NovelToon NovelToon
Istri Yang Kau Sia-Siakan

Istri Yang Kau Sia-Siakan

Status: sedang berlangsung
Genre:Penyesalan Suami / CEO / Nikahmuda
Popularitas:5k
Nilai: 5
Nama Author: Nona Jmn

Alesha rela mengorbankan impian dan kebahagiannya demi rumah tangga yang ia perjuangkan sepenuh hati dan menerima hinaan dan cacian oleh keluarga suaminya.
Namun semua pengorbanannya berakhir sia-sia ketika ia mengetahui suaminya berselingkuh dan mengaku belum menikah.
Memilih pergi adalah langkah paling menyakitkan yang pernah ia ambil. Tetapi tanpa disadari, keputusan itu justru membawanya pada kehidupan baru yang lebih baik.
Alesha mulai bangkit. Ia ingin membuktikan bahwa keputusannya meninggalkan masa lalu adalah pilihan yang tepat.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Nona Jmn, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Ujian kecil di pagi hari

“Risa…”

“Hm,” Risa hanya membalas dengan deheman singkat tanpa mengalihkan pandangan dari ponselnya.

Aldo berdiri di dekatnya, masih menatap sang istri yang terlihat sangat fokus pada layar.

“Buatkan Mas kopi, dong,” ucap Aldo akhirnya.

“Mas buat saja sendiri. Aku nggak bisa,” balas Risa santai.

Aldo mengernyit, matanya mulai memperhatikan Risa yang bahkan tidak menoleh sedikit pun.

“Risa, aku lagi bicara sama kamu. Kamu itu istri aku, tapi malah sibuk sama ponsel.”

Risa mendengus pelan, lalu akhirnya menatap suaminya sekilas.

“Mas, aku lagi hamil. Nggak boleh capek,” ucapnya datar.

“Sejak kapan bikin kopi itu capek, hah?” suara Aldo mulai meninggi, menahan kesal.

“Mas, nggak usah lebay. Kalau mau kopi ya bikin sendiri. Aku nggak bisa. Kamu juga tahu, di rumahku aku nggak pernah masuk dapur,” balas Risa ketus.

Aldo mengusap wajahnya kasar, napasnya mulai tidak beraturan.

“Risa, kenapa kamu berubah, hah?”

Risa menatapnya malas, masih dengan ekspresi dingin.

“Berubah apa sih, Mas? Aku tetap Risa yang dulu,” jawabnya ringan.

“Nggak. Risa yang aku kenal itu patuh sama aku.”

“Oh jadi kamu anggap aku pembantu?”

“Bukan begitu, Risa. Aku cuma minta dibuatkan kopi. Aku capek pulang kerja, itu saja,” ucap Aldo berusaha menahan emosi.

“Aku juga capek, Mas. Kamu pikir hamil itu nggak capek, hah?” suara Risa mulai meninggi.

“Capek kamu itu beda, Risa,” ucap Aldo pelan tapi tegas. “Aku kerja dari pagi sampai malam. Pulang cuma ingin istirahat.”

Risa tersenyum sinis kecil.

“Dan aku di rumah juga nggak istirahat, Mas. Aku hamil, itu bukan liburan.”

Aldo menarik napas panjang, lalu mengalihkan pandangannya ke sisi lain ruangan.

“Mas, harus cari pembantu. Aku nggak mau beresin rumah, masak, apalagi melayani kamu,” ucap Risa.

Deg.

Aldo terdiam sesaat, menatap istrinya tidak percaya.

“Itu memang kewajiban kamu, Risa. Melayani aku sebagai suami,” ucap Aldo dengan suara berat.

Risa berdecih pelan.

“Kamu cari saja pembantu, Mas.”

“Pembantu? Kamu pikir bayar mereka murah?”

“Terus kamu mau aku yang beresin rumah, masak, menyapu, begitu?”

Aldo tidak langsung menjawab. Ia memalingkan wajahnya, menahan emosi agar tidak meledak, takut berdampak pada kondisi Risa.

