Terdesak masalah hidup, Rina Amelia terpaksa menjadi wanita simpanan Adrian Wibawa—tanpa sadar bahwa pria itu adalah suami dari Profesor Eliza, dosen paling ditakutinya. Merasa dibohongi, Rina ingin mengakhiri hubungan terlarang itu, namun rayuan dan janji manis Adrian berhasil meluluhkannya.
Kini ia terjebak di antara dua dunia yang berbahaya: kekasih rahasia sang pengusaha, sekaligus mahasiswi yang nasibnya ada di tangan istrinya sendiri. Mampukah Rina bertahan di tengah jerat kebohongan ini?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Sisi Ryri, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Rayuan VS Kenyataan
Uhuk!
Rina nyaris tersedak bubur yang baru ditelannya. Matanya membelalak sempurna, menatap Adrian dengan ekspresi syok yang tak bisa disembunyikan. Jantungnya berdegup dua kali lebih cepat.
"Hah?! M-maksud Om apa?" tanya Rina gagap. "Ibu Profesor Eliza... begitu juga sama mahasiswanya? Maksudnya... main belakang?"
Adrian terkekeh melihat reaksi Rina yang tampak begitu polos. "Kamu beneran gak pernah dengar gosipnya apa? Dia itu juga main belakang di luar. Makanya, kamu gak usah ketakutan setengah mati begitu kalau ketahuan sama dia. Santai saja."
Rina menelan salivanya dengan susah payah. Tenggorokannya mendadak terasa kering kerontang.
Informasi baru ini menghantam otaknya seperti gada besi.
Bagaimana mungkin seorang Eliza si dosen paling dihormati dan paling ditakuti itu memiliki sisi gelap yang sama menjijikkannya?
Entah mengapa perkataan Adrian terdengar begitu ringan dan tanpa beban seolah ini adalah pembenaran mutlak.
"Jadi... Bu Eliza beneran seperti itu di belakang Om?" tanya Rina meyakinkan, suaranya mencicit kecil.
"Iya, Sayang. Kami berdua sebenarnya sudah menerapkan open relationship sejak lama. Jadi, masing-masing dari kami punya kebebasan. Kamu gak usah takut dia bakal ngelabrak atau nge-DO kamu," jawab Adrian santai.
Rina mengernyitkan dahinya mendengar istilah asing ini. "Open relationship itu... naon, Om?" tanya Rina berlogat Sunda karena bingung.
"Ya gitu... artinya bebas. Ibu sama siapa di luar sana, saya juga sama siapa, termasuk sama kamu. Kami gak saling mencampuri urusan ranjang masing-masing," jelas Adrian sambil mengedikkan bahu, seolah ini adalah bahasan ringan.
Rina terdiam lama. Pikirannya berputar hebat.
Beneran? Kok rasanya gak mungkin ya wanita segalak Bu Eliza punya gaya hidup sebebas itu? Jangan-jangan Om Adrian cuma bohong biar aku gak merasa bersalah? batinnya penuh curiga.
Melihat keraguan yang tercetak jelas di wajah cantik Rina, Adrian langsung mengubah ekspresi wajahnya.
Senyum ramah dan hangatnya lenyap dalam sekejap, digantikan oleh tatapan mata yang dingin, tajam dan penuh ancaman yang mengintimidasi.
Ia meletakkan mangkuk bubur ke atas nampan dengan dentingan keras yang membuat Rina tersentak..
"Ya sudah kalau kamu gak percaya," desis Adrian penuh penekanan. "Tapi yang harus kamu ingat sekarang kamu itu miliknya Om. Om sudah bayar semua biaya kuliah kamu sampai lulus termasuk uang saku dan jaminan kerjaan kamu nanti. Jadi... awas aja kalau kamu sampai berani main belakang kayak Ibu ke aku. Paham?"
Rina membeku mendengar ancaman halus namun mematikan itu.
Bagaimana tidak, perkataan itu seketika meruntuhkan semua bayangan indahnya tentang Adrian yang hangat.
"Paham," jawab Rina lirih sambil menunduk.
"Sekarang kamu ke kamar mandi lalu bersihkan dirimu udah itu ikut aku ke kantor," perintah Adrian sarat kendali.
CEO Matakaki itu kemudian berdiri sambil merapikan pakaiannya kemudian melanjutkan perkataannya. "Ingat ya, matanya jangan lihat-lihat cowok lain. Aku mau kamu jadi milikku selamanya, utuh tanpa tersentuh pria lain. Paham?!"
Rina kembali mengangguk patuh.
Hari itu berjalan di luar dugaan Rina. Mereka berangkat ke kantor bersama di dalam satu mobil mewah yang sama, makan siang di restoran kelas atas dan menghabiskan sepanjang hari di dalam ruang kerja pribadi Adrian yang luas.
Anehnya, kekhawatiran Rina tentang tatapan sinis dari karyawan lain tidak terbukti.
Semua orang bersikap sangat ramah dan hormat padanya bahkan cenderung segan.
Perlakuan istimewa ini perlahan-lahan mengikis rasa takut Rina dan menggantikannya dengan rasa nyaman yang semu.
Ia mulai menikmati peran sebagai 'anak emas' sang CEO.
Namun, waktu terus bergulir dan sore pun tiba. Rina tersadar dari dunianya saat melihat jam dinding. Ia harus segera pulang.
Masih ada beberapa revisi tugas akhir yang harus ia kebut malam ini mengingat tenggat waktu kelulusan semakin dekat.
