NovelToon NovelToon
Menggunakan Pengetahuan Modern Untuk Menyelamatkan Sebuah Desa Di Dunia Lain

Menggunakan Pengetahuan Modern Untuk Menyelamatkan Sebuah Desa Di Dunia Lain

Status: sedang berlangsung
Genre:Fantasi / Anime / Fantasi Isekai / Tamat
Popularitas:240
Nilai: 5
Nama Author: Saiful Bachri

Takahiro, seorang pemuda yang gemar bermain gim dan menghabiskan sebagian besar waktunya mengurung diri di kamar, suatu hari tanpa sengaja tersesat ke dalam dunia gim yang sedang ia mainkan.

Di dunia lain yang bernama Terrovia, Takahiro memulai kehidupan barunya sebagai manusia biasa yang tidak memiliki kekuatan sihir.

Berbekal pengetahuan yang ia peroleh dari dunia modern, ia membantu para petani di Desa Veria dan berjuang tanpa kenal lelah untuk memperbaiki kehidupan orang-orang yang tengah dilanda kesulitan.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Saiful Bachri, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Tangkapan Besar

Berjarak dua puluh kilometer dari hiruk-pikuk Desa Veria, Hutan Kaliev membentang layaknya benteng hijau yang tak tertembus. Di sini, alam masih memegang kendali penuh.

Tak ada jejak penggundulan yang gersang, apalagi kepulan asap hitam pekat dari cerobong pabrik yang meracuni napas. Udara di hutan ini terasa murni, membawa aroma tanah basah dan pucuk-pucuk daun yang segar.

Sore itu, padang rumput yang rimbun bergoyang dalam irama yang sama, mengikuti instruksi angin sore yang menyapu ranting-ranting pohon.

Di bawah siraman cahaya mentari yang mulai memudar menjadi oranye kemerahan, Joe meringkuk di balik batu besar. Wajahnya sengaja dipenuhi coretan lumpur cokelat pekat sebagai kamuflase.

Matanya yang tajam mengintai tanpa berkedip, menunggu sang mangsa melakukan satu saja kesalahan kecil. Baginya, setiap detik yang berdetak di tengah keheningan ini adalah investasi berharga.

Di dalam kantong kulit di balik punggungnya, beberapa ekor kelinci, ayam hutan, dan burung dara sudah teronggok tak bernyawa—hasil buruan sementara yang cukup untuk makan sehari-hari. Namun, bukan itu target utamanya hari ini.

Beberapa meter di hadapannya, seekor rusa betina sedang menunduk, menikmati hijaunya rumput subur dengan tenang. Hewan itu sama sekali tidak menyadari bahwa maut sedang mengincarnya dari balik batu.

Tangan kanan Joe sudah menggenggam erat sebuah sumpitan kayu yang ia buat sendiri secara mendadak. Di ujung anak panah kecil yang sudah terpasang, teroles racun mematikan yang siap melumpuhkan saraf dalam hitungan detik.

"Mantap, malam ini bakal makan enak dengan sepuasnya!" gumamnya sangat lirih, hampir tenggelam oleh suara gesekan daun. "Cate... doakan Ayah, semoga Ayah tidak gagal menangkap rusa ini."

Senyum tipis menyeringai di balik coretan lumpur wajahnya. Joe membayangkan binar mata Cate saat melihat daging rusa segar di meja makan. Sudah lama putrinya itu mengidamkan daging rusa yang lezat, namun selama ini Joe selalu gagal mewujudkannya.

Hari ini, ia bertekad mengakhiri penantian itu. Jika rusa ini berhasil ia tumbangkan, Cate pasti akan memeluknya dengan penuh haru dan bangga.

Bayangan kebahagiaan itu terus menari di benaknya. Namun, di saat konsentrasinya mencapai puncak, sebuah malapetaka kecil datang terbawa angin.