“Risa, pembantu itu mahal. Gajiku hampir setara mereka,” ucapnya pelan. “Kamu tahu posisiku di pabrik, aku belum sanggup.”

Risa terdiam sejenak, raut wajahnya berubah seperti sedang mempertimbangkan sesuatu.

“Nanti aku akan bilang ke papa untuk menaikkan posisi kamu.”

Aldo langsung menoleh cepat.

“Kamu serius?”

“Hm,” jawab Risa singkat.

Mata Aldo langsung berbinar, seperti menemukan harapan yang selama ini ia tunggu.

“Makasih, sayang.”

Emosi kesalnya seketika mereda. Ia menarik Risa ke dalam pelukan singkat.

Risa hanya diam, tidak membalas pelukan itu terlalu hangat.

“Iya. Sekarang buatkan aku susu, Mas,” ucapnya tenang.

Aldo mengangguk cepat.

“Tunggu sebentar.”

Ia segera bangkit dan keluar dari kamar menuju dapur.

Risa menatap punggung suaminya yang menghilang di balik pintu, lalu kembali tenggelam pada ponselnya, seolah tidak ada yang baru saja terjadi.

——

“Tabunganku sisa sedikit, sementara gajian masih jauh.”

Alesha menatap lembaran uang di dompetnya dengan wajah sendu. Jumlahnya tidak banyak, dan ia harus benar-benar mengatur agar cukup sampai hari gajian tiba.

Ia menghela napas pelan, lalu mengalihkan pandangannya ke jalan raya yang ramai.

“Apa aku naik angkot saja?” lirihnya pelan. Jika naik angkot, setidaknya ia bisa lebih berhemat.

Alesha menarik napas pelan. Setelah mantap dengan keputusannya, ia kembali menatap jalan.

“Nggak apa-apa, naik angkot saja. Yang penting sampai kantor,” ucapnya pelan sambil memberi semangat pada diri sendiri.

Matanya kemudian menatap jalan, berharap ada angkot yang melintas.

Tak lama berselang, sebuah angkot akhirnya muncul. Alesha segera melambaikan tangan agar kendaraan itu berhenti.

“Angkot, Neng?” tanya sopir angkot setelah berhenti di depannya.

Alesha mengangguk sopan.

“Bapak lewat arah Magnolia, nggak?” tanyanya.

Sopir angkot itu terdiam sejenak, lalu menggeleng pelan.

“Tidak, Neng. Jalan itu nggak boleh dilewati angkot.”

Wajah Alesha sedikit berubah murung. Ternyata benar, jalur menuju perusahaan tidak bisa dilewati angkot.

Namun sopir itu kemudian memberi saran.

“Tapi kalau Neng mau, bisa turun di jalan Lily saja, nanti lanjut sedikit jalan kaki.”

Alesha mengangguk pelan. Tidak apa-apa, yang penting ia tetap bisa sampai tujuan.

“Tidak apa-apa, Pak. Saya turun di situ saja,” ucapnya lembut.

“Baik, Neng. Naik.”

Alesha naik ke dalam angkot, lalu memilih duduk di kursi bagian tengah.

Angkot itu melaju perlahan menyusuri jalan yang mulai ramai oleh kendaraan pagi. Suara mesin angkot dan klakson kendaraan saling bersahutan di sepanjang jalan.

Alesha duduk di bagian tengah, menatap ke luar jendela sambil sesekali menghitung uang di dalam dompetnya lagi, memastikan sekali lagi tidak ada yang salah.

Namun perhatiannya teralihkan saat angkot berhenti sebentar di lampu merah.

Di depan, di dekat kursi sopir, duduk seorang wanita. Wajahnya terlihat pucat, tapi tetap tenang. Tangannya beberapa kali memegangi perutnya, wajahnya sesekali meringis menahan sakit.

Alesha mengernyit pelan. Pandangannya tidak bisa lepas.

Alesha perlahan mendekat sedikit karena merasa ada yang tidak beres.