Awalnya, Rina berniat menolak secara halus saat Adrian menawarkan diri untuk mengantarnya pulang ke kosan. Namun, begitu Rina membeberkan alasannya bahwa ia harus fokus merevisi skripsi raut wajah Adrian langsung berubah ketus.
"Tidak. Aku akan ikut ke kosanmu," potong Adrian. "Aku tidak akan membiarkan kamu sendirian di sana. Jangan-jangan kamu sengaja pulang cepat karena sudah bikin janji dengan mahasiswa lain di belakangku."
"Ih! Posesif banget sih!" batin Rina menjerit.
"Ya sudah, kita ke kosan bareng," pasrah Rina. "Tapi tolong ya, Om, jangan berisik dan jangan aneh-aneh di kamar nanti."
"Memangnya kenapa?" tanya Adrian sambil menaikkan sebelah alisnya.
"Iya, di kosanku memang boleh bawa tamu masuk ke kamar. Tapi jangan nakal," ucap Rina memperingatkan dengan serius. "Kalau kita ketahuan berbuat yang enggak-enggak, bisa-bisa aku diusir dari kosan malam ini juga. Peraturan di sana ketat."
"Iya, Om mengerti," sahut Adrian melunak.
Sedan hitam mewah milik Adrian membelah jalanan pinggiran kota dan akhirnya berhenti tepat di depan pagar rumah kos Rina.
Di gang sempit yang biasanya hanya dilewati motor itu membuat kehadiran mobil Adrian menarik perhatian.
Seketika, sepasang mata tetangga dan beberapa anak kos lain yang sedang berada di teras langsung tertuju pada Rina.
Bisik-bisik mulai menjalar. Pasalnya, selama ini Rina dikenal sebagai mahasiswi beasiswa yang polos dan tidak pernah macam-macam.
Melihat tatapan penuh selidik itu Rina buru-buru mengajak Adrian masuk ke dalam kamarnya yang berukuran tiga kali tiga meter.
Setelah pintu ditutup, Adrian terbukti menuruti perkataannya.
Dengan sabar Adrian hanya duduk di pinggiran tempat tidur sambil mengamati Rina yang mulai membuka laptop dan tumpukan kertas tugas akhirnya di meja belajar kecil.
Adrian mengedarkan pandangan ke sekeliling kamar yang pengap. "Besok pindah saja ke apartemenku. Atau kalau kamu tidak mau, aku carikan apartemen lain yang lebih besar. Tempat ini terlalu sempit dan tidak layak buatmu."
Rina menoleh sejenak lalu menggeleng pelan. "Jangan, Om. Aku masih butuh uang untuk biaya perawatan ibuku di rumah sakit. Jadi uangnya mending buat pengobatan Ibu saja daripada buat sewa apartemen baru."
Adrian terdiam sesaat. "Oh, yang waktu itu kamu ceritakan kalau ibumu sedang sakit keras?"
"Iya, Om..." jawab Rina lirih.
"Oh, baguslah kalau begitu," sahut Adrian santai.
Rina menghentikan ketikan jarinya di atas keyboard. Ia menoleh dengan kening berkerut dalam. "Kok... bagus?"
"Maksudku, bagus kalau kamu masih memikirkan ibumu berarti kamu anak yang berbakti," ralat Adrian cepat.
"Oh... aku pikir Om malah menyumpahi ibuku yang lagi terbaring di rumah sakit," gumam Rina, mencoba mengusir prasangka buruknya.
"Enggak dong, Sayang. Mana mungkin Om sejahat itu," ucap Adrian dengan suara melembut.
Pria itu bergeser mendekati meja belajar Rina.
Kehadiran tubuh tegapnya langsung mengintimidasi ruang gerak Rina. Adrian menunduk lalu mengecup pelan bibir Rina untuk menenangkannya.
Kecupan itu awalnya lembut namun perlahan Adrian mulai menuntut lebih, tangannya mulai meraba bahu Rina.
Rina yang sedang panik dikejar tenggat waktu skripsi mencoba melepaskan diri. "Om, jang—"
BRAK!
"Rina!"
Pintu kamar Rina tiba-tiba didorong kasar dari luar hingga menghantam dinding. Rina lupa mengunci gerendel pintunya karena terlalu terburu-buru masuk kamar.
Di ambang pintu dengan jelas nampak Ibu Kos dengan berkacak pinggang.
Wajah paruh bayanya melotot tajam menatap posisi Adrian yang sedang terlalu dekat dengan Rina.
"I-Ibu Kos..." Suara Rina tercekat di tenggorokan.
"Kalian ngapain di dalam kamar berduaan?!" teriak Ibu Kos dengan suara melengking. "Pintu gak dikunci terus mepet-mepet begitu! Kamu ini ya, Rina! Keliatannya aja anak baik-baik, ternyata bawa laki-laki matang ke kamar buat berbuat mesum! Bikin kotor tempat saya saja!"
"Bukan begitu, Bu... Ini... ini Om saya. Beliau cuma mampir mengantar—"
"Halah! Gak usah bohong kamu! Om mana yang cium-cium ponakannya kayak begitu?!" potong Ibu Kos beringas. "Kamu tau jelas aturan di sini, kan. Kalau udah ngak bisa sopan, kamu keluar aja dari kostan saya!" tegas ibu kos dengan marah.
"Ih, Bu! Jangan, dong. Aku ngak ngapa-ngapain, kok."
"Halah! Banyak alasan kamu, Rina. Udah cabut aja kamu malam ini juga. Ngak ada alasan!"
Di tengah situasi yang carut-marut dan memalukan itu, Adrian justru berdiri dengan tenang. “Ok, Rina. Kalau gitu, ayo kita pergi dari sini.”
"Ih! Om! Jangan!"