Prolog
Cinta dan penantian adalah sebuah paket yang berbeda, namun memiliki keterkaitan.
Banyak laki-laki yang datang namun belum ada yang mematahkan penantian Sheina terhadap Dave selama bertahun-tahun?.
Hingga akhirnya Sheina bertemu dengan teman Dave yaitu Rangga.
Apakah Rangga dapat mematahkan penantian Sheina?
Apakah Sheina dapat membuka hatinya untuk Rangga?
Apakah Sheina dan Dave bisa bersatu? Atau justru Sheina dan Rangga yang akan bersatu?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Teras, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
EPISODE 33
TUNGGU KEDATANGANKU, SHEI
Adzan subuh mulai terdengar kembali membangunkan setiap insan yang terlelap dalam mimpinya, dan mengingatkan insan akan kewajiban yang harus segera ditunaikan.
Begitu dengan Sheina, dia bergegas bangun untuk membersihkan tubuhnya setelah itu menunaikan kewajibannya.
Setelah selesai dia pun menuju dapur untuk menemui mamanya.
“Ada yang bisa Sheina bantu, ma?”, tanya Sheina ketika sudah berada didapur.
“Kamu kupas bawang, potong tomat dan daun seledri saja”.
“Memangnya mama ingin masak apa?”.
“Mama ingin membuat soto”.
Sheina mengangguk-anggukkan kepalanya mendengar perkataan mamanya.
“Apa Sheina masih ingat, kalau Sheina masih memiliki hutang penjelasan kepada mama?”.
Hmmm, Sheina menghela nafas dan membuangnya secara perlahan.
“Apakah Sheina ingin melunasi hutangnya sekarang atau dilain waktu?”, tanya mama kembali.
“Hari ini saja, ma”.
“Baiklah, kalau begitu”.
Sheina kembali menghela nafas dan membuangnya secara perlahan.
“Sheina pergi ke Bandung karena ingin menemui seseorang”, Sheina memulai perkataannya.
“Memangnya siapa yang ingin Sheina temui?”.
“Teman kuliah Sheina”.
“Apakah kamu yakin hanya sekedar teman kuliah, Shei?”.
“Dia memang teman kuliah Sheina dan dia memiliki hutang kepada Sheina. Itu sebabnya Sheina pergi ke Bandung untuk menagih hutangnya”, jelas Sheina sembari menghelakan nafasnya.
“Memangnya dia berhutang apa kepadamu, nak?”.
“Dia berhutang pernikahan kepada Sheina”.
“Hutang pernikahan bagaimana maksud mu, nak?”.
“Dia melamar Sheina ketika dia wisuda dan Sheina menerima nya asalkan dia datang ke wisuda Sheina”.
“Apakah dia tidak datang ke wisuda mu, nak?”.
Sheina menggelengkan kepalanya sebagai jawaban.
“Apakah kamu bertemu dengannya ketika di Bandung?”, tanya mama.
Sheina menganggukkan kepalanya sebagai jawaban.
“Lalu, apakah sudah selesai permasalahannya?”, tanya mama lagi.
Kali ini Sheina menganggukkan kepalanya sebagai jawaban.
“Loh, memangnya kalian tidak mendiskusikan permasalahannya untuk mendapatkan solusinya?”.
“Tidak, ma”.
“Jadi, apa yang kalian lakukan ketika kalian bertemu?”.
“Tidak ada, ma”.
“Tidak ada bagaimana maksudnya, Sheina?”.
“Tidak ada percakapan diantara kami, ma”.
“Bagaimana bisa bertemu namun tidak ada percakapan?”.
“Karena dia datang dan pergi sesuka hatinya, bahkan Sheina pun tidak tahu kapan kedatangannya dan tidak tahu kapan kepergiannya”, jelas Sheina.
Hmmm, mama menghela nafas dan membuangnya secara kasar.
“Lalu, bagaimana dengan hutangnya kepada Sheina?”.
“Sheina akan berusaha menganggap bahwa dia tidak pernah berhutang apapun kepada Sheina”.
“Kenapa begitu?,memangnya apa yang telah terjadi?”.
“Karena….”, Sheina menghentikan perkataannya sembari mengatur nafasnya.
“Karena apa, Shei?”.
“Karena dia…”, lagi-lagi Sheina menghentikan perkataannya.
“Memangnya dia kenapa, Shei?”.