“Ibu kenapa?” tanyanya pelan.

Wanita yang duduk di samping sopir itu menoleh dengan wajah lemah.

“Saya sakit perut, Nak,” jawabnya lirih.

“Sakit perut?” ulang Alesha, memastikan.

“Iya, Neng. Istri saya sakit perut. Kami dari semalam belum makan,” ucap sang sopir, yang ternyata adalah suami wanita itu.

Alesha terdiam. Dadanya mendadak terasa sesak mendengar penjelasan itu.

“Kenapa ibu dan bapak belum makan?” tanyanya pelan.

Sopir itu menghela napas kecil.

“Kami nggak ada uang, Neng. Sekarang penumpang angkot juga kadang ada, kadang nggak. Banyak yang pakai driver online,” keluhnya pelan.

Alesha terdiam. Selama ini ia merasa hidupnya sudah berat. Ternyata masih ada yang keadaannya jauh lebih sulit.

Matanya kembali menyapu dalam angkot yang ia naiki. Sejak tadi, hanya dirinya satu-satunya penumpang.

“Jadi Bapak juga belum makan?” tanyanya lagi dengan suara lebih pelan.

Sopir itu mengangguk, meski tetap mencoba tersenyum.

“Iya, Neng.”

Alesha menunduk, lalu menatap dompetnya sendiri. Uang di dompetnya memang tinggal sedikit. Namun melihat pasangan itu, ia tak sampai hati untuk berpura-pura tidak tahu.

Ia menghela napas pelan. Kalau ia lapar nanti, masih ada kantin kantor. Tapi bagaimana dengan mereka?

“Neng, sudah sampai,” suara sopir membuyarkan lamunannya.

“Eh, iya Pak.”

Alesha segera turun. Ia merogoh dompetnya dan menyerahkan uang ongkos.

“Ini, Pak.”

Sopir itu menatap uang tersebut dan tampak terkejut.

“Neng, ini kelebihan,” ucapnya.

Alesha tersenyum kecil, lalu menggeleng pelan.

“Tidak apa-apa, Pak. Ini untuk Bapak dan Ibu beli makanan. Semoga Ibu cepat sembuh sakit perutnya,” ucapnya tulus.

Istri sopir itu langsung terharu.

“Neng…”

Alesha tersenyum lembut.

“Semoga bisa membantu ya, Bu. Maaf saya hanya bisa segitu.”

Wanita itu menggeleng cepat, air matanya jatuh perlahan.

“Tidak, ini bukan sedikit… terima kasih, Neng…”

Sopir angkot itu juga tampak menahan haru.

“Neng, terima kasih ya. Semoga Tuhan membalas kebaikan Neng.”

“Amin ya Allah,” jawab Alesha pelan. “Saya duluan ya, Pak, Bu.”

“Iya, Neng. Hati-hati.”

Alesha melangkah pergi sambil tersenyum tipis.

Sementara itu, pasangan suami istri di dalam angkot saling berpandangan sejenak, lalu tersenyum tipis penuh arti.

“Berhasil.”

1
merry
syukuri dpt mantu kurg ajr,, dijadiin babu drmh sndrii
Anonim
BACOT MMQ🖕🖕
Ma Em
Leon sdh menemukan gadis teman masa kecilnya semoga benar Alesha reman masa kecil Leon dan berjodoh Alesha dgn Leon , Aldo sdh menikah dgn wanita pilihan nya apakah benar anak yg dikandung Risa adalah anaknya Aldo .
Hatnah Batulicin
peran Alesha org nya terlalu lemah dan letoy 😝😝😝
Anonim: Asli.... kekurangan vitamin
total 2 replies
Hatnah Batulicin
terlalu bnyk KTA "hah"disetiap dialog nya
Anonim: awokawok emang lawak awokawok blok
total 1 replies
dome🌬️🌀🌀🌀
lanjut Thor bikin cerita yg bikin tensi naik🤣🤣🤣🤣🤣
ayoookkkk semangat
semangat
💪💪💪💪💪
dome🌬️🌀🌀🌀
yookkk gelud yookkk Mak, sini biar saya smackdown

