Bagi Alice Gracellyn, hidup adalah tentang kerja keras dan utang budi. Ia dipaksa menjadi tulang punggung keluarga pamannya yang serakah, dengan dalih membalas jasa karena telah menampungnya sejak yatim piatu. Namun, Alice tidak pernah tahu bahwa paman yang ia hormati adalah dalang di balik kematian orang tuanya demi merebut harta, termasuk rumah yang saat ini mereka tinggali.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon By.DarkRose, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Pengakuan yang Mengguncang
Suasana di taman belakang mansion Salvatore yang semula hangat berembunkan kebahagiaan, dalam sekejap berubah menjadi panggung sandiwara yang menyesakkan.
Kata-kata Viona menggema di antara pilar-pilar gazebo, meremukkan keheningan sore yang damai.
Angin yang berembus tidak lagi membawa keharuman mawar, melainkan hawa sedingin es yang melumpuhkan sendi-sendi kabut pikiran Alice.
Viona melirik ke arah para pengawal yang masih berjaga di batas taman, lalu dengan gerakan yang teramat dramatis, sepasang matanya yang semula memancarkan keangkuhan mendadak digenangi oleh air mata.
Maskara mahal yang menghias kelopak matanya mulai luntur seiring dengan isak tangis yang tiba-tiba pecah dari bibir merah menyalanya.
Tubuhnya yang terbalut gaun merah darah bergetar, seolah ia adalah seorang ibu yang teraniaya dan kehabisan daya.
"Kau pikir aku kejam, Elvano?!" ratap Viona, suaranya naik satu oktav, serak oleh kepedihan yang dibuat-buat namun terdengar begitu meyakinkan bagi telinga awam.
Ia berlutut di sebelah anak laki-laki bernama Kenzo itu, memeluk bahunya dengan erat.
"Kau pikir aku meninggalkanmu di Milan tujuh tahun lalu karena aku wanita matre yang tidak sudi mendampingi pria yang divonis mandul?! Tidak, Elvano! Aku terpaksa melakukannya!"
Elvano masih berdiri mematung di tengah gazebo. Rahangnya mengunci begitu rapat hingga otot-otot di sekitar pelipisnya berkedut kasar.
Sepasang matanya yang biasa memancarkan kendalinya, kini tampak melebar, terkunci sepenuhnya pada sosok anak laki-laki berjas hitam yang berdiri diam di samping Viona.
Anak itu tidak menangis, ia hanya menatap Elvano dengan sepasang manik cokelat gelap yang dingin dan datar, tatapan yang menjadi ciri khas garis keturunan Salvatore selama bergenerasi-generasi.
"Selama tujuh tahun ini, aku mengubur diriku dan anak ini di pinggiran kota Zurich, Swiss!"
Viona melanjutkan histerianya, menyeka air mata dengan punggung tangannya, menampilkan akting terbaik yang bisa ia suguhkan.
"Aku mengetahui kehamilanku tepat tiga minggu setelah dokumen perceraian kita ditandatangani di Milan. Aku ingin kembali kepadamu, Elvano! Demi Tuhan, aku ingin berlari memelukmu saat itu! Tapi apa yang terjadi saat itu? Klan Salvatore sedang berada di puncak perang berdarah dengan klan Moreli! Kepalamu dihargai jutaan dolar, dan setiap jengkal tanah Italia tidak aman bagi seorang bayi!"
Viona mendongak, menatap Elvano dengan tatapan penuh tuntutan yang berbalut air mata.
"Aku takut musuh-musuh mafiamu akan mengendus keberadaan anak ini. Aku takut Matteo atau sepupu-sepupumu yang gila kekuasaan itu akan membantai bayiku di dalam perutku demi memutus garis keturunanmu! Jadi, aku memilih berpura-pura menjadi wanita jahat. Aku membiarkan seluruh dunia bawah mencaciku sebagai istri yang egois, asalkan anakmu... darah dagingmu ini, bisa tumbuh besar dengan selamat di luar negeri tanpa perlu melihat genangan darah!"
Mendengar pengakuan yang begitu runtut dan penuh emosi itu, Alice yang duduk meringkuk di atas kursi rotan merasa dunianya runtuh seketika tanpa sisa.
Bumi tempatnya berpijak seolah-olah terbelah, menenggelamkannya ke dalam jurang keputusasaan yang jauh lebih dalam daripada malam saat ia pertama kali diculik ke mansion ini.
Tangan mungil Alice yang semula bertumpu hangat di atas perutnya kini bergetar hebat.
Ia mencengkeram kain gaun hijau sage-nya hingga kukunya memutih.
Rasa mual yang bersumber dari kehamilannya mendadak berlipat ganda, bercampur dengan rasa sesak yang menghimpit ulu hatinya.
Tujuh tahun... batin Alice menjerit histeris.