Sebutir biji dandelion yang terbang liar mendadak mampir tepat di lubang hidungnya. Rasa gatal yang menyengat menyerang seketika, mustahil untuk ditahan.

"Hacuhh!!"

Suara bersin itu menggelegar di tengah kesunyian hutan. Rusa betina itu tersentak, telinganya tegak sejenak sebelum akhirnya melesat kabur ke dalam lebatnya semak-semak.

Menyadari mangsa mahalnya hilang dalam sekejap mata, Joe tak mau menyerah begitu saja. Ia melompat dari balik batu dan berlari sekuat tenaga, mencoba mengejar bayangan cokelat yang kian menjauh itu.

"Jangan lari kau, rusa jelek sialan!" teriaknya kencang, wajahnya memerah menahan kesal sekaligus malu pada diri sendiri.

Sambil terus memacu kakinya, Joe menempelkan lubang sumpitan ke bibir, mencoba membidik dalam keadaan bergerak.

Satu kali, dua kali, hingga delapan kali ia meniupkan anak panah sekuat tenaga. Namun, semua lesatannya meleset, hanya menancap di batang pohon atau hilang di kerimbunan daun.

Kecepatan lari manusia biasa tak akan pernah sanggup menandingi lincahnya rusa hutan yang sedang ketakutan. Tak butuh waktu lama bagi Joe untuk benar-benar kehilangan jejak.

Ia berhenti dengan napas yang berderu hebat, seolah paru-parunya terbakar. Keringat deras mengucur dari pelipis, membasahi lumpur di wajahnya hingga luntur dan menetes ke dagu.

Bagaikan ditelan lava panas, bayangan makan malam romantis penuh kehangatan bersama Cate mendadak sirna. Lenyap tanpa sisa.

Perlahan, kaki Joe yang lemas tak lagi mampu menopang berat tubuhnya. Ia jatuh terduduk di atas tanah, kedua lututnya tertekuk lemas menghadap ke arah jejak kaki rusa yang baru saja menghilang.

Matanya menatap sayu ke arah rumput hijau yang masih menari mengejeknya. Amunisi di tangannya hanya tersisa dua batang. Dengan hari yang mulai menggelap, harapannya untuk mendapatkan rusa lain hampir tertutup rapat.

"Cate, maafkan Ayah, Nak. Ayah—"

Belum sempat ia menyelesaikan kalimat keputusasaannya, pendengaran tajam Joe menangkap suara asing dari sisi kanannya.

Kresek… kresek…

Seketika, sisa lelahnya menguap. Rasa sedihnya berganti menjadi waspada yang dingin. Joe sangat mengenali suara itu; gesekan bulu hewan pada rumput tinggi yang sedang bergerak mendekat ke arahnya.

Tak ingin mengulang kebodohan yang sama, Joe segera menjatuhkan tubuhnya, tiarap di antara semak. Sumpitan kayu itu kembali menempel erat di bibirnya. Insting pemburunya kembali menyala terang.

Saat hewan itu muncul dari balik rimbunnya tanaman dan berjarak sekitar lima meter darinya, Joe tak membuang detik yang berharga. Ia meniupkan kedua anak panah terakhirnya sekaligus dengan akurasi yang luar biasa.

Hewan itu sempat tersentak kaget mendengar suara tiupan napas Joe, namun terlambat.

Kedua anak panah itu mendarat telak—satu menancap di punggung, dan satu lagi tepat di tengah keningnya. Racun pada mata panah itu bekerja dalam sekejap, melumpuhkan pusat saraf hewan tersebut hingga ia jatuh tersungkur dan mati tanpa sempat merasakan sakit.

"Yes!!" seru Joe penuh kemenangan. Suaranya tertahan di antara deretan gigi yang terkatup rapat. Tangannya mengepal kuat, diayunkan ke belakang dengan penuh kepuasan. Sumpitan kayu yang sudah kosong itu ia lempar asal ke samping. "Akhirnya aku mendapatkan apa yang aku mau!!"

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!