hate, The One I Can'T Lose

Status: sedang berlangsung
Genre:Mafia / Cinta Seiring Waktu / Action
Popularitas:1.1k
Nilai: 5
Nama Author: Azkaqia

​"Gue benci banget sama lo. Tapi kalau lo pergi... gue bisa hancur."
Ini tentang ego yang sama-sama keras kepala, sampai akhirnya sadar kalau kehilangan itu ternyata jauh lebih nakutin daripada ngakuin perasaan sendiri.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Azkaqia, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Basement Sunyi

Kata-kata 'milik saya' dari mulut Arsen sukses bikin otak Senja mengalami short-circuit. Dia cuma bisa diam seribu bahasa sambil meminum soda di gelasnya sampai tandas, mencoba menetralkan detak jantungnya yang mendadak ugal-ugalan.

​Arsen sendiri sudah kembali ke mode lempengnya. Pria itu sesekali melirik jam tangan mewahnya, seolah-olah dia sudah bosan setengah mati berada di ruangan penuh kilau lampu kristal ini.

​"Kita pulang," ajak Arsen tiba-tiba, bahkan sebelum acara amal resmi ditutup.

​"Eh? Pulang, Pak? Rapat tipis-tipis sama kolega tadi udah kelar?" tanya Senja, buru-buru meletakkan gelas kosongnya ke meja.

​"Sudah. Suasana di sini sudah mulai berisik," sahut Arsen pendek. Dia langsung berbalik badan, memberi isyarat agar Senja kembali mengekor di belakang punggung tegapnya.

​Mereka berdua berjalan melewati lobi hotel yang megah, lalu memilih turun ke area parkir basemen menggunakan lift khusus daripada menunggu mobil di lobi utama yang antreannya mengular panjang. Begitu pintu lift terbuka di lantai basemen dua, atmosfer mewah hotel bintang lima itu langsung lenyap, digantikan oleh keheningan area parkir yang luas, remang-remang, dan berhawa dingin.

​Suara ketukan hak sepatu Senja menggema memecah kesunyian basemen yang sepi. Mereka berjalan menuju sudut tempat SUV hitam Arsen terparkir di bawah lampu neon yang agak berkedip.

​"Pak Arsen, besok pagi saya boleh dateng agak telat nggak? Kepala saya agak pusing—"

​"Senja, diam."

​Langkah Senja terhenti seketika saat Arsen mendadak mencengkeram bahunya dari samping. Suara Arsen bukan lagi sekadar dingin, tapi berubah menjadi sangat rendah, tajam, dan penuh intonasi waspada.

​Senja mengernyitkan dahi, berniat melayangkan protes. Tapi begitu dia melihat ekspresi Arsen, Senja langsung mengunci mulutnya rapat-rapat. Mata elang Arsen menyipit, menatap lurus ke arah kegelapan di balik pilar-pilar beton besar di depan mobil mereka.

​Dari balik bayangan pilar, muncul tiga orang pria bertubuh tegap. Mereka tidak memakai setelan jas seperti tamu undangan di atas, melainkan jaket kulit hitam dengan topi cap yang sengaja diturunkan untuk menutupi sebagian wajah. Salah satu dari mereka tampak memasukkan tangan kanan ke balik jaket, memegang sesuatu yang bentuknya kaku.

​Orang-orang motor sport yang kemarin? Insting Senja langsung berteriak panik saat mengingat kejadian di jalan tol kemarin lusa.

​"Pak Arsen... itu siapa?" bisik Senja, suaranya mulai bergetar ketakutan. Dia refleks bergeser mundur, bersembunyi di balik punggung Arsen.

​"Tetap di belakang saya. Jangan jauh-jauh," perintah Arsen tenang, tanpa ada nada panik sedikit pun di suaranya. Pria itu perlahan melonggarkan dasi kupu-kupunya dengan satu tangan, sementara tangan kirinya menepuk punggung tangan Senja yang sedang meremas kain tuxedo-nya di belakang.

​Salah satu pria berjaket kulit itu melangkah maju, melempar senyum sinis yang mengerikan. "Selamat malam, Pak Tuan Muda Malik. Ternyata rumor itu benar, Anda sekarang main aman jadi bos kantoran."

​Arsen tidak membalas provokasi itu. Dia hanya berdiri dengan posisi berdiri yang sangat seimbang dan kokoh. "Kalian salah alamat kalau mau cari masalah di sini."

​"Kami nggak salah alamat. Bos kami cuma mau kirim salam hangat," ucap pria itu lagi.

