NovelToon NovelToon
SAJADAH Di Atas BARA

SAJADAH Di Atas BARA

Status: sedang berlangsung
Genre:Mengubah Takdir
Popularitas:494
Nilai: 5
Nama Author: Danisa Danish

Sebuah proses perjalanan pulang seorang wanita yang tersesat jauh dari Agama.
karena,kehancurannya di masa lalu.
Perjalanan mencari makna hidup,keikhlasan,dan cinta yang tulus untuknya.

happy reading💗

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Danisa Danish, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

AIR PEMBERSIH JIWA

Setelah jeritan frustrasinya mereda menjadi isakan-isakan kecil yang memilukan, Maira bangkit dari lantai dengan tubuh gemetar. Ia melangkah terseok-seok masuk ke dalam kamarnya, membuka laci meja rias, lalu mengambil sebungkus rokok dan pemantik yang sudah lama tidak ia sentuh. Maira melangkah ke balkon samping, berniat menjernihkan pikirannya yang sudah buntu. Ia berharap, segala beban dan masalah hidupnya yang teramat berat malam ini bisa ikut menguap keluar bersamaan dengan kepulan asap rokok yang diembuskannya ke udara malam.

Maira duduk menyandarkan kepalanya ke dinding. Tatapan matanya kosong menatap langit malam yang pekat tanpa bintang. Rambut panjangnya kini terurai acak-acakan, membingkai wajahnya yang pucat dengan sepasang mata yang bengkak dan sembab.

“Ternyata mereka sakit... Baguslah. Seenggaknya mereka dapet karma atas apa yang mereka perbuat ke gue dulu,” batin Maira, mencoba menanamkan rasa tega di hatinya. Namun, alih-alih merasa puas, hatinya justru terasa semakin hampa.

Entah mengapa, pikiran Maira justru semakin kalut. Bayangan-bayangan masa lalu, bentakan Rayn kemarin, hingga cap "wanita rusak" yang dilekatkan orang-orang terhadap dirinya kembali berputar-putar ekstrem di kepalanya, membuat jiwanya berontak hebat.

“Buat apa gue susah-susah belajaran hijrah kayak gini? Buat apa gue pakai rok panjang hari ini? Toh, pandangan orang-orang ke gue juga gak bakal pernah berubah. Di mata mereka, gue bakal tetap jadi sampah!” bisik Maira frustrasi.

Ia menyesap batang rokok itu dalam-dalam, membiarkan nikotin membakar dadanya, lalu mengembuskannya dengan kasar. “Meskipun gue hidup sebagai sampah, gak akan ada satu orang pun yang peduli di dunia ini.”

Rasa putus asa itu akhirnya menuntun Maira pada keputusan yang nekat. Setelah rokoknya habis terbakar, ego lamanya menang mutlak. Maira ingin pergi ke club malam ini. Ia ingin menenggelamkan rasa sakitnya dalam dentuman musik dan alkohol.

Maira berdiri lama di depan cermin, menatap pantulan dirinya dengan senyum miring yang sinis. Ia mulai memoles wajahnya dengan riasan yang tebal dan berani, menutupi jejak air matanya. Maira kemudian membuka lemari, menanggalkan pakaian kerjanya, lalu mengenakan sebuah baju model backless yang memamerkan punggung mulusnya, dipadukan dengan celana jeans highwaist ketat.

“Udah kepalang gila... sekalian aja kita bikin gila lagi hidup ini!” batin Maira menantang takdir.

Satu jam kemudian, Maira sudah berada di dalam remang-remang club malam yang bising. Aroma alkohol, asap rokok, dan wewangian menyengat bercampur menjadi satu di udara. Maira duduk di tebing bar, menyesap minumannya seiring matanya mengedar menatap ke sekeliling lantai dansa.

Di bawah lampu disko yang berkedip-kedip, Maira tersadar akan satu hal. Semua orang yang ia kenal dan temui di tempat ini sebenarnya punya luka masing-masing. Tidak ada satu pun dari mereka yang terdampar di sini tanpa sebab. Mulai dari mereka yang menjadi korban broken home, anak-anak yang hancur karena selalu dibanding-bandingkan oleh orang tua mereka, korban tekanan sosial yang tak sanggup bertahan, bahkan sampai mereka yang memendam kecewa teramat dalam pada Tuhan.

Semua jiwa yang terluka itu terkumpul dan melebur di tempat jahanam ini. Mereka datang hanya untuk mencari satu hal: kesenangan sementara. Mereka merasa, dengan mabuk dan berjoget, mereka bisa melupakan sejenak luka batin mereka. Tapi sayang, pelarian itu hanya bertahan sesaat. Begitu fajar tiba dan kesadaran mereka kembali, luka yang membawa mereka ke tempat ini justru berbalik memberikan candu dan masalah baru. Mereka harus memikul cap-cap buruk dari masyarakat tentang perbuatan dan pergaulan mereka, tanpa benar-benar ada satu orang pun yang tulus merangkul, memeluk, atau memberi mereka arahan untuk pulang.

