Katanya, cinta harus datang sebelum menikah. Tapi bagaimana jika cinta justru lahir setelah akad terucap?
Menjadi seorang PNS membuat Satria Baskara terbiasa menjalani hidup dengan aturan dan tanggung jawab. Di sisi lain, Naira Azzahra, seorang pembuat kue rumahan, percaya bahwa setiap kue memiliki resepnya sendiri.
Namun, ia tak pernah menyangka takdir justru menuliskan resep cintanya melalui sebuah perjodohan.
Tanpa proses pacaran. Tanpa janji manis. Hanya sebuah akad yang menyatukan dua hati yang sebelumnya tak saling mengenal.
Di balik sarapan hangat, bekal makan siang, dan perhatian-perhatian kecil yang awalnya terasa biasa, perlahan tumbuh perasaan yang tak mampu mereka sangkal. Namun ketika cinta akhirnya hadir, ujian demi ujian mulai mengetuk pintu rumah tangga mereka.
Akankah Satria dan Naira berhasil mempertahankan cinta yang tumbuh setelah akad? Atau justru takdir kembali menguji hati mereka, saat keduanya mulai benar-benar saling mencintai?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Keysa Bom, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Cemburu
"Mas..."
Suara lirih itu mengalun sangat tipis, nyaris tak terdengar, langsung tenggelam di tengah hiruk-pikuk ramainya halaman Kantor Kecamatan siang itu.
Naira berdiri terpaku di dekat tiang gerbang besi. Pandangannya mengunci lurus pada pemandangan beberapa meter di depannya. Di sana, Satria masih mendekap erat bahu pegawai perempuan tersebut, memastikan keseimbangan tubuh sang staf benar-benar pulih setelah hampir terjatuh. Dari sudut pandang Naira yang terhalang jarak, posisi wajah mereka berdua terlihat teramat dekat dan intim.
Rasa sesak yang mendadak menghantam dada membuat seluruh persendian di tubuh Naira melemas seketika. Genggaman tangannya pada tali tas kain di lengannya melonggar tanpa ia sadari.
Bruk!
Suara benda berbahan kain dan plastik yang menghantam paving blok halaman terdengar cukup keras.
Beberapa pegawai yang berada di sekitar area parkir spontan menoleh ke arah sumber suara. Tas kain berwarna hijau yang berisi rantang makan siang itu kini tergeletak mengenaskan di atas tanah. Tutup wadah kecil di susunan teratasnya terlepas, membuat dua potong kue brownies panggang—yang merupakan kue favorit Satria—terguling keluar dan kotor terkena debu jalanan. Dua buah sendok stainless steel ikut menggelinding pelan di atas paving.
Di depan gerbang, Naira tetap berdiri membeku selama beberapa detik. Wajah manisnya kini berubah pucat pasi, dan bibirnya bergetar menahan gejolak emosi yang mendadak membakar dadanya.
Namun, sebelum ada satu orang pun yang menyadari kehadirannya termasuk Satria yang masih sibuk membantu merapikan dokumen staf perempuan tersebut Naira perlahan melangkah mundur satu langkah. Ia memejamkan mata erat-erat, berbalik arah dengan cepat, lalu berjalan pergi meninggalkan area kantor kecamatan dengan langkah seribu.
"Naira!"
Suara panggilan itu bukan berasal dari mulut Satria, melainkan dari Siska, pegawai bagian umum yang kebetulan baru saja keluar dari ruang arsip bersama Doni di sisi lain halaman kantor. Langkah kedua ASN itu langsung terhenti total, mata mereka membulat sempurna menyaksikan punggung Naira yang menjauh.
"Ya ampun... Mas Doni, itu tadi Bu Naira, kan?" lirih Siska panik, tangannya mencengkeram lengan baju Doni.
Doni menepuk dahinya sendiri dengan sangat keras hingga menimbulkan bunyi plak. "Waduh... gawat! Ini bisa jadi pemicu perang dunia ketiga!"
Siska semakin panik, wajahnya ikut menegang. "Mas Doni, cepat panggil Pak Satria! Bu Naira keburu salah paham gara-gara kejadian tadi!"
