Sebuah kerajaan terbesar punya misi menangkap semua petarung liar untuk kedamaian. Namun semua perguruan seni bertarung pedang menolaknya. Karena mereka tahu kalau kerajaan ingin mengatur masyarakat dengan menguasai sumber daya.
Sepasang pendekar pedang ini menjadi penyelamat untuk melawan sebuah kerajaan besar. Mereka melakukan perjalanan bersama untuk mengumpulkan rahasia teknik pedang tersembunyi dan dua pedang Sakti.
Pedang Zen Xi di Desa Win, lalu pedang Zoi Chu di Desa Hon. Namun mereka harus melewati rintangan dan tempat untuk bisa sampai di tujuan. Lalu mereka kembali untuk mengalahkan Kerajaan Sinpor.
Setelah masalah Kerajaan Sinpor selesai, kisah cinta mereka berdua sempat mendapatkan penolakan dari orang tua perempuan, karena perbedaan kelas sosial. Namun mereka berdua punya cara agar mereka berdua bisa menikah.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Firdaus Rangkuti, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Pedang Sakti
"Kau tahu tentang pedang ini?" ucap Rio kaget mendengar semua ocehan yang sudah mereka baca di dalam buku dan gulungan.
"Benar, namaku adalah Winozi, aku adalah seorang prajurit kelas 1 di sebuah desa tempat pedang itu di curi." ucap Winozi.
"Kau tahu tentang ini, Winozi?" tanya Rio.
"Benar, Pedang sakti ini punya sejarah panjang dalam melindungi penduduk dari serangan para petarung liar. Ada seorang jenius yang bisa menciptakan Pedang Zen Xi. Lalu dia menyempurnakan dengan menggabungkan jurus yang di tulis di gulungan itu." ucap Winozi.
"Tapi aku tidak tahu tentang sejarah panjang Pedang Zen Xi ini. Hebat juga." ucap Rio.
Lalu seorang bawahan Winozi memotong sebuah pohon lalu dia mengangkat bagian potongan pohon itu sebagai tempat duduk Winozi tepat di belakang berdirinya. Desa Win adalah sebuah desa yang sangat besar di tutupi oleh sebuah tembok besar dengan empat pintu masuk sebagai jalur keluar dan masuk para penduduk dari luar desa.
Winozi menjelaskan bahwa dulunya Desa Win adalah desa kecil. Karena keberadaan Pedang Zen Xi. Desa Win menjadi berkembang pesat. Desa Win mendapat kepercayaan dalam menyimpan aset berharga ini untuk ke stabilan Desa Win.
Sebuah bangunan besar berwarna putih bernama Istana Win adalah sebuah tempat dimana Pedang Zen Xi dan berbagai informasi rahasia di simpan oleh para penjaga dengan kemampuan bertarung lebih tinggi di bandingkan dengan petarung biasa. Penjaga bertopeng adalah prajurit khusus untuk menangkap penyusup yang masuk istana Win.
Winozi menjelaskan bahwa dia adalah prajurit elit kelas 1 bernama prajurit khusus untuk menjaga Desa Win. Di dalam sebuah desa tidak memiliki kerajaan atau kepala desa atau kepala yang mengatur desa. Hanya prajurit khusus untuk menjaga Desa Win saja. Hanya ada pemimpin tertinggi prajurit Desa Win.
"Winozi, saya mencuri ini untuk kepentingan kebaikan warga desa." ucap Rio.
"Walaupun demikian, itu adalah aset berharga kami." ucap Winozi bersiap menyerang Rio bersama temannya.
"Kalau begitu ayo kita bertarung." ucap Rio.
"Sring."
Rio mengeluarkan pedang sakti dengan tatapan tajam. Lalu keduanya mulai bertarung dengan Winozi menyerang cepat kepada Rio dari depan. Mereka berdua saling menangkis pedang. Rio kaget melihat kemampuan Winozi dapat menyerang melewati kekuatan sakti pedang.
Jinsin menyerang Winozi dari belakang dan menebas punggungnya. Dia mundur menjauh melihat punggung di tebas. Lalu dia membuka rompi yang sudah rusak di tebas Jinsin meletakkan di tanah.
"Kalian ber empat serang wanita itu." ucap Winozi beri perintah.
"Jinsin hati-hati. Mereka prajurit punya kemampuan khusus." ucap Rio.
"Baik."
Jinsin berlari ke arah lain melayani ke empat petarung hebat. Dia di kepung namun Jinsin menyerang mereka. Mereka saling menangkis pedang dan mencari celah dengan teknik baru di pelajari.
Lalu Jinsin melompat tinggi dan berputar di udara dengan kaki di atas dan pedang itu mengarah ke segala arah. Kedua petarung itu dengan cepat menangkis serangan cepat Jinsin. Namun kedua lainnya terkena sampai tergeletak di tanah dengan luka di kepala mereka. Jinsin turun ke bawah dan melihat dua petarung lain masih bisa menangkis serangan hebat.
