NovelToon NovelToon
Benang Merah Diujung Mimpi

Benang Merah Diujung Mimpi

Status: sedang berlangsung
Genre:Reinkarnasi / CEO / SPYxFAMILY
Popularitas:412
Nilai: 5
Nama Author: Luh Belong

No Plagiat ❌


Sejak kecil, Valerie Sinclair selalu bermimpi tentang seorang anak laki-laki bernama Hazel yang tumbuh bersamanya, namun setelah Hazel di mimpinya tumbuh remaja wajahnya tak pernah terlihat jelas. Setelah kehilangan kedua orang tuanya dalam kecelakaan tragis, Valerie menikah kontrak dengan Damian demi membalas budi keluarga konglomerat yang diselamatkan orang tuanya.

Seiring waktu, Valerie jatuh cinta pada Damian karena sosoknya begitu mirip dengan pria dalam mimpinya. Namun sikap Damian yang dingin membuat Valerie memilih bercerai. Saat Damian akhirnya menyadari perasaannya dan berusaha merebut kembali hati Valerie, sebuah kecelakaan mengungkap rahasia mengejutkan tentang mantan istrinya yang membuat Damian prustasi.

Mampukah Damian mendapatkan kembali cinta wanita yang pernah ia sia-siakan, atau kesempatan kedua ini justru datang terlambat?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Luh Belong, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Jurang ditengah hutan

Valerie tersenyum kecil mendengar ucapan Hazel.

Kehangatan yang selalu memenuhi hatinya. Setiap kali ia bersama Hazel, kembali mengalir perasaan menenangkan sekaligus meninggalkan rasa rindu yang sulit dijelaskan. Hazel menggenggam tangannya dengan erat, dan dalam sekejap, taman itu lenyap tanpa jejak.

Valerie membuka matanya perlahan, ia terbangun di kamarnya dengan napas yang sedikit memburu. Sinar matahari pagi menembus celah tirai, menerangi wajahnya.

Tok... tok... tok...

Suara ketukan lembut terdengar dari balik pintu kamar Valerie.

“Valerie sayang, apa kamu sudah bangun?” panggil ibunya dengan suara hangat.

Pintu terbuka perlahan. Lalu senyum lembut terukir di wajahnya saat melihat Valerie sudah terbangun, dan duduk di atas ranjang.

“Selamat pagi tuan putrinya Ibu.” ujarnya sambil melangkah masuk beberapa langkah.

Valerie tersenyum kecil, melihat ibunya mendekat.

“Selamat pagi juga, Ibunda kanjeng ratu.”

Valerie terkekeh meledek ibunya.

“Kamu ini!”

Ibunya mengusap lembut rambut Valerie.

“Ayo, cepat bersiap. Hari ini Ayah dan Ibu yang akan mengantarmu kekampus.”

Valerie mengkerutkan dahinya.

“Kok tumben, apakah matahari mulai terbit dari arah barat?”

Ibunya tertawa mendengar ucapan Valerie.

“Sudah, berhenti bercanda. Ibu sudah masak banyak pagi ini,” lanjut sang ibu dengan senyum ceria. “Ada makanan favoritmu juga, agar kamu selalu semangat.”

Valerie terkekeh kecil.

“Memangnya Ibu masak banyak, untuk menyambut satu keluarga besar ya?”

Ibunya tertawa pelan.

“Ibu masak banyak, karena ingin melihat putri Ibu bahagia menikmati makanan kesukaannya.”

Kehangatan sederhana itu membuat hati Valerie terasa damai. Untuk sesaat, bayangan taman bunga dan sosok Hazel perlahan memudar, tergantikan oleh kebahagiaan kecil yang selalu ia temukan di rumah. Bersama kedua orang tua yang begitu menyayanginya.

“Baiklah Ibunda Kanjeng Ratu, putrimu akan segera mandi dan bersiap-siap.”

“Bagus. Ibu tunggu di bawah.”

Setelah mengucapkan itu, ibunya kembali tersenyum sebelum melangkah keluar dari kamar. Meninggalkan Valerie yang masih duduk sejenak sambil memandangi cahaya pagi yang masuk melalui jendela.

Setelah selesai bersiap-siap, Valerie segera turun ke lantai bawah. Aroma masakan hangat langsung menyambut indra penciumannya, membuat perutnya yang sejak tadi kosong mulai berbunyi pelan.

Sesampainya di ruang makan. Valerie tersenyum melihat kedua orang tuanya tengah duduk berdampingan, sambil mengobrol dan tertawa bersama. Tatapan mereka dipenuhi kasih sayang, seolah waktu tak pernah mengurangi kehangatan cinta yang telah mereka bangun selama bertahun-tahun.

Valerie berjalan mendekat sambil menggelengkan kepala pelan.

“Astaga, aku selalu melihat pemandangan seperti ini setiap pagi.” godanya seraya menarik kursi dan duduk di hadapan mereka.

Ayahnya tertawa kecil, sementara sang ibu tersipu malu.

“Pemandangan sepasang suami-istri yang saling mencintai ya?” ujar ayahnya sambil menggenggam tangan sang ibu.

Valerie tersenyum melihat tangan ayahnya.

“Benar, Aku sampai iri melihat Ayah dan Ibu. Dan berharap suatu hari nanti, pernikahanku juga sebahagi kalian.”

