*** (Disarankan membaca cerita sebelumnya)
Sekuel CINTA UNTUK ARUNA
Gloria, wanita 24 tahun, yang harus menerima kepahitan hidup sejak orang tuanya meninggal dunia. Sering dijadikan suaminya sendiri sebagai wanita penghibur hanya demi uang.
Pertemuannya dengan seorang Richardo, pria 26 tahun, membuat hidupnya berubah. Tak hanya memperlakukannya dengan baik, memberinya perhatian, Richardo bahkan berani menantang badai hanya demi mendapatkan cintanya.
Bagaimanakah kisah Richardo dan Gloria selanjutnya? Akankah Richardo mampu menaklukkan wanita yang sudah menyandang status istri orang tersebut?
Ikuti kisah selengkapnya di sini.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Fhatt Trah, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 32. Tawar Menawar
Bab 32. Tawar Menawar
Tiga hari!
Begitu yakinnya Ardo bisa menaklukkan Gloria dalam waktu tiga hari. Mengingat ini adalah waktu terlama baginya dalam menaklukkan wanita, terkadang menimbulkan keraguan dalam diri. Apakah ia mampu?
Namun, bila mengingat malam itu, saat Gloria membalas ciumannya, justru menumbuhkan keyakinan dalam dirinya. Bahwa ia mampu meluluhkan hati wanita itu.
Ia tengah berdebar-debar saat sosok wanita yang membuatnya berdebar itu kini tengah berdiri di hadapannya, di depan meja kerjanya dengan wajah tertunduk.
"Maaf, Pak," ucap Gloria.
Ia terhenyak begitu mendengar suara yang tak asing itu. Lamunannya yang mulai melambung itu pun terhempas, mengembalikan kesadarannya seketika. Hatinya kian berdebar kencang bila mengingat waktu yang ia patok terlalu singkat. Sementara gunung es yang harus ia luluhkan, begitu keras dan padat.
Namun, bila mengingat bahwa ini adalah uji nyali yang mengajaknya berpetualang di dunia penuh tantangan, membuat jiwa penakluknya bergejolak hebat. Terlebih lagi bila melihat reward yang bisa ia dapatkan adalah seseorang yang mampu membuat hatinya bergetar. Membuat api semangat dalam jiwa mudanya kembali berkobar. Hingga ia berani melampaui logikanya untuk bisa melewati tantangan yang kian menghadang.
Serasa ia berada dalam sebuah game uji nyali yang paling mendebarkan. Sampai-sampai tanpa sadar, ia berani berikrar dalam dada. Bila ia mendapatkannya nanti, takkan pernah ia melepasnya.
"Ada apa?" tanyanya menatap wajah yang tertunduk itu.
"Saya ingin mengatakan sesuatu," sahut Gloria.
"Katakan." Ia menunggu dalam cemas. Cemas jikalau Gloria menolak ikut bersamanya ke luar kota.
"Saya ... Saya ..." Gloria menghela napas sejenak.
"Sebelumnya saya minta maaf yang sebesar-besarnya. Kalau bisa, tolong Anda cari saja orang lain untuk menggantikan saya. Saya tidak bisa berangkat bersama Anda ke luar kota. Suami saya mungkin tidak akan mengijinkan," sambungnya susah payah memberanikan diri.
Dan apa yang dicemaskan Ardo, terjadi juga pada akhirnya.
"Kamu bilang mungkin saja kan? Belum tentu suami mu tidak akan mengijinkan. Memangnya kamu sudah meminta ijin darinya?" Bukan Ardo namanya jika tidak bisa menemukan alasannya.
"Belum Pak."
"Mau aku mintakan ijin?"
Gloria terhenyak, refleks mengangkat wajahnya lalu menatap Ardo yang tengah menatapnya lekat sedari tadi. Raut wajahnya begitu cepat berubah. Sangat jelas menampakkan kecemasan yang sangat. Bagaimana bisa Ardo mempermainkannya seperti ini? Pria itu seperti sedang menguji nyalinya saat ini. Mana mungkin ia biarkan Ardo menemui Bary nantinya.
"Aku tahu apa yang membuatmu cemas. Tidak usah takut. Aku akan meminta pihak kantor untuk menghubungi suamimu," ucap Ardo.
"Maaf, Pak. Tapi saya benar-benar tidak bisa ikut ke luar kota. Anda bisa menggantikan saya dengan orang lain. Maafkan saya. Permisi." Bergegas Gloria mengayunkan langkahnya keluar dari ruangan Ardo.
Banyak alasan yang menjadi pertimbangannya untuk tidak ikut bersama Ardo ke luar kota. Selain Bary sebagai alasannya, diantaranya juga karena gosip-gosip sumbang yang mulai terdengar diantara rekan-rekannya.
Ardo menghembuskan napasnya kasar. Penolakan Gloria jelas membuatnya kecewa. Sangat kecewa malah. Sebab dalam waktu tiga hari berada di luar kota itu merupakan kesempatan besar baginya untuk meluluhkan wanita itu.
Penolakan Gloria membuatnya harus kembali memutar otak. Memikirkan bagaimana caranya membuat Gloria mau ikut bersamanya ke luar kota selama tiga hari.
_____
Di satu sudut kafe, Bary tengah mengobrol dengan Reina. Entah apa sebabnya, di sore hari seperti ini Reina meminta bertemu dengannya. Entah ada hal mendesak apa yang membuat wanita itu ingin bertemu dengannya di tempat yang tak biasa mereka datangi. Karena biasanya Reina hanya meminta bertemu di tempat-tempat yang tertutup. Paling sering mereka bertemu di hotel.
