Laras demi membahagiakan ibunya yang menginginkan cucu, rela menerima suami temannya yang dijadikan barang jaminan agar bisa mendapatkan uang yang banyak.
Seiring berjalannya Waktu, Laras benar-benar jatuh cinta pada suami jaminannya yang bernama Rayyan. Demikian pula Rayyan yang ternyata amnesia karena kecelakaan dan ditemukan oleh istri pertamanya( Naya) ia jatuh cinta pada Laras.
Mengetahui suaminya ternyata kaya raya, Naya ingin kembali pada suaminya dan melakukan berbagai usaha untuk memisahkan Rayyan dan Laras.
Akankah Laras bahagia dengan Rayyan? Siapakah yang akan dipilih Rayyan?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Aryani Ningrum, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab. 25
Ketegangan menyelimuti sekitar tubuh Naya begitu dirinya merasa diintimidasi oleh Mak Harti, ibu kandung Laras yang tidak sengaja mencuri dengar percakapan Laras dan Naya, yang Mak Harti pikir membahas urusan bisnis toko butik namun saat mendengar nama menantunya di sebut sontak membuat Mak Harti curiga.
Mendadak lidah Naya kaku, mulutnya seakan kelu untuk mengeluarkan sepatah katapun. Antara ingin jujur, namun Naya takut jika dirinya salah bicara dan membuat masalah pada Laras.
Tidak! Dia tidak akan melakukan hal yang merugikan dirinya. Tujuannya ingin memperpanjang kontrak untuk mendapatkan uang, kalau sampai kacau maka tujuan awalnya akan gagal.
"Emm ... Ini, saya datang ke sini ada keperluan sama Mbak Laras, B--bu," gumam Naya nyaris tak terdengar oleh Mak Harti, pasalnya Naya berbicara cukup pelan dan dia pun tidak tahu akan menjawab apa.
Mak Harti yang melihat gelagat Naya pun akhirnya gregetan, bahkan harus membuka lebar-lebar telinganya agar bisa mendengar suara Naya.
"Kamu bicara yang benar dong, saya tidak bisa mendengarnya secara jelas. Saya bertanya, kenapa tadi kamu dan Laras menyebut-nyebut nama menantu saya, Rayyan. Apalagi sampai membahas kontrak segala!" Mak Harti naik pitam, saking geramnya pada wanita di hadapannya yang tidak langsung terus terang menjelaskan apa yang barusan ia dengar.
Gelagat Naya terlebih ekspresi wajahnya seakan tengah gugup dan menyembunyikan sesuatu, kontan Mak Harti pun semakin curiga. Apalagi, Mak Harti sangat sensitif persoalan menantunya itu, Rayyan— karena baginya Rayyan adalah menantu yang ditunggu-tunggu olehnya dan Mak Harti tidak mau sampai kecewa jika ada yang ditutup-tutupi darinya.
Naya mengigit bibir bawahnya bingung. Atensinya beralih pada pintu kamar Laras, wanita itu belum kunjung keluar dan semakin membuat Naya semakin terasa diintimidasi oleh Mak Harti.
"Begini Bu, saya dan Mbak Laras punya perjanjian—"
"Emak!"
Mak Harti, Naya dan Laras yang baru keluar dari kamarnya pun menghentikan langkahnya saat suara bariton Rayyan mengintip indera pendengaran mereka. Naya yang melihat lelaki yang masih berstatus sebagai suaminya pun spontan berdiri dari duduknya benar-benar terkejut.
"Mak, Mbak Laras di mana ya, Rayyan cari-cari kok tidak ada. Tadi lagi bikin kue bersama di dapur, tapi Rayyan tunggu-tunggu sampai kue dalam oven nya hangus Mbak Laras belum kembali lagi," imbuh Rayyan jelas berbohong. Dia terkejut mendapati Naya di rumah Laras, namun dirinya lebih panik saat istri pertamanya yang rela menggadaikan dirinya itu berhadapan dengan Mak Harti.
"Ini siapa, Mak?" tanya Rayyan basa basi seraya melirik Naya, sebisa mungkin memasang wajah tenang agar Mak Harti tidak semaki curiga.
Yang Rayyan tahu, Mak Harti adalah orang yang sangat peka hingga hal sekecil apapun akan Mak Harti ketahui.
"Makanya ini, Rayyan, Mak tanya ada apa datang ke sini, dan tadi Emak sempat dengar kalau istri kamu sama wanita ini bahas masalah kontrak dan menyebut nama kamu. Cuma Emak kurang paham, maksudnya itu apa," jelas Mak Harti sekaligus menuntut jawaban dari Naya yang belum mengeluarkan suara lagi saat dirinya bertanya barusan.
Deg!
Kali ini bukan cuma Naya saja yang panik, tapi juga Rayyan. Keduanya takut jika sampai Mak Harti mengetahui yang sebenarnya terjadi, hal yang sudah di wanti-wanti oleh Laras agar Mak Harti tidak tahu persoalan suami kontrak.
"Maaf Bu, sepertinya tadi ibu salah dengar. Yang dimaksud kontrak itu persoalan kerja sama kok, perusahaan saya ada kerja sama dengan toko butik Mbak Laras dan niat saya datang ke sini untuk memperpanjang kontrak. Dan yang ibu dengar itu, Pak Rayyan atasan saya di kantor yang mengutus saya datang ke sini," alibi Naya sepenuhnya berbohong. Tidak ada cara lain, mau tak mau ia harus menyusun kalimat dusta untuk membohongi Mak Harti.
Skenario Naya pun disetujui oleh Rayyan, meskipun berbohong yang terpenting Mak Harti tidak mengetahui rahasia besar yang selama ini ditutupi oleh Laras dan dirinya. Mau bagaimana pun inilah perjanjian sejak awal yang Laras tentukan.
"Kamu tidak berbohong, kan? Rayyan yang kamu maksud dan kontrak itu tidak ada sangkut pautnya dengan Rayyan menantu saya?" pertegas Mak Harti yang langsung mendapat anggukan antusias dari Naya.
Jujur saja Naya tidak tahu akan berbohong bagaimana lagi. Ia melirik Rayyan meminta bantuan untuk mengalihkan perhatian Mak Harti, namun belum sempat Rayyan mengeluarkan suaranya pun Laras menghampiri ketiganya.
"Mak, yang dikatakan Mbak Naya benar kok. Dia ini karyawan dari perusahaan boss nya yang bernama Pak Rayyan. Kan yang namanya Rayyan bukan mas Rayyan aja, puluhan orang mempunyai nama yang sama kok seperti Mas Rayyan." timpal Laras buru-buru menarik lengan Mak Harti untuk ia gandeng.
"Mak ... sudah ah, kasian tuh Mbak Naya sampai gemetaran gitu kayak lagi diintrogasi sama Emak," ujarnya setengah terkekeh. "Ya sudah Mbak Naya, kita bicarakan di halaman depan saja ya sekalian duduk di sana." Hingga akhirnya Laras berjalan ke depan teras dan di susul oleh Naya.