NovelToon NovelToon
Kalian Hidup Enak Atas Tanganku

Kalian Hidup Enak Atas Tanganku

Status: sedang berlangsung
Genre:Penyesalan Suami / CEO / Mengubah Takdir
Popularitas:9.2k
Nilai: 5
Nama Author: lisxone

Hana Untari seorang wanita yang baik dan cantik, diamenikah dengan laki‑laki bernama Dimas Prayoga. Hana tinggal dengan suami beserta keluarga suaminya. Namun, Dimas selama 3 tahun menjadi suami Hana tidak menafkahinya dengan layak, dia beralasan jika Hana juga mempunyai penghasilan yang cukup. Dimas menghabiskan uangnya untuk kebutuhannya sendiri, sedangkan untuk kebutuhan ibu dan kakak serta adiknya semua uang dari Hana. Perselingkuhan Dimas dengan orang terdekat Hana, membuat Hana tidak bisa memaafkan suaminya. Mampukah Hana menjalani biduk rumah tangga dengan Dimas?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon lisxone, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Tak Tahu Malu

Sidang pun selesai, Hana dan Farhan serta pak Heru keluar lebih dulu. Status janda kini sudah Hana dapatkan, Hana sudah resmi menjadi seorang janda. Mulai hari ini, Hana harus bisa menjaga sikap dan bisa tebal telinga. Status janda dipandang sebelah mata oleh masyarakat.

" Hana tunggu !!"Seru Dimas saat mereka sudah sampai parkiran.

" Mau apa lagi kamu? Kamu dan adikku sudah tidak ada hubungan apa‑apa lagi?." Ucap Farhan pasang badan untuk melindungi Hana.

" Maaf kak, aku hanya ingin bicara sebentar saja sama Hana."Ucap Dimas memohon.

Farhan memandang ke arah Hana, dan Hana menganggukkan kepalanya. Hana dan Dimas sedikit menjauh dari keluarganya.

" Apa yang ingin kamu bicarakan mas? Jangan lama‑lama,sebab aku harus ke kantor. Jam izinku sudah mau habis."Seru Hana ingin Dimas segera membicarakan apa yang ingin dia katakan.

" Senang kan sudah menjadi janda? Aku minta sama kamu, tolong kembalikan uang gajiku yang selama 2 bulan itu kamu minta. Bukannya kamu bilang di pengadilan jika aku tidak pernah memberi kamu uang? Jadi uang itu sekarang kembalikan."Ucap Dimas tanpa tahu malu menagih uang yang seharusnya sudah menjadi hak nya Hana.

Hana tersenyum tipis sambil menggelengkan kepalanya. Dia tidak menyangka jika dulu dia menikahi laki‑laki tidak tahu diri seperti Dimas ini. Laki‑laki yang dengan mudahnya meminta nafkah yang sehsrusnya sudah menjadi hak seorang istri.

" Kamu tidak malu berbicara seperti itu? Bukankah itu nafkah yang wajib kamu berikan untuk istri kamu, dan itu sudah menjadi hak ku? Tapi kenapa sekarang kamu memintanya untuk di kembalikan. Oke, daripada uang itu menjadi masalah di kemudian hari, aku akan mengembalikannya sekarang juga."Ucap Hana lebih memilih untuk mengembalikan uang itu.

Dengan dikembalikannya uang itu, Hana berharap Dimas dan keluarganya tidak akan lagi menganggu hidupnya.

" Kamu kirim ke nomor rekeningku. Masih kamu simpankan no rekeningku. Oh iya, jangan mengatakan aku selingkuh jika kamu sendiri juga selingkuh. Apa kamu kira aku tidak tahu hubungan kamu dengan pria yang bernama, Aldo. Pria yang pernah kamu temui di minimarket waktu itu."Seru Dimas tersenyum kecut.

" Ohh... kenapa saat sidang perceraian tadi tidak kamu bahas masalah ini?." Tanya Hana dengan berani.

Dimas diam, sebab pengacaranya tadi tidak mau menjadikan foto‑foto yang beberapa hari yang lalu dia ambil. Pengacaranya tadi menolak menjadikan foto itu untuk melawan Hana. Sebab dia tahu, lawannya bukan pengacara sembarangan. Justru semua itu akan menjadi boomerang untuk kariernya. Pak Lukas sebelumnya kembali memperhatikan foto‑foto yang dia cetak, ternyata selain Hana dan Aldo di meja itu juga ada seorang perempuan yang tertutup dengan tubuh Hana.

" Maaf aku permisi. Uang 4 juta sudah aku kirim ke rekening mu. Kamu coba cek saja, setelah ini jangan ganggu aku lagi."Seru Hana berjalan menghampiri Farhan yang sudah lebih dulu masuk mobil.

Pengacara Hana sudah lebih dulu pergi dari saat sidang selesai. Pak Heru pengacara yang sibuk, banyak yang sedang dia kerjakan. Hana sama sekali tidak menyapa Ibu Sundari dan Sintia yang masih berdiri tidak jauh dari mobilnya.

