NovelToon NovelToon
Alesha, Gadis Absurd.

Alesha, Gadis Absurd.

Status: sedang berlangsung
Genre:Ketos / Cinta Seiring Waktu
Popularitas:1.7k
Nilai: 5
Nama Author: Anshuu_

Arka tak pernah berniat ikut campur dengan kehidupan Alesha. Namun, karena gadis absurd itu adalah sepupu dari sahabatnya sendiri, mereka terus dipertemukan dalam berbagai keadaan. Tingkah Alesha yang tak pernah bisa ditebak sering kali membuat Arka hanya bisa menggelengkan kepala. Mulai dari masalah sepele hingga kekacauan yang menghebohkan sekolah, Alesha selalu punya cara untuk membuatnya ikut terseret. Mau tak mau, sebagai ketua OSIS, Arka harus berkali-kali turun tangan menghadapi ulah gadis yang paling sulit dipahami itu.

Siapa sangka, dari semua kekacauan tersebut, perlahan tumbuh perasaan yang tak pernah mereka rencanakan.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Anshuu_, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 28.

Sesampainya di rumah, Alesha langsung meletakkan tasnya di atas sofa.

"Oma, aku pulang."

Oma yang sedang menyusun bunga di vas tersenyum hangat.

"Selamat datang."

Kevin ikut masuk sambil meletakkan helm di atas meja.

"Hari ini bagaimana?"

Alesha langsung duduk di samping Oma.

"Besok ada latihan pidato lagi."

"Wah."

Oma tampak senang.

"Berarti besok harus lebih semangat."

Alesha mengangguk.

"Iya."

"Tapi..."

Oma memperhatikan wajah cucunya.

"Kelihatannya kamu capek."

Alesha mengembuskan napas pelan.

"Sedikit."

Kevin yang baru saja mengambil segelas air ikut menyahut.

"Capek boleh."

"Tapi jangan dijadikan alasan buat malas latihan."

Alesha langsung mengangguk.

"Aku tahu."

Setelah beristirahat sekitar tiga puluh menit, Alesha naik ke kamarnya.

Ia mengganti seragamnya dengan pakaian rumah yang lebih nyaman.

Pingky yang melihat majikannya masuk langsung berjalan menghampiri.

"Kwek."

Alesha menggendong bebek kecil itu.

"Kamu kangen ya?"

Pingky hanya menggeleng-gelengkan kepalanya kecil hingga membuat Alesha tertawa.

"Oke, sekarang aku harus latihan."

Ia mengambil map biru dari dalam tas, lalu berdiri di depan cermin besar yang ada di kamarnya.

Alesha menarik napas dalam.

"Assalamu'alaikum warahmatullahi wabarakatuh..."

Ia mulai membaca pidatonya.

Kali ini suaranya lebih lantang dibanding latihan semalam.

Sesekali ia berhenti untuk memperbaiki intonasi, lalu mengulang bagian yang menurutnya masih kurang pas.

Tak terasa hampir empat puluh menit berlalu.

Tok... tok...

Pintu kamarnya diketuk.

"Masuk."

Kevin membuka pintu sambil membawa segelas jus.

"Istirahat dulu."

Alesha menerima gelas itu.

"Makasih, Kak."

Kevin melihat naskah pidato yang penuh coretan stabilo.

"Wah."

"Kenapa?"

"Kamu benar-benar serius."

Alesha tersenyum kecil.

"Aku nggak mau mengecewakan Bu Rina."

Kevin mengangguk pelan.

"Itu bagus."

Ia kemudian mengambil naskah pidato dari tangan Alesha.

"Coba lanjutkan tanpa melihat kertas."

Alesha langsung membelalakkan mata.

"Hah?"

"Coba."

Alesha menelan ludah.

Ia memejamkan mata beberapa detik, berusaha mengingat isi pidatonya.

Lalu perlahan ia mulai berbicara.

Kalimat pertama...

Kedua...

Ketiga...

Sampai akhirnya ia berhenti.

"Aduh."

"Lupa?"

"Iya."

Kevin tersenyum tipis.

"Sudah bagus."

"Bagus dari mana?"

"Kamu bisa menghafal hampir setengah isi pidato."

Alesha tampak sedikit terkejut.

"Serius?"

"Iya."

Senyum perlahan kembali menghiasi wajahnya.

"Berarti aku ada perkembangan."

Kevin mengembalikan naskah itu.

"Besok pasti lebih lancar."

Alesha mengepalkan kedua tangannya.

"Besok aku harus lebih baik."

Ia kembali berdiri di depan cermin.

Tatapannya kini jauh lebih yakin dibanding beberapa hari yang lalu.