😤😤😤😤😤😤😤😤😤kuweseeellleee rekkk...
dome🌬️🌀🌀🌀
haduuhhhhh... Jagan lembek laahhh kau wahai wanita. sudah dihina diremehkan ga dihargai sekarang disakiti secara verbal dan fisik apalagi yg kau harapkan dari si biyawak suamimu. gila digampar masih bisa ngarep dibela. digampar yaa neng digampar.. udah kayak ga ada harga diri lagi lu. ngapain masih ngarep laki percaya sama kamu
dome🌬️🌀🌀🌀
eehhhhhh.... Mak lampir, itu bukan tanggung jawab mantumu yaa buat nafkahi kluarga kalian. setres kan kalian. coba brobat dl sapa tau gila.
yg Suai siapa tapi yg dituntut nafkahi siapa. kan gendeng yaaa.. ga DA kewajibannya mantu atau istri menafkahi keluarga nya apa lagi menafkahi kluarga suami.😄😄😄
ibu ini lupa minum obat inii pastii makanya rada kumat 🤭
dome🌬️🌀🌀🌀
kenapaaa,, kok berasa dunia mu yg runtuh Alesha dipecat. ga ada sumber pendapatan yaa yg bisa kau ambil dari Alesha lagi. makin lah kluarga suaminya semakin merendahkan Alesha... cereeeee ajaaaaaa laahhh Gedeg udah akuuuhhh😄😄😄😄
dome🌬️🌀🌀🌀
ihhhhh.... jengkelnya. kalau sudah tau tak dihargai dirumah yg kau anggap kluarga lebih baik pisaaahhhhhj... tinggalkan kluarga yg ga bisa menghargai mu itu Alesha. sudah dinafkahi seadanya banyak dituntut ini itu ga dihargai. parahnya udah kayak babu luar negri aja.
mending sekalian beneran kerja jadi babu luar negri makan gratis tinggal gratis digaji besar. sama aja kan kayak kau tinggal dirumah kluarga suami mu, macam babu. bedanya babu luar negri digaji🤣🤣🤣🤣
lahhh ini sudah lah dihina dijelekkan dibabuin ga dihargai, dinafkahi ala kadarnya saja. boro boro mau beli berlian segunung🤣🤣🤣🤣
lanjut lahhhhhh
dome🌬️🌀🌀🌀
lanjuuutttt lah.. gaskeuunnnn🤗💪💪
dome🌬️🌀🌀🌀
haduhhhh,,,, baru awal bab dan baru paragraf pertama baca sudah membuat aku punya darah tinggi dadakan😤😤😤

Thor kira kira kalau buat cerita, LG anteng2 baca sudah dibuat darah tinggi thorrrrrrr teganya dikau pada daku. 🤣🤣🤣🤣
coba Thor masukin aku kedalam novel mau aku geprek itu mertua dan ipar laknatnyaaa... sudah ga dinafkahi kok masih mau aja punya suami modelan gitu....
astaghfirullah
astaghfirullah
astaghfirullah
sabarrrr sabarrr... orang sabar rejekinya lebaaarrrrrrrrrrrr😁
Ma Em
Semoga Alesha sukses setelah berpisah dgn Aldo , Aldo pasti menyesal karena sdh menyia nyiakan istri sebaik dan sesabar seperti Alesha , semoga Alesha jadi orang yg sukses dan semakin bersinar .
Nona Jmn: Aamin😊
total 1 replies
Ma Em
Alesha kenapa kamu mau memenuhi kebutuhan Aldo dan ibunya sedangkan kerja kerasmu tdk pernah dihargai , lawan mereka Alesha jgn cuma nangis lbh baik tinggalkan suamimu yg tdk pernah menganggap mu istri tapi kamu cuma dianggap pembantu gratisan .
Nona Jmn: Pantau terus Alesha ya, kak🙂
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!