Hana membuka pintu mobil begitu saja, lalu masuk dan Farhan pun melajukan mobil meninggalkan parkiran kantor pengadilan agama.

" Bayaran saya bagaimana ini pak Dimas? Anda baru memberi saya bayaran 30 juta, kurang 20 juta lagi."Ucap pak Lukas menagih sisa uang bayarannya saat itu juga.

" Kerja tidak becus kok minta bayaran full, tidak ada ! Jangan kamu bayar sisanya Dim, biarkan saja. Enak banget dia, kerja tidak becus juga."Ucap ibu Sundari menolak membayar full pengacara yang di sewa Dimas.

" Tidak bisa begitu dong. Perjanjiannya kan bayaran saya 50 juta, jika kalian tidak membayarkan full aku akan tuntun kalian. Biar kalian mendekam di penjara."Ucap pak Lukas mengancam.

" Jangan pak, baik akan saya bayar full sesuai dengan kesepakatan kita."Ucap Dimas tidak mau berurusan dengan polisi apalagi orang yang dia lawan seorang pengacara yang sudah paham dengan hukum.

Dimas mengambil ponsel dalam kantong celana nya dan membuka aplikasi bank online lalu mentransferkan sejumlah uang ke rekening pak Lukas. Dalam hitungan menit, uang 20 juta sudah berpindah ke rekening pak Lukas.

Hhhuuuffff

Dimas mendesah pelan saat melihat sisa saldo di rekeningnya. Hanya sisa 6 juta saja, setelah itu dia tidak tahu harus bagaimana. Untuk kontrakan bulan depan juga harus sudah bayar.

" Nah begitu dong. Kalau beginikan sama‑sama enak, tugas saya sudah selesai kalau begitu saya permisi."Seru pak Lukas lalu masuk ke mobilnya.

Dimas, ibu Sundari dan Sintia menatap kepergian pak Lukas dengan hati yang dongkol. Habis sudah uang mereka, tabungan Dimas habis dan perhiasan Sintia tinggal berapa biji lagi.

" Aku tidak mau tahu pokoknya perhiasanku harus di ganti."Ucap Sintia terus menggerutu.

" Iya sayang nanti mas ganti. Ya sudah sekarang kita pulang yuk, bu kita pulang."Ucap Dimas.

Ibu Sundari mengangguk, usia yang sudah tidak lagi muda membuat dia sering capek dan lelah. Ibu Sundari jalan di depan Dimas dan Sintia, saat sampai pinggir jalan bertepatan ada angkot yang berhenti.

" Kok naik angkot sih, Dim?."Tanya Sintia dengan kesal.

" Uangku tidak cukup untuk naik taksi, Sayang."Jawab Dimas tetap lembut.

Dimas harus pandai‑pandai mengelola keuangan. Apalagi sekarang dia cuma bekerja sebagai pelayan cafe yang gajinya tidaklah besar. Dia juga harus menabung untuk biaya lahiran Sintia.

 

" Kalian sudah sah menjadi suami istri sekarang kalian pergi dari sini."Seru ibu Sundari mengusir Lastri dan Bobi.

Baru 30 menit yang lalu Lastri dan Bobi melangsungkan ijab qabulnya, ibu Sundari sudah langsung mengusirnya begitu saja. Orang tua Bobi tentunya juga heran dengan sikap tidak sopan ibu Sundari, bisa‑bisanya seorang ibu mengusir anaknya sendiri.

" Bu besan kok bicaranya seperti itu sih? Biarkan dulu mereka beristirahat baru mereka nanti juga akan pindah ke kontrakannya Bobi."Seru ibu Ami, ibu dari Bobi.

" Heehh jangan panggil saya besan, aku tidak sudi berbesan dengan orang miskin seperti kalian. Kalau bukan karena Lastri sudah dihamili anak mu, aku tidak sudi menikahkan anakku dengan Bobi si miskin itu. Anakku itu masih kuliah tapi anak mu yang miskin dan pengangguran itu sudah menghamilinya."Ucap ibu Sundari menghina besan serta menantunya.

Mendengar anaknya di hina ibu Ami pun marah, ibu mana yang tidak akan marah jika anak yang sudah dia besarkan di hina oleh orang. Dan yang menghinanya juga seorang ibu yang berstatus mertua.

" Heh bu !! Di sini bukan anak saya saja yang salah, tapi anak ibu juga salah. Masih bagus Bobi mau menikahinya dan bertanggung jawab. Perempuan macam apa yang sering datang dan tidur di kontrakan pria, makanya ibu itu ajari anak ibu. Jadi wanita jangan murahan dan gampang ngangkang, jangan anak saya saja yang kamu salahkan. Oh iya, kamu itu juga miskin jadi miskin jangan teriak miskin."Seru ibu Ami akhirnya keluar juga kata‑kata kasarnya.