“Dia telah bertunangan dengan wanita lain, ma”, Sheina tertunduk dan buliran putih juga ikut mengalir dengan deras membasahi pipinya.
Hmmm, sekarang gantian mama yang menghela nafas dan membuangnya secara perlahan.
“Apakah dia tahu, kalau Sheina telah mengetahui bahwa dia telah bertunangan?”.
“Sepertinya dia tidak tahu, ma”.
“Apakah dia tahu, kalau Sheina juga mencintainya?”.
“Sepertinya dia tidak tahu juga, ma”.
“Lalu, kenapa Sheina tidak memberikan penjelasan atau tidak meminta penjelasan kepadanya?”.
“Karena Sheina tidak ingin merusak kebahagiannya”.
“Sheina tahu darimana dia bahagia atau tidak?, mungkin saja ada alasan yang mendasar yang membuatnya harus bertunangan dengan wanita lain”, jelas mama.
“Karena Sheina datang ke acara pertunangannya dan Sheina melihat kalau dia terlihat bahagia ketika bertunangan dengan wanita itu”.
“Terlihat bahagia dengan pura-pura bahagia itu berbeda tipis, nak, seperti cinta dan benci”.
Sheina hanya mampu menangis mendengar penjelasan mamanya.
Hmmm, lagi-lagi terdengar helaan nafas dari mama Sheina.
“Apakah Sheina menyesal karena telah pergi ke Bandung untuk menyusulnya?”, tanya mama.
“Tidak, ma”.
“Apa yang membuat Sheina tidak menyesalinya?”.
“Karena dengan begitu Sheina tahu bahwa dia tidak akan pernah melunasi hutangnya sehingga Sheina tidak perlu lagi untuk berharap akan pelunasan hutang darinya. Dan setidaknya Sheina tahu bahwa dia tidak akan pernah kembali, sehingga tidak ada lagi beban yang tersimpan dihati ini”, jelas Sheina sembari menyeka buliran putih yang mengalir deras tanpa henti.
“Hmmm, karena sudah seperti ini, maka kamu harus mampu belajar dengan ikhlas untuk melepaskannya. Mungkin dia memang bukan ditakdirkan bersama dengan Sheina, mungkin dia datang hanya untuk memberikan pelajaran atau hikmah yang bisa Sheina ambil dari pertemuan tersebut. Karena setiap pertemuan pasti akan ada perpisahan, entah itu diambil Allah atau diambil manusia. Dan kita tidak pernah tahu pertemuan tersebut untuk memberikan hikmah dan pelajaran kepada kita atau justru pertemuan tersebut menjadi takdir kita. Sheina harus tahu, sesuatu yang memang ditakdirkan menjadi milik Sheina, sejauh apapun terpisah pasti akan tetap menjadi milik Sheina, bagaimana pun prosesnya dan bagaimanapun jalannya, namun jika sesuatu itu memang bukan ditakdirkan menjadi milik Sheina, sekuat apapun Sheina menggenggamnya, sekuat apapun Sheina mempertahankannya dan sekuat apapun Sheina berusaha untuk setia kepadanya, pada akhirnya akan terlepas juga. Sheina harus semangat untuk tetap bangkit dan menjalani kehidupan selanjutnya karena kita tidak akan pernah tahu apa yang akan terjadi kedepannya. Bisa saja Allah mengambil pria tersebut dan menggantikannya dengan yang lebih baik darinya. Karena Allah tidak akan pernah mengambil sesuatu dari Sheina tanpa menggantikannya”, jelas mama sembari mengelus punggung Sheina.
Sheina yang masih betah menangis, sesekali sesenggukan mendengar penjelasan mamanya yang panjang kali lebar sama dengan luas.
“Mama percaya kepada Sheina, bahwa Sheina mampu melewati semuanya. Dan serahkan kembali semuanya kepada Allah agar hati Sheina menjadi lapang, agar Sheina bisa menerima dengan ikhlas. Bahwa hanya Allah saja yang mampu melakukan semua yang Dia kehendaki. Yang harus Sheina lakukan adalah terus mendekat kepada Allah tanpa ada rasa ragu sedikitpun dihati Sheina”, jelas mamanya sembari berlalu meninggalkan Sheina yang masih betah dengan tangisnya.
Di tempat lain, Rangga yang sudah sedari tadi menunggu Brian namun sang empunya nama tidak muncul-muncul.
Sial, kemana si brengsek ini, kenapa belum datang juga?, apa dia lupa bahwa hari ini aku akan melakukan penerbangan ke Sumatra?, gumam Rangga.