​Dalam hitungan detik, situasi langsung meledak. Pria di depan Arsen mendadak menerjang maju sambil mengayunkan sebuah tongkat besi taktis (baton) ke arah kepala Arsen.

​Senja refleks memekik kaget, menutup matanya dengan kedua tangan. Dia mengira bosnya yang berpakaian rapi itu bakal babak belur.

​Tapi yang terjadi selanjutnya justru membuat Senja melongo tak percaya.

​Arsen bergerak dengan kecepatan yang tidak masuk akal. Tanpa menggeser posisinya dari depan Senja, dia memiringkan kepalanya sedikit untuk menghindari ayunan tongkat besi, lalu tangan kanannya mencengkeram pergelangan tangan si penyerang dengan akurasi yang menakutkan.

​KRETEK.

​Suara tulang yang bergeser terdengar ngilu, disusul jeritan kesakitan dari pria itu saat tongkat besinya jatuh ke lantai beton. Belum sempat pria itu mundur, Arsen melepaskan satu pukulan telak menggunakan sikutnya tepat di rahang lawan, membuat pria berbadan besar itu langsung terkapar tidak sadarkan diri di lantai basemen.

​Dua pria lainnya yang melihat temannya tumbang dalam sekali gerakan langsung maju bersamaan. Salah satu dari mereka mengeluarkan pisau lipat yang berkilat tajam di bawah lampu neon.

​"Pak Arsen, pisau!!" teriak Senja panik setengah mati.

​Arsen tidak gentar. Dia melakukan gerakan memutar yang taktis, menangkap tendangan lawan kedua, lalu membanting tubuh pria itu ke kap mesin mobil SUV miliknya dengan bunyi dentuman yang keras. Saat pria ketiga mencoba menusuknya dari samping, Arsen dengan tenang merebut tongkat besi yang jatuh di lantai tadi, lalu mengayunkannya dengan presisi tinggi menghantam lutut dan dada lawan sampai pria itu tersungkur sambil memegangi rusuknya yang tampaknya retak.

​Seluruh pertarungan itu selesai dalam waktu kurang dari dua menit.

​Arsen berdiri di tengah tiga pria yang mengerang kesakitan di lantai basemen. Napasnya hanya sedikit memburu. Kemeja putih di balik tuxedo-nya masih tampak rapi, seolah dia baru saja menyelesaikan sesi olahraga ringan, bukan pertarungan hidup dan mati. Pria itu membuang tongkat besi di tangannya ke sembarang arah dengan ekspresi dingin tanpa emosi.

​Arsen berbalik, menatap Senja yang masih berdiri mematung dengan mata membelalak lebar dan tubuh yang gemetaran parah.

​Arsen melangkah mendekat, lalu menangkup kedua bahu Senja yang dingin karena syok. "Senja. Kamu nggak apa-apa? Ada yang luka?"

​Senja menelan ludah dengan susah payah. Dia menatap tiga pria di lantai, lalu beralih menatap wajah tampan bosnya yang berjarak sangat dekat. Rasa syok di kepalanya membuat mulutnya mendadak blak-blakan.

​"L-lo... lo beneran bos agensi iklan, kan, Pak? Kok... kok berantemnya kayak pembunuh bayaran di film?" cicit Senja, suaranya putus-putus karena ketakutan sekaligus bingung luar biasa.

​Arsen terdiam sejenak melihat ketakutan di mata asistennya. Detik berikutnya, dia mengembuskan napas pelan, lalu menarik tubuh Senja ke dalam pelukannya—sebuah pelukan yang erat dan protektif, menyembunyikan wajah Senja di dada bidangnya agar perempuan itu tidak perlu melihat pemandangan tiga orang yang babak belur di lantai lagi.

​"Saya dulu atlet beladiri waktu kuliah di luar negeri, Senja. Saya cuma membela diri," jawab Arsen lempeng, memberikan alasan yang terdengar logis padahal bohong besar. Sambil mendekap Senja, mata elang Arsen menatap tajam ke arah sudut basemen yang gelap, tahu betul kalau ini baru peringatan kecil dari dunia aslinya yang mulai mengintai. "Sudah, masuk ke mobil. Kita pergi dari sini sekarang."

​Senja yang bersandar di dada bidang Arsen hanya bisa mengangguk pasrah. Di dalam dekapannya yang hangat dan beraroma maskulin itu, Senja mulai tersadar satu hal: kebenciannya pada sang bos tiran kini sudah sepenuhnya berubah menjadi rasa penasaran yang amat sangat berbahaya.

1
Arya Suluran
bagus banget jalan ceritanya
Protocetus
jika berkenan mampir ya ke novelku Remontada
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!