Sebuah proses perjalanan pulang seorang wanita yang tersesat jauh dari Agama.
karena,kehancurannya di masa lalu.
Perjalanan mencari makna hidup,keikhlasan,dan cinta yang tulus untuknya.
happy reading💗
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Danisa Danish, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Perlawanan yang Membuat Celaka
Di dalam kabin mobil yang melaju kencang, Maira tidak tinggal diam. Ia terus berteriak histeris, memukul lengan dan bahu Rayn yang sedang menyetir dengan ugal-ugalan.
“Lo jahat, Ray! Lo gila! Lo udah gak waras!” teriak Maira bersama air mata yang mengalir deras membasahi pipinya.
“Gue gila gini gara-gara Lo, Mai! Gue gak akan senekat ini kalau dari awal Lo mau ikut balik sama gue!” balas Rayn berteriak, matanya menatap lurus ke depan dengan pandangan liar.
“Stop, Rayn! Turunin gue sekarang! Turuniiin!” teriak Maira terus-menerus sembari mencoba meraih kemudi mobil agar Rayn menghentikan kendaraannya.
Karena Maira yang terus memberontak secara brutal di sampingnya, konsentrasi Rayn pecah berantakan. Mobil matic itu mulai oleng ke kanan dan ke kiri. Tepat di sebuah tikungan tajam, dari arah berlawanan, sebuah lampu sorot yang teramat terang menyengat pandangan mereka. Sebuah truk besar melaju dari arah depan.
Rayn yang terkejut setengah mati langsung kehilangan kendali penuh atas mobilnya. Demi menghindari tabrakan adu banteng dengan truk besar tersebut, Rayn secara refleks membanting setirnya kuat-kuat ke arah kiri.
“AAAAAAA!!!”
Jeritan histeris Maira dan teriakan panik Rayn bersahutan, memecah kesunyian malam di dalam mobil.
BRUKKKKK!!!
Suara benturan yang teramat keras menggema hebat. Mobil matic milik Rayn menghantam tembok pembatas jalan beton dengan kecepatan tinggi hingga bagian depannya hancur ringsek tak berbentuk. Kepulan asap putih mulai keluar dari kap mesin. Di dalam kabin, tubuh Maira dan Rayn terhentak kuat sebelum akhirnya keduanya jatuh terkulai, pingsan tak sadarkan diri dengan luka dan darah yang mulai mengalir.
Dalam hitungan menit, warga sekitar yang mendengar dentuman keras itu langsung berlarian keluar dan berkerumun di sekitar lokasi. Dengan mengandalkan alat seadanya, mereka berusaha mendobrak pintu mobil yang ringsek untuk menyelamatkan kedua korban. Mengingat kondisi luka yang cukup parah, dengan menggunakan mobil bak terbuka milik warga, Maira dan Rayn segera dilarikan ke ruang IGD Rumah Sakit Permata Indah.
Di tempat lain, di ruang tengah rumahnya, Aisyah sedang duduk santai sembari merapikan sisa mukenanya. Tiba-tiba, ponsel di atas meja bergetar hebat.
Drtt... drtt... drtt...
Aisyah melihat layar ponselnya. Nama 'Mbak Maira' tertera di sana. Aisyah langsung menggeser tombol hijau dengan senyuman. “Assalamu’alaikum, Mbak Maira,” sapa Aisyah riang.
Namun, senyuman Aisyah seketika runtuh. Bukan suara lembut Maira yang terdengar di seberang telepon, melainkan suara napas terengah-engah dari seorang laki-laki yang terdengar sangat panik.
“Halo, Mbak? Maaf sekali saya lancang ngehubungin nomor Mbak lewat hp ini. Soalnya di riwayat panggilan teratas cuma ada nomor Mbak yang bisa dihubungi. Ini... yang punya hp ini baru saja mengalami kecelakaan mobil yang cukup parah, Mbak. Sekarang posisinya lagi ditangani di ruang IGD Rumah Sakit Permata Indah,” ucap lelaki yang rupanya salah satu warga yang menolong Maira.
Mendengar kalimat mengerikan itu, seluruh persendian Aisyah mendadak lemas. Ponselnya hampir saja terlepas dari genggaman. “Innalillahi wa inna ilaihi raji'un... Baik, Mas. Terima kasih banyak informasinya. Saya... saya kesana sekarang juga!” ucap Aisyah dengan suara yang bergetar hebat menahan tangis kepanikan.
Fatih yang baru saja selesai merapikan kitabnya di meja belajar dan hendak melangkah ke dapur, langsung menghentikan langkahnya begitu mendengar suara adiknya yang mendadak histeris. Fatih bergegas menghampiri Aisyah yang sudah menangis sesenggukan.