Ibunya tersenyum lembut.

“Kamu anak yang baik, suatu saat nanti kamu pasti akan bertemu seseorang yang sangat menyayangimu.”

Ayahnya mengangkat sendoknya.

“Kalau ada yang berani menyakitimu, laporkan kepada ayah ya?!”

Mereka bertiga pun tertawa bersama. Tak lama kemudian, Valerie mulai menyantap sarapannya, matanya langsung berbinar.

“Bu, ini enak sekali!” pujinya dengan penuh semangat. “Masakan Ibu paling ajaib didunia.”

Ibunya tersenyum bahagia.

“Kalau begitu makan yang banyak.”

Setelah sarapan, ayah Valerie mengeluarkan sebuah kotak kecil berlapis beludru.

“Ayah punya hadiah untuk tuan putriku,” katanya lembut.

Valerie tampak terkejut.

“Sungguh, untukku Ayah?”

Ayahnya mengangguk.

Saat kotak itu dibuka, tampak sebuah liontin emas yang indah dengan ukiran bintang kecil di bagian tengahnya.

“Ini cantik sekali, terima kasih Ayah.” gumam Valerie takjub.

Kemudian ibunya mengeluarkan sebuah kotak lain dan menyerahkannya kepada Valerie. Di dalamnya terdapat sebuah gelang giok berwarna hijau lembut yang terlihat begitu anggun.

“Dan ini hadiah dari Ibu untuk putri tercintaku.”

Valerie menatap kedua orang tuanya dengan bingung.

“Apa hari ini, hari ulang tahunku?”

Kedua orang tuanya tertawa kecil.

“Bukan sayang,” jawab ibunya lembut.

“Hari ini adalah hari pernikahan Ayah dan Ibu,” lanjut ayahnya sambil tersenyum hangat. “Kami ingin merayakannya, bersama putri kami yang paling berharga.”

Ibunya menggenggam tangan Valerie dengan penuh kasih.

“Terima kasih karena sudah hadir dan menjadi penyempurna dalam kehidupan kami, Valerie.”

“Kamu bukan hanya putri kami, kamu adalah pelengkap kebahagiaan dan cinta yang kami bangun selama ini sayang.”

Mata Valerie mulai berkaca-kaca mendengar ucapan itu, ia bangkit dari duduknya lalu memeluk kedua orang tuanya erat.

“Aku yang seharusnya berterima kasih,” ucapnya pelan. “Karena sudah beruntung memiliki Ayah dan Ibu yang sangat menyayangiku.”

Ayahnya mengusap lembut kepala Valerie.

“Valerie. Apa pun yang terjadi, kami akan selalu mencintaimu.”

Valerie mengangguk sambil tersenyum, meskipun entah mengapa ada perasaan hangat sekaligus aneh yang menyelinap di dalam hatinya.

Setelah menghabiskan sarapan dan berbincang sejenak, Valerie pun bersiap berangkat ke kampus. Kali ini kedua orang tuanya mengantarnya. Sesampainya di kampus, Valerie turun dari mobil sambil tersenyum cerah.

“Terima kasih Ayah, Ibu, selamat menikmati hari sepesial kalian.” ucapnya.

Ibunya tersenyum lembut sambil melambaikan tangan.

“Iya sayang, belajar yang baik ya.”

“Jangan lupa makan siang,” tambah ayahnya dengan nada hangat.

Valerie mengangguk kecil.

“Baiklah yang mulia, hati-hati dijalan...”

Sebelum menutup pintu mobil, Valerie melambaikan tangannya. Hari itu berjalan seperti biasa. Ia mengikuti kelas, mencatat materi, lalu memasuki laboratorium untuk sesi praktikum. Suara alat-alat laboratorium dan percakapan mahasiswa memenuhi ruangan.

Valerie tengah fokus menyelesaikan praktiknya ketika seorang staf laboratorium menghampirinya.

“Valerie Asteria Sinclair?”

Valerie menoleh.

“Iya saya?”

“Profesor memintamu datang ke ruangannya sekarang.”

Valerie tampak bingung.

“Sekarang?”

Staf itu mengangguk pelan.

“Ya, profesor sudah menunggumu.”

Tanpa berpikir panjang, Valerie melepas sarung tangannya lalu berjalan menuju ruang dosen.

Tok... tok...tok.

Valerie mengetuk pintu, lalu terdengar dari dalam suara profesor.

“Masuk.”

Ia membuka pintu perlahan. Begitu masuk, Valerie mendapati dosennya berdiri dengan wajah yang tampak muram. Di sampingnya berdiri dua petugas kepolisian sedang melihatnya melangkah masuk.

Jantung Valerie berdegup kencang, ia bingung melihat polisi ada diruangan dosennya.

“Pak... ada apa memanggil saya?” tanyanya pelan.

Dosen itu menghala napas panjang, seolah kesulitan menyusun kata-kata.

“Valerie...”

“Iya Pak.”

“Kamu harus kuat.”

Kalimat itu membuat tubuh Valerie menegang.

Salah seorang petugas melangkah maju.

“Apakah Anda Valerie Sinclair?”

Valerie mengangguk perlahan.

“Iya.”

Petugas itu menarik napas panjang sebelum akhirnya berkata dengan suara lembut.

“Kami turut berduka cita.”

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!