"Ada apa sih?" tanya Bary kesal. Ia menebak bahwa Reina mengajaknya bertemu, kemungkinan untuk menagih uang yang ia minta tempo hari.
"Mana uangku? Kamu sudah janji mau memberiku 250 juta yang aku minta. Aku sudah menuruti keinginanmu, yaitu memuaskanmu di ranjang. Lalu mana uang yang kamu janjikan?"
Nah, ternyata dugaan Bary benar kan? Reina meminta bertemu hanya untuk menagih janjinya. Janji akan memberikan apa yang Reina inginkan.
Bila ditanya, sejujurnya, Bary sudah merasa jengkel dengan kelakuan Reina. Ia lelah melayani dan menuruti keinginan wanita itu yang tidak pernah berhenti meminta uang darinya.
"Aku belum punya uang sebanyak itu."
"Memangnya kamu tidak minta pada istrimu?"
"Glori juga tidak punya uang sebanyak itu. Reina, kamu itu, boleh tidak berhenti meminta uang padaku?" kesal Bary tak tahan lagi.
"Oh, tidak bisa Sayang. Aku sudah memberi apa yang kamu inginkan. Sebagai imbalannya kamu juga harus memberiku apa yang aku inginkan. Harus adil dong. Sekarang mana uangnya? Mau aku pakai sekarang."
"Kamu tuli ya, aku belum punya uang."
"Atau begini saja, aku akan memberitahu semuanya kepada istrimu itu tentang hubungan kita berdua. Toh, kalian juga menikah bukan karena cinta."
"Jangan. Jangan pernah beritahu Glori."
"Loh, kenapa? Bukankah selama ini kamu tidak memperlakukannya dengan baik? Hubungan kalian itu tidak berarti apa-apa buat kamu kan?" Reina sengaja memasang jurus perangkapnya. Ia tahu, meski Bary tidak mencintai Glori, tetap saja Bary tak ingin jikalau hubungan mereka diketahui oleh Gloria. Entah apa sebabnya. Ia hanya menyimpulkan bahwa mungkin sedang menjaga imagenya di depan Gloria.
"Iya. Tapi Glori tidak harus tahu tentang hubungan kita."
"Tidak ada gunanya kamu menjaga image mu di depan istrimu. Toh, mau sebaik apapun kamu, tetap saja dia tidak akan pernah menyukaimu."
Bary menghela napas dalam-dalam lalu menghembuskannya perlahan. Memang benar apa yang dikatakan Reina. Tetapi entah mengapa membuat hatinya serasa ngilu mendengarnya. Ia pun sadar dan tahu benar bila pernikahannya dengan Gloria tak berdasarkan cinta.
Meski begitu, ia tetap saja tak ingin membuat dirinya terlihat buruk di mata Gloria. Walaupun sebenarnya ia telah terlanjur buruk lantaran kekejamannya terhadap wanita itu.
______
Gloria menghembuskan napasnya panjang lantaran tak habis pikir dengan apa yang ia lakukan beberapa saat lalu ternyata sia-sia.
Bary mengiriminya pesan bahwa Bary sedang sangat membutuhkan uang saat ini. Ia pernah menawari Bary bila ia akan mencoba mengajukan pinjaman di kantornya. Dan kini Bary menagih ucapannya.
Meminjam uang di kantor dengan nominal pinjaman sebesar 250 juta itu mustahil mendapatkan persetujuan. Sebab ia hanyalah karyawan rendahan yang sudah tentu tidak mendapatkan kepercayaan bahwa ia sanggup mengembalikan uang itu dalam batas waktu yang di tentukan.
Terkecuali jika ia meminjamnya dari seseorang. Seseorang yang tak pernah berpikir panjang menggelontorkan dana untuknya. Siapa lagi kalau bukan ...
Terpaksa, dengan sangat berat hati, sebab tak ada jalan lain lagi selain memberanikan diri menemui orang itu. Seseorang yang baru beberapa saat lalu ia temui untuk menolak menemaninya ke luar kota. Padahal orang itu sudah menjanjikannya soal kenaikan gaji. Satu hal yang paling ia butuhkan saat ini.
"Maaf, saya ..." Ia terlalu gugup mengutarakan niatnya lantaran malu yang teramat.
"Tidak usah malu, katakan saja apa yang ingin kamu katakan," ucap Ardo sembari menyandarkan punggung pada sandaran kursi.
"Bo-bolehkah saya menarik kembali ucapan saya beberapa saat lalu?"
"Maksud kamu?"
"Sa-saya akan ikut dengan Anda ke luar kota. Ta-tapi dengan syarat ..." tawarnya gugup antara malu dan takut.
"Syaratnya apa?"
Gloria diam sejenak. Ia mencoba mengumpulkan kembali keberaniannya yang menciut lantaran tatapan Ardo kepadanya.
"Tolong pinjami saya uang," ucapnya lega pada akhirnya.
"Berapa banyak?"
"250 juta."
Kini giliran Ardo yang terdiam. Ditatapnya lekat wajah Gloria yang tertunduk. Penawaran yang dilakukan Gloria membuatnya geli. Wanita itu sungguh sangat menggemaskan di matanya. Ia tahu untuk apa Gloria meminjam uang sebanyak itu jika bukan untuk suami brengseknya itu.
"Baiklah. Akan aku berikan."
Ucapan Ardo itu membuat Gloria refleks mengangkat wajahnya. Lalu menatap Ardo tak percaya. Ia tak menyangka, semudah itu Ardo menyetujui tawarannya.
"Tapi dengan syarat ..." sambungnya tersenyum tipis.
Bersambung
jangn lupa berkunjung ya