Rangga kemudian menghubungi Brian.
“Hallo”, sapa Brian ketika panggilannya sudah dia konfirmasi.
“Kamu sekarang ada dimana?”, tanya Rangga.
“Dirumah, memangnya kenapa?”.
“Apa kamu lupa kalau hari ini ada penerbangan untukku?”.
“Aku mengingatnya”.
“Jadi, kenapa kamu belum datang kesini untuk membawaku ke bandara”, jelas Rangga.
“Santailah,bos”.
“Santai kep*la mu itu, kamu ingin aku yang datang kesana menjemputmu atau kamu yang datang kesini menjemputku?”, terdengar nada kesal dari Rangga.
“Menurutmu?”.
“Baiklah kalau begitu, kamu bersiap-siap karena aku akan mematahkan lidahmu sekarang”.
“Hahaha, kenapa kamu sekarang berubah menjadi pria yang mudah sensitive?. Apakah kamu lagi PMS?”, ejek Brian.
“Iya PMS, pengen mematahkan seluruh tulang belulangmu”, jelas Rangga dengan nada kesalnya.
“Hahaha”.
“Sekarang jemput aku atau kamu akan tahu akibatnya!”, jelas Rangga.
Tut tut tut, kemudian panggilan terputus secara sepihak oleh Rangga.
Hahaha, dasar manusia bucin, gumam Brian.
Brian kemudian bersiap-siap setelah itu bergegas menuju rumah Rangga.
Hingga tidak berapa lama Brian pun tiba.
“Silahkan, tuanku”, sapa Brian sembari membuka kan pintu mobil.
Seketika Rangga memasuki mobil setelah itu Brian pun masuk mobil, kemudian melajukan mobilnya dengan kecepatan sedang meninggalkan pelataran rumah Rangga.
“Lain kali jika kamu berani bermain-main denganku maka aku tidak akan menunggu lama untuk mematahkan tulangmu?”, Rangga memulai percakapannya didalam mobil.
“Apakah kamu juga akan mematahkan tulang belulang Sheina karena telah berani bertunangan dengan Dave?”, sindir Brian.
“Dia tidak sepertimu?”.
“Memangnya dia seperti apa?”.
“Dia wanita dan kamu pria dan satu lagi aku tidak akan pernah mencintai pria apalagi pria itu sepertimu”, jelas Rangga.
“Berarti kamu akan mencintai pria selain aku?, dan bagaimana kalau Sheina tahu bahwa pria yang dia cintai selain manusia berhati iblis juga pria yang hombreng”, ejek Brian.
Tiba-tiba kepalan tangan mendarat dikepala Brian.
“Bangs*t, sakit”, teriak Brian.
“Itu hanya kepalan tangan yang tidak seberapa dibandingkan dengan lelehan timah panas yang akan membalut lidahmu jika kamu tidak dapat mengontrol lidahmu lagi”, jelas Rangga.
Hmmm, terdengar helaan nafas dari Brian.
“Apakah penginapanku yang di Medan sudah ok?”, tanya Rangga.
“Sudah”.
Rangga hanya mengangguk anggukkan kepalanya mendengar jawaban dari Brian.
Kali ini, Rangga melakukan penerbangan sore hari dan diperkirakan akan tiba di kota Medan hingga malam hari.
Itu sebabnya Rangga memilih tidur dipenginapan terlebih dahulu dan esok harinya dia akan menuju rumahnya.
Setelah itu keadaan didalam mobil pun hening tidak ada lagi percakapan diantara dua pria yang sering berargumen hingga Rangga pun tiba dibandara.
Seketika Rangga menuju tempat dimana untuk melakukan cheek in.
Tiba-tiba ada penumpang yang marah-marah dengan travel agent sebab tiket penerbangan yang telah dipesannya tidak bisa untuk melakukan cheek in.
Setelah penumpang tersebut mengecek kepada petugas ternyata tiket tersebut belum terkonfirmasi.
Rangga yang mengetahui hal tersebut hanya tersenyum dan berlalu dari mereka.
Maaf kan saya, pak, karena tiketnya telah menjadi milik saya. Sebab saya sangat membutuhkan tiket ini karena ini menyangkut hidup dan mati saya, batin Rangga.
Rangga kemudian menuju pesawat yang ingin di tumpanginya setelah berada didalam pesawat, dia kemudian menyandarkan kepalanya sembari memejamkan matanya.