"Ting. Ting. Ting. Ting. Ting. Ting. Ting." Rio dan Winozi saling serang dan menebas pedang mereka dengan kekuatan penuh. Setelah mereka saling serang dengan cepat, mereka berdua mundur saling memegang pedang dengan kondisi kelelahan.
"Hebat juga ya. Namun kali ini aku tidak akan membunuh kalian semua. Jinsin pastikan mereka terluka dan hidup." ucap Rio.
"Baik."
"Kekuatan sakti." ucap Rio menebas pedang ke tanah. Lalu menarik kembali.
"Sial, dia mau menyerangku lagi." ucap Winozi.
"Ting.. Sreek....." Winozi terkena tebasan pedang di bagian punggung. Dia tergeletak di tanah dengan luka yang keluar. Rio hanya menatap Winozi dengan luka ringan.
"Jinsin, kita pergi." ucap Rio.
"Baik."
Rio dan Jinsin mengemasi barang bawaan. Lalu setelah selesai dia bersiap untuk pergi. Saat hendak pergi, Rio berdiri dan menatap Winozi kondisi lemah dengan wajah marah. Lalu dia pergi berlari meninggalkannya. Winozi dalam kondisi lemah, menatap mereka berdua dengan mata mengantuk dan pingsan. Dua rekan Winozi menolongnya untuk di baringkan di pohon. Lalu satu rekan kembali ke desa untuk meminta bantuan. Rio dan Jinsin berlari menjauhi desa menuju ke tempat lain yang lebih aman.
"Kita akan tinggal di sini, Jinsin." ucap Rio masuk ke sebuah rumah kayu tua meletakkan barang-barang.
"Iya, Rio." Jinsin meletakkan barang bawaan di lantai.
Malam telah tiba, Rio dan Jinsin akan tinggal di sebuah Desa Swon. Sebuah rumah tua yang memiliki Padang rumput, hutan dan sungai yang berada di dekat sini. Tujuan mereka tinggal sementara adalah untuk berlatih dan mengamankan diri dari kejaran prajurit dari Desa Win. Mereka akan menetap lebih lama sebelum mereka akan melanjutkan perjalanan lagi.
Pagi telah tiba, Rio menjalani rutinitas dengan mandi dan sarapan. Sementara Jinsin hendak mencuci baju di sebuah air sumur. Mereka akan melakukan aktivitas sebagai rakyat biasa dengan menyembunyikan identitas mereka.
"Rio, kau sudah mandi, setelah itu tolong aku untuk menjemur pakaian kamu." teriak Jinsin.
"Oke." Rio yang sudah siap mandi, sedang berdiri di sebuah pintu samping di depan Jinsin lagi mencuci baju. Rio menjemur pakaiannya di matahari yang telah tinggi. Dengan mengibas pakaian celana, Rio terlihat senang sudah bisa menetap di rumah sebuah Desa di pinggiran.
"Kau akan pergi ke kota untuk belanja Jinsin." tanya Rio.
"Benar, aku akan keluar setelah mencuci. Kau di sini saja." ucap Jinsin lagi memegang kain berisi air di ember.
"Berhati-hatilah, Jinsin. Jangan gunakan pedangmu. Gunakan saja teknik bela diri tangan kosong. Sebagai dasar melindungi diri." ucap Rio menasehati.
"Puuuuk." Jinsin melempar celana panjang basah ke wajah Rio.
"Kau tak perlu menasehatiku tahu, aku sudah tahu tentang itu. Cepat bawa sini cucian ku." ucap Jinsin marah.
"Pluuuk." Rio melempar balik celana basah ke Jinsin.
"Kau tak bisa melempar ku." ucap Jinsin berhasil menangkap celana basah di tangan kanan dengan wajah marah.
"Hiiik..." wajah Rio berubah takut.
"Sudah, aku mau pergi dulu. Cepat jemur ini ya." ucap Jinsin bangkit dari duduknya menuju ke dalam rumah. Rio mengambil ember berisi kain Jinsin dan dia menjemurnya. Lalu Dia keluar dari rumah berjalan membawa keranjang belanja tradisional berpakaian biasa seperti penduduk Desa Swon. Setelah Rio menjemur pakaian, dia hendak duduk di teras rumah bersantai menikmati angin pagi yang sejuk dan damai ini.
"Tidak ada siapa pun di sini." Rio memandingi langit sambil berbaring di teras rumah.
Tidak lama, Rio bangkit dari berbaring untuk berlatih sebuah jurus tersembunyi kembali. Dia mematangkan diri dengan menarik pernapasan di tubuh dengan duduk di bawah pohon menutup mata dan berkonsentrasi agar aliran kekuatan di tubuh dapat di netralisir.