Maira menenggak gelas terakhirnya. Kepalanya sudah berputar hebat. Malam semakin larut ketika ia akhirnya memutuskan untuk pulang dengan keadaan mabuk berat.

Maira berjalan terhuyung-huyung di atas trotoar jalanan yang sepi. Kesadarannya timbul tenggelam, dan langkah kakinya beberapa kali hampir membuatnya tersungkur ke aspal. Namun, tepat saat ia hampir kehilangan keseimbangan di dekat belokan jalan arah rumahnya, sebuah lengan yang kokoh dengan sigap menahan siku Maira, menjaganya agar tidak jatuh.

Maira mengerjapkan matanya yang berat, mendongak untuk melihat siapa orang itu. Di bawah temaram lampu jalan, wajah teduh itu kembali muncul. Fatih. Lelaki itu berdiri di sana dengan tatapan mata yang dipenuhi rasa prihatin yang mendalam, namun sama sekali tidak ada kilat kemarahan atau penghakiman di wajahnya.

Fatih perlahan melepaskan tangannya dari siku Maira begitu gadis itu bisa berdiri tegak, meskipun tubuh Maira masih sedikit bergoyang karena pengaruh alkohol.

Fatih tidak memaki Maira. Ia bahkan tidak melarang atau mengkhotbahi Maira untuk berhenti pergi ke tempat maksiat tersebut. Lelaki itu hanya menatap Maira dengan tenang, lalu berucap dengan suara baritonnya yang lembut, “Mbak... pulang, ya. Bersih-bersih, terus sholat.”

Mendengar kata 'sholat' keluar dari mulut Fatih di saat dirinya sedang memakai pakaian terbuka dan berbau alkohol, Maira tiba-tiba tertawa getir. Air matanya mendadak meluncur jatuh begitu saja, merusak riasan matanya.

“Sholat?” tanya Maira dengan suara parau dan racau akibat mabuk. “Kamu... kamu gak lihat penampilan gue malam ini? Gue baru aja pulang dari tempat maksiat, Fatih! Gue minum alkohol! Gue pendosa! Orang kotor kayak gue rasanya udah gak pantas lagi buat sholat ataupun menginjakkan kaki di tempat suci. Kemarin... kemarin malam gue udah belajar sholat lagi di sajadah nenek gue. Tapi lihat hari ini? Hari ini gue malah balik berbuat dosa lagi. Apa Tuhan masih mau menerima cewek rusak kayak gue? Gak akan, Fatih!”

Fatih mendengarkan seluruh racauan emosional Maira dengan sabar. Ia tidak menyela sedikit pun sampai Maira selesai menumpahkan rasa insecure-nya. Setelah Maira agak tenang, Fatih mengembuskan napas perlahan, lalu tersenyum sangat tipis.

“Mbak Maira,” panggil Fatih lembut. “Sholat itu... ibarat air bersih. Kalau kamu merasa badan kamu kotor setelah seharian beraktivitas, ya kamu cuci pakai air itu. Kalau setelah dicuci ternyata masih ada kotoran yang nempel, ya kamu cuci lagi. Dan itulah fungsi utama sholat bagi kita manusia tempatnya salah.”

Maira terdiam, matanya yang sembab menatap Fatih dengan pandangan linglung.

Fatih melanjutkan kalimatnya dengan intonasi yang begitu menyejukkan. “Lama-kelamaan, Mbak... sekotor apa pun pakaian atau tubuh kamu, kalau terus-menerus dicuci dengan air sholat setiap harinya, pasti suatu saat nanti akan bersih juga. Jangan pernah nunggu suci dulu baru mau sholat, karena kita gak akan pernah bisa suci tanpa sholat.”

Maira terpaku di tempatnya berdiri. Kata-kata Fatih seolah menghantam tepat ke pusat dadanya, perlahan-lahan mengurai rasa bersalah yang menggunung di hatinya.

Melihat Maira yang terdiam seribu bahasa, Fatih kembali berbicara dengan nada santai namun sarat akan makna mendalam. “Masa lalu kamu... itu memang sudah terjadi dan gak akan pernah bisa diulang atau diubah lagi, Mbak. Tapi ingat, masa depan kamu... masih bersih dan bisa kamu rencanakan mulai detik ini juga. Caranya? Dengan belajar dari masa lalu yang kamu sesali hari ini, dan melalui doa-doa yang kamu panjatkan langsung kepada Tuhanmu di atas sajadah.”

Fatih memundurkan langkahnya sedikit, memberikan ruang yang sopan. “Pulang ya, Mbak. Istirahat. Assalamu’alaikum.”

Lelaki itu kemudian berbalik dan melangkah pergi menembus dinginnya angin malam, meninggalkan Maira yang masih berdiri mematung di atas trotoar. Kalimat Fatih tentang sholat ibarat air pembersih kotoran terus berdengung hebat di dalam kepala Maira, meruntuhkan sisa-sisa dinding keputusasaannya malam itu.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!