Perlahan-lahan, rasa takutnya mulai berubah menjadi rasa percaya diri.

Dan tanpa ia sadari, perubahan itu juga mulai terlihat oleh orang-orang di sekitarnya.

Keesokan paginya, udara terasa begitu sejuk.

Sinar matahari masuk melalui jendela kamar Alesha, membuatnya perlahan membuka mata.

"Hmm..."

Ia melirik jam weker di samping tempat tidurnya.

"Pukul enam?"

Biasanya pada jam seperti ini Oma sudah beberapa kali memanggilnya.

Namun hari ini, Alesha justru bangun sendiri.

Ia tersenyum kecil.

"Aku mulai terbiasa."

Setelah mandi dan mengenakan seragam, Alesha kembali membuka naskah pidatonya.

Ia membacanya sekali lagi di depan cermin.

Kali ini suaranya terdengar lebih mantap.

"Bagus."

Suara Kevin terdengar dari balik pintu yang ternyata sedikit terbuka.

Alesha menoleh.

"Kak?"

Kevin bersandar di kusen pintu sambil melipat kedua tangan.

"Tadi aku dengar."

Alesha langsung tersenyum malu.

"Masih ada yang salah."

"Sedikit."

"Tapi sudah jauh lebih baik."

Mendengar itu, Alesha tersenyum puas.

"Makasih."

"Sudah, nanti keburu telat."

"Iya."

Mereka pun turun untuk sarapan bersama Oma.

Di meja makan, Oma menyajikan nasi goreng kesukaan Alesha.

"Wah, enak!"

Oma tertawa kecil.

"Biar cucu Oma semangat."

Alesha langsung memeluk Oma sebentar.

"Makasih, Oma."

Kevin yang melihat itu hanya tersenyum tipis.

"Kalau sudah selesai, berangkat."

"Iya, Kak."

Tak lama kemudian mereka tiba di sekolah.

Suasana pagi masih cukup ramai.

Beberapa siswa baru saja memasuki gerbang, sementara anggota OSIS sudah berjaga di beberapa titik.

Di depan gerbang, Arka sedang memeriksa kerapian seragam siswa.

Ia berdiri tegak dengan papan catatan di tangannya.

"Pagi."

Beberapa siswa menyapanya.

"Pagi."

Saat Kevin dan Alesha berjalan melewati gerbang, Arka menoleh.

"Pagi."

"Pagi," balas Kevin.

Alesha ikut tersenyum.

"Pagi, Pak Ketua."

Arka mengangguk pelan.

"Semangat latihan nanti."

Alesha sedikit terkejut.

"Kamu ingat?"

"Iya."

Alesha tersenyum lebar.

"Makasih."

Kevin yang berjalan di samping adiknya melirik Arka sekilas, lalu kembali melangkah menuju gedung kelas.

Di sisi lain, Reza yang berdiri tidak jauh dari Arka memperhatikan semuanya sambil menyeringai.

Begitu Kevin dan Alesha sudah cukup jauh, ia langsung menyenggol bahu Arka.

"Ketua."

"Hm?"

"Kamu perhatian juga."

Arka menoleh datar.

"Perhatian apa?"

"Ingat jadwal latihan pidato Alesha."

"Itu informasi dari sekolah."

Reza terkekeh.

"Iya, informasi sekolah."

"Tapi kenapa yang kamu semangatin cuma dia?"

Arka terdiam beberapa detik.

"Karena dia memang sedang membutuhkannya."

Jawaban singkat itu justru membuat senyum Reza semakin lebar.

"Oke... aku nggak nanya lagi."

Arka hanya menggeleng kecil.

Sementara itu, Alesha yang sudah sampai di depan kelas bertemu dengan Dinda.

"Pagi!"

"Pagi!"

Dinda langsung melihat wajah Alesha yang tampak cerah.

"Kayaknya hari ini percaya dirinya naik."

Alesha mengangguk mantap.

"Sedikit."

"Nah, gitu dong."

"Habis tadi banyak yang kasih semangat."

"Siapa aja?"

Alesha menghitung dengan jari.

"Oma... Kak Kevin... terus..."

Ia berhenti sejenak.

"...Arka juga."

Dinda langsung mengangkat kedua alisnya sambil tersenyum jahil.

"Oalah..."

Alesha yang baru sadar langsung memukul pelan lengan sahabatnya.

"Ih, jangan senyum begitu."

Dinda tertawa.

"Ya udah, ya udah."

"Tapi yang penting..."

"Semangatmu jangan hilang."

Alesha mengangguk mantap.

"Nggak akan."