"Iya, iya, sebentar!" Tanpa menunggu aba-aba lagi, Doni langsung mengambil langkah seribu, berlari kencang menghampiri Satria yang baru saja selesai menyerahkan sisa map kepada staf perempuan tadi.
"Pak! Pak Satria!" seru Doni terengah-engah begitu sampai di hadapan atasannya.
Satria yang masih mengusap sisa debu di seragamnya langsung menoleh dengan dahi berkerut. "Ada apa, Don? Kenapa kamu lari-lari begitu?"
"Pak Satria... Bu Naira baru saja dari sini dan sekarang pergi lagi!" tutur Doni dengan napas memburu, tangannya menunjuk lurus ke arah gerbang luar.
Seketika itu juga, gurat lempeng di wajah Satria runtuh. Warna kulitnya berubah pucat pasi dalam hitungan detik. "Apa? Naira ke sini? Kamu jangan bercanda, Don."
"Saya serius, Pak! Bapak lihat saja sendiri ke arah gerbang!" balas Doni tegas, tidak ada raut main-main di wajahnya.
Satria tidak menunggu penjelasan Doni lebih jauh. Sepasang mata elangnya langsung menyapu area gerbang depan. Dan di sanalah jantung Satria seolah berhenti berdetak.
Sebuah tas kain hijau yang sangat ia kenali tergeletak tak berdaya di atas tanah. Kotak bekal plastik di dekatnya terbuka, memperlihatkan potongan kue cheese cake buatan Naira yang kini berserakan di atas tanah.
Seketika, rasa sesak yang amat menghimpit menghantam dada Satria. Rasa bersalah dan panik menjalar cepat ke seluruh aliran darahnya. Tanpa memedulikan pandangan staf lain, Satria langsung berlari kencang menuju gerbang.
"Naira...!" panggil Satria lantang begitu sampai di luar pagar.
Namun, jalanan di depan kantor kecamatan sudah kembali ramai oleh lalu lalang kendaraan siang hari. Bayangan tubuh sang istri sama sekali tidak lagi tertangkap oleh pandangannya. Naira sudah pergi jauh.
Satria perlahan berjongkok di atas paving. Telapak tangan besarnya tampak bergetar hebat saat memungut kotak bekal plastik yang sudah sedikit penyok. Dengan gerakan lambat, ia membuka tutup rantang susun di dalamnya.
Nasi putih hangat masih tersusun rapi di sana, ditemani ayam bumbu kecap pekat, tumis sayur, dan telur dadar gulung yang cantik. Semuanya masih terasa hangat. Masih memancarkan aroma masakan yang dibuat dengan penuh ketulusan dan kasih sayang sejak subuh tadi.
Tepat di dasar tas kain, mata Satria menangkap secarik kertas kecil berwarna merah muda yang terlipat rapi. Dengan jemari yang masih gemetar, Satria membuka lipatan kertas tersebut. Tulisan tangan Naira yang rapi dan anggun seketika membuat tenggorokan Satria terasa tercekat hebat.
"Semoga Mas semangat bekerja hari ini. Jangan telat makan siang, ya. Selamat menikmati bekal pertama dari istrimu. Naira."
Satria memejamkan matanya rapat-rapat, meremas kertas kecil itu di dadanya. Rasa penyesalan yang teramat besar menghujam lubuk hatinya yang paling dalam.
"Ya Allah...," bisiknya lirih, merutuki refleks tubuhnya yang justru menjadi bumerang bagi kebahagiaan rumah tangganya sendiri.
Dengan tangan yang masih gemetar menahan panik, Satria segera merogoh saku celananya dan mengambil ponsel. Nama kontak Naira ❤️ langsung ia cari dan ia tekan tombol panggil.
Tut...
Tut...
Tut...
Panggilan pertama berakhir begitu saja. Tidak diangkat.
Satria menarik napas pendek, mencoba menenangkan gemuruh di dadanya, lalu menekan tombol panggil ulang.
"Nai, tolong angkat... dengarkan penjelasan Mas dulu," gumamnya cemas.