Wanita itu memiliki anak berusia tujuh tahun yang sangat mirip dengan Elvano. Jika anak itu adalah Salvatore yang sesungguhnya... lalu apa arti diriku dan janin di dalam rahimku ini?
Dengan secercah harapan yang tersisa di sudut jiwanya, Alice memutar kepalanya perlahan.
Ia menatap punggung tegap Elvano yang berdiri membelakanginya.
Di dalam hatinya yang terluka, perasaan yang semakin mengakar, Alice berharap ia sangat memohon kepada Tuhan agar Elvano akan berbalik, mengeluarkan senjata apinya, dan mengusir wanita berbaju merah itu dari wilayah kekuasaannya seperti yang biasa ia lakukan pada musuh-musuh yang mengganggunya.
Alice membutuhkan Elvano untuk berteriak bahwa semua itu adalah kebohongan.
Namun, pemandangan yang tersaji di depan mata Alice justru menjadi hantaman paling mematikan.
Elvano, pria yang tidak pernah gentar di depan moncong senapan, pria yang dengan angkuh meruntuhkan harga diri para tetua klan di Italia, kini justru tampak syok berat.
Kedua tangan besarnya yang semula terbenam di saku celana perlahan keluar, menggantung lemas di sisi tubuhnya.
Napas Elvano memburu kasar, namun bibirnya seolah-olah terkunci oleh semen tak kasat mata.
Ia tidak mampu mengeluarkan satu patah kata pun untuk membantah.
Ketidakmampuan Elvano untuk merespons dengan kegarangan seperti biasanya adalah konfirmasi paling kejam bagi Alice.
Elvano goyah. Perasaan pria itu, yang beberapa jam lalu luluh oleh penjelasan medis Dokter Hendra tentang 'Kelainan Langka', kini mendadak terbentur pada fakta visual di depannya.
Seorang anak yang memiliki cetakan wajahnya sendiri.
Viona, yang menyadari bahwa bualannya berhasil melumpuhkan mental Elvano, segera mengambil kesempatan untuk melancarkan serangan akhir.
Ia bangkit berdiri, menuntun Kenzo maju dua langkah lagi, tepat di batas anak tangga gazebo.
"Sekarang, masa-masa persembunyianku sudah habis, Elvano," ucap Viona, nada suaranya berubah menjadi memelas namun tetap penuh akan manipulasi.
"Aset klan yang kubawa dulu sudah habis terkuras untuk membiayai pengobatan Kenzo dan menyuap agen keamanan di Swiss agar identitas kami tetap rahasia. Kami kehabisan biaya. Aku tidak peduli lagi pada diriku sendiri... tapi Kenzo... Kenzo adalah anakmu! Dia berhak mendapatkan perlindungan terbaik, pendidikan terbaik, dan haknya sebagai pewaris tunggal klan Salvatore yang sah! Kau tidak bisa mencampakkannya hanya demi wanita pelarian yang baru kau kenal beberapa bulan ini!"
Viona melirik tajam ke arah Alice, tatapan matanya dipenuhi kilat permusuhan yang seakan ingin menguliti Alice hidup-hidup.
"Anak di dalam rahim wanita itu belum tentu anakmu, Elvano! Kau tahu sendiri bagaimana riwayat wanita bar di pusat kota. Tapi Kenzo... lihat wajahnya! Lihat matanya! Kau tidak membutuhkan tes laboratorium apa pun untuk tahu bahwa dia adalah darah dagingmu!"
Mendengar penghinaan itu dilontarkan langsung di depan wajahnya, air mata Alice akhirnya tumpah tak terbendung.
Ia membekap mulutnya sendiri, mencoba menahan isak tangis agar tidak mempermalukan dirinya sendiri di depan mantan istri Elvano.
Dadanya naik-turun dengan kencang, menahan rasa sakit hati yang teramat dalam karena kebahagiaan yang baru saja ia cicipi selama beberapa jam, kini menguap bagai embun pagi yang terkikis cahaya mahatari.
Alice memandang kembali ke arah Elvano, berharap pria itu setidaknya menoleh untuk melihat kondisinya yang hancur.
Namun, Elvano tetap diam membeku, matanya masih terpaku pada sosok anak laki-laki berumur tujuh tahun itu dengan rahang yang menegang dan wajah yang diselimuti oleh kabut keterkejutan yang teramat sangat.
Keheningan Elvano malam itu menjadi peluru paling tajam yang menembus jantung Alice, meninggalkannya sendirian di tengah badai pengkhianatan masa lalu yang datang tanpa diundang.
hey elvano kmana insting mafia mu🤣🤣🤣
sebel elvano gak peka banget sm taktik licik ulat bulu viona😔🤔
ibu nya aja gak setia, pasti ada rencana jahat nih🤔🤔🤔