Hari itu, ia melangkah masuk ke kelas dengan hati yang jauh lebih tenang daripada hari-hari sebelumnya.

Latihan pidato sore nanti memang masih membuatnya sedikit gugup.

Namun kali ini, rasa gugup itu tidak lagi membuatnya ingin menyerah. Justru menjadi alasan baginya untuk terus berusaha menjadi lebih baik.

Pelajaran pagi berlangsung seperti biasa.

Bu Siska sedang menjelaskan materi di depan kelas, sementara seluruh siswa sibuk mencatat.

Alesha tampak lebih fokus dibanding biasanya.

Sesekali ia mengangguk pelan saat memahami penjelasan guru, lalu menuliskan poin-poin penting di buku catatannya.

Dinda yang duduk di sebelahnya berbisik pelan.

"Kalau terus begini, kamu bisa jadi ranking."

Alesha langsung menoleh.

"Jangan bercanda."

"Aku serius."

Alesha tertawa kecil.

"Yang penting nilaiku nggak jelek lagi."

Dinda mengangguk.

"Itu juga sudah bagus."

Tak lama kemudian, bel istirahat pertama berbunyi.

Teng...

Bu Siska menutup bukunya.

"Baik, pelajaran kita cukup sampai di sini."

"Terima kasih, Bu."

Seluruh siswa berdiri memberi salam sebelum guru keluar dari kelas.

Alesha langsung menarik napas panjang.

"Waktunya."

Dinda tersenyum memberi semangat.

"Ayo."

Mereka berdua berjalan menuju aula sekolah.

Di sepanjang koridor terlihat beberapa siswa lain yang juga membawa map dan lembar naskah.

"Kayaknya mereka peserta lomba juga," gumam Alesha.

"Iya."

Sesampainya di aula, ternyata sudah ada sekitar sepuluh siswa dari berbagai kelas.

Ada yang sibuk membaca naskah.

Ada yang berlatih intonasi.

Ada pula yang berdiri sendiri sambil menghafal.

Melihat mereka, rasa gugup Alesha kembali muncul.

"Dinda..."

"Hm?"

"Mereka kelihatannya hebat-hebat."

Dinda menepuk pelan bahunya.

"Jangan lihat mereka."

"Lho?"

"Lihat perkembangan diri kamu sendiri."

Alesha terdiam.

Kalimat itu membuatnya sedikit lebih tenang.

Beberapa menit kemudian, Bu Rina masuk ke aula.

"Selamat pagi."

"Selamat pagi, Bu."

"Hari ini kita akan latihan bersama."

Beliau kemudian membagi peserta menjadi beberapa kelompok kecil.

"Alesha."

"Iya, Bu."

"Kamu kelompok pertama."

Mata Alesha langsung membulat.

"Sekarang?"

"Iya."

Jantung Alesha kembali berdegup cepat.

Namun ia tetap melangkah ke depan.

Di hadapannya sudah berdiri beberapa guru yang akan memberikan penilaian latihan.

Alesha menarik napas dalam.

"Tenang... seperti kata Bu Rina... pahami isinya."

Ia menggenggam naskahnya, lalu mulai berbicara.

"Assalamu'alaikum warahmatullahi wabarakatuh..."

Suaranya masih sedikit bergetar di awal.

Namun setelah beberapa kalimat, intonasinya mulai stabil.

Ia bahkan beberapa kali mengangkat pandangan dari naskah untuk menatap para guru.

Di sudut aula, tanpa sengaja Arka lewat bersama beberapa anggota OSIS yang sedang mengantarkan perlengkapan untuk kegiatan sekolah.

Melihat ada latihan pidato, mereka berhenti sejenak agar tidak mengganggu.

Pandangan Arka tertuju pada Alesha yang sedang berbicara di depan.

Ia melihat gadis itu memang masih gugup.

Tetapi ia tidak lagi menundukkan kepala terus-menerus seperti saat latihan pertama.

Ada kemajuan.

Tanpa sadar, Arka tersenyum tipis.

"Dia berkembang."

Reza yang berdiri di sampingnya ikut melihat ke arah panggung kecil di aula.

"Lumayan juga."

Arka mengangguk singkat.

"Ayo."

Mereka kembali melanjutkan pekerjaan agar tidak mengganggu jalannya latihan.

Sementara itu, Alesha berhasil menyelesaikan pidatonya hingga akhir.

Begitu selesai, tepuk tangan kecil terdengar memenuhi aula.

Alesha mengembuskan napas lega.

Walaupun belum sempurna...

Hari ini ia berhasil mengalahkan rasa takutnya sendiri, dan itu adalah kemenangan yang paling berarti baginya.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!