Ayah Bobi mendekati istrinya dan meminta istrinya untuk diam. Ucapan istrinya tadi sudah menyakiti hati Lastri. Lastri dan Bobi saling menguatkan, mereka saling menggenggeng tangan.

" Bu, sudah jangan ribut lagi. " Seru Dimas menghentikan perdebatan antara kedua ibu yang sama‑sama tidak mau mengalah.

" Bobi, sudah ibu bilang kan sama kamu. Lebih baik kamu putuskan wanita itu dan kamu merantau ke luar kota, biarkan saja wanita murahan itu hamil tanpa suami. Tapi kamu ngeyel ingin menikahinya, lihatlah ibu mertua kamu sombongnya seperti ini. Ibu juga tidak mau jika kalian tinggal di rumah ibu !!."Ucap ibu Ami, ternyata sama saja dengan ibu Sundari, egois.

Hari pernikahan yang seharusnya menjadi hari paling bahagia. Tapi tidak bagi Lastri dan Bobi, justru hari ini menjadi hari paling menyedihkan untuknya. Pernikahan yang hanya di hadiri keluarga dan 2 tetangga sebagai saksi, pernikahan sudah mengikat Lastri dan Bobi sebagai sepasang suami istri yang sah. Apapun yang terjadi, Bobi tidak akan meninggalkan Lastri. Dia sangat mencintai Lastri, apalagi saat ini ada bayi dalam rahim Lastri.

Kedua orang tua Bobi akhirnya pulang lebih dulu, menyisakan Lastri dan Bobi yang saat ini ada di dalam kamar sedang membereskan barang‑barang Lastri.

" Buruan, jangan lama‑lama karena aku mau istirahat."Teriak ibu Sundari dari ambang pintu kamar.

" Iya bu, ini sudah selesai."Jawab Lastri tanpa melihat wajah ibunya.

Dua koper barang‑barang Lastri sudah ada di depan pintu kamar. Dan satu tas ransel ada dalam gendongan Bobi. Kini mereka sudah siap meninggalkan rumah kontrakan Dimas, untuk sementara waktu mereka akan tinggal di kontrakan Bobi. Kontrakan petak yang hanya ada 2 ruangan, 1 untuk tempat tidur dan satu kamar mandi.

Brraaakkk

Ibu Sundari menutup pintu kamar, dia masuk kamar tanpa menunggu Lastri dan Bobi pergi. Dimas dan Sintia pun tidak ada, sepertinya mereka juga ada di dalam kamarnya.

" Lastri, kita tinggal di kontrakan sempit ku tidak apa‑apa kan. Apapun yang terjadi aku akan tetap bersamamu, ada anak di dalam sini yang harus kita jaga dan kita besarkan."Ucap Bobi sambil mengusap perut Lastri yang masih rata.

" Iya Bob. Kamu bawa dulu koper‑koperku ini nanti balik lagi untuk menjemputku. Aku tunggu di teras ya."Ucap Lastri dengan suara parau menahan tangis.

" Iya."Jawab Bobi singkat.

Sepasang pengantin itupun keluar dari rumah, Bobi membawa dua koper Lastri lebih dulu baru dia akan kembali lagi menjemput Lastri. Jarak ke kontrakannya lumayan jauh, jika harus naik taksi pun akan mengeluarkan biaya yang lumayan. Daripada untuk bayar taksi, uang itu lebih baik mereka gunakan untuk membeli makanan.

Lastri sudah mencoba menghubungi Bayu, untuk memberitahu jika dia akan menikah dan meminta tolong dia untuk mencarikan pekerjaan Bobi. Namun nomor Bayu tidak bisa di hubungi, sepertinya Bayu masih belum mau berkomunikasi dengan keluarganya.

1
Heni Setiyaningsih
haaddeeuuh...alamat ini mah modelan suami mokondo/Left Bah!//Left Bah!//Left Bah!/
Anonim
hah dimas?? enggak ngerti nih cerita nya
Anonim
woy BISA NULIS GA SIH
Ma Em
Heran ya sama Bu Sundari dan menantu sintingnya si Sintia ga punya otak masa arisan dirumah orang , Hana buat mereka semua kapok agar TDK berani ganggu kamu lagi Hana bila perlu laporkan saja ke polisi agar tdk ganggu Hana lagi .
Anonim
BUNUH SAJA SEKALIAN SEMUANYA BUNUH
Anonim
BUNUH SEMUA NYA
Anonim
KAU YANG HARUS MATI ANJING
Ma Em
Akhirnya Hana berpisah juga dgn Dimas tanpa uang sepeserpun uang yg Dimas terima untuk permintaan Dimas yg katanya harta gono gini , benalu minta bagian harta sedangkan Dimas dan keluarganya Hana yg tanggung biaya hdp nya bahkan Domas tdk pernah memberikan nafkah untuk Hana , dasar Dimas muka tembok tdk punya malu Dimas cuma modal mokondo .
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!