“Ada apa, Sya? Kenapa nangis?” tanya Fatih, guratan cemas langsung tercetak jelas di wajahnya yang biasa tenang.
Aisyah mendongak dengan air mata yang sudah membanjiri pipinya, ia mencengkeram lengan jaket Fatih dengan kuat. “Mas... Mbak Maira, Mas! Mbak Maira kecelakaan mobil sekarang dan lagi di IGD rumah sakit! Keluarganya gak ada yang bisa dihubungi sama orang-orang di sana, jadi yang nolong tadi langsung nelepon Aisyah lewat hp-nya Mbak Maira. Mas... tolong anterin Aisyah ke rumah sakit sekarang, Mas! Aisyah takut Mbak Maira kenapa-napa...”
Deg.
Jantung Fatih seolah berhenti berdetak untuk satu detik penuh mendengar nama Maira disebut dalam lingkaran musibah. Bayangan wajah anggun Maira yang baru beberapa jam lalu tersenyum di rumahnya kini berganti dengan ketakutan yang mencekam dada Fatih. Tangannya mengepal erat, ada rasa khawatir luar biasa yang mendadak menyergap ulu hatinya, rasa khawatir yang bahkan belum pernah ia rasakan untuk wanita lain sebelumnya.
“Innalillahi... Oke, kita berangkat sekarang. Kamu ambil jaket kamu, Mas siapin motor,” ucap Fatih dengan nada suara yang mencoba tegar meski getaran panik tidak bisa ia sembunyikan.
Tanpa membuang waktu lagi, Fatih memacu sepeda motornya membelah jalanan malam dengan kecepatan di atas rata-rata. Pikirannya berkecamuk, untaian doa keselamatan untuk Maira tak henti-hentinya ia rapalkan di dalam hati sepanjang perjalanan menuju rumah sakit.
Sesampainya di Rumah Sakit Permata Indah, Fatih dan Aisyah langsung berlari tergesa-gesa menyusuri lorong rumah sakit yang berbau menyengat obat-obatan. Di depan meja administrasi IGD, Fatih langsung menghampiri seorang perawat dengan napas yang memburu.
“Sus, maaf... Pasien korban kecelakaan mobil atas nama Maira yang barusan masuk, posisinya di sebelah mana ya?” tanya Fatih cepat.
Perawat itu memeriksa papan data sebentar lalu menunjuk ke arah deretan tirai di ujung lorong. “Oh, iya, korban kecelakaan mobil tadi ya? Pasien atas nama Maira ada di ruangan sebelah kiri itu, Mas. Saat ini sedang ditangani secara intensif oleh dokter jaga.”
“Baik, terima kasih banyak, Sus,” ucap Fatih.
Fatih dan Aisyah langsung melangkah menuju area yang ditunjuk. Namun, langkah mereka tertahan oleh tirai hijau yang tertutup rapat, pertanda tindakan medis sedang dilakukan di dalam dan keluarga belum diizinkan masuk. Akhirnya, mereka berdua terpaksa duduk di kursi besi koridor IGD. Aisyah langsung menyembunyikan wajahnya di balik kedua telapak tangannya, menangis tersedu-sedu karena didera rasa cemas yang teramat sangat atas kondisi Maira.
Fatih yang duduk di samping adiknya mencoba mengusap bahu Aisyah untuk menenangkan, meskipun di dalam dadanya sendiri, ada badai kekhawatiran yang tidak kalah hebat yang sedang berkecamuk.
Fatih merogoh saku celananya, mengeluarkan ponselnya sendiri. “Sya, Mas telepon Umi dulu ya... mau ngasih tahu kalau kita lagi di rumah sakit nungguin Mbak Maira, biar Umi di rumah gak nyariin dan gak khawatir,” ucap Fatih dengan suara yang terdengar agak serak.
Aisyah hanya mengangguk pelan di sela tangisnya. “Iya, Mas...”
Fatih bangkit berdiri, melangkah beberapa meter menjauh untuk menghubungi ibunya. Tepat setelah Fatih menyelesaikan panggilan teleponnya dan kembali berjalan mendekat ke arah kursi tunggu, suara derit gantungan tirai hijau pembatas ruang IGD terdengar dibuka dari dalam.
Seorang perawat paruh baya dengan pakaian medis lengkap melangkah keluar dari ruangan tempat Maira ditangani, wajahnya tampak lelah namun tenang.
Melihat pintu tirai terbuka, Fatih dan Aisyah langsung bergegas bangkit berdiri dan menghampiri perawat tersebut dengan perasaan yang berdebar-debar menanti kejelasan nasib Maira.
“Suster... gimana? Gimana keadaan pasien di dalam?” tanya Fatih dengan nada suara yang sarat akan kecemasan mendalam, matanya menatap lekat ke arah perawat, menuntut sebuah jawaban keselamatan.