Namun, hasilnya tetap sama. Nada sambung terus berbunyi hingga terputus sepi. Ia mencoba menelepon untuk ketiga kalinya, berharap ada keajaiban kecil, namun panggilan itu kembali berakhir tanpa ada jawaban dari seberang sana. Ponsel Naira aktif, namun sang pemilik sengaja mengabaikannya.
"Pak Satria," panggil Doni lembut, kini sudah berdiri tepat di samping atasannya yang masih berjongkok lesu di dekat gerbang. "Pak..."
Satria perlahan berdiri tegak, mengusap wajahnya pelan dengan telapak tangan untuk mengumpulkan sisa kesadarannya. "Don... aku harus pergi menemui Naira sekarang juga. Aku harus menjelaskan semuanya sebelum salah paham ini menggelinding terlalu jauh."
Doni mengangguk mantap, sangat mendukung keputusan atasannya. "Iya, Pak. Setuju. Kejadian tadi itu murni karena refleks Bapak menolong orang jatuh. Saya saksinya."
"Aku tahu. Tapi masalahnya, Naira tidak melihat awal kejadiannya, Don. Dia pasti mengira hal yang lain," sahut Satria dengan nada suara yang dipenuhi kecemasan mendalam. Tangannya menggenggam erat tas kain hijau dan rantang bekal buatan istrinya.
"Doni," panggil Satria lagi.
"Iya, Pak?"
"Aku izin keluar kantor sebentar untuk pergi ke toko kue Naira. Kebetulan ini jam istirahat siang juga sebentar lagi akan dimulai," izin Satria, meminta dispensasi darurat.
Doni menganggukkan kepalanya dengan tegas. "Pergilah, Pak. Biar saya yang bantu mengawasi pelayanan di meja depan dulu selama Bapak pergi. Nanti kalau ada warga atau berkas yang memerlukan tanda tangan mendesak dari Bapak, saya arahkan untuk menunggu setelah Bapak kembali."
Siska yang sedari tadi ikut berjalan mendekat dan mendengarkan obrolan mereka ikut mengangguk setuju. "Benar, Pak Satria, pergilah sekarang. Jangan biarkan kesalahpahaman pada pengantin baru bertahan terlalu lama. Perempuan kalau sudah telanjur sakit hati, menyembuhkannya butuh waktu lama, Pak."
Satria menarik napas panjang, mencoba menguatkan hatinya. "Terima kasih banyak, Doni, Siska. Aku titip kantor sebentar."
Tanpa membuang waktu satu detik pun, Satria menggenggam erat-erat bekal rantang hijau buatan Naira, lalu memutar tubuhnya dan berlari cepat memotong jalan menuju gang kecil yang menghubungkan area belakang kantor kecamatan dengan komplek pertokoan tempat toko kue milik istrinya berada.
Di dalam hatinya, Satria terus merapalkan doa yang sama berulang kali.
“Semoga Naira masih mau membukakan pintu dan mendengarkan seluruh penjelasanku.”
Sementara itu, di balik kaca etalase toko kue yang sejuk...
Naira berdiri membelakangi pintu masuk toko. Kedua tangannya bertumpu pada pinggiran meja konter, kepalanya menunduk dalam demi menyembunyikan tetesan air mata yang sejak tadi terus luruh membasahi pipinya. Ia berusaha sekuat tenaga meredam suara isakannya agar tidak terdengar oleh Raisa yang sedang sibuk di ruang belakang.
Naira terus berbisik dan berkata pada hatinya sendiri bahwa apa yang ia lihat di halaman kantor tadi mungkin hanyalah sebuah ketidaksengajaan atau kesalahpahaman belaka.
Namun, sialnya, bayangan saat kedua tangan kekar Satria menopang erat bahu perempuan lain dengan jarak wajah yang begitu dekat terus-menerus berputar bagai kaset rusak di dalam benaknya. Dan setiap kali bayangan itu muncul, dada Naira rasanya semakin sesak, meninggalkan rasa sakit baru yang belum pernah ia rasakan sebelumnya.
"Rasanya sangat sesak," gumam Naira memegangi dadanya yang terasa nyeri
Bersambung...